Syiah dan Islam di Indonesia Berita serangan terhadap pesantren Syiah di Sampang, Madura, pada 29/12/2011 yang lalu mengagetkan banyak kalangan. Sebagian kalangan kaget karena baru sadar bahwa ternyata ada komunitas Syiah di Indonesia. Kalangan lain kaget karena hubungan antara Sunni-Syiah yang sejauh ini baik-baik saja, tiba-tiba mengalami ketegangan. Ada apa?
Ada sebagian kalangan yang kaget karena ternyata dalam Islam ada golongan lain di luar Sunni yang merupakan sekte Islam mayoritas di Indonesia. Kalangan yang terakhir ini mengira bahwa Islam hanya satu saja, sejak zaman Nabi hingga sekarang, tak ada perbedaan atau keragaman apa pun di dalam dirinya. Mereka punya pandangan yang monolitik tentang Islam, sama dengan kalangan di luar Islam di negeri-negeri Barat – Islam hanyalah satu, dan seragam di seluruh dunia. Pandangan semacam ini jelas ahistoris karena tak sesuai dengan kenyataan sejarah Islam sendiri. Secara umum, hubungan antara Sunni-Syiah di Indonesia, pada umumnya, sangat baik dan bersahabat. Tak ada ketegangan yang intens antara kedua kelompok itu, sebagaimana kita lihat di negeri-negeri lain seperti, misalnya, Pakistan, Irak, atau Arab Saudi. Ada beberapa penjelasan untuk hal ini. Penjelasan pertama adalah dari segi numerik. Jumlah pengikut Syiah di Indonesia sangat kecil sekali. Menurut estimasi yang sangat konservatif, ada sekitar 500 ribu pengikut Syiah di Indonesia. Tetapi, menurut kalangan internal Syiah sendiri, jumlahnya mungkin mencapai 2,5 juta pengikut. Jumlah itu jelas sangat kecil dibandingkan dengan total jumlah umat Islam secara keseluruhan yang sebagian besar, atau malah seluruhnya adalah pengikut sekte Sunni. Karena jumlahnya yang kecil ini, Syiah tak dianggap sebagai “ancaman” oleh kelompok Islam yang lain. Tetapi penjelasan numerik ini tak cukup. Penjelasan lain adalah dari segi sosial-historis. Sejak awal masuknya Islam ke Indonesia (menurut satu versi, sejak abad ke-7; versi lain, abad ke-11; versi lain lagi, abad ke-13), unsur-unsur Syiah memang sudah melekat dalam corak Islam yang dipraktikkan di Indonesia. Salah satu sumber yang menjadi asal-usul Islam di Indonesia adalah Persia, negeri tempat Islam versi Syiah berkembang pesat sejak dulu hingga sekarang (Catatan: Apa yang disebut dengan Persia dalam geografi klasik Islam mencakup Iran modern sekarang ini, dan sebagian Irak). Syiah datang ke Indonesia melalui pedagang dari Gujarat atau Persia, sejak awal masuknya Islam ke Indonesia. Raja pertama Kerajaan Samudra Pasai yang terletak di Aceh (ini adalah kerajaan Islam pertama di Indonesia), Marah Silu, konon memeluk Islam versi Syiah dan memakai gelar Malikul Saleh. Karena persebaran Syiah di Indonesia yang sudah berlangsung sejak abad ke-13 ini, tak heran jika beberapa ritual dan tradisi Syiah mempunyai pengaruh yang mendalam di kalangan komunitas Islam Indonesia, bukan saja di kalangan Syiah sendiri, tetapi juga di kalangan Sunni. Salah satunya ialah praktik perayaan 10 Muharram yang biasa dirayakan oleh pengikut Syiah untuk memperingati terbunuhnya Husain ibn Ali, cucu Nabi Muhammad. Husein terbunuh dalam Perang Kabala pada 10 Muharram 61 H (10 Oktober 680). Peristiwa ini, di kalangan Syiah, dipandang sebagai momen suci dan menjadi salah satu fondasi penting dalam devosi mereka. Tradisi perayaan 10 Muharam berkembang di beberapa komunitas Islam Indonesia di luar Syiah. Di Bengkulu, misalnya, ada perayaan “tabot tebuang”. Di Pariaman, Sumatera Barat, ada perayaan serupa yang disebut “ritual tabuik”. Tabot atau tabuik berasal dari kata tabut dalam bahasa Arab. Artinya kotak, atau, dalam konteks perayaan 10 Muharram ini, peti jenazah (casket). Tentu saja, yang dimaksudkan dengan tabot di sini adalah kotak jenazah untuk Husein yang terbunuh dalam Perang Karbala. Kiai Abdurrahman Wahid atau Gus Dur pernah menyebut bahwa salah satu pengaruh tradisi Syiah dalam corak keislaman di Indonesia adalah praktik nyanyian (biasa disebut juga pujian) menjelang salat yang biasa dipraktikkan di kalangan warga nahdliyyin (NU). Nyanyian itu berisi pujian untuk “ahl al-bait” atau keluarga Nabi, istilah yang sangat populer di kalangan Syiah. Bunyi nyanyian itu ialah: Li khamsatun uthfi biha, harra al-waba’ al-hathimah, al-Mushthafa wa al-Murtadla, wa ibnahuma wa al-Fathimah. Terjemahannya: Aku memiliki lima “jimat” untuk memadamkan epidemi yang mengancam; mereka adalah al-Musthafa (yakni Nabi Muhammad), al-Murtadla (yakni Ali ibn Abi Talib, menantu dan sepupu Nabi), kedua putra Ali (yakni Hasan dan Husein), dan Fatimah (isteri Ali). Gus Dur menyebut gejala ini sebagai “Syiah kultural” atau pengaruh Syiah dari segi budaya, bukan dari segi akidah. http://www.beritasatu.com/blog/nasional-internasional/1283-syiah-dan-islam-di-indonesia-bagian-i.html => http://albanduni.wordpress.com
