----- Pesan yang Diteruskan -----
Dari: Hikam Elhakim <[email protected]>
Kepada: [email protected] 
Dikirim: Senin, 31 Januari 2011 8:33
Judul: Bls: [JARKOM PERSIS] Pembahasan Tahrif Quran ( Kang HIkam)
 

  
Salam,

Mengklarifikasikan
sebuah tuduhan adalah sikap yang benar, dan seharusnya dilakukan oleh setiap
muslim yang objektif, tetapi hendaknya kita tidak salah alamat dalam 
mengklarifikasi
sebuah berita. Seperti kasus kita kali ini, mestinya kita mengklarifikasi
tuduhan ini dengan melihat langsung ke literatur syiah untuk mengecek kebenaran
berita ini, mengecek apakah benar ada kitab-kitab syiah yang menyatakan
demikian atau tidak ada. Mengapa klarifikasi ke tetangga, teman atau dosen anda
yang syiah adalah salah alamat? Ada beberapa sebab; bisa jadi teman, tetangga
dan dosen anda belum pernah mendapat akses ke literatur itu, bisa jadi dia
memang sudah mengakses tetapi dia mengingkari hal itu. bisa jadi dia adalah
“anggota biasa” yang tidak tahu apa-apa, banyak kemungkinan. Tetapi semua itu
tidak akan mengubah apa yang tercantum dalam kitab-kitab syiah. Di antaranya:

Abu Abdillah berkata: “Al Qur’an yang diturunkan Jibril kepada Muhammad adalah
17 ribu ayat”. Al Kafi jilid 2 hal 463. Muhammad Baqir Al Majlisi berkata bahwa
riwayat ini adalah muwathaqoh. Lihat di Mir’atul Uqul jilid 2 hal 525.

Jika kita telaah lagi pernyataan-pernyataan ulama syiah mengenai ingkarnya
mereka pada Al Qur’an hari ini, kita akan sampai pada sebuah kesimpulan
berbahaya, yang mungkin tidak pernah terbayangkan sebelumnya. Kesimpulan ini
berbunyi:

Setiap syiah harus mengingkari keaslian Al Qur’an, jika masih beriman bahwa AL
Qur’an sekarang ini adalah asli otentik seperti yang diturunkan kepada Nabi
Muhammad SAAW, maka dia bukan syiah.

Ada kalimat lain untuk kesimpulan di atas, yaitu setiap syiah harus meyakini
bahwa al qur’an telah dirubah, ditambah dan dikurangi. Seseorang tidak bisa
menjadi syiah jika tidak meyakini hal itu. Sehingga dapat kita katakan bahwa
seorang syiah terpaksa meyakini hal itu jika masih ingin menjadi syiah. Di sini
meyakini adanya penambahan, pengurangan dan perubahan terhadap ayat Al Qur’an
menjadi sebuah konsekwensi yang melekat, dan tidak pernah akan lepas, bagi
seorang penganut syiah.

Bisa dikatakan juga, mereka yang meyakini bahwa Al Qur’an masih asli tidak
pernah akan menjadi syiah.

Saya mohon maaf pada pembaca karena barangkali telah membuat pembaca agak
sedikit bingung –plus terkejut-. Tetapi ini adalah kenyataan yang harus kita
ketahui. Barangkali anda akan bertanya mengenai hal-hal yang mendasari
kesimpulan saya di atas, ini adalah pertanyaan wajar, dan memang saya akan
mengetengahkan bukti-bukti dari pernyataan di atas. Saya katakan di atas bahwa
yang akan mencapai kesimpulan seperti itu bukanlah saya pribadi, tetapi kita
semua, seluruh pembaca makalah ini. Saya mengajak diri saya sendiri dan pembaca
yang budiman untuk merasa tidak puas dengan omongan orang tentang sesuatu, 
sebelum
merujuk pada sumber otentik dari sesuatu itu. anda jangan puas hanya dengan
mendengar omongan dan –mungkin- bualan dari teman anda, tapi hendaknya kita
melangkah jauh untuk memberanikan diri menelaah sumber-sumber otentik mazhab
syiah. Pembaca akan mendapatkan apa yang tersembunyi dari mazhab syiah
imamiyah, dan kami –team hakekat- berusaha untuk menampilkan sumber otentik
lengkap dengan nomor jilid dan halaman.

Telah kita bahas di atas bahwa keyakinan terhadap diubahnya Al Qur’an adalah
konsekwensi dari mazhab syiah imamiyah. Ulama syiah klasik benar-benar
menyadari hal ini, maka keyakinan tentang perubahan Al Qur’an menjadi sebuah
aksioma dalam mazhab syiah –yang tidak bisa diganggu gugat-. Apa yang mendorong
para ulama syiah klasik memasukkan keyakinan ini sebagai aksioma? Karena mereka
sadar bahwa menolak hal itu sama dengan menolak mazhab syiah. Mari kita simak
nukilan dari ulama klasik syiah.

Pertama-tama, mari kita sadari bahwa riwayat dalam kitab literatur syiah yang
menggugat keotentikan Al Qur’an hari ini mutawatir dan sangat banyak, sekali
lagi, menurut ulama syiah sendiri. Sebuah kenyataan yang membuat setiap muslim
bersedih.

1.Al Mufid –Muhammad bin Nu’man- mengatakan:

Banyak sekali hadits-hadits dari para imam yang membawa petunjuk – a’immatil
huda- dari keluarga Nabi Muhammad SAAW bahwa Al Qur’an yang ada bukan lagi
asli, juga memuat berita tentang orang-orang zhalim yang menambah dan
mengurangi isi Al Qur’an. Lihat Awa’ilul Maqalat hal 91.

2.Abul Hasan Al Amili mengatakan:

Ketahuilah, kebenaran yang disimpulkan dari riwayat mutawatir yang akan
dipaparkan kemudian, dan riwayat lain yang tidak kami jelaskan di sini, bahwa
Al Qur’an yang ada di tangan kita saat itu, telah mengalami perubahan
sepeninggal Rasulullah SAAW. Para penulis Al Qur’an sepeninggal Nabi SAAW telah
menghapus banyak ayat dan kata dari ayat Al Qur’an.

Muqaddimah kedua dari tafsir Miraatul Anwar wa Mishkatul Asrar hal 36, dicetak
sebagai pengantar bagi Tafsir Al Burhan karya Al Bahrani.

Nyata-nyata menuduh para sahabat telah menghapus banyak ayat Al Qur’an. Nampak
sekali bahwa yang tertuduh dalam hal ini adalah Usman bin Affan, yang dikenal
sebagai pemrakarsa penulisan Al Qur’an, dan penyatuan bacaan Al Qur’an bagi
seluruh kaum muslimin. Ini adalah kesimpulan ulama dari riwayat-riwayat yang
dianggapnya mutawatir, jadi tidak lagi mengenal adanya “shahih” atau “dhaif”,
karena sebuah kesimpulan hanya mewakili person penyimpulnya. Dengan pernyataan
ini kita dapat mengambil kesimpulan juga, bahwa Abu Hasan Al Amili tidak beriman
pada Al Qur’an yang ada saat ini. Dia telah kehilangan salah satu rukun iman.
[Inna Lillahi Wa Inna Ilaihi Raji’un]

3.Ni’matullah Al Jaza’iri

Figur yang satu ini lebih memilih untuk percaya riwayat-riwayat mutawatir
menurut versinya daripada Kalam Ilahi yang terhimpun dalam Al Qur’an. Katanya:

Dengan menganggap Al Qur’an yang ada sekarang ini adalah mutawatir dari wahyu
ilahi, [artinya diriwayatkan secara mutawatir berasal dari Nabi yang menerima
wahyu dari Allah], dan meyakini bahwa Al Qur’an yang ada sekarang ini adalah Al
Qur’an yang diturunkan oleh Ruhul Amin [Malaikat Jibril] mengandung konsekwensi
penolakan terhadap riwayat yang banyak sekali, bahkan mencapai derajat
mutawatir, yang menyatakan bahwa Al Qur’an telah dirubah, isinya, kalimatnya
dan I’rabnya. Padahal ulama mazhab kami telah sepakat bahwa riwayat itu valid
adanya dan mereka yakin pada isi riwayat itu. Al Anwar An Nu’maniyah jilid 2
hal 357.

Kita lihat seluruh ulama syiah sepakat menerima riwayat yang menggugat Al
Qur’an, yang menuduh Al Qur’an kaum muslimin saat ini telah dirubah, dan bukan
asli lagi. Ini bukan lagi tuduhan, tetapi pernyataan dari ulama syiah sendiri.

keyakinan di atas mengandung sekian banyak konsekwensi, di antaranya,
menganggap kaum muslimin yang berpegang pada Al Qur’an yang ada saat ini adalah
sesat, karena berpedoman pada kitab suci yang sudah dirubah oleh “tangan-tangan
kotor”.

4. Al Allamah Al Hujjah Sayyid Adnan Al Bahrani

riwayat tak terhitung banyaknya, yang menerangkan bahwa Al Qur’an telah
dirubah, sungguh banyak, melebihi derajat mutawatir. Masyariq Asy Syumus Ad
Durriyah, hal 126.

5.Sulthan Muhammad Al Khurasani

Mengatakan dalam kitabnya, Tafsir Bayanus Sa’adah fi Maqamatil Ibadah, cet.
Muassasah Al A’lami hal 19

6.Begitu juga Husein Nuri Thabrasi, yang getol menyatakan Al Qur’an telah
dirubah, sampai-sampai dia menulis sebuah kitab yang diberi judul Fashlul
Khitab fi Itsbati Tahrifi Kitabi Rabbil Arbabi [pemutus ucapan, pembuktian
bahwa kitab Allah telah dirubah]. Kita simak ucapannya dalam kitab di atas hal.
227 :

Hadits yang memuat hal itu [perubahan Al Qur’an] berjumlah lebih dari 2000
hadits, sejumlah ulama besar menyatakan banyaknya riwayat yang menyatakan hal
itu, seperti Al Mufid, Al Muhaqqiq Ad Damad, Majlisi dan lainnya.

7. Muhammad Baqir Al Majlisi

ketika membahas hadits riwayat Hisyam bin Salim dari Abu Abdillah Alaihissalam;
Sesungguhnya Al Qur’an yang diturunkan oleh Jibril Alihissalam kepada Muhammad
SAAW ada 17000 ayat. Majlisi mengomentari riwayat ini: [riwayat ini] dipercaya,
dalam cetakan lain tertulis Hisyam bin Salim di posisi Harun bin Salim. Riwayat
ini shahih, seperti sudah diketahui bahwa riwayat ini juga banyak riwayat
shahih yang menerangkan dengan jelas bahwa Al Qur’an yang ada saat ini telah
dikurangi dan diubah, bagi saya hadits-hadits yang menyatakan perubahan Al
Qur’an mencapai derajat mutawatir ma’nawi. Menolak riwayat ini mengharuskan
kita untuk menolak seluruh riwayat [hadits Ahlulbait]. Saya kira hadits yang
mengatakan hal ini[perubahan Al Qur’an] tidak kalah banyak dari riwayat hadits
yang membahas imamah, bagaimana masalah imamah bisa dibuktikan dengan riwayat?
Mir’atul Uqul, jilid 12 hal 525.

Maksudnya, bagaimana masalah imamah bisa didasarkan dari dalil riwayat
ahlulbait jika riwayat mengenai perubahan Al Qur’an ditolak? Karena kitab-kitab
yang memuat riwayat dari para imam Ahlulbait, yang dijadikan rujukan bagi
mazhab imamiyah [tentang imamah dan nash] juga memuat riwayat tentang perubahan
AL Qur’an. Maka Syiah tidak dapat mengingkari riwayat tentang perubahan Al
Qur’an, karena mengingkari riwayat perubahan Al Qur’an berarti menolak riwayat
tentang imamah dan penunjukan para imam, menolak riwayat mengenai imamah
berarti menggugurkan mazhab syiah, karena mazhab syiah imamiyah hanya bersandar
pada riwayat-riwayat dari ahlulbait mengenai imamah. Berarti konsekwensi dari
mengimani prinsip imamah dalam syiah adalah percaya terhadap perubahan Al
Qur’an. Ini berarti seluruh umat syiah wajib meyakini perubahan dan pengurangan
Al Qur’an, jika masih ingin meyakini imamah.

Perhatikan lagi pernyataan Majlisi, yang menjelaskan bahwa menolak riwayat
perubahan Al Qur’an berarti menolak seluruh hadits dan riwayat syiah.

--- Pada Sab, 29/1/11, Mohammad zen <[email protected]> menulis:

Dari: Mohammad zen <[email protected]>
Judul: [JARKOM PERSIS] Pembahasan Tahrif Quran ( Kang HIkam)
Kepada: [email protected]
Tanggal: Sabtu, 29 Januari, 2011, 1:47 PM

 

Tanggapan Untuk Kang Hikam

1.       Kedhaifan Hadits Dari Salim ibn Salmah

Hadits yang dituliskan oleh akang ini adalah dhaif, kami cukupkan pada rijal 

Salim Ibn salmah, mangga diaos:

سالم بن أبي سلمة الكندي السجستاني. 

روى عنه ابنه محمد لا يعرف و روى عنه غيره. و هو ضعيف روايته مختلط

(Alghadairi)

Di Dalam Kitab Rijal Alghadairi : Sali Ibn Abi salmah Alkindi As-sajestani, 

Meriwayatkan darinya putranya Muhammad dia tidak diketahui , dan meriwayatkan 

darinya selainnya juga, dan dia Dhaif riwayatnya bercampur.

حديثه ليس بالنقي.

Annajasyi

Dalam Kitab Rijal An-Najasyi : Haditsnya tidak murni, 

Abi dawud

سالم بن أبي سلمة الكندي

السجستاني حديثه ليس بالنقي و إن كنا لا نعرف منه إلا خيرا.

Dalam kitab Abi Dawud mengatakan : Salim ibn Abi salmah Assajastani haditsnya 

tidak murni (tidak baik) walaupun kami tidak mengenalnya kecuali orang baik.

Jadi Fitnahan Akang mengenai tahrif yang ada di dalam syiah  dengan hadits ini 

tidaklah sah.

saya tegaskan sekali lagi bahwa syiah meyakini Quran yang ada sekarang itu 

adalah quran umat Islam, bedanya susunannya itu bukan oleh para sahabat tetapi 

oleh nabi sendiri....adapun Quran Ali, itu adalah susunan dalam bentuk lain 

(inipun karena diperintahkan nabi khusus untuk Imam Ali) yang susunannya 
menurut 

asbabunnuzul quran dengan lengkap tafsir dan takwil yang ada di tangan Imam 

Maksum as sampai sekarang... tetapi jumlah huruf dan ayat dengan susunan yang 

ada sekarang tidak ada bedanya sama...

Jadi Di dalam Keyakinan Syiah Quran itu ada dua susunan , kedua2nya atas 

perintah Allah dan nabinya :

1. susunan yang ada sekarang ( yang menyususnnya adalah nabi sendiri bukan 

sahabat)

2. Susunan menurut asbabunnuzul ( quran Ali)

2.       Anda berbohong terlalu berlebihan mengenai ribuan hadits ini, cobalah 

untuk malu pada diri anda sendiri.

3.       Di Syiah Dulu ada kaum akhbari seperti halnya kaum wahabi  yaitu cuman 

comot hadits lalu fatwa, tapi itupun sejumlah kalangan kecil di syiah, yang 

meyakini alquran itu ada tahrif, tapi kaum ushuliun, tidaklah demikian dengan 

penelitian yang sangat para ulama terdahulu dan sekarang menolak pemikiran 

akhbariun yang hanya comot hadits lalu fatwa seperti halnya kaum wahabi... 

sehingga Syiah tidak meyakini adanya tahrif. 

4.       Akang mengaku Alim dan menganggap lainnya awam, justru menurut saya 

akanglah yang awam yang tidak tahu menanahu kualitas hadits... dan hanya 

menjiplak buku fitnah2 wahabi untuk disebarkan... yang justru kalau akang alim 

justru jawaban akan fitnahan itu sesudah dari jaman baheula atuh kang... tapi 

entah wahabi hanya bisa menyebarkan isu yang telah usang...

5.       Jadi yang dimaksud akang seluruh sahabat itu bukan syiah??? Ini dia 

keawaman akang selaku peneliti hadits dan tarikh, banyak sekali sahabat nabi 

yang mengikuti Ghadirs khum dan itrah nabi saww, diantara mereka salman 

alfarisi, Miqdad, ammar bin yasir, Ibn Abbas, Muhammad bin abu bakar, dan masih 

banyak lainnya yang mengikuti jalur Ghadir khum.

6.       Tidak seluruh sahabat nabi udul, (adil) itu yang diyakini Syiah, 

keadilan para sahabat tidak dilihat mereka itu syiah atau tidak ini juga 

kegegabahan akang dalam menceritakan syiah dan sahabat. Syiah meyakini sebagian 

sahabat itu adil sebagian lagi tidak, ini sesuai dengan alquran dan alhadits 

bahkan keterangan tarikh yang ada, bahwa sebagian sahabat, saling membunuh, 

berbohong, memfitnah, dll tapi ada juga yang jujur , dan salih... kami tidak 

meyakini keyakinan khayal seluruh sahabat nabi itu Adil, bahkan sahabat para 

imam As juga kita bersifat obyektif , ada yang adil ada yang tidak...

7.       Ghadir khum adalah dalil fauqu mutawatir , yang tidak ada bisa 

membantahnya... (sudah dibahas) silahkan kalau mau kita ulang kembali .. 

pembahasan bahwa di dalam kitab sunipun pengangkatan Imam Ali sebagai khalifah 

selanjutnya dalam ghadir khum terkuak. Bahkan didasari oleh ayat Tabligh dan 

ikmaluddin .

8.       Saya sudah katakan kata kafir yang dinisbatkan kepada Abu bakar dan 

Umar di dalam kitab biharul anwar bukanlah kafir Fiqhi ( keluar dari Islam) 
tapi 

kafir lughawi, artinya mereka tiak melaksanakan sebagian perintah nabi dan 

washinya bukan keluar dari agama Islam

Di dalam kitab sunipun hal yang semodel dengan itu banyak jumlahnya bahkan 

mengatakan sahabat itu Murtad :

saya bertanya bagaimana pendapat akang mengenai ini

Bukhari 

Hadis no.585.Abu Hazim daripada Sahl bin Sa‘d daripada Nabi (Saw.) Nabi (Saw.) 

bersabda: Aku akan mendahului kamu di Haudh.Dan siapa yang akan melaluinya akan 

miminumnya.Dan siapa yang meminumnya tidak akan dahaga selama-lamanya.Akan 

datang kepadaku beberapa orang yang aku kenali,dan mereka juga 

mengenaliku.Kemudian dihalang di antaraku dan mereka.Abu Hazim berkata : Nu‘man 

bin Abi  ‘iyasy berkata selepas mendengarku: Adakah anda telah  mendengar 

sedemikian daripada Sahl? Aku menjawab:Ya.Aku naik saksi bahawa aku telah 

mendengar Abu Sa ‘id al-Khudri berkata perkara yang sama,malah dia 
menambah:Nabi 

(Saw.) bersabda:Aku akan bersabda: mereka itu adalah daripadaku (ashabi).Maka 

dijawab: “Sesungguhnya anda tidak mengetahui apa yang dilakukan oleh mereka 

selepas anda meninggalkan mereka Aku akan bersabda:Jauh!Jauh! (daripada rahmat 

Allah) /ke Neraka mereka yang telah mengubah/menukarkan (hukum Allah dan 

Sunnahku) selepasku (suhqan suhqan li-man ghayyara ba‘di) ”

Abu Hurairah berkata bahawa Rasulullah (Saw.) bersabda: Sekumpulan daripada 
para 

sahabatku akan datang kepadaku di Hari Kiamat.kemudian mereka akan diusir jauh 

dari Haudh.Maka aku akan bersabda:Wahai Tuhanku!mereka itu adalah para 
sahabatku 

(ashabi).Dijawab:Sesungguhnya anda tidak mengetahui apa  yang mereka lakukan 

selepas anda meninggalkan mereka (inna-ka la  ‘ilma la-ka bima ahdathu 

ba‘da-ka)Sesungguhnya mereka telah menjadi murtad kebelakang (irtaddu  ‘ala 

a‘qabi-bi-himu l-Qahqariyy)

Dan masih banyak hadits lainnya, bagaimana andapun mengatakan bahwa sahabat itu 

menjadi murtad???

Itu keyakinan anda bukan kami

9.       Kesuudzanan akang semakin menjadi2, para asatidz Syiah dan para 
mustami 

nya bukan hanya mengakses kitab syiah bahkan kitab sunipun diakses, bahkan 
kitab 

yunani, dan seluruh kitab ullum, beda halnya dengan kaum wahabi yang melarang 

membaca kitab Syiah , bedanya , syiah tidak berfatwa hanya sekedar keberadaan 

hadits, artinya keberadaan hadits tersetntu harus diteliti terlebih dahulu dan 

dikonsultasikan dengan ahlinya.

Kesimpulan :

1.       Akang menganggap anda  Alim dan yang lainnya awam, coba rasakan dan 

koreksi sendiri siapakah yang awam???

2.       Saya harapkan bertanyalah dengan bijak supaya komunikasi baik dan 

bijakpun berjalan kalau hanya fitnah, maka kamipun akan melakukan JADAL dalam 

diskusi.

3.       Bagaimana Akang menjelaskan kemurtadan sahabat? Kami tidaklah meyakini 

kekafiran sebagian sahabat itu , perlu diteliti dahulu, mungkin murtad dan 
kafir 

disana adalah lughawi bukan fiqih ( keluar dari Islam), karena menurut fiqih 

kami kalau yang dinamakan kafir itu yang sudah jelas meragukan asas agama, 

Tuhan, kenabian dan hari akhir

4.       Silahkan anda tuliskan hadits lain sesuka anda mengenai tahrif Quran 

kami akan mengomentarinya...

5.       Setelah pembahasan dari hadits syiah nanti bagian kami yang 

mempertanyakan hadits dalam kitab anda mengenai tahrif Quran...

zen

Bijaklah janganlah menggugah oranglain melakukan Jadal.

[Non-text portions of this message have been removed]

[Non-text portions of this message have been removed]


 

Kirim email ke