Duka tah Kang .. Tapi asa rada kapetakeun we krisis nagri ayeuna.. -Hehe Rampes™ Powered by Telkomsel BlackBerry®
-----Original Message----- From: "[email protected]" <[email protected]> Sender: [email protected] Date: Fri, 13 Jan 2012 07:09:45 To: <[email protected]> Reply-To: [email protected] Subject: [kisunda] serat keur Presiden RI Alus tah serat teh. ngan geus dugi teu ka manehna. --- In [email protected], "Mochamad Ziaulhaq®" <em_zya@...> wrote: > > > Rampes™ > Powered by Telkomsel BlackBerry® > > -----Original Message----- > From: Tatang muttaqin <Tatangm@...> > Sender: [email protected] > Date: Thu, 12 Jan 2012 20:28:54 > To: <Invalid address> > Reply-To: [email protected] > Subject: [JARKOM PERSIS] Fw: Kepada YTH Presiden RI > > > > --- On Fri, 1/13/12, Arya-Hadi Dharmawan <ar_dharmawan@...> wrote: > Bogor, 13.01.2012 > > > Kepada YTH > Dr. Susilo Bambang Yudhoyono - Presiden RI, > di Jakarta > > Semoga surat elektronik ini menjumpai anda dalam keadaan sehat, dan tidak > sedang dirundung resah dengan keadaan negeri ini, seperti saya sedang resah > oleh karenanya. > > > YTH Presiden RI, pekan-pekan ini negeri ini menyaksikan gejolak gerakan > anarkhis yang tak terhitung jumlahnya di desa-desa dan aras bawah lapisan > sosial negeri ini. Sekiranya anda dulu saat belajar di IPB sempat mempelajari > ilmu-ilmu sosiologi pedesaan, maka anda akan segera paham bahwa akar > persoalan itu sesungguhnya bukan kekerasan biasa. Gejolak ini berakar kuat > pada krisis pedesaan di pelosok-pelosok negeri yang bertali-temali dengan > krisis penguasaan sumber-sumber penghidupan (tanah, air, hutan, dsb). > Sayangnya, waktu terlalu cepat dan anda tidak sempat berkenalan dengan > sosiologi pedesaan. Dengan ini, hendak dikatakan bahwa krisis yang terjadi > bukanlah krisis ekonomi biasa, tetapi krisis itu berkaitan erat dengan > suasana kebatinan sosiologis rakyat Indonesia di pedesaan yang penghidupannya > merasa terancam. > > Krisis pedesaan itu sebenarnya bertali-temali dengan krisis kependudukan dan > krisis ekologi yang menambah warna krisis pedesaan semakin kelam. Dalam > suasana krisis yang kelam tersebut, rakyat menghadapi jalan buntu kemana > mereka hendak memastikan jaminan hak-hak hidup mereka. Jalan buntu yang lebih > membuat frustrasi adalah tak ada jalan kemana mereka mengadu, karena negara > [dengan seluruh perangkatnya] menjadi terlalu asing bagi mereka. Negara > menjadi asing karena negara lebih suka mendengar bukan suara orang-orang > desa, melainkan suara lain dari pihak yang selama ini berseberangan dengan > orang-orang desa (suara pemodal yang berselingkuh dengan para rent-seeker > negeri ini). > > YTH Presiden RI, bila rakyat menjadikan anarkhisme dan radikalisme sebagai > habitus/cara-hidup (terlebih dibumbui dengan kekerasan dan perilaku kriminal) > seperti yang mereka tunjukkan hari-hari ini pada laporan media TV-TV > nasional, itu tentu bukanlah sifat orang-orang negeri ini yang > sebenar-benarnya yang dikenal santun dan penuh harmoni. Kekerasan dan anarkhi > juga bukan cita-cita moral para founding fathers kita tatkala mereka menyusun > Pembukaan UUD 1945 yang masih kita junjung tinggi bersama. > > Namun, kekerasan demi kekerasan yang mereka tunjukkan adalah sekedar reaksi > atas kekerasan demi kekerasan yang menghampiri mereka setiap hari, yang telah > dilakukan oleh pihak lain yang seharusnya justru melindungi mereka. Kekerasan > oleh rakyat menjadi absah, karena negara mendahului melakukan kekerasan dan > anarkhisme melalui keputusan-keputusan yang menekan orang-orang desa. > Eksklusi yang menyebabkan eliminasi sumber-sumber penghidupan orang desa > (betapapun lemahnya legitimasi mereka berada di suatu kawasan) tak pernah > dicarikan solusi hukum yang memadai. Bahkan keputusan hukum semakin > meminggirkan mereka. Sesungguhnya mereka (orang-orang desa itu) hanya ingin > bisa hidup cukup, tak berlebihan. > > YTH Presiden RI, kita boleh berbeda pendapat, tetapi saya memandang bahwa > negara telah lebih dahulu melakukan kekerasan bergelombang dari waktu ke > waktu yang sistemik dan sistematis melalui Undang-Undang sektoral yang banyak > melukai hati anak-anak negeri ini [sebut saja UU investasi, UU Perkebunan, UU > Minerba, UU sumberdaya air dsb] dan keputusaan-keputusan regulatif turunannya > yang muaranya adalah pemberian legitimasi dan hak-hak khusus kepada sektor > swasta (kapitalis) yang sudah lama dikenal sebagai pihak yang sering > berseberangan dengan orang desa (petani, nelayan, dan pelaku ekonomi kecil). > Saya menyebut kekerasan negara yang dilegitimasi oleh UU (undang-undang) dan > regulasi turunan (yang sering dihasilkan secara konspiratif-terselubung oleh > para pihak kepentingan ekonomki-kapital) sebagai pemicu penting kekerasan > oleh rakyat yang saat ini berlangsung di negeri ini. > > YTH Presiden RI, mohon anda memahami pandangan saya bahwa sektor > swasta-kapitalis (terutama skala raksasa dan trans-national corporation) > sebagai "anak-emas" negeri ini telah juga lebih dahulu melakukan kekerasan > dengan mengakumulasi material berlebihan dari tanah air akibat pengagungan > etika-etika moral yang sebenarnya kurang cocok bagi negeri penuh harmoni ini. > Moral ekonomi berintikan etika yang dibangun sektor kapitalis adalah > maksimisasi profit, akumulasi modal, ekspansi usaha (tak peduli meminggirkan > ekonomi rakyat kecil yang telah ada lebih dahulu ada ataupun menghancurkan > lingkungan hidup) tanpa pandang bulu, pengagungan terhadap individualisme dan > greediness. Keangkuhan serta ketamakan para kapitalis dalam menguasai > sumberdaya alam dan merusakkan materi-materi yang ada di negeri ini > (kehancuran hutan dan masyarakat di dalamnya oleh ekspansi modal adalah salah > satu contohnya) adalah kekerasan yang nyata dan tidak terbantahkan. > > YTH Presiden RI, dengan demikian saya menyebut situasi krisis di Indonesia > tercinta yang terjadi hari-hari ini adalah KEKERASAN NEGARA, KEKERASAN > KAPITALIS, dan KEKERASAN RAKYAT yang bersatu padu mewarnai peradaban negeri > yang katanya dipenuhi oleh rasa kasih-sayang ini. Hulu dari segala kekerasan > itu sebenarnya sangat sederhana, karena kekerasan-kekerasan itu adalah cara > untuk mendapatkan sejumput kesempatan bertahan hidup di negeri ini, secara > wajar. Namun kewajaran itu tak pernah tercapai, maka KEBERTAHANAN HIDUP HARUS > DIREBUT DENGAN CARA KEKERASAN nan SADISTIS yang dilakukan baik oleh NEGARA, > SWASTA maupun kini oleh RAKYAT. Sebuah situasi yang sangat mengenaskan bila > hal ini terjadi di negeri ini. > > YTH Presiden RI..marilah kita merenung, tidakkah situasi ini representasi > sebuah PELURUHAN PERADABAN yang mengkhawatirkan bagi bumi-nusantara yang > dikenal sangat beretika santun, penuh keadilan, dan tata-krama? Ataukah, anda > melihat hal-hal ini sebagai kewajaran sehingga anda sekedar mengutus tim ini > dan tim itu sekedar untuk "mengobati luka permukaan"? YTH Presiden RI, daku > sangat berharap anda melakukan langkah konkrit mendasar dengan mengubah > keadaan ini dari akar-akar persoalannya, bukan dari gejala yang tampak di > permukaan saja. Daku sangat berharap anda menunjukkan keberpihakan kepada > orang-orang desa dan rakyat kecil yang jumlahnya jauh lebih banyak dari > segelintir pemodal di negeri ini. > > YTH Presiden RI, sebagai anak-bangsa, daku mengajak anda berpikir dan > bertindak lebih nyata dan lebih dalam lagi untuk menyikapi persoalan krisis > bangsa ini. Sengaja kutulis surat > elektronik ini dalam kalimat yang egaliter, bukan berarti daku tak > menghormati anda. Daku menghormati anda sebagai presiden RI, karenanya > kutulis surat ini kepada anda, bukan kepada yang lain, karena kutahu hanya > Presiden RI yang bisa menangani ini semua. Surat elektronik ini kubuat dalam > suasana kebatinan sebagai sesama anak bangsa yang memikirkan dan merasakan > keresahan secara bersama-sama, dan prihatin kemana sebenarnya negeri ini akan > dibawa. > > Marilah kita berpikir lebih adil dan seimbang, mari kita ciptakan kedamaian > dan suasana kebatinan yang menyejukkan seluruh komponen anak bangsa. Semoga > anda diberkahi kekuatan untuk bertindak lebih jauh bagi negeri ini oleh Allah > SWT..amien. > > Salam negeri tercinta, > Arya Hadi Dharmawan > Dosen Fakultas Ekologi Manusia IPB > Warga Negara RI - tinggal di Bogor Jawa Barat > > Tembusan: kepada rakyat Indonesia melalui jaringan beberapa milis. > > > > > [Non-text portions of this message have been removed] >
