mugi-mugi we sing langkung seueur pamingpin, pejabat, sareng pagawe pamarentahan nu jejeg tur eucreug marucunghul ka payunna, amiiin...
Nuhun, >________________________________ > From: Irpan Rispandi <[email protected]> >To: [email protected] >Cc: [email protected] >Sent: Thursday, 12 January 2012 9:47 AM >Subject: [kisunda] HOVERINDO > > > >"Nupenting aing meunang duit !" ceuk oknum pagawe pamarentah teh >he..he..he... > > >***punten teu disundakeun > >---------- Forwarded message ----------From: Morry Infra ><[email protected]> >Date: 2012/1/11 >Subject: [Serba.Serbi-KL] Fwd: Fw: Komen tentang Produksi Dalam Negeri : Mari >kita dukung >To: ARII Drlg Milist <[email protected]>, Serba_KL Serba_KL ><[email protected]>, "im-KSA (Indonesian Moslems @ KSA)" ><[email protected]>, [email protected], iatmi-saudi ><[email protected]> > > >-----Original Message----- >From: Agustar, Ari [mailto:] >Sent: Tuesday, January 10, 2012 1:48 PM > >Subject: FW: Komen tentang Produksi Dalam Negeri : Mari kita dukung > >Just share dari milis treman, > >Basri Hasan >Semoga Esemka tidak bernasib sama. > >Sahabat-sahabatku yth., >Seminggu terakhir ini saya antusias mengikuti berita heboh mengenai mobil >bikinan anak-anak SMK di Solo, yang dikritik habis oleh sebagian pejabat >pemerintah Indonesia. >Ini membawa kenangan saya kembali ke periode 2004 - 2007 ketika kami berusaha >dan hampir berhasil membangun Industri HOVERCRAFT, tapi berhasil dengan sukses >dimatikan justru oleh pejabat-pejabat yang sesungguhnya sangat bisa membantu >merubah sejarah otomotif Indonesia, tapi memilih untuk bersikap sebaliknya. > >Pejabat Indonesia yang visioner dan mengambil tindakan sangat berani saat itu >ialah KASAL Laksamana Slamet Soebijanto. >Begitu diangkat jadi KASAL, beliau mengumumkan pembelian 4 (empat) buah >HOVERCRAFT "buatan putera-putera Bangsa Indonesia", yaitu kami, yang baru k.l. >tiga minggu sebelumnya memberikan presentasi mengenai HOVERCRAFT yang akan >kami bangun di depan Wagub Lemhanas beserta jajarannya. >Saat itu, kami malah sama sekali tidak tahu kalau Wagub Lemhanas yang menerima >presentasi kami ini akan menjadi KASAL! Dan meskipun penerimaan beliau dan >timnya amat-sangat simpatik dan penuh respek, tidak terlihat tanda-tanda bahwa >beliau akan menuliskan sejarah di Republik Indonesia ini. >Tentu saja ini menimbulkan kegemparan di mana-mana, mulai dari pejabat-pejabat >TNI AL sendiri, maupun (atau terutama???) dari para rekanan TNI AL sendiri, >yang seperti biasa di dunia bisnis, menganggap pendatang baru sebagai saingan >yang akan mengambil sebagian besar porsi lahan mereka! >Resistensi berat pertama yang kami dapat ialah dari dalam TNI AL sendiri. > >Pesanan 4 (empat) unit HOVERCRAFT yang disepakati, ketika jadi SK ternyata >berubah menjadi 5 (LIMA) unit DENGAN HARGA YANG SAMA! > >Upppsss........, pesanan 4 unit seharga Rp 15 milyar, berubah menjadi 5 unit, >harga langsung terjun bebas di"discount paksa" 20 % dengan tambahan beban >kewajiban membangun satu unit lagi dalam jangka waktu yang sama pula! > >Keputusan dibuat bulan Maret, HOVERCRAFT yang kami bangun harus bisa diikutkan >dalam Latihan Besar Armada Jaya pada pertengahan bulan Desember 2005!!! > >Pilihannya adalah mundur dan menyerah sebelum bertempur. >Atau maju terus demi mewujudkan impian dan idealisme! >(Dari sejak awal memang cita-cita kami adalah membangun Industri HOVERCRAFT, >MEMBUKTIKAN bahwa putera-putera Indonesia itu BISA bertindak lebih dari >sekedar makelar/perantara/broker atau sekedar "tukang jahit"! >Fokusnya adalah kebanggaan bangsa, bukan cari proyek untuk mendapatkan uang!) > >Sekali layar terkembang, pantang biduk surut ke pantai, maka kami memilih >untuk maju terus. > >Demikianlah meskipun dengan tersandung-sandung, jatuh-bangun berdarah-darah, >kami berhasil mendeliver ke lima unit HOVERCRAFT buatan anak bangsa tersebut, >yang tahun itu juga langsung diikutkan (dan menjadi penyelamat sekaligus >primadona selain sebagai kendaraan pendarat pasukan marinir, juga sebagai alat >angkut VIP, yaitu para Perwira Tinggi TNI AL dll.) dalam Latihan besar TNI AL >Armada Jaya ke 25 di P. Sekerat Kaltim pada tanggal 14 Desember 2005. > >Hambatan lain ialah adanya rumors dan isue-isue negatif yang jelas dilemparkan >oleh para rekanan seperti yang telah saya tulis di atas, dan........para >produsen HOVERCRAFT dunia yang tiba-tiba saja berbondong-bondong membombardir >Indonesia dengan segala tawaran pembelian HVOERCRAFT dan pengkerdilan >kemampuan bangsa Indlonesia untuk memproduksi barang canggih. > >Persis seperti reaksi Gubernur Jateng Bibit Waluyo, Bupati Wonogiri Danar >Rahmanto dan Wkil Ketua DPR Anis Matta menyikapi mobil Kiat ESEMKA buatan >anak-anak Solo itu! >Satu e-mail dari perwakilan produsen HOVERCRAFT di Inggris menulis bahwa >menurut pengalaman mereka membangun HOVERCRAFT di India, kemampuan satu orang >insinyur Inggris itu sebanding dengan sepuluh orang Insinyur India. >Indonesia ya pasti lebih buruk lagi dari itu, maksudnya! >He he he...... > >Yang lebih hebat ketika pada 15 Januari 2007 saya bertemu dan diperkenalkan >dengan Kabalitbang Dephan Prof. Dr. Lilik Hendrajaya pada pelantikan salah >seorang mutual friend yang jadi Staff Ahli Menhan. > >Begitu mengetahui bahwa saya adalah pensupply ke lima unit HOVERCRAFT ke TNI >AL, Prof. Lilik langsung memberondong saya dengan tuduhan betapa salahnya kami >karena memproduksi HOVERCRAFT tanpa didahului penelitian. (Entah menyimpulkan >dari mana ya, beliau ini? Membangun HOVERCRAFT tanpa didahului penelitian???) > >Dalam acara yang sedemikian resminya, tanpa menghiraukan sopan-santun (kami >kan baru saling diperkenalkan?!) beliau langsung menguliahi saya mengenai >tata-aturan berproduksi: Badan Penelitian (maksudnya Balitbangnya beliau) yang >meneliti, hasilnya baru boleh kami produksi! > >"Kapan anda pernah menelitinya, Pak?" Jawabnya adalah > >"...Pokoknya....." He he he....., Indonesia buaanget duehhh......! >Tapi didalam rentetan berondongan tuduhan itu, beliau malah mengajak >kerja-sama, menjanjikan akan menyediakan dana Rp. 300 juta buat kerja-sama >tersebut. >Beberapa hari kemudian beliau menelpon saya, diikuti beberapa kali pertemuan >dan akhirnya tim kami dan tim beliau bertemu di kantor beliau. (Saya datang >dengan Mas Indra S. Said yang saat itu sedang membantu kami cari pemodal untuk >bangkit kembali dan satu sobat lain dari HOVERINDO.) > >Pada rapat itu dengan pedenya beliau menyatakan bahwa HOVERINDO akan diikutkan >dalam penelitan mengenai HOVERCRAFT yang akan dikerjakan oleh Balitbang Dephan. >Lho....., kami (HOVERINDO) yang sudah mendeliver HOVERCRAFT ke TNI AL, kok >malah mau diikutkan pada timnya Balitbang Dephan yang baru mau akan mulai >mengadakan penelitian??? Logikanya kok bisa terbalik-balik begini, sih....?! > >"Kerja-sama" model begini ini mah tentu saja langsung kami tolak mentah-mentah. > >Jawaban teka-tekinya muncul beberapa hari kemudian, ketika beliau menelpon >saya kembali setelah penolakan kerja-sama dari pihak kami pada pertemuan di >ruang rapatnya itu. > >He he he....., proyek kerja-sama itu ternyata "...memang ujung-ujungnya >duit...." (ini suweerrr adalah kata-kata beliau sendiri) karena dari Rp. 300 >juta yang beliau janjikan itu 40% peruntukannya adalah untuk honor para ahli >di pihak beliau! >Wuitttsss.......! > >Kalau saya juga minta 40 % buat tim ahli saya di HOVERINDO supaya adli, maka >biaya penelitiannya jadi tinggal 20 % atuhhh....! >Rp. 60 juta untuk penelitian dari total Rp. 300 juta yang dikeluarkan >negara!!!"Penelitian"nya akan jadi seperti apa ya, hasilnya? > >Jadi beliau butuh perusahaan kami itu rupanya sebagai legitimasi "proyek" >institusinya. > >Penelitiannya mah nggak penting-penting amat, karena memang bukan itu >tujuannya! Yang penting uang negara bisa keluar dan ada >"pertanggung-jawabannya"! (Disclaimer: Ini tebakan saya, karena tidak >menemukan alasan lain lagi yang masuk akal!) Paling top ketika ketemu pejabat >penting berikutnya yang adalah tidak kurang dari Menristek Kusmayanto Kadiman >himself, yang berhasil saya minta menyediakan waktu untuk menerima saya berkat >jasa bantuan Mas Apam. (Saat menghadap Menristek ini saya didampingi juga oleh >Mas Satyo Fatwan.) > >Belum satu menit beliau melihat video demo ke lima HOVERCRAFT yang telah kami >deliver ke TNI AL, beliau langsung menukas: "Ya ya ya...., saya sudah tahu >mengenai HOVERCRAFT ini!" dan mulailah k.l. 45 menit kuliah umum mengenai >nasib HOVERCRAFT kami ini. > >(Panjang video demo itu k.l 8 menit, yang sudah diabaikan beliau sejak awal. >Tidak ingin tahu, tidak penasaran!) > >"Waktu itu dalam suatu acara KASAL memang bilang sama saya, bahwa TNI AL >sedang membeli HOVERCRAFT buatan dalam negeri. Beliau minta saya melihat >pembangunannya dan minta bagaimana pendapat Kemenristek." > >"Jadi saya kirim orang-orang saya untuk menyelidiki ke sana. Ternyata >produksinya payah sekali! Masih berupa industri rumahan dan sama sekali tidak >memenuhi syarat untuk bisa menghasilkan sebuah produk yang handal!" >"Maka saya bilang sama KASAL, itu bahaya sekali! >Kalau you beli satu mungkin tidak apa-apa. Tapi kalau beli banyak, you nanti >akan dapat masalah!" > >Masya Allah! > >Di depan hidungnya itu video demo dari LIMA, BUKAN SATU HOVERCRAFT, masih >belum selesai! >Demonya adalah bagaimana kemampuan HOVERCRAFT kami ini bekerja dan >bermanoeuver seperti layaknya kendaraan yang sedang mendemonstrasikan >kehandalannya!!! >"Lho, saya kok tidak pernah tahu kalau Kemenristek pernah datang ke pabrik >kami, Pak?" >"Ya, you tentu tidak tahu, karena memang kami nggak bilang-bilang, kok!" >Wuitttsssss......????! >"Boleh saya minta hasil laporan orang-orang yang Bapak kirim ke pabrik kami?" >"Nggak, kita nggak bikin laporan seperti itu!" >Masya Allah lagi! >Seorang Menteri Riset dan Teknologi bilang ke KASAL TNI AL bahwa produk kami >yang sedang dibeli TNI AL itu "payah" dan "bisa berbahaya", tapi tidak punya >dokumentasi data pendukung statement beliau??? >Padahal dalam "kuliah"nya saat itu beliau ini berulang-ulang menekankan bahwa >dirinya adalah seorang birokrat! >Beliau bahkan tidak menyadari kadar keampuhan statement seorang Menteri RISET >dan TEKNOLOGI terhadap seorang KASAL. Dan akibat ikutannya terhadap perusahaan >kami, yang berdiri tanpa SESENPUN memakai uang negara! >Ibarat anak balita yang diberi mainan AK 47, tidak tahu berbahayanya "mainan' >yang sedang dipegang-pegangnya ini! Begitu pula rupanya Pak Menteri tidak >menyadari saciduh metu, saucap nyatanya, idu geninya fatwa seorang menteri! >"Kalau begitu, mengapa Bapak tidak segera memberi tahu kami akan >kelemahan-kelemahan produk kami, sehingga kami bisa segera memperbaikinya?" >"You bayar berapa sama saya??!!!" >Wuittttssss......, saya hampir-hampir tidak bisa mempercayai seorang Menteri >dengan latar belakang pendidikan yang sedemikian tinggi bisa bicara seperti >ini! >Betul-betul tidak masuk akal!!! >Sungguh berkah saat itu saya didampingi oleh Mas Apam dan Mas Satyo. >Ketika menulis ini saya berdoa-doa bahwa sobat-sobat ini masih ingat kata per >kata yang saya tulis kembali di atas ini. >Buat saya yang jadi sasaran tembak Pak Menteri mah, kejadian itu akan terbawa >sampai mati, atuh! >Boro-boro lupa atau 'fade out', memori ini rasanya seperti baru terjadi >kemarin pagi, kok! >Setelah menyelidikinya ke belakang, akhirnya saya tahu juga kapan Pak Menteri >ini "mengirim orang-orangnya". >Orang-orang ini memang betul pernah datang berkunjung sebagai bekas teman >kuliah Direktur Produksi kami. >Saya kebetulan memang sedang ada di pabrik, dan diperkenalkan Dirprod bahwa >itu adalah teman-teman kulliahnya di ITB dulu. Mereka saat itu bekerja BPPT, >mau kangen-kangenan dengan bekas teman kuliah yang sekarang jadi Direktur >Produksi pabrik HOVERCRAFT! >Ha ha ha haaa......., problem is: Saat itu belum ada SATUPUN HOVERCRAFT kami >yang sudah jadi! Kami bahkan masih baru pada tahap-tahap awal produksi! >Entah apa dasarnya sampai bisa-bisanya mereka melapor kepada bossnya betapa >berbahayanya HOVERCRAFT kami itu! >Yang menyedihkan bagi saya, "orang-orang Menristek" ini rupanya belum pernah >datang dan MASUK ke pabrik pesawat seperti FOKKER yang pesawatnya dulu banyak >beterbangan di angkasa Indonesia! > >Kelihatannya "orang-orang Menristek" ini hanya tahu pabrik-pabrik asembling >mobil yang biasanya memang serba robot dan mesin-mesin otomatis! > >Di pabrik-pabrik pesawat mah, apalagi yang canggih-canggih seperti pesawat >Concorde dan pesawat ulang-alik atau yang paling modern sekarang ini, raksasa >Airbus A 380, pengerjaannya ya "seperti industri rumah-tangga"! >Serba manual >TIDAK robotik! >Ya seperti di parik HOVERCRAFT kami itu lah! >Kembali ke laptop. >Anak-anak SMK Solo ini beruntung mereka membuat produksinya di jaman Dahlan >Iskan sudah naik panggung, dan Djokowi jadi Walikota Solo. >Semua pasti sudah tahu bahwa kedua orang ini sama-sama tidak pernah mengambil >gajinya sebagai pejabat negara. >Ini saja sudah membedakan antara kualitas pemimpin dan pejabat negara bibit >unggul, dengan para pejabat negara lain yang berkualitas biasa-biasa saja. >Apalagi kalau dibandingkan dengan mereka yang semakin tidak malu-malu lagi >mempertontonkan sepak terjangnya yang sarat dengan kepentingan pribadi! >Saya menulis pengalaman di atas bukan untuk curcol. Bukan pula untuk "merusak >nama baik" orang-orang yang saya tulis namanya itu. (Kalau nama baiknya rusak >ya itu akibat perbuatannya sendiri, atuh. Wong semua itu kejadian nyata, >kok!)Melainkan sebagai retropeksi, sekaligus bukti akan harapan seperti yang >selalu diucapkan oleh Mas Hiram: Masa depan Indonesia yang gilang-gemilang. >Pada tahun 2005 lalu, lebih banyak pejabat yang berusaha mematikan HOVERCRAFT >kami dengan banyak alasan (yang buntut-buntutnya duit, karena tidak sedikit >yang lalu berselera tinggi buat mengimport HOVERCRAFT dari luar-negeri. >Silakan ditebak sendiri mengapa!) dari yang kedengarannya ilmiah, sampai yang >terang-terangan berusaha menyabot supaya produksi kami ini tidak jadi terwujud! >Tahun 2011 ini, lebih banyak bunyi positif yang kita dengar dari para pejabat >spesies baru. >Komentar miring Gubernur Jateng Bibit Waluyo (yang memang punya ganjelan >pribadi dengan Djokowi soal penggusuran eks Pabrik Es Saripetojo yang akan >dibuat mall), Bupati Wonogiri Danar Rahmanto yang punya perusahaan karoseri >tapi belum mampu berprestasi seperti anak-anak SMK tersebut, sekejap saja >tenggelam dalam gegap-gempitanya sambutan positif dari segala lapisan >masyarakat yang bangga akan prestasi ini dari seluruh penjuru tanah-air. >Semoga para pejabat yang berwenang untuk men"sertifikasi" di Jakarta >seluruhnya sadar, bahwa kalau belum-belum produksi anak-anak ini harus >memenuhi standar setinggi kelas Mercedez Benz atau BMW, maka jelas potensi >putera Bangsa Indonesia tidak akan pernah bisa bangkit. > >Copas dari status Alex Aan dari Basri hasan > >(dikutip dari posting/status Anton Dwisuno di Facebook, yang mengutip dari >status Alex AAn, yang mengutip dari Basri Hasan) > > >-- >Mohon menggunakan mailist sesuai dengan peruntukannya. >IATMI-KL : [email protected] >Cerita santai : [email protected] >Postingan bebas selama tak menyerang SARA : [email protected] > > >-- >cheers, >tony > > >
