Tah ka urang Bandung, keur ningkatkeun daya tarik wisatawan, jigana hade jeung unik mun ngayakeun "Festival Ngecrok Tutut Nasional". Piraku teu pada ngadeugdeug.
2012/2/2 <[email protected]> > ** > > > ** > Halah...jadi emut zaman budak...sok ulin kasawah. balikna sok mawa > kangkung jeung tutut da ari lauk mah tara aya nu badag... Kiwari mah mun > hayang kana tutut teh osok ka Tegallega atawa ka Punclut...rea nu dagang > tutut.. > > BahPondok > Sent from my BlackBerry® > powered by Sinyal Kuat INDOSAT > ------------------------------ > *From: * Ki Hasan <[email protected]> > *Sender: * [email protected] > *Date: *Thu, 2 Feb 2012 07:18:07 +0800 > *To: *Ki Sunda<[email protected]> > *ReplyTo: * [email protected] > *Cc: *Baraya Sunda<[email protected]>; Urang Sunda< > [email protected]> > *Subject: *[Urang Sunda] Kuliner - Kulub Tutut, Bogor > > > > Musim Jualan Tutut > > Kamis, 02/02/2012 - 03:09 > [image: KISMI DWI ASTUTI/"PRLM"] > KISMI DWI ASTUTI/"PRLM" > SEORANG pedagang tutut yang menggunakan sepeda sebagai lapaknya > menunjukkan tutut buatannya yang dijualnya, di Jalan Sholeh Iskandar, Kota > Bogor, Rabu (1/2/12). Masakan tutut kembali menjadi tren dan... > > PRLM - Sudah beberapa bulan terakhir ini Jalan Sholeh Iskandar hingga > Jalan Abdullah bin Nuh, Kota Bogor dipenuhi oleh deretan lapak pedagang > tutut. Tampaknya, tutut, menjadi masakan yang kembali ngetren dan digemari > di wilayah Bogor. Bahkan, sejumlah pedagang buah, es campur, hingga > pedagang cilok pun beralih dagangannya menjadi tutut. > > Sejumlah pedagang yang kebanyakan berasal dari Cirebon ini mengaku > tertarik untuk beralih ke tutut karena menilai penikmatnya semakin banyak. > "Tadinya jualan buah sama es. Tapi ngeliat peminat tutut makin banyak, > akhirnya pindah ke tutut," kata salah seorang pedagang, Pantun (39). > > Dalam sehari, sedikitnya 10-15 kilogram tutut habis terjual dengan harga > Rp 3.000 per porsi. Di beberapa lapak, bahkan dijual tutut dengan berbagai > macam bumbu dan rasa dengan harga sekitar Rp 4.000 hingga Rp 6.000 per > porsi tergantung bumbu dan rasanya. > > Dengan iming-iming kandungan protein yang tinggi serta bisa membantu > penyembuhan penyakit liver, kuning, hingga penambah nafsu makan, tutut di > kawasan jalan tersebut semakin naik daun dan laris manis. Sejumlah > penelitian menyebutkan tutut atau keong sawah mengandung protein yang cukup > tinggi tetapi kadar lemak atau kolesterol rendah, yakni 15 persen protein, > 2,4 persen lemak, dan sekitar 80 persen air. > > Selain itu disebutkan 75 persen lemak di tubuh keong adalah unsaturated > fatty acids atau lemak yang baik dan dibutuhkan tubuh. Oleh karena itu, > makanan yang sering disebut makanan kampung ini bisa menjadi alternatif > sumber protein hewani pengganti daging. > > Selain itu, penikmat tutut pun juga diajak bernostalgia ketika menikmati > tutut dengan cara dicongkel menggunakan tusuk gigi atau disedot. "Dulu > waktu kecil sering banget makan. Sekarang rasanya kayak bernostalgia ketika > makan tutut kembali. Soalnya udah jarang banget ada tutut sekarang," kata > salah seorang pembeli, Emil (46). (Kismi Dwi Astuti/"PRLM"/A-88)*** > > http://www.pikiran-rakyat.com/node/175309 > > > >
