dina ageman oge sarakah teh meunang mun dina nu goreng. ari nu hade jiga 
sarakah elmu jeung dina maca buku mah lain gorengnya:-)

--- In [email protected], "Waluya" <waluya2006@...> wrote:
>
> Panganteur:  Caping Tempo 13/2/2012, ceuk kuring mah lumayan "menarik",
> sabab nyaritakeun SARAKAH atawa KASARAKAHAN, bari ilustrasina Cina Komunis.
> 30-40 taun katukang di Cina teu aya kapamilikan pribadi, kabeh milik
> komunal, jelema digawe keur kapentingan sarerea, lir ibarat "masyarakat"
> nyiruan.  Tapi ayeuna di Cina geus lahir jalma-jalma beunghar siga di nagara
> kapitalis.  Nyanggakeun artikelna kanggo lenyepaneun:
> 
> 
> Tamak
> Senin, 13 Februari 2012
> 
> Apa yang baru? Berubahkah manusia? Selama ribuan tahun, kita mendengar
> petuah para nabi, pemimpin berbagai agama, dan para aulia yang mengecam
> keserakahan. Hari-hari ini, di Amerika Serikat, debat politik berkecamuk
> tentang orang-orang kaya yang cuma sedikit membayar pajak, seperti di
> Indonesia. Tak hanya itu: di negeri ini (tapi juga di negeri lain) tiap hari
> orang bercerita tentang politikus dan pejabat yang tak puas-puasnya
> melakukan korupsi. 
> 
> Dengan kata lain: keserakahan, sebuah tema universal, adalah kisah lama,
> variasi baru. 
> 
> Dan kita pun terusik: jangan-jangan rakus memang amat dekat dengan sifat
> manusia. Jangan-jangan Milton Friedman benar. Ekonom pembela kapitalisme itu
> meminta kita berpikir kembali: "Adakah sebuah masyarakat yang bisa
> berlangsung tanpa berdasarkan keserakahan?" 
> 
> "You think China doesn't run on greed?" ia bertanya.
> 
> Cina memang sebuah contoh yang baik. Dalam sejarahnya yang panjang, ia
> pernah beberapa kali cemas mengalami akibat buruk sifat tamak: akumulasi
> kekayaan di tangan sejumlah kecil orang yang mengakibatkan penindasan, rasa
> cemburu, dan konflik sosial yang tajam. 
> 
> Di abad ke-11, di bawah Dinasti Sung, dengan kecemasan itu Perdana Menteri
> Wang Anshi menjadikan Cina sebuah negeri "sosialis" sebelum kata itu
> ditemukan. "Negara," kata Wang, "harus mengambil alih seluruh pengelolaan
> niaga, industri, dan pertanian, menjaga agar pekerja yang jelata tertolong
> dari kesulitan dan tak diluluh-lantakkan oleh mereka yang kaya."
> 
> Di abad ke-20, Mao Zedong melakukan yang serupa. Bentuknya yang ekstrem
> tampak waktu ia melancarkan Revolusi Kebudayaan. Sebagaimana dikisahkan
> Liang Heng dalam Tragedi Anak Revolusi, pada 1969 para kader Partai Komunis
> dikirim ke pedesaan. Mereka harus "memotong ekor kapitalisme" di pedalaman.
> Artinya, penduduk dusun harus melenyapkan peternakan itik, babi, dan bebek
> milik mereka. Seorang petani akhirnya membunuh semua bebek di kandangnya.
> 
> Di abad ke-11, eksperimen Wang Anshi gagal. Untuk mengelola pelbagai sendi
> kehidupan, ia membutuhkan biaya besar dan birokrasi yang berlipat-lipat.
> Korupsi merebak. Akhirnya, seperti ditulis Will Durant dalam The Story of
> Civilization, Cina, seperti banyak negeri sejak itu, "Harus menghadapi
> pilihan yang tua dan pahit, antara kerakusan swasta dan korupsi negara."
> 
> Di abad ke-20, pilihannya berbeda: antara kekuasaan negara yang menjaga
> semangat kolektif dan kebutuhan warga yang tak bisa dipenuhi oleh
> kolektivitas itu. Yang sama adalah bahwa, seperti Wang Anshi, ide Mao juga
> gagal.
> 
> Pada 1979, dua tahun setelah ia wafat, di Dusun Xiaogang sejumlah petani
> membuat sebuah kesepakatan rahasia. Idenya dibisikkan oleh Yen Jinchang,
> seorang pemuda berumur 19 tahun: mereka hendak mengecoh sistem pertanian
> kolektif.
> 
> Waktu itu, seperti di seluruh pedusunan Cina, di Xiaogang para petani
> mengolah tanah yang tak bisa jadi miliknya pribadi. "Bahkan sebatang galah
> pun milik kelompok," kata Yen. Ada satu anekdot: dalam sebuah rapat umum
> desa, seorang petani bertanya kepada kader Partai Komunis yang memimpin:
> "Apakah gigi di mulutku juga bukan milikku?" Jawabnya: tidak.
> 
> Tanpa memiliki apa-apa, seorang warga dianggap sebagai penyumbang bagi
> kebersamaan. Ada yang mulia dalam ide ini-tapi ia telah membuat para petani
> tak bergairah. Kepentingannya sendiri tak dianggap ada.
> 
> Sadar bahwa produktivitas turun-dan dengan demikian imbalan yang didapat pun
> turun-para petani menyetujui usul Yen. Secara rahasia mereka membagi-bagi
> tanah kolektif itu. Tiap keluarga akan mendapat sepetak, dan hasil tanam
> mereka sebagian diserahkan ke pemerintah dan ke lumbung kolektif-tapi
> sebagian mereka makan sendiri. 
> 
> Perbuatan seperti itu berbahaya; ia melanggar garis Partai. Takut akan yang
> mungkin terjadi, dalam perjanjian itu disebutkan: jika ada di antara mereka
> yang dipenjarakan atau dihukum mati, anggota kelompok lain akan memelihara
> anak yang ditinggalkan sampai umur 18. Setelah mereka tandatangani, naskah
> itu pun disimpan dalam sepotong bambu yang disembunyikan di atap rumah Yen.
> 
> Hasilnya: secara tersembunyi pula para petani Xiaogang itu merasa
> memiliki-dan sebab itu mereka bekerja lebih bersemangat, karena hasilnya
> akan mereka nikmati sendiri. Produksi naik drastis. Dan semua berakhir baik.
> Mereka tak dihukum. Bahkan di bawah pemerintahan Deng Xiaoping, sistem yang
> disarankan Yen akhirnya diadopsi sebagai sistem yang tepat: dengan empunya,
> dari milik, ada antusiasme. 
> 
> Tapi kapan "milik" tetap menjadi "milik", tak tumbuh jadi sesuatu yang lain?
> 
> 
> Di Cina, pertanyaan itu tak sempat ditanyakan-apalagi dicoba dijawab. Dengan
> pesat, milik dan kerakusan berbaur. Yen yang sekadar mencoba hidup dari
> sepetak tanah dengan segera jadi tokoh kuno. Kisah Cina sekarang kisah Liu
> Yikian.
> 
> Liu, lahir 1963, mula-mula berjualan tas di tepi jalan Shanghai. Hasil
> kerjanya bertambah sejak kapitalisme merasuk ke kehidupan Cina pada 1980.
> Hartanya membubung ke langit. Oktober 2010, Liu mampu membayar sekitar US$
> 11 juta untuk sebuah mahkota antik dari zaman Dinasti Qing. Kini ia termasuk
> dari sebuah kelas yang bisa membeli kue pengantin seharga US$ 314 ribu dari
> toko roti Angsa Hitam di Beijing.
> 
> Orang akan mengatakan, Liu tak berdosa karena kemewahan itu; uang itu hasil
> jerih payahnya sendiri. Tapi saya termasuk mereka yang ingin menjawab:
> sejauh mana "milik" bisa jeda dan tak jadi "kemewahan", dan "kemewahan" jeda
> dan tak jadi "keserakahan"? 
> 
> Tema lama, tentu. Variasi baru. Tapi bila itu seperti berulang mungkin
> karena manusia tak kunjung sepenuhnya mengerti sifatnya sendiri.
> 
> Goenawan Mohamad
>




------------------------------------

Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/kisunda/

<*> Your email settings:
    Individual Email | Traditional

<*> To change settings online go to:
    http://groups.yahoo.com/group/kisunda/join
    (Yahoo! ID required)

<*> To change settings via email:
    [email protected] 
    [email protected]

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [email protected]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/

Kirim email ke