Jadi emut prov Jabar nyitak kalender (mun teu lepat) kanggo bagikeuneun 
waragadna dugi ka milyaran.

Teras pan kantos rame ku ayana pernyataan gupernur Jabar anu ditaros ku 
wartawan perkara kusutna pasoalan penertiban (?) Di wewengkon Bandung. Harita 
teh mun teu lepat gupernur ngawaler "bahkan malaikat pun tidak akan bisa 
menyelesaikan persoalan ini." Kader PKS nyarios kitu, puguh wae atuh dianggap 
"ngahina ka malaikat." Padahal maksadna (meureun) pasualanana bangga/susah
 pisan.

Mrachmatrawyani 


Powered by Telkomsel BlackBerry®

-----Original Message-----
From: Narayana Adipranata <[email protected]>
Sender: [email protected]
Date: Sat, 4 Feb 2012 10:06:33 
To: [email protected]<[email protected]>
Reply-To: [email protected]
Subject: Bls: [kisunda] FW:  Pemimpin yang Tak Tersandera

4 jempol ti kuring


________________________________
 Dari: Mochamad Ziaulhaq® <[email protected]>
Kepada: "[email protected]" <[email protected]> 
Dikirim: Jumat, 3 Februari 2012 16:47
Judul: Re: [kisunda] FW:  Pemimpin yang Tak Tersandera
 

  
 Biasa.. Kanggo période kadua. Biasana ogé, période kahiji spy alus jeung sora 
pamilih kembung. Période kaduan keur nabung.
ƗƗɐƗƗɐƗƗɐ~ Ơ̴̴͡.̮Ơ̴̴̴͡! 
::zya.théa 
Rampes™
Dirojong ku Telkomsel BlackBerry®
________________________________

From:  <[email protected]> 
Sender:  [email protected] 
Date: Fri, 3 Feb 2012 16:09:06 +0700
To: <[email protected]>
ReplyTo:  [email protected] 
Subject: RE: [kisunda] FW:  Pemimpin yang Tak Tersandera
  
Hehe leres nya dibacana asa lebay 
 
From:[email protected] [mailto:[email protected]] On Behalf Of 
Narayana Adipranata
Sent: Friday, February 03, 2012 3:38 PM
To: [email protected]
Subject: Bls: [kisunda] FW: Pemimpin yang Tak Tersandera
 
geus mulai jang 2013 yeuh..:)
 

________________________________

Dari:"[email protected]" <[email protected]>
Kepada: [email protected] 
Dikirim: Jumat, 3 Februari 2012 14:10
Judul: [kisunda] FW: Pemimpin yang Tak Tersandera
 
  
Neraskeun, pamimpin urang ayeuna 
 
Pemimpin yang Tak Tersandera
 
Gubernur paling adem, paling banyak penghargaan, jalan propinsi paling mulus, 
UMK buruh paling tinggi. Dialah..... 

Ahmad Heryawan, Pemimpin yang Tak Tersandera

Lepas Subuh, awal 2008. Seorang laki-laki menuntun putranya menuju ibu-ibu yang 
berkerumun mengelilingi pedagang sayur. Ia menyampaikan salam sejenak, yang 
dijawab ibu-ibu itu, sebelum asyik memilah-milah sayuran dibantu putra 
lelakinya yang selalu minta pertimbangan sebelum memasukkan wortel, selada atau 
pun kentang untuk ditimbang.

Setelah menimbang dan membayar, barulah lelaki itu meraih tangan putranya dan 
menuntun, sementara tangan satunya menenteng kantong-kantong plastik sarat 
belanjaan.

Lelaki yang tak rikuh menggantikan tugas istrinya bergabung dengan ibu-ibu 
berbelanja sayuran itu bernama Ahmad Heryawan. Kini kita mengenalnya sebagai 
gubernur Jawa Barat.

Sebagaimana saat itu, kini publik mengenalnya sebagai sosok yang tak canggung 
melakukan hal-hal wajar yang entah mengapa, kini mulai dipandang ‘tidak wajar’. 
Misalnya, yang gampang diingat publik, Heryawan dengan tegas mencoret anggaran 
pengadaan 18 mobil dewan dalam APBD 2011 Kabupaten Bandung.

Tak ragu-ragu akan kemungkinan tanggapan negatif anggota Dewan yang akan 
memengaruhi pencitraan terhadap dirinya, Heryawan melakukan hal itu dengan 
tegas dan yakin bahwa itulah yang terbaik bagi rakyat. Bagaimana tidak, saat 
itu APBD Kabupaten Bandung tercatat defisit.

Tetapi Heryawan pun tak hanya bisa tegas terhadap orang lain. Publik masih 
ingat betapa Heryawan dan wakilnya hingga saat ini memilih menggunakan mobil 
dinas lama yang dipakai gubernur sebelumnya, Dani Setiawan, yakni Toyota Royal 
Crown buatan 2007, satu kendaraan SUV dan sebuah jip.

Mungkin bisa terkesan berlebihan, tetapi apa yang dilakukan Heryawan dengan 
berbelanja sayuran sendiri akan gampang mengingatkan kaum muslimin akan Ammar 
bin Yasir ketika menjabat sebagai gubernur.

Ammar tak jarang berbelanja ke pasar dan mengikat serta memanggul sayuran 
belanjaan sendirian. Atau Khalifah Ummar bin Abdul Aziz, khalifah negara besar 
dan kaya, tetapi memilih hidup sederhana. Dan kita sadar, betapa sosok-sosok 
seperti itu kian lama semakin langka

Dari Ahmad Heryawan orang bisa kian membenarkan pernyataan seorang mahaguru 
manajemen, Peter Drucker. Drucker menyatakan, manakala kita melihat 
perusahaan-perusahaan besar yang maju dan unggul, jangan salah, ada 
keputusan-keputusan berani di belakangnya.

Artinya, bahkan Drucker yang rasional pun percaya, keberanianlah yang membawa 
manusia kepada kemaslahatan, kebaikan bersama. Kita bahkan pernah mendengar 
dari alm Rendra, keberanian adalah cakrawala. Kian berani seseorang, makin 
mampu ia melihat dunia secara holistik. Menilik apa yang telah dilakukan 
Heryawan selama hampir empat tahun kepemimpinannya di Jawa Barat, keberanian 
itu begitu nyata dan gamblang.

Lihat saja, manakala sadar bahwa Jabar kian lama kian panas akibat tanaman yang 
kian hilang dari kehidupan, Heryawan berani mengembangkan program penghijauan 
dalam skala besar. Ia pun mencanangkan Gerakan Jabar Hijau berbasis sekolah.

Alhasil dalam waktu yang cepat telah ditanam 11 juta batang pohon di 26 
kabupaten/kota se-Jabar, hingga selama 2011 tercatat telah ditanam 170 juta 
batang pohon di Jabar. Wajar bila prestasi itu diganjar rekor oleh Museum Rekor 
Indonesia (MURI).

Tidak hanya itu. Dalam bidang kependudukan dan demografi Heryawan pun mencetak 
prestasi dengan menerima penghargaan dari Kementerian Tenaga Kerja dan 
Transmigrasi (Kemenakertrans) berupa “Transmigrasi Award”.

Yang menarik, hanya dalam sebulan, Desember lalu Heryawan menerima empat 
anugerah dan penghargaan. Pertama saat Hari Nusantara, 13 Desember, di Dumai, 
Riau; kedua Satya Lencana Kebaktian Sosial di Jogjakarta pada Peringatan HKSN, 
19 Desember; ketiga Parahita Ekapraya Pratama di Jakarta pada Peringatan Hari 
Ibu 22 Desember; lalu Transmigrasi Award, 27 Desember 2011. Jujur saja, tak 
banyak kepala daerah yang menerima empat penghargaan berkatagori nasional hanya 
dalam waktu sebulan.

Yang juga menarik dan masih hangat, manakala para pejabat beramai-ramai 
menyatakan kesiapan membeli mobil Esemka buatan para pelajar Kota Solo, Ahmad 
Heryawan dengan tegas menyatakan keengganan untuk latah. Ia menyatakan hanya 
berminat membeli mobil karya pelajar-pelajar Jabar. “Saya enggak mau beli dari 
Solo. Saya mau beli karya pelajar dari Jawa Barat,” kata dia.

Itulah Heryawan. Dengan pemimpin seperti itu, rakyat Jabar layak optimistis 
bahwa daerahnya akan mampu menjadi provinsi termaju di Indonesia. Dan tentu 
saja, untuk itu mereka juga dituntut berpartisipasi sesuai bidangnya. Rakyat 
jabar, layak bangga dipimpin seorang berani yang yakin akan cita-ciota bersama.

Tapi kita pun tahu, keberanian mensyaratkan banyak hal. Dan yang terutama, 
tampaknya, tidak adanya pamrih. Karena tanpa adanya pamrih, maka keberanian tak 
pernah tersandera. Semoga kita semua pada saatnya memiliki pemimpin seperti 
itu. Pemimpin yang hanya tersandera satu hal: kepentingan rakyatnya.

*)http://nasional.inilah.com/read/detail/1822264/pemimpin-yang-tak-tersandera 
 


------------------------------------

Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/kisunda/

<*> Your email settings:
    Individual Email | Traditional

<*> To change settings online go to:
    http://groups.yahoo.com/group/kisunda/join
    (Yahoo! ID required)

<*> To change settings via email:
    [email protected] 
    [email protected]

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [email protected]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/

Kirim email ke