Wawancara dengan Pelajar Indonesia di Iran: Menjadi Muslim Sejati Tidak Harus 
Meninggalkan Sunni dan Masuk Syiah 

Nama lengkap : Syarif Hidayatullah
Nama Orangtua:
Ayah : H. Nurdin (alm)
Ibu : Hj. Mauliah (almh)
Tempat /tgl lahir: Bogor, 16 September 1991
Riwayat Pendidikan:
- SD : SDN Nagrak 02 Bogor
- SMP : SMP Asy-Syuja’iyyah Ponpes Daarul ‘Uluum 2
- SMA : SMA Asy-Syuja’iyyah Ponpes Daarul ‘Uluum 2
Pendidikan Sekarang: Institute for Language and Islamic Studies Madrasseh Ar 
Rasul Akram Al Mustafa Ghargan Iran
Alamat sekarang : Khiyabane Thuzeh Blvrd Maftah Gorgan Iran.


Pagi itu Kamis (12/1) kurang lebih pukul 07.00, ia datang ke rumah. Musim 
dingin di Iran membuat suasana masih gelap, matahari masih malu-malu untuk 
menampakkan diri. Wajahnya memucat, kepulan kabut keluar dari mulutnya setiap 
ia menghembuskan nafas. Topi kupluk, syal yang melilit di lehernya dan jaket 
tebal berwarna gelap lengkap dengan tas ransel di punggungnya, ia 
menyunggingkan senyum. “Bang, saya numpang sebentar ya!”.
Tidak saya jawab, saya persilahkan masuk rumah. Kusuguhi teh panas dan roti 
tawar yang telah saya olesi cokelat. “Antum ada urusan apa?” tanyaku membuka 
pembicaraan.”Saya dari Gorgan, ada sedikit urusan untuk mengganti visa tinggal. 
Insya Allah madrasah ada agenda ke Karbala, saya mau ikut. Karena visa saya 
masih Qom jadi saya harus ubah dulu.” Jawabnya. Tampak kelelahan di bola 
matanya. Saya bisa maklumi itu, Qom dan Gorgan terpisah jarak 350 mil. Ia harus 
berada dibus selama kurang lebih 9 jam.

“Antum begitu tiba, langsung kesini?”.

“Tidak, saya mampir di Haram Sayyidah Maksumah dulu. Shalat subuh sekalian 
ziarah dan sedikit beristirahat.”
Sambil mempersilahkan ia minum teh, saya bertanya. “Antum bilang, tadi mau ke 
Karbala, madrasah antum punya agenda ke Karbala juga?”.
“Iya. Insya Allah pekan depan.”

Saya bertanya demikian sebab madrasah tempat ia belajar adalah tempat 
mahasiswa-mahasiswa asing yang bermazhab Sunni menimba ilmu.
“Antum mau ikut, kenapa?” rasa penasaran saya menggelitik ingin tahu.”Ziarah ke 
makam Imam Husain ra bang. Imam Husain ra bukan hanya milik umat Syiah. Bahkan 
Sunni lebih berhak untuk memuliakannya.” Ia menikmati lembaran roti terakhir.

Jiwa jurnalismeku memberontak, ini bisa jadi berita pikirku. Selama ini 
masyarakat di Indonesia disuguhi berita-berita yang menyeramkan mengenai Iran 
dan Syiah. Sebut saja seperti, warga Sunni di Iran sebagai warga minoritas 
ditindas dan dipaksa pindah mazhab oleh pemerintah Iran, mereka dilarang 
mendirikan masjid, ulama-ulamanya ditangkap dan dibunuhi dan sebagainya. Serasa 
mendapat durian runtuh, saya pun segera mengambil alat perekam, selembar kertas 
dan pulpen. Dengan wajah bingung ia menulis di lembar kertas yang saya berikan. 
Saya meminta ia menulis biodata sekadarnya. Layaknya fotografer professional 
saya potret ia berkali-kali. Saya suguhi bakwan buatan istri, supaya ia lebih 
betah.
 
Dan selanjutnya terjadilah wawancara berikut.

Saya (S) : Coba ceritakan, bagaimana prosesnya antum bisa ke Iran? Dari mana 
antum dapat informasi dan apa motivasi antum?
Syarif Hidayatullah (SH): Setelah saya lulus sekolah di Pondok Pesantren Daarul 
‘Uluum 2, mudir (setingkat kepala sekolah) saya yang bernama ust. Nasruddin 
Latif memberikan sebuah formulir fotokopi pendaftaran belajar di al Mustafa 
Iran. Bagi yang berminat beliau meminta pula persetujuan wali atau orangtua. 
Saya tertarik dan mencari informasinya lebih detail di web site resminya. 
Sayapun mendownload formulir dan mengisinya.

S: Waktu itu teman sekolah antum, ada berapa orang yang mendaftar?
SH: Ada empat. 3 orang santri perempuan dan hanya saya sendiri yang laki-laki.

S: Kesemuanya lulus?
SH: Setelah melalui tes dan wawancara hanya saya saja yang lulus.

S: Menurut antum, mengapa mudir antum menawarkan belajar ke Iran, mengapa bukan 
ke Madinah atau Mesir?
SH: Mungkin mudir saya memandang Iran sebagai sebuah Negara Islam yang patut 
untuk dikagumi. Iran mampu meggulirkan sebuah revolusi Islam yang besar. Saking 
terinsipirasinya dengan Iran, nama-nama anak mudir saya berbau Iran.

S: Antum sendiri mengapa tertarik ke Iran? Sementara teman-teman antum yang 
lain sama sekali tidak berminat.
SH: Sejak ditawari oleh Mudir, saya banyak mencari tahu tentang Iran. Sayapun 
turut jatuh hati, termasuk kepada Ahmadi Nejad Presidennya yang katanya 
sederhana. Saya juga kagum pada keberaniannya menentang imperialisme Amerika. 
Dan waktu itu memang saya belum terlalu begitu mengenal Syiah.
S: Memang sejak di Indonesia antum tidak pernah punya niat untuk mengenal dan 
mempelajari Syiah yang merupakan mazhab mayoritas di Iran?.
SH: Niat itu ada. Awalnya begini, saya memang berminat belajar di Timur Tengah 
sekalian untuk memperdalam kemampuan bahasa Arab saya. Saya cenderung pada 
sastra Arab. Begitu ada tawaran ke Iran langsung saya sambut. Karena saya juga 
bisa sekalian mempelajari bahasa Persia. Jadi bisa mempelajari sastra Arab dan 
Persia.

S: Pengalaman antum sendiri begitu tiba di Iran?
SH: Awalnya agak takut juga. Bagaimanapun Iran masih sangat asing bagi saya. 
Belum lagi fiqh shalat yang berbeda dengan warga setempat. Waktu pertama kali 
shalat berjama’ah di Haram, saya turut tidak bersedekap sebagaimana Syiah. 
Namun dihari-hari selanjutnya, saya mengamalkan fiqh shalat yang saya yakini, 
yakni bersedekap. Begitupun pada shalat Jum’at.
S: Ada tidak yang memberi komentar?
SH: Iya ada. Pada umumnya langsung bertanya, kamu sunni ya? Yang kemudian 
beralih bertanya tentang asal Negara dan hal yang umum-umum.

S: Apa diantara mereka ada yang pernah berlaku negatif ke antum?
SH: Pernah ada, orang tua, kakek-kakek. Begitu selesai shalat ia langsung 
menegur. Saya jawab saja, saya bermazhab Sunni. Eh, ia malah minta saya 
mengulangi shalat dan harus sesuai dengan tata cara Syiah. Tetapi saya tidak 
melayani. Saya langsung tinggalkan. Agak ngeri juga he..he.. tapi kejadiannya 
cuman sekali itu.

S: Kalau di kampus sendiri bagaimana?
SH: Dari awal tiba Senin malam tanggal 13 Juni 2011 bersama 8 teman waktu itu. 
Saya ditempatkan di Madrassah Al Mahdi, sekolah pelajar asing bermazhab Syiah 
untuk belajar bahasa Persia. Awalnya memang oleh Mudir madrasah tersebut saya 
ditawarkan pilihan untuk tetap belajar di madrasah itu atau langsung ke 
madrasah Sunni di Gorgan. Karena masih ingin bersama teman-teman Indonesia 
lain, saya memilih untuk tetap di madrasah tersebut, dengan niat nanti setelah 
belajar bahasa Persia baru pindah ke Gorgan. Awalnya tidak ada masalah, saya 
shalat bersama teman-teman pelajar lain di mushallah Madrasah dengan tetap pada 
keyakinan fiqh saya. Namun tetap saja ada segelintir pelajar lain yang kurang 
sreg dengan keberadaan saya. Kami para pelajar dari Indonesiapun akhirnya 
dikumpulkan. Mudir memberi saran, untuk membangun kebersamaan, beliau 
menganjurkan saya shalat meluruskan tangan tidak bersedekap karena dalam mazhab 
Maliki di Sunnipun menetapkan bahwa dalam shalat
 tidak harus bersedekap dan boleh meluruskan tangan. Meskipun itu hanya berupa 
anjuran, saya merasa terpaksa melakukannya. Karena kurang nyaman, sebab saya 
masih meyakini bersedekap lebih utama, sayapun shalat di kamar, tidak 
berjama’ah. Di bulan Ramadhanpun saya shalat taraweh sendirian di kamar. 
Setelah beberapa lama, dalam pertemuan khusus pelajar Indonesia dengan mudir, 
sayapun mengadukan persoalan saya. Saya mengucapkan minta maaf ke Mudir karena 
tidak lagi shalat berjama’ah di mushallah yang merupakan program madrasah 
padahal saya sangat ingin berjama’ah. Namun Mudir tetap pada anjurannya, 
meminta saya shalat berjama’ah dengan tidak bersedekap, karena shalat lurus 
tangan di Sunni tidak membatalkan shalat. Meskipun itu hanya anjuran dan 
sifatnya tidak memaksa, namun tetap tidak nyaman bagi saya. Akhirnya karena 
kerinduan untuk shalat berjama’ah, sayapun dan seorang teman akhirnya menghadap 
Mudir dan meminta izin untuk dipindahkan ke
 Gorgan. Awalnya beliau menolak dan mengatakan itu keputusan yang salah. Namun 
pada akhirnya beliau mengizinkan dan setelah mengurus administrasi kepindahan, 
saya berdua dengan temanpun akhirnya ke Gorgan. Sementara 6 teman lainnya masih 
di Qom.

S: Antum di Gorgan sendiri bagaimana?
SH: Begitu tiba di sana, saya terkagum-kagum dan tidak menyesal kesana. Di 
masjid madrasah terpampang tulisan penggalan dari ayat Al-Qur’an, “Wa’ tashimu 
bi hablillah jamian wa la tafarraqu, berpegang teguhlah kamu semua pada tali 
(agama) Allah dan janganlah bercerai berai.” Sayapun tambah merasa yakin dengan 
pilihan saya. Awalnya saya mengira di kota Gorgan itu masyarakatnya Sunni 
semua, ternyata tidak, tetap mayoritas Syiah. Di madrasahpun ternyata tidak 
semua Sunni. Mudirnya tetap Syiah, bagian Darul Qur’annya juga Syiah. Di bagian 
pendidikannya saja yang Sunni. Yang menarik, di masjid madrasah tertulis jadwal 
imam shalat berjama’ah. Untuk shalat Dhuhur yang menjadi imam shalat adalah 
Mudir yang bermazhab Syiah atau terkadang ustad yang bermazhab Maliki. Imam 
shalat Ashar oleh ustad yang bermazhab Hanafi. Kalau shalat maghrib dan Isya di 
jadwal itu imamnya ustad yang bermazhab Syafi’i.
S: Kegiatan antara maghrib dan Isya antum apa?
SH: Setelah maghrib ada kegiatan yang dikelola Darul Qur’an, ada pengecekan 
hafalan Qur’an, kajian pemahaman Al-Qur’an ataupun sekedar tilawah.

S: Di madrasah itu mayoritas mazhab apa? Dan antum sendiri mazhabnya apa?
SH: Disana mayoritas Hanafi, dan saya sendiri Syafi’i.

S: Disana ada Maliki juga? memang shalatnya tidak bersedekap juga sebagaimana 
Syiah?
SH: Iya ada. Kadang bersedekap, kadang engga. Mungkin karena hukumnya mubah aja 
kali ya?.

S: Terus pelajaran-pelajaran sendiri disana bagaimana? Apa memang diwajibkan 
mempelajari semua mazhab atau yang bermazhab Syafi’i khusus belajar Syafi’i 
juga?
SH: Untuk itu saya belum terlalu banyak tahu. Karena saya baru disana, saya 
juga masih di program bahasa Persia. Tapi saya pernah lihat buku teman saya 
yang bermazhab Hanafi. Ia mempelajari pelajaran Hanafi Dasar.

S: Antum se kamar dengan siapa saja? Dan mazhab mereka apa?
SH: Pelajar Afghanistan 2 orang dan Tajekistan juga 2 orang. Mereka bermazhab 
Hanafi semua.

S: Kalau tanggapan masyarakat sendiri dengan keberadaan pelajar di sana?
SH: Tidak ada masalah. Hanya terkadang memang misalnya di taksi, supirnya tanya 
dari Negara mana? Mazhabnya apa? Ya hanya pertanyaan-pertanyaan semacam itu. 
Dari supir taksi juga saya tahu ada kampung yang penduduknya Sunni semua yang 
tidak jauh dari Gorgan. Cuman saya belum pernah kesana. Kalau tidak salah 
namanya Harkukolo, katanya warganya bermazhab Hanafi semua.
S: Pandangan secara umum antum sendiri mengenai Iran apa? Apa ada penyesalan 
datang ke Iran atau menurut antum sesuatu yang harus disyukuri?
SH: Saya terus terang sangat bersyukur bisa ke Iran, dan sama sekali tidak ada 
penyesalan. Saya merasa beruntung. Maksudnya begini, kita jangan berpikir 
negatif tentang suatu mazhab yang benar-benar belum kita ketahui apalagi sampai 
mencapnya kafir atau diluar Islam. Dengan keberadaan saya di Iran dan melihat 
langsung warga Syiah, saya jadi tahu bahwa ternyata mereka juga punya alasan 
dan penjelasan yang kuat mengapa dalam beberapa hal memiliki pemahaman yang 
berbeda dengan Sunni. Ini yang saya maksud keberuntungan. Tidak termasuk 
orang-orang yang tergesa-gesa memberikan penilaian terhadap sesuatu yang belum 
sepenuhnya dikenali.

S: Antum masih aktif komunikasi dengan ustad-ustad atau teman-teman antum di 
Indonesia?
SH: Iya masih.

S: Pandangan ustad antum sendiri, apa ada semacam nasehat sebelum ke Iran untuk 
antum jangan sampai masuk Syiah dan tetap mempertahankan Sunni?
SH: Oh kalau Mudir saya memberi nasehat, untuk menjadi muslim yang sejati itu, 
tidak harus mempertahankan Sunni dan juga tidak harus masuk Syiah.
S: Dari biodata antum ini, kedua orangtua antum sudah meninggal? Usia antum 
berapa tahun saat itu?
SH: Iya. Waktu itu saya berusia 9 tahun.

S: Jadi selama ini yang menanggung biaya sekolah antum siapa?
SH: Saya sekolah selama ini gratis. Karena pondok pesantren Daarul ‘Uulum itu 
membebaskan biaya sekolah buat santri yang yatim piatu.

S: Yang menjadi wali atas antum siapa?
SH: Kakak saya. Beliau yang menanggung saya beserta 3 adik saya selama ini.

S: Kerja beliau apa? Dan apa sudah berkeluarga?
SH: Kakak saya sopir. Iya sudah berkeluarga.

S: Apa tanggapan beliau waktu antum minta izin mau ke Iran? Apa mempersoalkan 
Syiah?
SH: Tidak. Ia tidak peduli saya mau Sunni atau Syiah. Beliau hanya meminta saya 
belajar, belajar dan belajar. Dari belajar itu katanya kita bisa mengetahui 
yang benar.

S: Kalau pandangan antum sendiri mengenai Syiah?
SH: Syiah bagi saya masih bagian dari Islam. Mereka juga shalat, Al-Qur’annya 
juga sama, mereka juga menunaikan ibadah haji bagi yang mampu, pokok-pokok 
aqidahnya juga sama. Kata ustad saya dalam Sunni imamahpun bagian dari aqidah, 
hanya saja berbeda dengan Syiah yang mengharuskan imam dari kalangan Ahlul 
Bait, kalau di Sunni tidak.
S: Tanggapan antum mengenai peristiwa di Sampang Madura atau orang-orang di 
Indonesia yang masih antipati dengan Syiah bagaimana?
SH: Benar-benar sangat miris dan mengenaskan. Sebab Islam sendiri tidak 
mengajarkan umatnya untuk melakukan kekerasan. Untuk menyikapi yang berbeda 
Islam mengajarkan kita menyampaikan kebenaran dengan cara hikmah dan bijaksana.

S: Antum bilang tadi mau ke Karbala. Itu program madrasah atau antum sendiri?
SH: Program madrasah.

S: Menurut antum atau madrasah antum ziarah ke Karbala itu sendiri bagaimana? 
Bukankah ritual itu sangat identik dengan Syiah?
SH: Begini, di Indonesia sendirikan kita sering berziarah kubur. Ke makam 
orangtua atau anggota keluarga lain yang telah lebih dulu meninggal. Bagi saya, 
Imam Husain ra itu bukan hanya milik orang Syiah, beliau milik semua kaum 
muslimin. Jika kita menganggap mulia anak yang sering berziarah ke kuburan 
orangtuanya, maka tentu lebih mulia lagi seorang muslim yang berziarah ke makam 
cucu Rasulnya. Dan di Irak, rencananya kami bukan hanya ke makam Imam Husain ra 
di Karbala, namun juga akan ke Najaf, makam Imam Ali ra, beliau bukan hanya 
menantu dan kemenakan Rasulullah saw namun juga Amirul Mukminin khalifah atas 
umat Islam.

S: Cita-cita antum sendiri apa?
SH: Cita-cita saya sih, pengen jadi orang berguna. Khoirunnasi anfauhum 
linnasi. Sebaik-baik kamu yang banyak berguna bagi orang lain. Kata Nabi saw.

**********
Hampir setengah jam wawancara itu berlangsung. Merasa cukup, saya matikan alat 
perekam. Karena saya minta, iapun memperlihatkan foto-foto aktivitas belajarnya 
di madrasah Gorgan. Termasuk memperlihatkan foto Syaikh Abdul Jabbar Mirobi 
seorangulama Sunni yang mengajar di Hauzah Sunni Kurdistan. Ulama itu membawa 
ceramah keutamaan imam Husain pada acara Arbain di madarasahnya. Ia masih mau 
bercerita banyak. Tapi saya melihat kelelahan yang tidak bisa ditahan lagi dari 
kelopak matanya. Sayapun mengambilkan bantal, dan meminta ia istrahat sebelum 
menyelesaikan urusannya. Tidak lama, iapun terlelap di ruang tamu. Saya yang 
sebentar lagi insya Allah memiliki dua anak, tiba-tiba merasa sok tua dan 
berdoa, “Semoga Allah SWT memperpanjang usiamu anak muda dan menggapaikan 
engkau dengan apa yang menjadi cita-citamu.” Semoga bermanfaat.

Qom, 21 Januari 2012
Ismail Amin, Mahasiswa Mostafa International University Republik Islam Iran 
Program Studi Ulumul Qur’an.

Sumber : http://www.abna.ir/data.asp?lang=12&Id=291811
=> http://albanduni.wordpress.com

Kirim email ke