Parantos ka absen juragan : IJABI Nu teu aya mah Sunda Wiwitan. :)
------------------------------ Pada Rab, 22 Feb 2012 15:10 ICT [email protected] menulis: >Punten SYIAH can kasebat J > >Ceuk iwan fals mah perlu pamingpin anu demokratis tp bertangan besi … > > > >From: [email protected] [mailto:[email protected]] On Behalf Of >Gus Maman >Sent: Friday, February 17, 2012 4:51 PM >To: [email protected] >Subject: Bls: [kisunda] Fwd: Tamak (alias Sarakah .....,) > > > > > > >Analis ekonom, hilap deui namina (CC Wei kitu?). Nyebatkeun yen fondamen/dasar >kapitalis adalah ketamakan/kasarakahan. Ieu jadi dadasar pikeun persaingan >"sehat", kepemilikan jeung >semangat/antusias diri-diri pelaku ekonomi. Mung dina praktekna, mucunghul >epek negatip >umpamana ayana konglomerasi badan/institusi ekonomi anu ngagiles ekonomi >kecil, kitu >oge soal monopoli. Epek nu gaduh dua sisi nu sanes umpamana perdagangan mata >uang sareng saham. Penggelembungan nilai ekonomi, bari teu aya pakuat-pakaitna >jeung ekonomi >nyata/riel di masyarakat. >RRC ngadopsi kapitalisme mung tiasa oge ngikis epek negatipna tina >kapitalisme. Umpamana teu aya nu namina perdagangan mata uang, sareng mata >uang na dipatok. >Pikeun ngarojong ketaklengkah/sepakterjang nu sepertos RRC meryogikeun >kakuatan negara(state power) nu kuat ti pelaku penyelenggara nagara. Kakuatan >ieu aya didukung kunu namina PKC (partai komunis cina), numana dina negakeun >hukumna kalintan teges pisan, pamingpina daek diteukteuk beuheung lamun dirina >terbukti terlibat dina urusan korupsi. >Prediksi sim kuring, pelaku penyelenggaran nagara di RRC, didominasi ku >anggota (polit) biro PKC, upami dibandingkeun jeung Indonesia mah, sepertos >PNS anu kapungkurmah 99,99% GOLKAR. > >Di RRC jelas teu aya nu namina demokrasi, kebebasan berekspresi, kebebasan >berorganisasi, atanapi kebebasan berserikat/ngadamel ormas atanapi parpol. >Sadayana parantos lebet/melekat ka urusan PKC. >Moal aya nunamina sepertos FPI, IJABI, Ahlulsunah NU, PERSIS, Muhammadiyah. > >Indonesia ayeuna, teu puguh kiblatna, ari struktur organisasi nagara masih >serbanagara, >ari penyelenggara nagara (pucuk pimpinanna) mucunghul ti partai politik hasil >proses demokrasi tea. Jadina kitu loba nu aji mungpung aing keur berkuasa, >kumaha carana meunangkeun proyek-proyek pikeun kapentingan partaina. Ieu pisan >nu kajadian dina partai Demokrat ayeuna. Rebut-rebutan kakawasaan antara >aparatur birokrat (nu baheulana >99,99% golkar) verses anggota elit partai politik nu keur berkuasa. > >Salam >mz > >------------------------------ >Pada Jum, 17 Feb 2012 11:00 ICT Waluya menulis: > >>Panganteur: Caping Tempo 13/2/2012, ceuk kuring mah lumayan "menarik", >>sabab nyaritakeun SARAKAH atawa KASARAKAHAN, bari ilustrasina Cina Komunis. >>30-40 taun katukang di Cina teu aya kapamilikan pribadi, kabeh milik >>komunal, jelema digawe keur kapentingan sarerea, lir ibarat "masyarakat" >>nyiruan. Tapi ayeuna di Cina geus lahir jalma-jalma beunghar siga di nagara >>kapitalis. Nyanggakeun artikelna kanggo lenyepaneun: >> >> >>Tamak >>Senin, 13 Februari 2012 >> >>Apa yang baru? Berubahkah manusia? Selama ribuan tahun, kita mendengar >>petuah para nabi, pemimpin berbagai agama, dan para aulia yang mengecam >>keserakahan. Hari-hari ini, di Amerika Serikat, debat politik berkecamuk >>tentang orang-orang kaya yang cuma sedikit membayar pajak, seperti di >>Indonesia. Tak hanya itu: di negeri ini (tapi juga di negeri lain) tiap hari >>orang bercerita tentang politikus dan pejabat yang tak puas-puasnya >>melakukan korupsi. >> >>Dengan kata lain: keserakahan, sebuah tema universal, adalah kisah lama, >>variasi baru. >> >>Dan kita pun terusik: jangan-jangan rakus memang amat dekat dengan sifat >>manusia. Jangan-jangan Milton Friedman benar. Ekonom pembela kapitalisme itu >>meminta kita berpikir kembali: "Adakah sebuah masyarakat yang bisa >>berlangsung tanpa berdasarkan keserakahan?" >> >>"You think China doesn't run on greed?" ia bertanya. >> >>Cina memang sebuah contoh yang baik. Dalam sejarahnya yang panjang, ia >>pernah beberapa kali cemas mengalami akibat buruk sifat tamak: akumulasi >>kekayaan di tangan sejumlah kecil orang yang mengakibatkan penindasan, rasa >>cemburu, dan konflik sosial yang tajam. >> >>Di abad ke-11, di bawah Dinasti Sung, dengan kecemasan itu Perdana Menteri >>Wang Anshi menjadikan Cina sebuah negeri "sosialis" sebelum kata itu >>ditemukan. "Negara," kata Wang, "harus mengambil alih seluruh pengelolaan >>niaga, industri, dan pertanian, menjaga agar pekerja yang jelata tertolong >>dari kesulitan dan tak diluluh-lantakkan oleh mereka yang kaya." >> >>Di abad ke-20, Mao Zedong melakukan yang serupa. Bentuknya yang ekstrem >>tampak waktu ia melancarkan Revolusi Kebudayaan. Sebagaimana dikisahkan >>Liang Heng dalam Tragedi Anak Revolusi, pada 1969 para kader Partai Komunis >>dikirim ke pedesaan. Mereka harus "memotong ekor kapitalisme" di pedalaman. >>Artinya, penduduk dusun harus melenyapkan peternakan itik, babi, dan bebek >>milik mereka. Seorang petani akhirnya membunuh semua bebek di kandangnya. >> >>Di abad ke-11, eksperimen Wang Anshi gagal. Untuk mengelola pelbagai sendi >>kehidupan, ia membutuhkan biaya besar dan birokrasi yang berlipat-lipat. >>Korupsi merebak. Akhirnya, seperti ditulis Will Durant dalam The Story of >>Civilization, Cina, seperti banyak negeri sejak itu, "Harus menghadapi >>pilihan yang tua dan pahit, antara kerakusan swasta dan korupsi negara." >> >>Di abad ke-20, pilihannya berbeda: antara kekuasaan negara yang menjaga >>semangat kolektif dan kebutuhan warga yang tak bisa dipenuhi oleh >>kolektivitas itu. Yang sama adalah bahwa, seperti Wang Anshi, ide Mao juga >>gagal. >> >>Pada 1979, dua tahun setelah ia wafat, di Dusun Xiaogang sejumlah petani >>membuat sebuah kesepakatan rahasia. Idenya dibisikkan oleh Yen Jinchang, >>seorang pemuda berumur 19 tahun: mereka hendak mengecoh sistem pertanian >>kolektif. >> >>Waktu itu, seperti di seluruh pedusunan Cina, di Xiaogang para petani >>mengolah tanah yang tak bisa jadi miliknya pribadi. "Bahkan sebatang galah >>pun milik kelompok," kata Yen. Ada satu anekdot: dalam sebuah rapat umum >>desa, seorang petani bertanya kepada kader Partai Komunis yang memimpin: >>"Apakah gigi di mulutku juga bukan milikku?" Jawabnya: tidak. >> >>Tanpa memiliki apa-apa, seorang warga dianggap sebagai penyumbang bagi >>kebersamaan. Ada yang mulia dalam ide ini-tapi ia telah membuat para petani >>tak bergairah. Kepentingannya sendiri tak dianggap ada. >> >>Sadar bahwa produktivitas turun-dan dengan demikian imbalan yang didapat pun >>turun-para petani menyetujui usul Yen. Secara rahasia mereka membagi-bagi >>tanah kolektif itu. Tiap keluarga akan mendapat sepetak, dan hasil tanam >>mereka sebagian diserahkan ke pemerintah dan ke lumbung kolektif-tapi >>sebagian mereka makan sendiri. >> >>Perbuatan seperti itu berbahaya; ia melanggar garis Partai. Takut akan yang >>mungkin terjadi, dalam perjanjian itu disebutkan: jika ada di antara mereka >>yang dipenjarakan atau dihukum mati, anggota kelompok lain akan memelihara >>anak yang ditinggalkan sampai umur 18. Setelah mereka tandatangani, naskah >>itu pun disimpan dalam sepotong bambu yang disembunyikan di atap rumah Yen. >> >>Hasilnya: secara tersembunyi pula para petani Xiaogang itu merasa >>memiliki-dan sebab itu mereka bekerja lebih bersemangat, karena hasilnya >>akan mereka nikmati sendiri. Produksi naik drastis. Dan semua berakhir baik. >>Mereka tak dihukum. Bahkan di bawah pemerintahan Deng Xiaoping, sistem yang >>disarankan Yen akhirnya diadopsi sebagai sistem yang tepat: dengan empunya, >>dari milik, ada antusiasme. >> >>Tapi kapan "milik" tetap menjadi "milik", tak tumbuh jadi sesuatu yang lain? >> >> >>Di Cina, pertanyaan itu tak sempat ditanyakan-apalagi dicoba dijawab. Dengan >>pesat, milik dan kerakusan berbaur. Yen yang sekadar mencoba hidup dari >>sepetak tanah dengan segera jadi tokoh kuno. Kisah Cina sekarang kisah Liu >>Yikian. >> >>Liu, lahir 1963, mula-mula berjualan tas di tepi jalan Shanghai. Hasil >>kerjanya bertambah sejak kapitalisme merasuk ke kehidupan Cina pada 1980. >>Hartanya membubung ke langit. Oktober 2010, Liu mampu membayar sekitar US$ >>11 juta untuk sebuah mahkota antik dari zaman Dinasti Qing. Kini ia termasuk >>dari sebuah kelas yang bisa membeli kue pengantin seharga US$ 314 ribu dari >>toko roti Angsa Hitam di Beijing. >> >>Orang akan mengatakan, Liu tak berdosa karena kemewahan itu; uang itu hasil >>jerih payahnya sendiri. Tapi saya termasuk mereka yang ingin menjawab: >>sejauh mana "milik" bisa jeda dan tak jadi "kemewahan", dan "kemewahan" jeda >>dan tak jadi "keserakahan"? >> >>Tema lama, tentu. Variasi baru. Tapi bila itu seperti berulang mungkin >>karena manusia tak kunjung sepenuhnya mengerti sifatnya sendiri. >> >>Goenawan Mohamad >> > > > ------------------------------------ Yahoo! Groups Links <*> To visit your group on the web, go to: http://groups.yahoo.com/group/kisunda/ <*> Your email settings: Individual Email | Traditional <*> To change settings online go to: http://groups.yahoo.com/group/kisunda/join (Yahoo! ID required) <*> To change settings via email: [email protected] [email protected] <*> To unsubscribe from this group, send an email to: [email protected] <*> Your use of Yahoo! Groups is subject to: http://docs.yahoo.com/info/terms/
