Ayo Biasakan Mendongeng Lagi!

Minggu, 26/02/2012 - 03:49
 [image: ERIYANTI/"PRLM"]
ERIYANTI/"PRLM"

PRLM - Tet tot tet tot
Suling aing tulang maung
Ditoktrokan ku caldai
Diliangan ku bangbara
Dipaiseup ku sireupeun
Teretet heong... teretet heong...

BEGITULAH Elin Samsuri mengajak pendengar acara "Ngadongeng... Ngeng" yang
digelar Bale Rumawat Padjadjaran di Aula Unpad, Sabtu (25/2/12), mengingat
kembali masa kecilnya. Masa ketika orangtua khususnya kaum ibu mendongeng
bagi anak-anaknya sebelum tidur.

Elin berhasil menghidupkan panggung peringatan "Mieling Basa Indung
Internasional" yang lebih sepi dibandingkan tahun sebelumnya. Elin pada
kesempatan ini mendongeng tentang "Sakadang Kuya". Dongeng yang paling
populer bagi anak-anak jaman dulu.

"Moal aya dongeng anu paling napel saumur hirup, lian ti dongeng kolot
urang. Moal aya anu pang tokohnya ngaliwatan tokoh teater sekalipun, iwal
ti kolot urang mun keur ngadongeng," ujar Elin.

Dalam dongengnya, Elin menyampaikan pesan-pesan tentang moral. Hal yang
baik dan harus diikuti, serta hal-hal buruknyang harus dihindari. Dalam
mendongeng, Elin tidak hanya bercerita, tetapi juga melibatkan penonton
menyanyi dan menari. Selayaknya seorang kakek yang sedang menasihati
cucu-cucunya dengan bercerita.

Elin tidak tampil sendirian. Sebelumnya hadir pula Yayat Hendayana yang
menyampaikan dengan berjudul "Naon Sababna Bulu Gagak Hideung Lestreng",
Miya Rumiyati dengan dongeng berjudul "Monyet jeung Peucang" dan "Sireum
jeung Gajah", ada juga Wa Kabul yang mendongeng "Karna Tanding", serta Mela
Putri Setia.

Puncak acara ini menghadirkan juru dongeng paling "kahot" di radio, yakni
Wa Kepoh. Wa Kepoh adalah pendongeng yang pernah berjaya dengan dongengnya
yang berjudul "Si Rawing". Ia juga menulis "Si Buntung Jago Tutugan",
"Bobok Manggih Gorowong", dan masih banyak lagi.

Namun penampilan Wa Kepoh biasanya begitu gagah dan segar, kali ini tampak
sangat memilukan hati. Ia dipapah istrinya mengenakan kursi roda. Dari
pembicaraannya dengan "PRLM", Wa Kepoh mengaku terkena stroke sejak dua
tahun lalu.

Meskipun didampingi Subadra, demikian Wa Kepoh, memanggil istrinya,
penampilan wa Kepoh tetap memikat mengunjung. Peralihan suara dari satu
tokoh ke tokoh yang lain yang dimaiankannya, terkesan sangat khas. Sangat
membetahkan pendengar untuk tetap duduk di tempat. Padahal, dalam cerita
"Nu Mulang" yang disampaikannya, wa Kepoh memerankan lebih dari lima tokoh.

Menurut H. Usep Romli yang sempat memberikan komentarnya terhadap acara
ini, mendongeng mengandung unsur pedagogis (pendidikan). Mendongeng selalu
menyampaikan nilai-nilai moral tentang kebaikan dan keburukan yang menjadi
bekal kehidupan anak. Namun sayang, saat ini mendongeng sudah jarang
dilakukan.

Oranga tua kata H. Usep Romli lebih menyerahkan "ngadongeng" pada televisi.
Momentum peringatan Hari Bahasa Ibu Internasional, sangat tepat untuk
mengajak kembali para orangtua untuk membiasakan mendongeng kepada
putrra-putrinya.

Acara peringatan Hari Bahasa Ibu Internasional ini diisi pula dengan
saembara fiksi mini (fikmin) dan kopi darat anggota komunitas fiksi mini di
jejaring sosial. Ganjar Kurnia selaku Rektor Unpad yang juga anggota
komunitas Fikmin menyampaikan, anggota fikmin sudah mencapai seribu ornag
lebih. Dengan jumlah fikmin yang masuk mencapai ratusan perhari.

"Ini fenomena bagus untuk mempertahankan keberadaan bahasa Sunda. Ke depan
tinggal mengarahkannya pada karya-karya fikmin yang lebih mengarah pad
kualitas," ujarnya. (Eriyanti/"PRLM"/A-88)***

http://www.pikiran-rakyat.com/node/178380

Kirim email ke