---------- Forwarded message ----------
From: Suarsa, Roni <[email protected]>
Date: 2012/1/13
Subject: RE: [kisunda] Industri - Sajadah Akar Wangi
To: Ki Hasan <[email protected]>
Eleuh hebat geuning Ki Haji teh nya, mani nirilik keyeng pisan, eta
kuring lamun pirajeunan cuti ka lembur sok ngadedet-dedet oleh2 mangrupa
sajadah murah, ti wewengkon sabudereun masjid nabawi keur bagikeneun, ceuk
nu dagangna ceunah ieu produk Turki, palebah maca guaran haji Imron yen
produk anjeunna di merek-an Turki, asa manghanjakalkeun, tapi ketang mereun
keur saheula anan mah kudu kitu? Siga china nu milu nangkod kana merek2 nu
kahot mereun?****
Nya mereun mun tea mah kitu, ninggang mun kuring sorangan nu muka usaha
keur anjangkeuneun ka nagri batur sigana teu beda ti cara bisnis haji Imron
nya!****
Karunya teuing nagri urang, tapi leuwih karunya kana eusining beteung
ketang, keun weh samen-taun mah kikituan ge…. J****
Wilujeng ah Ki Haji Imron.. ****
** **
------------------------------
RONI RA SUARSA**
OPERATOR, YEP PP WET END
Saudi Yanbu Petrochemical Company
A SABIC Affiliate
Yanbu Industrial City 41912
Saudi Arabia
T +966 (4) 321 4276-4276
F
E [email protected]
*From:* [email protected] [mailto:[email protected]] *On Behalf
Of *Ki Hasan
*Sent:* Thursday, December 29, 2011 2:06 PM
*To:* Ki Sunda
*Cc:* Baraya Sunda; Urang Sunda
*Subject:* [kisunda] Industri - Sajadah Akar Wangi****
** **
****
H. Imron Mina bin Kamsari, Perintis Pembuatan Sajadah dari Akar Wangi
Berkualitas Ekspor****
Published By Seputar
Wirausaha<http://arifh.blogdetik.com/author/ingenieur/>under Profil
Bisnis <http://arifh.blogdetik.com/category/profil-bisnis/> Tags:
industri<http://arifh.blogdetik.com/tag/industri/>,
kerajinan <http://arifh.blogdetik.com/tag/kerajinan/>,
produk<http://arifh.blogdetik.com/tag/produk/>
****
Masyarakat kampung Pakumpulan, Buaran di Pekalongan, Jawa Tengah pada
dekade awal tahun 1970-an dikenal sebagai produsen sarung tenun palekat
yang dibuat dengan menggunakan alat tenun bukan mesin (ATBM). Namun dalam
perkembangannya industri kerajinan tenun sarung palekat terpaksa harus
tergusur karena makin terdesak oleh produk sarung tenun yang dibuat dengan
mesin.****
** **
Salah satu perajin sarung tenun palekat yang terpaksa harus menghentikan
kegiatan industri kerajinan tersebut diantaranya adalah Imron Mina bin
Kamsari. Sebagai gantinya, mulai tahun 1975 Imron mulai beralih ke industri
kerajinan tenun lainnya, yaitu kerajinan tenun dari serat alam. Pada
awalnya Imron menggunakan bahan dari eceng gondok untuk membuat kerai,
karpet dan barang kerajinan tenun dari eceng gondok lainnya.****
Industri kerajinan tenun eceng gondok yang digeluti Imron sempat mencapai
masa booming pada dekade tahun 1980-an sehingga men-dorong warga kampung
lainnya untuk turut menggeluti usaha industri kerajinan tenun eceng gondok.
Namun banyaknya warga kampung yang ikut-ikutan memproduksi kerajinan tenun
eceng gondok justru telah membuat pasokan barang kerajinan tersebut menjadi
tidak terkendali. Akibatnya, para pembeli/pedagang dari luar kota dengan
leluasa dapat menekan harga jual barang kerajinan tenun eceng gondok buatan
kampung tersebut. Karena harga jualnya yang terus merosot, para perajin
tenun eceng gondok pun satu per satu mulai meninggalkan industri kerajinan
tersebut, termasuk diantaranya Imron dan keluarga.****
Seperti juga terjadi sebelumnya, Imron pun mulai coba-coba mencari
alternatif usaha kerajinan lainnya. Dengan berbekal pengalaman di bidang
industri kerajinan tenun sebelumnya, pada tahun 2001 Imron mulai
mencoba-coba membuat sajadah dari bahan akar wangi yang bahan bakunya
didatangkan dari Kabupaten Garut, Jawa Barat. Akar wangi sengaja dipilih
sebagai bahan baku utama karena akar wangi mengandung minyak atsiri yang
dapat berfungsi sebagai aroma terapi. Dalam proses pembuatannya bahan baku
akar biasanya dikombinasikan dengan benang katun, serat mendong dan lidi
sehingga diperoleh produk jadi yang sangat menarik.****
Di luar dugaan, produk kerajinan sajadah akar wangi buatan Imron banyak
diminati kalangan pembeli, tidak hanya pembeli dari dalam negeri tetapi
juga dari luar negeri. Sajadah akar wangi banyak disukai kalangan pembeli
dari luar negeri, khususnya dari Timur Tengah, karena menghasilkan aroma
khas akar wangi yang sangat kuat. Tingginya permintaan pasar terhadap
produk sajadah akar wangi buatan Imron lagi-lagi telah membuat usaha
kerajinan Imron berkembang pesat. Dalam waktu yang relatif singkat volume
produksi kerajinan sajadah akar wangi Imron meningkat secara signifikan.****
** **
Sukses yang dialami Imron dalam mengembangkan sajadah akar wangi pun
kembali menarik perhatian warga sekampung. Lagi-lagi, seluruh warga di
kampung tersebut ikut-ikutan menggeluti usaha kerajinan sajadah akar wangi
dengan berbagai motif. Kali ini Imron merangkul masyarakat kampung yang
turut menggeluti usaha kerajinan tersebut untuk bekerjasama menggarap pasar
dengan baik agar tidak terjadi dampak samping yang merugikan bagi para
perajin sendiri. Sebagian masyarakat kampung justru diberdayakan oleh Imron
untuk menggarap pesanan produk sajadah akar wangi dari luar negeri.****
Kini Imron berhasil membina 60 perajin sajadah akar wangi di Pekalongan
dengan total tenaga kerja yang terlibat mencapai 2.500 orang. Usaha
kerajinan sajadah akar wangi Imron sendiri kini memiliki 65 ATBM sedangkan
para perajin binaannya memiliki 150 ATBM. Dengan 60 perajin binaan
tersebut, usaha industri kerajinan sajadah akar wangi Imron kini berhasil
meraup omset penjualan lebih dari Rp 2 miliar per bulan.****
Selama ini Imron telah menjalin kerjasama dengan seorang pengusaha Malaysia
berdarah Irak untuk mengekspor produk kerajinan sajadah akar wangi ke Arab
Saudi, Oman dan sejumlah negara lainnya di kawasan Timur Tengah. Di Arab
Saudi sendiri, produk sajadah akar wangi buatan Imron laku dijual di
berbagai toko swalayan dengan harga sekitar 400 Real atau sekitar Rp 1 juta
per lembar, padahal di Indonesia sendiri produk tersebut dijual dengan
harga Rp 40.000 per lembar. Produk sajadah akar wangi itu dijual dengan
menggunakan merek Malaysia dan Turki.****
Hingga tahun 2002 Imron masih mampu menampung seluruh produksi sajadah akar
wangi warga sekampung untuk kemudian dijual kepada pengusaha asal Malaysia
untuk diekspor. Namun setelah ramainya kegiatan produksi sajadah akar wangi
di kampung tersebut, sebagian perajin ada juga yang menjual sendiri ke
kota-kota lain di Indonesia atau kepada pembeli asing yang sengaja datang
ke Pekalongan. Kondisi tersebut mulai menimbulkan dampak yang kurang
menguntungkan bagi perajin karena harga barang pun mulai merosot.****
Walaupun demikian, Imron masih tetap dapat mempertahankan usaha
kerajinannya karena selama ini Imron selalu memelihara hubungan baik dengan
para pembeli dari luar negeri.****
Bahan baku akar wangi sendiri sengaja didatangkan dari Kabupaten Garut,
Jawa Barat karena akar wangi dari Garut memiliki kualitas yang sangat
tinggi. Namun demikian peminat akar wangi dari Garut juga cukup banyak
sehingga industri kerajinan sajadah akar wangi Pekalongan terpaksa harus
bersaing dalam mendapatkan bahan baku terutama dengan industri penyulingan
minyak atsiri.****
Pada musim kemarau biasanya harga akar wangi mengalami kenaikan hingga
mencapai Rp 15.000 per kg, padahal dalam keadaan normal harga bahan baku
akar wangi biasanya berkisar sekitar Rp 10.000 per kg. Lonjakan harga bahan
baku akar wangi itu terjadi karena pada musim kemarau produksi akar wangi
agak menurun sementara industri penyulingan minyak atsiri biasanya justru
membutuhkan bahan baku akar wangi lebih banyak.****
Imron sendiri setiap minggunya membutuhkan sekitar 6 ton bahan baku akar
wangi untuk kegiatan industri kerajinan sajadah akar wanginya. Volume
tersebut sudah termasuk untuk memenuhi kebutuhan akar wangi para perajin
yang berada di bawah binaan Imron. Dengan bahan baku sebanyak itu, Imron
bersama para perajin binaannya mampu memproduksi 3.000 unit sajadah akar
wangi setiap minggunya atau sekitar 12.000 unit sajadah akar wangi setiap
bulannya.****
Untuk kebutuhan ATBM dan spare part (komponen)-nya, Imron biasanya bisa
memperolehnya dari wilayah Pekalongan sendiri. Karena di wilayah Pekalongan
kini tumbuh industri yang khusus memproduksi ATBM beserta spare part-nya.
Dengan demikian, di Pekalongan kini telah tumbuh sebuah klaster industri
kerajinan tenun yang cukup mapan. Dengan perkembangan industri kerajinan
yang makin kondusif, kalangan perbankan pun dengan sendirinya mulai
menggarap lahan bisnisnya di sana. Kini banyak bank yang mulai menawarkan
kreditnya kepada para perajin.****
Sumber : Majalah Kina (No.1-2008) Departemen Perindustrian RI****
http://arifh.blogdetik.com/h-imron-mina-bin-kamsari-perintis-pembuatan-sajadah-dari-akar-wangi-berkualitas-ekspor/
****
--------------------------------
This e-mail and any attachments are for authorized use by the intended
recipient(s) only. They may contain proprietary material or confidential
information and/or be subject to legal privilege. They should not be
copied, disclosed to, or used by any other party.
If you have reason to believe that you are not one of the intended
recipients of this e-mail, please notify the sender immediately by reply
e-mail and immediately delete this e-mail and any of its attachments. Thank
you.
<<[email protected]>>