----- Pesan yang Diteruskan -----
Dari: Hikam Elhakim <[email protected]>
Kepada: [email protected] 
Dikirim: Senin, 16 Mei 2011 9:54
Judul: Bls: [JARKOM PERSIS] Mengenai sahabat (Syubhat terhadap sahabat Abu 
hurairah Bag I)
 

  


Syubhat terhadap sahabat Abu
hurairah

Pada rodus
subuhat di kesempatan kali ini kita akan menguraikan bantahan terhadap subhat
yang dilancarkan oleh musuh-musuh islam, yaitu berkenaan dengan sahabat Abu
Huroiroh rodhiyallohu ‘anhu.

Subhat ini
mereka lontarkan dengan tujuan berusaha mencela dan merendahkan para saksi
kebenaran islam dan hendak mencela Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam.

Mereka
hendak memadamkan sunnah Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam dengan slogan
yang tampak luarnya rahmah dan ilmiah namun di dalamnya menyimpan dendam
kesumat dan penipuan besar serta kepandiran. Slogan studi kritis hadits, studi
ilmiyah dan kebebasan berpendapat, ini semua hanyalah semu dan fatamorgana,
tujuannya hanya satu yaitu menghancurkan Islam dengan segala cara. Oleh sebab
itu berhati-hatilah wahai kaum muslimin dari racun yang mereka tebarkan
dimana-mana untuk merusak aqidah dan syariat kita.

Diantara
para sahabat yang mereka serang adalah perawi hadits Nabi terbanyak Abu
Hurairah Radhiallahu’anhu dengan melemparkan tuduhan ngawur dan
kritikan tanpa dasar, namun dibungkus dengan kata-kata indah dan ilmiyah
sehingga banyak menipu kaum muslimin yang belum mengenal aqidah dan syariat
islam. Maka dalam makalah singkat ini kita coba mengungkap beberapa tuduhan
yang dilontarkan musuh islam kepada tokoh besar kita Abu Hurairah 
Radhiallahu’anhu
yang terzalimi dengan mencoba membantah dan membedahnya dengan tetap terus
memohon kepada Allah kemudahan dan petunjuknya.

Diantara
syubhat yang dilontarkan dengan zhalim oleh para musuh Islam adalah;

Syubhat 
Pertama adalah Mereka menyatakan
bahwa Abu Hurairah tidak dapat dipastikan kebenaran nama aslinya, baik di zaman
jahiliyah maupun di masa islam. Mereka juga menyatakan bahwa Abu Hurairah
bukanlah sahabat besar, bukan dari kaum Muhajirin maupun Anshor.

Jawaban atau
bantahan dari syubhat tersebut adalah :

Pendengar
yang budiman. Abu Hurairah Radhiallahu’anhu terkenal dengan kun-yah
atau julukan melebihi namanya. Namun pernyataan tersebut tidak benar seluruhnya
dan tidak dapat dijadikan alasan untuk melecehkan Abu Hurairah. Adapun sejarah
Abu Hurairah Radhiallahu’anhu pada masa jahiliyah memang tidak dikenal,
namun, demikian itu satu kewajaran, karena bangsa Arab -seluruhnya- tenggelam
dalam ke-jahiliyah-an dan terkungkung di wilayah jazirahnya saja. Mereka
tidak peduli dengan keadaan dunia. Begitu juga dunia tidak peduli dengan
keadaan dan kondisi mereka, kecuali yang berhubungan dengan perniagaan, karena
melintasi wilayah mereka.

Baru, ketika
Islam datang, Allah memuliakan dan menjadikan mereka sebagai pengemban
risalahNya, jadilah setiap individu dari mereka memiliki sejarah yang ditulis
menjadi bahan pembicaraan. Dan para perawi, selalu memperhatikan berita
mereka, serta mereka memiliki murid yang mengambil ilmu dan petunjuk dari
mereka.

Para ahli
sejarah sudah memahami, bahwa terkenalnya seseorang dengan gelar atau julukan
merupakan perkara biasa dan wajar. Bahkan, terkadang seseorang berselisih dalam
hal nama dan julukannya, sebagaimana terjadi atas khalifah pertama yang dikenal
dengan gelarnya Abu Bakar. Begitu juga dengan Abu Ubaidah, Abu Dujanah dan Abu
Darda’. Mereka merupakan tokoh besar dan pahlawan dari kalangan sahabat. Namun
lebih dikenal dengan gelar-gelar mereka, hingga sebagian besar manusia tidak
mengetahui nama mereka yang sebenarnya.

Kemudian
subhat kedua adalah: Mereka menyatakan: “Abu Hurairah ada di Madinah hanya 1 
tahun 9 bulan
di Shuffah. Abu Hurairah datang kepada Rasulullah pada bulan Safar tahun 7
Hijriyah, setelah perang Khaibar dan tinggal di emperan masjid Madinah
(Shuffah) sampai bulan Zulqaidah tahun 8 Hijriyah, karena pada bulan itu ia
disuruh Rasul ke Bahrain menemani Al Ala’ Al Hadhrami sebagai Muadzdzin“.

Jawaban dari
subhat ini adalah:

Pernyataan
ini tidak benar, sebab Abu Hurairah Radhiallahu’anhu bersahabat dengan
Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam sekitar 4 tahun lebih. Sebagaimana
ditegaskan oleh Humaid bin Abdurrahman Al Himyari dalam pernyataannya,

“Aku
berteman dan berjumpa dengan orang-orang yang bersahabat dengan Nabi
sebagaimana persahabatan Abu Hurairah dengan Nabi Shallallahu’alaihi
Wasallam selama empat tahun.”.

Sedang kepergiannya menemani Al
‘Alaa’  Al Hadhrami tidak menunjukkan beliau menetap di sana sampai
Rasulullah meninggal, apalagi adanya riwayat yang menyatakan beliau 
ber-mulazamah
dengan Nabi Shallallahu’alaihi Wasalla selama empat tahun di atas.
Demikian juga pendapat yang didukung riwayat otentik menunjukkan beliau ikut
serta perang Khaibar walaupun tidak seluruhnya dan mengikuti haji bersama
Abu Bakar Ash Shidiq Radhiallahu’anhu tahun 9 H.

Syubhat ke 3 Mereka menyatakan, bahwa Abu
Hurairah bersahabat dengan Rosululloh bukan karena kecintaan kepada beliau,
tetapi karena untuk mencari makanan yang dapat mengenyangkan perutnya, karena
dia adalah seorang yang miskin. Dan mereka pun menyatakan bahwa Abu Hurairah
adalah seorang yang punya hobi makan, karena kesukaannya yang berlebihan kepada
makanan, maka sering juga disebut sebagai pembawa hadits lesung, yaitu suatu
alat yang digunakan untuk menumbuk dan mengulek makanan. Mereka mengambil ini
semua dari hadits yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad, Bukhari dan Muslim.

Jawaban atau
bantahan dari subhat ini adalah:

Tuduhan Abu
Hurairah banyak makan dan bersemangat mendapatkan makanan serta bersahabat
dengan Nabi hanya karena makanan, bukan karena hidayah Islam atau kecintaan
pada beliau merupakan tuduhan keji yang hanya dilontarkan orang yang hasad atau
orang yang memiliki kerusakan syaraf. Jika tidak, bagaimana mungkin seorang
yang berakal dapat membenarkan pemahaman, bahwa Abu Hurairah sanggup
meninggalkan negerinya, kabilah dan tanah airnya demi menjumpai Rasul hanya
(sekadar) untuk makan dan minum semata?

Apakah Abu
Hurairah di kabilahnya tidak mendapatkan makan dan minum? Lalu untuk apa Abu
Hurairah datang ke Madinah? Apakah di negerinya ia tidak bisa mendapat makanan
dan minuman sebagaimana yang diperoleh para petani dan pedagang di sana?
Tuduhan ini betul-betul pelecehan terhadap sahabat yang mulia ini. Dan para
penuduh lebih layak dilecehkan dan diragukan keikhlasannya dari beliau. Hingga
sampai sejauh inikah kebutaan hati dan kedengkian mereka?

Para
pelontar syubhat telah menyimpangkan makna dari mulazamah atau khidmat
menjadi bersahabat, ini sangat jauh berbeda maknanya. Sebab kata shuhbah atau
bersahabat dengan almulazamah atau bermulamazamah tidaklah sama. Mulazamah
adalah selalu menemani dan mengikuti.

Demikian
juga para penuduh ini disamping telah melakukan tahrif atau penyimpangan
tersebut juga memotong pernyataan beliau yang merubah konotasi maknanya,
sehingga terfahami bahwa pendorong utama persahabatan beliau adalah mencari
sesuap makanan. Padahal semua itu, beliau katakan untuk menjelaskan sebab
pendorong menjadi sahabat yang paling banyak meriwayatkan hadits.
Demikianlah, tahrif atau menyimpangkan sesuatu dari lafadz atau
makna sebenarnya sudah menjadi adat kebiasaan orang yang menyimpang dari jalan
yang lurus dan penyembah hawa nafsu.

Pernyataan
Abu Hurairah telah difahami dengan benar oleh para ulama Islam, seperti
pernyataan Imam Nawawi ketika menjelaskan perkataan Abu Hurairah (ala mil’i
bathni): “Maknanya aku senantiasa mulazamah dengan Beliau Shallallahu’alaihi
Wasallam. Aku rela dengan makananku. Aku tidak  mengumpulkan harta
untuk simpanan dan tidak untuk yang lainnya. Dan akupun tidak berusaha menambah
porsi makanan bagiku. sedangkan maksud pernyataan Abu Hurairah ‘melayani‘,
bukan sebagai upaya untuk memperoleh gaji atau upah”.

Sehingga
jelaslah kebatilan tuduhan ini.

Pendengar
yang budiman, demikianlah jawaban dari beberapa syubhat yang dilontarkan oleh
musuh-musuh islam yang ingin mencoba merendahkan kedudukan Abu Hurairah
radhiyallahu ‘anhu.

Semoga
bermanfaat dan sampai jumpa di rodus subuhat berikutnya. Wassalamualaikum wr.
Wb.

--- Pada Sab, 14/5/11, deni solehudin <[email protected]> menulis:

Dari: deni solehudin <[email protected]>
Judul: Bls: [JARKOM PERSIS] Mengenai sahabat (jawaban untuk Kang Hikam Bag I)
Kepada: [email protected]
Tanggal: Sabtu, 14 Mei, 2011, 1:07 AM

 

Salam,Hikam menulis :

Ibnu Mas’ud

RA berkata, “Sesungguhnya Allah melihat hati para hamba, dan

mendapati hati Muhammad SAW itu sebaik-baik hati para hamba. Karena itu, Allah

memilihnya bagi diri-Nya dan mengutusnya untuk membawa risalah-Nya. Kemudian

Allah melihat hati para hamba sesudah hati Muhammad SAW, dan Allah mendapati

hati para sahabatnya sebaik-baik hati para hamba. Karena itu, Allah menjadikan

mereka sebagai kaki tangan Nabi-Nya yang berperang di atas agamanya. Jadi, apa

yang dilihat kaum muslimin sebagai sesuatu yang baik, maka ia juga baik di sisi

Allah. Dan apa yang mereka lihat sebagai sesuatu yang jelek, maka ia juga jelek

di sisi Allah.”

Zen menjawab :

Menurut Albani hadits ini adalah maudhu (palsu) dan ditempatkan pada kitab 

silsilah dhaifah 2:16 lihat keterangan berikut

532 - ( موضوع ) 

إن الله نظر في قلوب العباد فلم يجد قلبا أنقى من أصحابي

ولذلك اختارهم فجعلهم 

أصحابا فما استحسنوا فهو عند الله حسن وما استقبحوا فهو

عند الله قبيح

Dan juga bisa lihat kedhaifannya dalam alwuquf 1:66 oleh Maushuli

Jadi tidak bisa berhujjah dengan dalil hadits tersebut

Deni meluruskan :

Kalau mendapatinya dari situ,betul. Ana mendapati hadits ini dari :

Ahmad dalam musnadnya (1/379);

dan dalam kitab “keutamaan-keutmaan Sahabat (541); Thabrany (8582); Al Khatib

dalam Al Faqih wal Mutafaqqih (1/166); dan Al Hakim telah menshahihkannya dalam

Al Mustadrak (3/78) dan Al Dzahaby menyepakatinya.

Wassalam,Den's

--- Pada Sel, 10/5/11, Mohammad zen <[email protected]> menulis:

Dari: Mohammad zen <[email protected]>

Judul: [JARKOM PERSIS] Mengenai sahabat (jawaban untuk Kang Hikam Bag I)

Kepada: [email protected]

Tanggal: Selasa, 10 Mei, 2011, 7:25 PM

 

Assalamualaikum

Sebelumnya memang sangat disayangkan Akang tidak menempelkan alamat kitab dll, 

tapi apa boleh buat saya mencoba menjawabnya , jawaban dimuali dengan :"zen 

menjawab"

__________________________________________________________

Ibnu Mas’ud RA berkata, “Sesungguhnya Allah melihat hati para hamba, dan

mendapati hati Muhammad SAW itu sebaik-baik hati para hamba. Karena itu, Allah

memilihnya bagi diri-Nya dan mengutusnya untuk membawa risalah-Nya. Kemudian

Allah melihat hati para hamba sesudah hati Muhammad SAW, dan Allah mendapati

hati para sahabatnya sebaik-baik hati para hamba. Karena itu, Allah menjadikan

mereka sebagai kaki tangan Nabi-Nya yang berperang di atas agamanya. Jadi, apa

yang dilihat kaum muslimin sebagai sesuatu yang baik, maka ia juga baik di sisi

Allah. Dan apa yang mereka lihat sebagai sesuatu yang jelek, maka ia juga jelek

di sisi Allah.”

Zen menjawab :

Menurut Albani hadits ini adalah maudhu (palsu) dan ditempatkan pada kitab 

silsilah dhaifah 2:16 lihat keterangan berikut

532 - ( موضوع ) 

إن الله نظر في قلوب العباد فلم يجد قلبا أنقى من أصحابي ولذلك اختارهم فجعلهم 

أصحابا فما استحسنوا فهو عند الله حسن وما استقبحوا فهو عند الله قبيح

Dan juga bisa lihat kedhaifannya dalam alwuquf 1:66 oleh Maushuli

Jadi tidak bisa berhujjah dengan dalil hadits tersebut

__________________________________________________________

 

Keutamaan dan Keadilan Para Sahabat Dalam Al-Qur’an dan Sunnah:

1. Allah berfirman,

لَقَدْ رَضِيَ اللَّهُ عَنِ الْمُؤْمِنِينَ إِذْ

يُبَايِعُونَكَ تَحْتَ الشَّجَرَةِ فَعَلِمَ مَا فِي قُلُوبِهِمْ فَأَنزَلَ

السَّكِينَةَ عَلَيْهِمْ وَأَثَابَهُمْ فَتْحًا قَرِيبًا ﴿١٨﴾

“Sesungguhnya Allah telah rida terhadap orang-orang mukmin ketika mereka

berjanji setia kepadamu di bawah pohon, maka Allah mengetahui apa yang ada

dalam hati mereka lalu menurunkan ketenangan atas mereka dengan memberi balasan

kepada mereka dengan kemenangan yang dekat (waktunya).” (QS Al-Fath [48]:

18)

Jabir bin Abdullah berkata, “Jumlah kami saat itu adalah seribu empat

ratus orang.”

Ayat ini berbicara tentang kesaksian Allah mengenai ridha-Nya kepada para

sahabat Nabi SAW, terlebih kepada mereka yang terlibat dalam perjanjian

Hudaibiyyah. Orang yang diridhai Allah itu tidak mungkin mati dalam keadaan

kafir.

Karena yang menjadi patokan selamatnya seseorang adalah kematiannya dalam

keadaan memeluk Islam. Jadi, tidak mungkin Allah meridhai kecuali kepada orang

yang diketahui-Nya mati dalam keadaan memeluk Islam.

Zen Menjawab :

Cukup kirannya dengan 2 jawaban pokok:

1. Di      dalam Ilmu ushul seperti kita ketahui bahwa alashlu fi anawin 

alma’khudzah      fil hukmi almaudhuiyyah, jadi yang dimaksud disini adalah 

maudhu yang      diridhoi oleh Allah adalah oleh “mukmin” bukan lainnya, jadi 

maudhu yang      diridhoi bukan kepada ”seluruh yang berbai’at”, tetapi kepada 

maudhu “mukmin”      saja, kalau kepada seluruh yang berbaiat jumlahnya akan 

seperti ini laqad      radhiallah an kulli man baya’a ( Sesungguhnya Allah 
telah 

rida terhadap      seluruh yang telah berbaiat)

2. “idz”      di dalam  ayat tersebut adalah      menunjukkan dzarfiah , atau 

lebih lengkapnya dzarf zaman, dalam      ilmu nahwu seperti yang telah kita 

ketahui bahwa dzarf zaman menunjukkan      di zaman itu saja tidak berlanjut ke 

zaman setelahnya. Oleh sebab itu      untuk supaya berlanjut diperlukan syarat2 

lain, nah kalau kita lihat ayat      tersebut maka Allah telah meridhoi orang 

beriman (bukan seluruh yang      berbaiat) , pada saat itu saja, kalau ingin 

berlanjut maka perlu syarat      berupa tetap memegang teguh pada bai’at 

tersebut, coba kita lihat ayat berikut      yang memuat syarat harus adanya 

kelanggengan ketaatan terhadap bai’at:

"Orang-orang yang berbaiat kepadamu, sesungguhnya mereka berbaiat kepada Allah. 

Tangan Allah di atas tangan mereka. Maka barang siapa yang melanggar baiatnya, 

niscaya akibat ia melanggar baiat itu akan menimpa dirinya sendiri dan barang 

siapa menepati baiatnya kepada Allah, maka Allah akan memberinya pahala yang 

besar. (Alfath :10) pada surat yang sama.

Jikalau kita melihat riwayat banyak sekali dari sahabat yang tidak dikatakan 

beriman, dan juga melanggar bai’at , saya ambil cuman beberapa contoh saja :

a.    Salah satu bukti bahwa sahabat ada yang tidak beriman

Musnad ibn Ahmad (4:84) dari Jabir ibn Muth’im :

“Aku berkata yaa rasulullah sesunguhnya mereka menyangka bahwa hal itu bukan 

bagi kami pahala di Mekkah, Nabi bersabda : Akan datang kepada kalian pahala 

kalian walaupun kalian di dalam sarang rubah, berkata : kemudian dia 
memiringkan 

kepalanya kepada rasulullah , kemudian rasul bersabda : Sesungguhnya banyak 
dari 

sahabatku itu orang-orang Munafik”

b.    Salah satu bukti bahwa yang berbaiat tersebut melanggar janjinya:

1.    Mereka yang menyerbu dan membunuh Utsman dia adalah Abdurrahman ibn Adis 

albalawi. (Fathul Bari 2:189)

2.    Yang membunuh Ammar Yasir yaitu muawiyah dan pasukannya, dan khususnya 

yang bernama Abu Alghadiah (siar ‘alam nubala 2:544)

Dan masih banyak lainnya , bukankah kita pernah melihat Ayat Alquran :

Dan barang siapa yang membunuh seorang mukmin dengan sengaja, maka balasannya 

ialah Jahanam, ia kekal di dalamnya dan Allah murka kepadanya, dan mengutuknya 

serta menyediakan azab yang besar baginya. Annisa 93)

Atau hadits berikut :

“Barangsiapa yang membunuh Ammar maka akan dikuliti di neraka.”(Almustadrak ala 

shahihain 3:437)

3.    Satu lagi sebagai gambaran (dari sekian banyak riwayat)bahwa :

-       Sesungguhnya Allah telah menolongmu (hai mukminin) di medan peperangan 

yang banyak, dan (juga) di peperangan Hunain, yaitu di waktu kamu menjadi 

congkak karena banyaknya jumlahmu. Lalu jumlah yang banyak itu tidak memberi 

manfaat kepadamu sedikit pun, dan bumi yang luas itu terasa sempit olehmu, 

kemudian kamu lari ke belakang tunggang-langgang.(Attaubah 25)

-       Larinya sebagian sahabat sampai berjumlah 80 orang dalam perang Hunain 

(Mustadrak ala sahihain 2:212).

-       Mundurnya mereka dari perang Hunain meninggalkan Nabi sendirian(sahih 

bukhari 4:1572), (sahih muslim 2:735 hadits :1059) . Sebagian mengatakan yang 

tinggal hanya berempat.Mereka adalah tiga orang dari bani Hasyim dan satu orang 

Imam Ali as. (Mushannaf ibnu Abi Syaibah 7:417 hadits 36994)

4.    Atau secara jelas mengenai penyelewengan setelah berbaiat :

Dari Ala bin Al-Musib dari bapaknya berkata: "Aku bertemu dengan Al-Bara bin 

‘Azib ra dan aku mengatakan: 'Kebaikan untukmu, aku telah berteman dengan  Nabi 

Saw dan berbaiat kepadanya di bawah pohon', dan dia berkata: 'Wahai putra 

saudaraku sesungguhnya anda tidak mengetahui apa yang terjadi setelahnya.'" 

(sahih Bukhari 4:1529 hadits 3937)

__________________________________________________________

bersambung....

[Non-text portions of this message have been removed]

[Non-text portions of this message have been removed]

[Non-text portions of this message have been removed]


 

Kirim email ke