http://nasional.kompas.com/read/2012/01/08/02495283/dari.sukabumi..harumkan.hindia.belanda
GAMELAN SARI ONENG
Dari Sukabumi, Harumkan Hindia Belanda
Minggu, 8 Januari 2012 | 02:49 WIB
Oleh Cornelius Helmy Herlambang
Bagi Pemerintah Kolonial Belanda, gamelan asal Parakan Salak, Sukabumi, lebih
dari sekadar alat musik tradisional Sunda. Dalam berbagai perhelatan
internasional, gamelan berperan menyukseskan promosi teh, kopi, rempah, dan
cokelat ke berbagai negara.
Seandainya Karel Frederick Holle dan Adriaan Walraven Holle tidak hijrah
bersama orangtuanya ke Hindia Belanda dan tinggal di perkebunan teh Parakan
Salak, Sukabumi, tahun 1843, mungkin gamelan tidak akan sampai ke Amsterdam,
Perancis, dan Amerika Serikat. Karel Holle dan Adriaan Holle berperan penting
mempromosikan seni dan budaya Sunda saat itu. Keduanya mahir dan kesohor
memainkan dan mempromosikan gamelan. Salah satu foto dalam Album van Mientje
keluaran tahun 1860 terlihat Adriaan menggunakan busana tradisional Sunda
memainkan rebab bersama Kelompok Gamelan Perkebunan Teh Parakan Salak.
Guru Besar Sejarah Universitas Padjadjaran Nina Herlina Lubis mengatakan,
keduanya bahkan memiliki beberapa perangkat gamelan berkualitas. Gamelan itu
kerap dipinjam Pemerintah Kolonial Belanda guna mempromosikan teh dan kopi.
Lewat gamelan, Parakan Salakdulu dikenal sebagai "Paradijs Herschapen" atau
replika surga karena keindahan alamnyaikut membesarkan nama Hindia Belanda.
Pengurus Museum Geusan Ulun, Sumedang, Gunawan Soeriadanoeningrat, mengatakan,
salah satu gamelan milik Holle bersaudara adalah Sari Oneng Parakan Salak
buatan tahun 1825. Rangka (ancak) gamelan buatan Muangthai ini berbahan kayu
besi didominasi warna biru dan hijau. Kepala harimau China digambar di Saron
dan naga pada gantungan gong. Logam sumber suara diyakini dibuat di Sumedang,
rumah bagi pandai besi terkenal zaman dulu. Total ada 19 jenis alat musik inti
Sari Oneng.
Pengamat budaya tani tradisional dan teh Parahyangan, Kuswandi Md, mengatakan,
ada sekitar 14.000 gamelan hingga 1940-an. Namun, hanya empat gamelan asal
Parakan Salak yang pernah jadi duta Hindia Belanda mempromosikan teh, rempah-
rempah, cokelat, dan kopi. Satu unit gamelan tampil di Belanda tahun 1883, dua
unit di Perancis tahun 1889 (salah satunya Sari Oneng), dan satu unit lainnya
di Amerika Serikat tahun 1893. Namun, hanya Sari Oneng yang kembali ke Tanah
Air. Tiga lainnya diduga disimpan di negara tempat pameran dilangsungkan. Versi
lain menyebutkan, hanya gamelan Sari Oneng Parakan Salak yang menjelajah Eropa
dan AS.
Inspirasi
Kehadiran stan Hindia Belanda dalam Exposition Universelle di Paris, Perancis,
tahun 1889 mengundang rasa penasaran pengunjung. Ajang ini digelar untuk
merayakan 100 tahun revolusi Perancis dan peresmian menara Eiffel.
Marieke Bloembergen dalam buku Colonial Spectacles The Netherlands and The
Dutch East Indies at the World Exhibitions 1880-1931 menuliskan, lewat stan
bernama "Kampong", pengunjung disuguhi permukiman ala Jawa dan Sunda, pembuat
batik, serta perajin senjata tradisional. Namun, primadonanya ada di gedung
kesenian berkapasitas 1.000 orang. Puluhan pemusik dan belasan penari ronggeng
Sunda serta Mangkunegara Solo beraksi diiringi Sari Oneng.
Komposer, pelukis, hingga perupa dari berbagai negara sangat antusias menikmati
suguhan itu. Karel van der Hutch dalam tulisan berjudul "De Gamelans van
Parakan Salak" di majalah Indonesie Naderbij menggambarkan komposer Claude
Debussy berjam-jam mendengarkan alunan Sari Oneng. Beberapa karyanya yang
kemudian diduga terinspirasi Sari Oneng antara lain Danses pour Harpa, Danses
Sacree et Danse Profane, Pagodes, dan Prelude a l'apres Midi d'un Faune.
Kembali ke Indonesia pada awal abad ke-20, Gamelan Sari Oneng tetap digunakan
dalam berbagai acara priayi dan pembesar Belanda. Baru saat Jepang datang ke
Indonesia tahun 1942, keberadaan Sari Oneng mendapat ancaman.
Dengan alasan keterbatasan bahan pembuatan senjata untuk perang, Jepang
menginstruksikan melebur semua bahan logam termasuk gamelan. Bupati Sukabumi
saat itu, Raden Aria Adipati Soeridanoeningrat, berinisiatif menyembunyikan
Sari Oneng. Atas jasanya itu, Administratur Parakan Salak MOA Huguenin
menghibahkan gamelan kepada Soeriadanoeningrat tahun 1957. Oleh ahli waris
Soeriadanoeningrat, Sari Oneng disimpan di Museum Geusan Ullun sejak tahun 1975.
Butuh perhatian
Ada cerita menarik di balik kepulangannya dari keliling Eropa. Salah satu gong,
bergaris tengah 92 cm dengan berat 30 kg, yang dinamakan Goong Ageung
tertinggal di Belanda. Baru April 1989, gong perunggu ini dikembalikan.
Kabarnya, saat disimpan di Tropen Museum, gong selalu berbunyi dan membuat
takut pengelola museum.
Akan tetapi, Gumilar Danoeningrat, anak mantan Bupati Soeriadanoeningrat yang
hadir dalam pengembalian gong, mengatakan, gong diberikan kepada MOA Huguenin
tapi dikembalikan tahun 1989.
Kini, Sari Oneng jarang digunakan lagi. Dari pentas keliling Eropa, Sari Oneng
hanya dipakai mengiringi kursus menari anak- anak di Museum Geusan Ulun.
Pertunjukan besar terakhir Sari Oneng saat mengiringi ulang tahun perkawinan
ke-60 Soeriadanoeningrat, 36 tahun lalu.
Beberapa alat musik digerogoti usia dan tak lengkap lagi, seperti saron dan
bonang yang kehilangan logam sumber bunyi. Gumilar berharap perhatian besar
pemerintah ikut mengusahakan yang terbaik bagi Sari Oneng, termasuk tempat
penyimpanan yang representatif.
Gumilar juga ingin Sari Oneng digunakan lagi dalam acara penting di Jawa Barat.
Selain bisa menjaga kekuatan dan kualitas gamelan, bukan tidak mungkin magi
sukses Sari Oneng di perhelatan internasional tempo dulu terulang kembali.
------------------------------------
Yahoo! Groups Links
<*> To visit your group on the web, go to:
http://groups.yahoo.com/group/kisunda/
<*> Your email settings:
Individual Email | Traditional
<*> To change settings online go to:
http://groups.yahoo.com/group/kisunda/join
(Yahoo! ID required)
<*> To change settings via email:
[email protected]
[email protected]
<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
[email protected]
<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
http://docs.yahoo.com/info/terms/