Hatur nuhun Kang Oman. Mugia langkung lancar & sukses sagala rupina ku ayana 
pak Dahlan nu langkung endah ahlakna ti nu sanes. Wass.



________________________________
 Dari: oman abdurahman <[email protected]>
Kepada: [email protected] 
Cc: urang sunda <[email protected]> 
Dikirim: Selasa, 17 Januari 2012 12:47
Judul: [kisunda] Ulah ujug-ujug dibawa Ma'rifat-->Fwd: [itb81] tulisan Pak 
Dahlan di jawapost
 
----- Pesan yang Diteruskan -----


  [email protected] is not on your Guest List | Approve sender | Approve 
domain | Approve [email protected] 

  


Seratann pa Dahlan Iskan, Menteri BUMN, sae pisan (ceuk abdi mah). Di lebetna 
aya disebut-sebut katurunan urang Sunda. Nyanggakeun. Hapunten teu 
ditarjamahkeun kana basa Sunda, hapunten oge bisi aya anu tos ngintun ka milist.

manar

  




                                                 Jangan Paksa Tiba-Tiba 
Makrifat 
 
Dahlan Iskan, MENTERI BUMN 
Sumber :JAWA POS, 16Januari 2012 
 
Mendikbud layak memberikan penghargaan kepada Wali Kota Solo Jokowi, setidaknya 
untuk satu hal: mempromosikan keberhasilan program kementeriannya. Khususnya, 
dalam pengembangan mobil Esemka. Mendikbud Mohamad Nuh-lah yang memprogramkan 
23 sekolah menengah kejuruan (SMK) itu merakit mobil Esemka. Tiga di antaranya 
SMK swasta. Satu di antara tiga itu adalah SMK Muhammadiyah Borobudur, 
Magelang, yang dua tahun lalu ikut jadi korban meletusnya Gunung Merapi.

Siswa SMK Muhammadiyah ini, sebagaimana SMK Solo yang sudah dipromosikan 
Jokowi, bahkan sudah melewati beberapa tahap kesulitan perakitan mobil. 
Mula-mula merakit satu mobil. Lalu, dibongkar lagi untuk dirakit lagi. 
Dibongkar lagi dan dirakit lagi. Tahap berikutnya, SMK tersebut bersama-sama 
dengan 23 SMK lainnya diberi wewenang (dan uang) untuk membeli suku cadang yang 
bisa dirangkai menjadi mobil. Boleh impor, boleh dari dalam negeri. Uangnya 
disediakan.

Mereka memilih mengimpor dari Tiongkok. Karena tidak mungkin setiap SMK 
mengimpor sendiri-sendiri, 23 SMK tersebut bersepakat menunjuk sebuah 
perusahaan importer. Dipilihlah spare part mesin berbasis teknologi merek 
Wuling dari Tiongkok.  

Spare part impor itu dibagikan secara merata ke 23 SMK. Inilah yang kemudian 
dipakai belajar merakit dengan tingkat kesulitan lebih tinggi. Hasilnya sangat 
baik, tapi di blok mesinnya belum ada tulisan Esemka.

Tahap berikutnya lagi, blok mesin tidak didatangkan dari Tiongkok, tapi dibuat 
oleh industri kecil baja Ceper, Klaten. Cetakan blok mesin yang masih kasar ini 
dikirim ke Jakarta untuk dibubut di pabrik mobil. Juga diberi merek Esemka. 
Dari Jakarta, blok mesin ini dikirim ke 23 SMK untuk dirakit oleh para siswa. 
Tahap inilah yang berhasil dirakit menjadi mobil Jokowi. Karena itu, baik yang 
di Solo, di SMK Muhammadiyah Borobudur, maupun di beberapa SMK lainnya, bentuk 
dan modelnya sama. 

Fisiknya gagah dan finishing-nya halus. Gas, kopling, rem, power steering, dan 
power window-nya tidak terasa beda dengan mobil produksi pabrik. Saya mencoba 
mobil Esemka buatan SMK Muhammadiyah ini sampai kecepatan 80 dan membawanya 
ngepot di lapangan rumput berlumpur. Tidak ada masalah. Rasanya, mobil Esemka 
buatan SMK-SMK negeri lainnya juga sama baiknya. Memang ada supervisi dari tim 
Mendikbud yang diberikan dalam standar yang sama untuk semua SMK.

Kini Mendikbud memberi order yang lebih besar lagi. Kepada SMK Muhammadiyah 
Borobudur, diberikan order untuk mempraktikkan pekerjaan yang lebih berat: 
membuat tiga buah bus ''2 in 1". Bus ini bisa untuk angkutan penumpang/barang 
dan sekaligus bisa diubah sebagai panggung kesenian. Tiga buah bus tersebut 
sekarang lagi dikerjakan di bengkel SMK itu. Bagian dindingnya bisa dibuka. 
Diberi engsel di bagian bawahnya. Ketika dinding bus itu dibuka, jadilah 
dinding tersebut panggung ke­senian. Tiga buah bus ''2 in 1" itu akan 
diberikan kepada SMK khusus bidang kesenian. Seniman SMK bisa menuju tempat 
pertunjukan dengan naik bus dan membawa serta peralatan kesenian. Tiba di 
lokasi, dinding busnya dibuka dan dihampar sebagai panggung.

Kalau order Mendikbud ini selesai, SMK-SMK itu, seperti SMK Muhammadiyah 
Borobudur ini, akan memiliki catatan yang panjang: berhasil merakit sedan, SUV, 
ambulans, pikap, dan bus ''2 in 1".

Siapa pun akan bangga melihat perkembangan itu. Berita mengenai pelajar kita 
tidak lagi melulu soal perkelahian. Kini mengenai prestasi mereka. Mendikbud 
sendiri, mungkin karena menganggap perannya itu sebagai kewajiban yang sudah 
seharusnya, rupanya tidak melihat bahwa keberhasilannya tersebut sebuah success 
story. Jokowi-lah yang mempromosikan keberhasilan Kemendikbud itu!

Hasil promosi ini sangat nyata. Harga diri sekolah SMK naik drastis. Siswanya 
begitu bangga. Kini terbukti tidak harus semua lulusan SMP masuk SMA. Saya 
yakin anak-anak SMK tersebut akan bernasib lebih baik. Begitu lulus kelak, 
mereka lebih mudah mencari pekerjaan. Baik di industri perbengkelan maupun di 
industri otomotif. Bahkan, siapa tahu bisa mandiri sebagai pengusaha pemula di 
bidangnya. 

Setelah memahami apa yang sebenarnya terjadi di SMK-SMK itu, sorenya saya 
meninjau PT INKA di Madiun. BUMN ini sudah berhasil memproduksi mobil 650 cc. 
Saya mencoba mengemudikannya sejauh satu jam perjalanan dari Madiun ke Takeran 
lewat Kebonsari. Saya ingin tahu, apakah PT INKA bisa didorong untuk menjadi 
industri mobil nasional. Agar keinginan yang luas di media mengenai mobnas ini 
bisa segera mendapatkan muara. 

Malam harinya, rapat intensif dilakukan. Temanya sama: apakah PT INKA sudah 
siap untuk menjadi industri mobil nasional? 

Pasti bisa. Terutama, kalau yang dimaksud adalah memproduksinya. Tapi, BUMN ini 
pernah bertahun-tahun dalam kondisi la-yahya-wala-yamut. Saking beratnya, 
pernah diputuskan ditutup saja. Krisis ekonomi dan politik 1998 membuat PT INKA 
kehilangan kehidupannya. PT INKA ibarat orang yang sudah dikira mati dan sudah 
dimasukkan ke kamar mayat. 

Ternyata, dia belum mati benar. Mekanisme internal di tubuhnya (bukan karena 
ditolong dokter) memungkinkan tiba-tiba denyut nadinya berdetak pelan. Petugas 
kamar mayat tahu belakangan. Lalu, dikirim ke ICU. Oksigen politik dan ekonomi 
yang membaik di luar (lagi-lagi bukan karena pertolongan dokter) membuat 
jantungnya mulai berdetak. 

Boleh dikata, baru tiga tahun terakhir PT INKA keluar dari rumah sakit. 
Jalannya memang sudah tidak sempoyongan, tapi belum bisa kalau disuruh lari. 
Makannya memang sudah tiga kali sehari, namun otot-ototnya belum terbentuk. Ia 
sudah mulai bisa berolahraga, namun belum cukup kuat untuk ikut lomba maraton. 
Apalagi maraton industri mobil yang begitu terjal jalannya dan begitu jauh 
jaraknya.

Manajemen PT INKA masih harus berkonsentrasi di industri kereta api. Di situlah 
core business-nya. Di situlah makom-nya. 

Dia harus fokus dengan sebenar-benarnya fokus. Istilah saya, dia harus 
bertauhid. Inti tauhid adalah meng-esa-kan. Dan inti meng-esa-kan adalah fokus. 
Tidak boleh gampang tergoda. Di dalam bisnis dan di dalam manajemen, godaan itu 
luar biasa banyak. Sebanyak godaan terhadap keimanan. Kalau sebuah manajemen 
tidak fokus, dia bisa jatuh menjadi musyrik. Musyrik manajemen. PT INKA tidak 
boleh diganggu oleh godaan-godaan sesaat. Dia masih di tahap syariat. Jangan 
dipaksa tiba-tiba makrifat! Bisa gila.

Tapi, PT INKA akan tetap memproduksi mobil. Syaratnya: sepanjang ada pesanan. 
Itu pun kalau jelas pembayarannya. 

Yang penting, PT INKA terbukti bisa memproduksi mobil. Dia sudah banyak latihan 
membuat mobil ketika tidak ada pekerjaan membuat kereta api dulu. Kini, PT INKA 
lagi sibuk di core business-nya. Lagi banyak order membuat kereta api. Juga 
lagi semangat mengembangkannya.

Walhasil, PT INKA belum akan menjadi industri mobil dalam pengertian sampai 
mengurus sistem distribusi, pemasaran, dan lembaga pembiayaannya. Ini pekerjaan 
yang memerlukan investasi triliunan rupiah yang berhasil-tidaknya tidak hanya 
ditentukan oleh kemampuan produksinya. 

PT INKA masih harus menanam kepercayaan dengan cara mampu menyelesaikan 
pembuatan 40 kereta api tepat waktu. Juga harus menanam kepercayaan bahwa 
kualitasnya tinggi. PT INKA juga sedang konsentrasi untuk membuat puluhan 
lokomotif setelah dipercaya oleh General Electric dari Amerika. Untungnya 
mungkin tipis, tapi reputasi yang didapat bisa membawa keuntungan besar di 
belakang hari. Kepercayaan ini harus dijaga. Apalagi perusahaan sekelas GE yang 
memercayainya. 

PT INKA yang kini sudah mulai laba dan bisa menggaji karya­wannya jangan 
digoda-goda dulu untuk proyek-proyek yang bisa menjerumuskannya kembali ke 
jurang. Saya melihat PT INKA sudah menemukan jalan hidupnya. Juga masa 
depannya. Di samping dipercaya oleh GE Amerika, juga sudah mulai mengerjakan 
pesanan dari Singa­pura dan Malaysia. 

Memang PT KAI yang menjadi konsumen terbesarnya kini masih banyak mengimpor 
kereta bekas dari Jepang, tapi itu hanya sementara. Untuk memperbaiki kinerja 
keuangan PT KAI sendiri. Dengan tarif kereta saat ini, PT KAI memang baru bisa 
membeli kereta bekas yang amat murah. Tapi, tiga-empat tahun lagi sudah akan 
berubah. Pembenahan di PT KAI terus dilakukan oleh manajemennya. Hasilnya sudah 
kelihatan nyata dua tahun terakhir ini. Kalau keuangannya sudah lebih baik, 
pasti PT KAI meninggalkan era beli bekas. Di saat itulah, nanti PT INKA bisa 
panen raya. Apalagi kalau program ekspornya terus berkembang.

Memang masih banyak masalah di antara keduanya. Tapi, memecahkannya tidak akan 
sesulit merukunkan Israel dan Palestina. Masalah PT INKA dan PT KAI bisa 
diselesaikan di atas kereta api. Dalam perjalanan kereta api dari Madiun ke 
Jombang, berbagai masalah mendasar dibicarakan bersama. ''Rapat berjalan di 
atas rel" itu menemukan kesepakatan-kesepakatan yang memberi harapan.

Ketegangan yang diselingi gelak tawa membawa kesegaran suasana. Salah 
pengertian di antara PT KAI dan PT INKA bisa dihilangkan. Lalu, salaman. 
Sinergi bisa disepakati. Salaman lagi. Direksi PT KAI dan direksi PT INKA 
bersalaman berkali-kali. Pertanda banyak kesepahaman yang terjadi. 

Banyaknya penumpang yang dari jauh melihat serangkaian salaman itu mungkin ikut 
terheran-heran. Saya sendiri bisa turun di stasiun Jombang dengan perasaan 
lega. Lalu, bisa nyekar ke makam Gus Dur dengan hati yang lebih lapang. 

Kalau begitu, siapa yang akan menggarap mobil nasional? 

Jangan khawatir. Saat ini, sudah ada putra bangsa, lulusan ITB tahun 1984, yang 
sedang secara serius menyiapkannya. Mobil ciptaannya sudah diuji keliling 
kampus almamaternya. Dia memang pengusaha permesinan yang andal. Sudah banyak 
melakukan ekspor mesin. Dia putra Indonesia dari suku Sunda yang sangat 
nasionalis. Dia seorang profesional yang tangguh. Dia akan membangun pabrik 
yang serius dengan production line yang serius pula. Dia akan memenuhi segala 
persyaratan sebuah industri mobil yang sempurna. 

Tugas kita adalah membantunya. Yakni, membeli pro­duknya atau setidaknya 
mendoakannya. 

Tidak lama lagi


 

Kirim email ke