Orang Indonesia Buta Sejarah
Oleh *Jean van de Kok*
Dibuat *9 Januari 2012 13:11*
 [image: image/jpeg icon]Hindia
Belanda<http://cdn.radionetherlands.nl/data/files/images/lead/article/2012/01/hindia_belanda.jpg>

*“Orang Indonesia pada umumnya tidak meminati sejarah negara sendiri,
mereka lebih suka mitos dan fantasi nasionalisme,” demikian sastrawan
Belanda Adriaan van Dis.
*
“Memang tidak enak mengatakan itu, tapi kadar intelektual para cendekiawan
Indonesia sangat kurang,” tutur Van Dis yang sedang merampungkan dokumentr
tentang Indonesia untuk televisi Belanda. Ia termasuk elit intelektual
Belanda yang banyak menulis dan dikutip dalam media Belanda.

Harian Belanda *NRC Handelsblad* mewawancarai Adriaan van Dis tentang
Indonesia masa kini.

Keluarga Adriaan berasal dari Indonesia, mereka berlatar belakang Indo,
campuran Indonesia-Belanda. Menurutnya penyebab ketidaksadaran historis
adalah: pemerintah Orde Baru mewariskan kurikulum pendidikan yang jelek.

*Jalan pintas*
Pendapat ini didukung sejarawan Indonesia, Hariyono, guru besar pada
Universitas Negeri Malang. Katanya, “Waktu yang diberikan dalam kurikulum
terbatas, guru sejarah kemudian mengambil jalan pintas. Sejarah diajarkan
sepotong-sepotong.”

Namun menurut Hariyono masalah ini sudah berakar dalam masyarakat Indonesia
jauh sebelum Orde Baru. Jaman pergerakan nasional dan jaman kolonial
melihat sejarah bukan sebagai wacana akademis, namun sebagai mitos
nasionalisme.

“Mereka sampai lupa bagaimana posisi Indonesia dalam tatanan dunia. Sejarah
Indonesia tidak bisa dilihat dari konteks Indonesia saja,” demikian
Hariyono. Pemerintah Orde Baru menempatkan sejarah sebagai kepentingan
rejim. Kalau tidak mendukung kepentingan maka dianggap salah.

*Tidak jelek*
Bonnie Triyana, sejarawan yang kritis terhadap kesadaran historis
menyatakan pelajaran sejarah pada jaman Orde Baru sangat mono tafsir.
Artinya, hanya ada satu kebenaran. Tidak ada versi lain. Dengan demikian
generasi muda tidak memiliki kesadaran kritis.

Namun Bonnie menolak ide Adriaan van Dis bahwa orang Indonesia pada umumnya
acuh tak acuh terhadap sejarah mereka. “Sekarang dengan informasi lewat
internet, media massa yang bebas berkembang, orang bisa tahu banyak tentang
masa silam,” demikian Bonnie.

Ia sendiri pemimpin redaksi Majalah Historia Online yang membidik anak muda
sebagai kelompok sasaran. Mereka datang dengan berbagai penafsiran sejarah.
“Jadi kesadaran historis kawula muda Indonesia tidak sejelek yang
diungkapkan Adriaan van Dis.”

*Plesiran sejarah tempo doeloe*
Kesadaran sejarah anak muda Indonesia yang tidak jelek dialami Ade Purnama,
pemiliki biro pariwisata sejarah Plesiran Tempo Doeloe. Para peserta
antusias dengan masa silam. Mereka membawa orang tua dan sanak keluarga
mengunjungi situs-situs bersejarah. Orang Indonesia sejak dulu suka
sejarah.

“Mereka tinggal di lingkungan bersejarah, dekat benteng VOC,
bangunan-bangunan bersejarah, makam pahlawan. Mereka suka mencari tahu
latar belakang sejarahnya.”

Paket wisata sejarah yang ditawarkan tidak jaman kolonial saja, juga jaman
kerajaan–kerajaan Nusantara dan purbakala. Namun yang paling disukai adalah
jaman VOC. Maklum ini sejarah yang kurang diketahui.

Di sekolah terutama diajarkan sejarah jaman kemerdekaan. Jaman VOC pada
abad ke-17 menjadi terlalu jauh.

Rahasia sukses biro wisatanya adalah kemasan yang menarik, karena di
sekolah orang Indonesia mendapat pelajaran sejarah yang membosankan.
Sebaliknya Plesiran Tempo Doeloe mengajak para peserta ke tempat
bersejarah, sambil menceritakan kisah historis dari berbagai sudut pandang:
Belanda, orang lokal, majalah, koran-koran jaman dulu.

Peserta disuguhi pertunjukan film, *slide* dan sajian makanan khas jaman
dulu. “Jadi kemasannya yang penting, isi yang berat dijadikan ringan dengan
cara yang santai,” demikian Ade.

*Insan bertanggung jawab*
Sejarawan Universitas Negeri Malang Hariyono menambahkan bagaimana
menempatkan sejarah bagi murid sekolah. “Sejarah harus dijadikan wacana
yang bukan saja untuk dikagumi tapi juga untuk menyadarkan adanya sebuah
proses. Anak didik sebaiknya disadarkan bahwa mereka tidak hanya perlu
kagum pada tokoh atau peristiwa masa lampau, tapi juga harus bisa kritis
terhadap masa kini dan masa depannya.”

Dalam melihat sejarah sebagai proses, Hariyono melihat manusia diminta
pertanggungjawaban. Inilah sebabnya banyak orang Indonesia yang menghindari
tanggung jawab mereka karena melihat sejarah bukan sebagai proses, tapi
berita masa lalu yang agung dan besar. Demikian sejarawan Hariyono.

 ------------------------------
*URL sumber:*
http://www.rnw.nl/bahasa-indonesia/article/orang-indonesia-buta-sejarah
 *Links:*
 *Images:*
[i1] Hindia Belanda --
http://www.rnw.nl/bahasa-indonesia/data/files/images/lead/article/2012/01/hindia_belanda.jpg
[i2] http://www.rnw.nl/bahasa-indonesia

Kirim email ke