Kuring tulas-tulis yeuh.
hampura teu disundakeun. ^_^

============
Kita semua setuju bahwa manusia normal akan merasakan perasaan sayang. 
Dan perasaan sayang ini ada dan tak mengenal waktu. Pagi, siang, malam, 
hujan, badai, cerah, berawan, perasaan sayang itu tetap melengkapi 
manusia. Perasaan sayang ini digunakan dalam banyak hal dalam kehidupan 
manusia. Dengan rasa sayang, ibu merawat dan melindungi anaknya. Dengan 
rasa sayang, ayah bekerja untuk menghidupi keluarganya. Dengan rasa 
sayang, pemuda rela mendaki gunung menyebrangi lautan untuk menemui 
pemudi, dll.

Disisi lain manusia suka dengan simbol dan perayaan. Ada perayaan hari 
kemerdekaan, perayaan keagamaan, dll. Satu yang berkembang diabad modern 
sekarang ini adalah perayaan hari kasih-sayang. Karena perayaan ini 
butuh simbol, dipilihlah valentine sebagai simbolnya, supaya ada 
wujudnya atau ada objeknya. Dan karena perayaan itu butuh waktu 
tertentu, dipilihlah tanggal 14 Februari sebagai hari perayaan kasih sayang.

Dengan adanya perayaan hari kemerdekaan, maka rakyat di suatu negara 
mendapatkan kesempatan untuk mengungkapkan rasa patriotismenya, rasa 
cinta negaranya. Dengan adanya hari perayaan keagamaan, maka umat 
beragama berkesempatan untuk menjalankan ajaran agamanya dan mendapatkan 
pencapaian-pencapaian sesuai dengan ajaran agamanya tersebut. Dengan 
adanya perayaan kasih-sayang orang mendapat kesempatan untuk 
mengungkapkan betapa sayangnya dia kepada seseorang (anak, istri/suami, 
orang tua, dsb). Meski rasa sayang itu mereka rasakan setiap hari 
sepanjang tahun, namun tetap saja mereka perlu untuk meresmikan atau 
me-ngejawantahkan rasa sayangnya pada satu hari, yakni hari perayaan 
kasih sayang.

Selain untuk raya-merayakan, kesempatan Valentinan juga dimanfaatkan 
oleh orang-orang yang cermat membidik peluang. Dalam hal ini peluang 
mendapatkan uang. Karena valentine menyangkut hajat hidup orang banyak, 
yakni tentang rasa sayang. Dan karena rasa sayang itu enak. Dan orang 
suka yang enak-enak. Maka apapun yang berkaitan dengan valentinan, 
karena itu enak, orang akan dengan sukarela memberikan uangnya pada 
"penjaja valentinan". Toko coklat laku, toko hadiah diserbu, restoran 
fullbooking, dsb.

Sehingga jika bagi kebanyakan orang, Valentine = kasih sayang, maka bagi 
sebagian orang Valentine = uang.

Sejauh ini sah-sah saja kan, ada orang yang merayakan valentine untuk 
menunjukkan kasih sayangnya kepada seseorang atau sesuatu. Ada juga 
orang yang memanfaatkan valentine untuk mendapatkan uang.

Namun ke-sah-an ini jadi terganggu ketika terjadi penyimpangan. Ya... 
setidaknya penyimpangan ini dilihat dari sudut pandang masyarakat kita, 
orang Indonesia.

Ketika seorang pemuda menunjukkan rasa sayangnya kepada seorang pemudi, 
dengan membawakan seikat mawar dan sekotak coklat berbentuk hati, itu 
sah-sah saja kan? Dengan mendapat hadiah tersebut si pemudi jadi 
bertambah rasa sayangnya. Hanya saja, ketika luapan rasa sayang ini 
meluber dan tidak tertampung, hal ini jadi mempengaruhi tingkah laku 
keduanya. Sang pemuda dan pemudi jadi dimabuk rasa sayang. Bermula dari 
senyum senang, dilanjut dengan pegang tangan, berikutnya berpelukan, 
taklama kemudian ... ##sensor##...

Kalau antara pemuda dan pemudi tersebut sudah terikat dengan janji suci 
pernikahan, maka mau ...##sensor##... juga gak apa-apa. Namun kalau 
keduanya belum nikah, ini yang jadi masalah. Di negri ini, aktivitas sex 
diluar nikah adalah salah dan melanggar norma-norma masyarakat dan 
ajaran agama. Beda dengan negara-negara lainnya. Mereka menempatkan sex 
sebagai salah satu bentuk interaksi antar individu, yang boleh dilakukan 
siapa saja, meski tanpa ada ikatan pernikahan.
Kita semua setuju bahwa manusia normal akan merasakan perasaan sayang. 
Dan perasaan sayang ini ada dan tak mengenal waktu. Pagi, siang, malam, 
hujan, badai, cerah, berawan, perasaan sayang itu tetap melengkapi 
manusia. Perasaan sayang ini digunakan dalam banyak hal dalam kehidupan 
manusia. Dengan rasa sayang, ibu merawat dan melindungi anaknya. Dengan 
rasa sayang, ayah bekerja untuk menghidupi keluarganya. Dengan rasa 
sayang, pemuda rela mendaki gunung menyebrangi lautan untuk menemui 
pemudi, dll.

Disisi lain manusia suka dengan simbol dan perayaan. Ada perayaan hari 
kemerdekaan, perayaan keagamaan, dll. Satu yang berkembang diabad modern 
sekarang ini adalah perayaan hari kasih-sayang. Karena perayaan ini 
butuh simbol, dipilihlah valentine sebagai simbolnya, supaya ada 
wujudnya atau ada objeknya. Dan karena perayaan itu butuh waktu 
tertentu, dipilihlah tanggal 14 Februari sebagai hari perayaan kasih sayang.

Dengan adanya perayaan hari kemerdekaan, maka rakyat di suatu negara 
mendapatkan kesempatan untuk mengungkapkan rasa patriotismenya, rasa 
cinta negaranya. Dengan adanya hari perayaan keagamaan, maka umat 
beragama berkesempatan untuk menjalankan ajaran agamanya dan mendapatkan 
pencapaian-pencapaian sesuai dengan ajaran agamanya tersebut. Dengan 
adanya perayaan kasih-sayang orang mendapat kesempatan untuk 
mengungkapkan betapa sayangnya dia kepada seseorang (anak, istri/suami, 
orang tua, dsb). Meski rasa sayang itu mereka rasakan setiap hari 
sepanjang tahun, namun tetap saja mereka perlu untuk meresmikan atau 
me-ngejawantahkan rasa sayangnya pada satu hari, yakni hari perayaan 
kasih sayang.

Selain untuk raya-merayakan, kesempatan Valentinan juga dimanfaatkan 
oleh orang-orang yang cermat membidik peluang. Dalam hal ini peluang 
mendapatkan uang. Karena valentine menyangkut hajat hidup orang banyak, 
yakni tentang rasa sayang. Dan karena rasa sayang itu enak. Dan orang 
suka yang enak-enak. Maka apapun yang berkaitan dengan valentinan, 
karena itu enak, orang akan dengan sukarela mKita semua setuju bahwa 
manusia normal akan merasakan perasaan sayang. Dan perasaan sayang ini 
ada dan tak mengenal waktu. Pagi, siang, malam, hujan, badai, cerah, 
berawan, perasaan sayang itu tetap melengkapi manusia. Perasaan sayang 
ini digunakan dalam banyak hal dalam kehidupan manusia. Dengan rasa 
sayang, ibu merawat dan melindungi anaknya. Dengan rasa sayang, ayah 
bekerja untuk menghidupi keluarganya. Dengan rasa sayang, pemuda rela 
mendaki gunung menyebrangi lautan untuk menemui pemudi, dll.

Disisi lain manusia suka dengan simbol dan perayaan. Ada perayaan hari 
kemerdekaan, perayaan keagamaan, dll. Satu yang berkembang diabad modern 
sekarang ini adalah perayaan hari kasih-sayang. Karena perayaan ini 
butuh simbol, dipilihlah valentine sebagai simbolnya, supaya ada 
wujudnya atau ada objeknya. Dan karena perayaan itu butuh waktu 
tertentu, dipilihlah tanggal 14 Februari sebagai hari perayaan kasih sayang.

Dengan adanya perayaan hari kemerdekaan, maka rakyat di suatu negara 
mendapatkan kesempatan untuk mengungkapkan rasa patriotismenya, rasa 
cinta negaranya. Dengan adanya hari perayaan keagamaan, maka umat 
beragama berkesempatan untuk menjalankan ajaran agamanya dan mendapatkan 
pencapaian-pencapaian sesuai dengan ajaran agamanya tersebut. Dengan 
adanya perayaan kasih-sayang orang mendapat kesempatan untuk 
mengungkapkan betapa sayangnya dia kepada seseorang (anak, istri/suami, 
orang tua, dsb). Meski rasa sayang itu mereka rasakan setiap hari 
sepanjang tahun, namun tetap saja mereka perlu untuk meresmikan atau 
me-ngejawantahkan rasa sayangnya pada satu hari, yakni hari perayaan 
kasih sayang.

Selain untuk raya-merayakan, kesempatan Valentinan juga dimanfaatkan 
oleh orang-orang yang cermat membidik peluang. Dalam hal ini peluang 
mendapatkan uang. Karena valentine menyangkut hajat hidup orang banyak, 
yakni tentang rasa sayang. Dan karena rasa sayang itu enak. Dan orang 
suka yang enak-enak. Maka apapun yang berkaitan dengan valentinan, 
karena itu enak, orang akan dengan sukarela memberikan uangnya pada 
"penjaja valentinan". Toko coklat laku, toko hadiah diserbu, restoran 
fullbooking, dsb.

Sehingga jika bagi kebanyakan orang, Valentine = kasih sayang, maka bagi 
sebagian orang Valentine = uang.

Sejauh ini sah-sah saja kan, ada orang yang merayakan valentine untuk 
menunjukkan kasih sayangnya kepada seseorang atau sesuatu. Ada juga 
orang yang memanfaatkan valentine untuk mendapatkan uang.

Namun ke-sah-an ini jadi terganggu ketika terjadi penyimpangan. Ya... 
setidaknya penyimpangan ini dilihat dari sudut pandang masyarakat kita, 
orang Indonesia.

Ketika seorang pemuda menunjukkan rasa sayangnya kepada seorang pemudi, 
dengan membawakan seikat mawar dan sekotak coklat berbentuk hati, itu 
sah-sah saja kan? Dengan mendapat hadiah tersebut si pemudi jadi 
bertambah rasa sayangnya. Hanya saja, ketika luapan rasa sayang ini 
meluber dan tidak tertampung, hal ini jadi mempengaruhi tingkah laku 
keduanya. Sang pemuda dan pemudi jadi dimabuk rasa sayang. Bermula dari 
senyum senang, dilanjut dengan pegang tangan, berikutnya berpelukan, 
taklama kemudian ... ##sensor##...

Kalau antara pemuda dan pemudi tersebut sudah terikat dengan janji suci 
pernikahan, maka mau ...##sensor##... juga gak apa-apa. Namun kalau 
keduanya belum nikah, ini yang jadi masalah. Di negri ini, aktivitas sex 
diluar nikah adalah salah dan melanggar norma-norma masyarakat dan 
ajaran agama. Beda dengan negara-negara lainnya. Mereka menempatkan sex 
sebagai salah satu bentuk interaksi antar individu, yang boleh dilakukan 
siapa saja, meski tanpa ada ikatan pernikahan.

Kita semua tahu, yang namanya "penyimpangan" biasanya berkonotasi 
negatif. Nah penyimpangan yang dilakukan pada perayaan hari kasih sayang 
juga membawa dampak negatif. Mari kita fokus pada penyimpangan yang 
paling besar, yakni sex diluar nikah. Aktifitas sex, sejatinya bukan 
sekedar bentuk interaksi antar individu. Pada sex ada tanggung jawab, 
ada nilai moral, belum lagi sex juga diatur dalam ajaran agama-agama. 
Jika ada yang melakukan sex diluar nikah, maka mereka telah melanggar 
semuanya. Mereka melanggar norma masyarakat, melanggar ajaran agama, 
mereka juga bisa dikatakan orang yang tidak bertanggung jawab. Mengapa 
"tidak bertanggung jawab?" Karena sex diluar nikah biasanya dilakukan 
oleh orang yang hanya mencari kesenangan saja. Dia ingin menikmati sex, 
namun tidak mau terikat dengan segala aturan dan tidak mau menerima 
semua konsekwensi dari sex seperti anak, keluarga, dsb.

Dari sekian banyak akibat negatif dari sex diluar nikah, yang paling 
berat konsekwensinya adalah pelanggaran terhadap ajaran agama. Mengapa 
melanggar ajaran agama itu paling berat akibatnya? Karena agama itu 
berhubungan dengan kehidupan sekarang dan kehidupan setelah kematian. 
Ketika kita melanggar ajaran agama, maka akibat negatifnya bisa terjadi 
sekarang ketika hidup, dan juga akan kita tanggung pada kehidupan 
setelah kematian. Dan kehidupan setelah kematian adalah kehidupan yang 
tak berujung, tak dibatasi oleh kematian lagi.

Jika diantara kita ada yang berpendapat, bahwa setelah manusia mati maka 
semuanya selesai, gak ada kehidupan berikutnya, baik, itu pendapat yang 
pantas dihormati. Silahkan menjalani hidup berdasarkan pendapat itu. 
Hanya saja bagaimana jika pendapat itu salah. Bagaimana jika setelah 
kematian ada kehidupan lagi? sementara kita terlanjur hidup dengan tidak 
mengikuti ajaran agama? bagaimana nasib kita nanti?

Mungkin ada yang bersikeras, "gue tetep nggak percaya ada kehidupan 
setelah kematian", ya silahkan. Kalau kita benar, maka kita yang gak 
percaya ada hidup setelah mati nggak untung, yang percaya ada hidup 
setelah mati juga nggak rugi. karena ketika kita mati, ya udah, selesai. 
Namun ketika kita salah, ternyata setelah kita mati ada kehidupan 
berikutnya, nah lo! ...  celaka kan kita. Kita akan menderita di 
kehidupan berikutnya, gak berujung lagi.

"Tapi bro, kita valentinan kan bukan untuk sex". Sebagian mungkin 
berkata demikian. Ok, selamat, jika ada yang berpendapat bahwa valentine 
bukan berarti sex. Itu mencerminkan kedewasaan dalam berpikir. 
Masalahnya, anggota masyarakat kita terutama para pemuda dan pemudi yang 
mulai mengenal rasa sayang pada lawan jenis, mereka mudah terbuai dengan 
rasa sayang itu. Dan mereka belum mampu menangani luapan rasa sayang 
yang timbul dari perayaan valentine. Mereka beresiko besar melakukan 
penyimpangan.

Dalam hal ini kita tidak bisa bersikap egois dengan berkata "yang 
penting gue gak melakukan penyimpangan". Kita harus juga peduli pada 
mereka yang masih belum dewasa dalam berpikir. Mereka yang beresiko 
besar terkena dampak negatif dari hari valentine.

Kalau kita memang peduli, apa yang akan kita lakukan?
emberikan uangnya pada "penjaja valentinan". Toko coklat laku, toko 
hadiah diserbu, restoran fullbooking, dsb.

Sehingga jika bagi kebanyakan orang, Valentine = kasih sayang, maka bagi 
sebagian orang Valentine = uang.

Sejauh ini sah-sah saja kan, ada orang yang merayakan valentine untuk 
menunjukkan kasih sayangnya kepada seseorang atau sesuatu. Ada juga 
orang yang memanfaatkan valentine untuk mendapatkan uang.

Namun ke-sah-an ini jadi terganggu ketika terjadi penyimpangan. Ya... 
setidaknya penyimpangan ini dilihat dari sudut pandang masyarakat kita, 
orang Indonesia.

Ketika seorang pemuda menunjukkan rasa sayangnya kepada seorang pemudi, 
dengan membawakan seikat mawar dan sekotak coklat berbentuk hati, itu 
sah-sah saja kan? Dengan mendapat hadiah tersebut si pemudi jadi 
bertambah rasa sayangnya. Hanya saja, ketika luapan rasa sayang ini 
meluber dan tidak tertampung, hal ini jadi mempengaruhi tingkah laku 
keduanya. Sang pemuda dan pemudi jadi dimabuk rasa sayang. Bermula dari 
senyum senang, dilanjut dengan pegang tangan, berikutnya berpelukan, 
taklama kemudian ... ##sensor##...

Kalau antara pemuda dan pemudi tersebut sudah terikat dengan janji suci 
pernikahan, maka mau ...##sensor##... juga gak apa-apa. Namun kalau 
keduanya belum nikah, ini yang jadi masalah. Di negri ini, aktivitas sex 
diluar nikah adalah salah dan melanggar norma-norma masyarakat dan 
ajaran agama. Beda dengan negara-negara lainnya. Mereka menempatkan sex 
sebagai salah satu bentuk interaksi antar individu, yang boleh dilakukan 
siapa saja, meski tanpa ada ikatan pernikahan.

Kita semua tahu, yang namanya "penyimpangan" biasanya berkonotasi 
negatif. Nah penyimpangan yang dilakukan pada perayaan hari kasih sayang 
juga membawa dampak negatif. Mari kita fokus pada penyimpangan yang 
paling besar, yakni sex diluar nikah. Aktifitas sex, sejatinya bukan 
sekedar bentuk interaksi antar individu. Pada sex ada tanggung jawab, 
ada nilai moral, belum lagi sex juga diatur dalam ajaran agama-agama. 
Jika ada yang melakukan sex diluar nikah, maka mereka telah melanggar 
semuanya. Mereka melanggar norma masyarakat, melanggar ajaran agama, 
mereka juga bisa dikatakan orang yang tidak bertanggung jawab. Mengapa 
"tidak bertanggung jawab?" Karena sex diluar nikah biasanya dilakukan 
oleh orang yang hanya mencari kesenangan saja. Dia ingin menikmati sex, 
namun tidak mau terikat dengan segala aturan dan tidak mau menerima 
semua konsekwensi dari sex seperti anak, keluarga, dsb.

Dari sekian banyak akibat negatif dari sex diluar nikah, yang paling 
berat konsekwensinya adalah pelanggaran terhadap ajaran agama. Mengapa 
melanggar ajaran agama itu paling berat akibatnya? Karena agama itu 
berhubungan dengan kehidupan sekarang dan kehidupan setelah kematian. 
Ketika kita melanggar ajaran agama, maka akibat negatifnya bisa terjadi 
sekarang ketika hidup, dan juga akan kita tanggung pada kehidupan 
setelah kematian. Dan kehidupan setelah kematian adalah kehidupan yang 
tak berujung, tak dibatasi oleh kematian lagi.

Jika diantara kita ada yang berpendapat, bahwa setelah manusia mati maka 
semuanya selesai, gak ada kehidupan berikutnya, baik, itu pendapat yang 
pantas dihormati. Silahkan menjalani hidup berdasarkan pendapat itu. 
Hanya saja bagaimana jika pendapat itu salah. Bagaimana jika setelah 
kematian ada kehidupan lagi? sementara kita terlanjur hidup dengan tidak 
mengikuti ajaran agama? bagaimana nasib kita nanti?

Mungkin ada yang bersikeras, "gue tetep nggak percaya ada kehidupan 
setelah kematian", ya silahkan. Kalau kita benar, maka kita yang gak 
percaya ada hidup setelah mati nggak untung, yang percaya ada hidup 
setelah mati juga nggak rugi. karena ketika kita mati, ya udah, selesai. 
Namun ketika kita salah, ternyata setelah kita mati ada kehidupan 
berikutnya, nah lo! ...  celaka kan kita. Kita akan menderita di 
kehidupan berikutnya, gak berujung lagi.

"Tapi bro, kita valentinan kan bukan untuk sex". Sebagian mungkin 
berkata demikian. Ok, selamat, jika ada yang berpendapat bahwa valentine 
bukan berarti sex. Itu mencerminkan kedewasaan dalam berpikir. 
Masalahnya, anggota masyarakat kita terutama para pemuda dan pemudi yang 
mulai mengenal rasa sayang pada lawan jenis, mereka mudah terbuai dengan 
rasa sayang itu. Dan mereka belum mampu menangani luapan rasa sayang 
yang timbul dari perayaan valentine. Mereka beresiko besar melakukan 
penyimpangan.

Dalam hal ini kita tidak bisa bersikap egois dengan berkata "yang 
penting gue gak melakukan penyimpangan". Kita harus juga peduli pada 
mereka yang masih belum dewasa dalam berpikir. Mereka yang beresiko 
besar terkena dampak negatif dari hari valentine.

Kalau kita memang peduli, apa yang akan kita lakukan?

Kita semua tahu, yang namanya "penyimpangan" biasanya berkonotasi 
negatif. Nah penyimpangan yang dilakukan pada perayaan hari kasih sayang 
juga membawa dampak negatif. Mari kita fokus pada penyimpangan yang 
paling besar, yakni sex diluar nikah. Aktifitas sex, sejatinya bukan 
sekedar bentuk interaksi antar individu. Pada sex ada tanggung jawab, 
ada nilai moral, belum lagi sex juga diatur dalam ajaran agama-agama. 
Jika ada yang melakukan sex diluar nikah, maka mereka telah melanggar 
semuanya. Mereka melanggar norma masyarakat, melanggar ajaran agama, 
mereka juga bisa dikatakan orang yang tidak bertanggung jawab. Mengapa 
"tidak bertanggung jawab?" Karena sex diluar nikah biasanya dilakukan 
oleh orang yang hanya mencari kesenangan saja. Dia ingin menikmati sex, 
namun tidak mau terikat dengan segala aturan dan tidak mau menerima 
semua konsekwensi dari sex seperti anak, keluarga, dsb.

Dari sekian banyak akibat negatif dari sex diluar nikah, yang paling 
berat konsekwensinya adalah pelanggaran terhadap ajaran agama. Mengapa 
melanggar ajaran agama itu paling berat akibatnya? Karena agama itu 
berhubungan dengan kehidupan sekarang dan kehidupan setelah kematian. 
Ketika kita melanggar ajaran agama, maka akibat negatifnya bisa terjadi 
sekarang ketika hidup, dan juga akan kita tanggung pada kehidupan 
setelah kematian. Dan kehidupan setelah kematian adalah kehidupan yang 
tak berujung, tak dibatasi oleh kematian lagi.

Jika diantara kita ada yang berpendapat, bahwa setelah manusia mati maka 
semuanya selesai, gak ada kehidupan berikutnya, baik, itu pendapat yang 
pantas dihormati. Silahkan menjalani hidup berdasarkan pendapat itu. 
Hanya saja bagaimana jika pendapat itu salah. Bagaimana jika setelah 
kematian ada kehidupan lagi? sementara kita terlanjur hidup dengan tidak 
mengikuti ajaran agama? bagaimana nasib kita nanti?

Mungkin ada yang bersikeras, "gue tetep nggak percaya ada kehidupan 
setelah kematian", ya silahkan. Kalau kita benar, maka kita yang gak 
percaya ada hidup setelah mati nggak untung, yang percaya ada hidup 
setelah mati juga nggak rugi. karena ketika kita mati, ya udah, selesai. 
Namun ketika kita salah, ternyata setelah kita mati ada kehidupan 
berikutnya, nah lo! ...  celaka kan kita. Kita akan menderita di 
kehidupan berikutnya, gak berujung lagi.

"Tapi bro, kita valentinan kan bukan untuk sex". Sebagian mungkin 
berkata demikian. Ok, selamat, jika ada yang berpendapat bahwa valentine 
bukan berarti sex. Itu mencerminkan kedewasaan dalam berpikir. 
Masalahnya, anggota masyarakat kita terutama para pemuda dan pemudi yang 
mulai mengenal rasa sayang pada lawan jenis, mereka mudah terbuai dengan 
rasa sayang itu. Dan mereka belum mampu menangani luapan rasa sayang 
yang timbul dari perayaan valentine. Mereka beresiko besar melakukan 
penyimpangan.

Dalam hal ini kita tidak bisa bersikap egois dengan berkata "yang 
penting gue gak melakukan penyimpangan". Kita harus juga peduli pada 
mereka yang masih belum dewasa dalam berpikir. Mereka yang beresiko 
besar terkena dampak negatif dari hari valentine.

Kalau kita memang peduli, apa yang akan kita lakukan?





------------------------------------

Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/kisunda/

<*> Your email settings:
    Individual Email | Traditional

<*> To change settings online go to:
    http://groups.yahoo.com/group/kisunda/join
    (Yahoo! ID required)

<*> To change settings via email:
    [email protected] 
    [email protected]

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [email protected]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/

Kirim email ke