Assalamu'alaikum wr wb; pararunten kasadayana, sim kuring rek milu jabung tumalapung ka na ieu seratan kang Al Hikam; hehehe kuring ti pihak NETRAL. Mudah2an dipercanten ( sabage netral ).
ieu seratan kang Hikam teh sae sareng runtut pisan; saareng pasti tujuanana kanggo "diskusi" sanes bade nangtang atawa ngaaherengan pihak Syiah. Mudah2an naon nu disangka ku kuring, memang kitu pisan nu dipimaksad ku nu nyerat ( kang Hikam ). Kuring sabage pihak netral, satuju ka na serataan kang Hikam, yen memang kanggo hadits data/informasi penting pisan; ti saha wae nu tiasa dipercaya. Hal ieu kudu pisan dihargaan ku uraang sarerea kalebet Syiah. Tah aayeuna kumaha argumen gol. Syiah ? Pastina ge bakaal kieu : Kuring ngumpulkeun hadits ti nu paling dipercaya; nya kuring percayana ka AHLUL BAIT ! Tah ieu soal kayakinan; jeung soal kayakinan moaal iasa dioget oget. Cek kuring mah, sok we dua pihaakaanana jaalan jeung jalankeun ibadaah nu sakira salaras jeung nu yakin dicekel ! Nu ulah teh neangan HELAH; keur ngalakukeun nu teu pati pantes; da angger we engke ge baakal ditaros ku Allah Swt. jadi mun dua pihak sami2 ihlas di na ngajalankeun kayakinanana; paling saeutik moal ayaa pagetreng di na Al Islam; masing teu ngahiji ge. Kitu heula ti sim kuring mah. Wallahualam. --- In [email protected], Hikam Elhakim <hikam_elhakim@...> wrote: > > Ini sebagai tambahan : > > Al-Qurâan > (1) > 'Adalah Sahabat, > Tanggapan Atas Artikel Jalaluddin Rakhmat: Sahabat dalam Timbangan Al-Qurâan > (1) > Bottom of Form > Ditulis > Oleh: Abdul Hayyie Al-Kattani > Apakah > konsep tentang 'Adalah (kejujuran dan sifat keadilan serta dipercaya) > Sahabat bermakna mensakralkan mereka? Dan menganggap mereka manusia-manusia > suci yang tidak mungkin melakukan kesalahan? Atau memuja mereka seperti > sesembahan? > Pendahuluan > Di Facebook, > Dr. Jalaluddin Rakhmat mengundang saya untuk mengomentari tulisannya, sebagai > berikut: "Posts another article about "Sahabat dalam Timbangan > Al-Quran" and invite people who sacralize sahabat to comment, including > Abdul Hayyi Al-Kattani and others." > Membaca > kalimat di atas, saya tertegun sejenak: apakah konsep tentang 'Adalah Sahabat > bermakna mensakralkan mereka? Dan menganggap mereka manusia-manusia > suci yang tidak mungkin melakukan kesalahan? Atau memuja mereka seperti > sesembahan? > Salah Paham > Tentang Konsep 'Adalah Sahabat. > Di sini, > saya melihat ada kesalah-pahaman tentang konsep 'adalah para sahabat. > Sebenarnya konsep "'adalah sahabat" sederhana saja. Yaitu > menilai diri para sahabat Nabi SAW. sebagai jalur penyampai yang bisa > dipercayai bagi Al-Qurâan, hadits-hadits Nabi SAW, serta seluk beluk > kehidupan > Nabi SAW, selama beliau hidup, bagi generasi berikutnya. > Hal tersebut > tidak berarti memberikan penilaian mereka sebagai sosok yang maâshum yang > tak > mungkin berbuat salah, tidak mungkin lupa, tidak mungkin berbuat dosa, atau > melakukan suatu kemaksiatan. Mereka bisa saja melakukan semua itu. Karena > sifat > maâshum atau terhindar dari dosa hanya dimiliki oleh Nabi SAW saja. > Secara > logika, ini sangat diterima. Mengapa? Karena di mana pun di dunia ini, ketika > orang ingin mengetahui sejarah dan catatan-catatan tentang kejadian sebelum > kelahirannya, pasti memerlukan info dari orang yang hidup sebelumnya. Kita > bisa > saja lebih berpendidikan dari orang tua kita. Tapi kejadian-kejadian di tengah > keluarga kita, sebelum kita lahir, atau ketika kita masih balita, pastilah > mereka yang tahu. Sepintar dan sesuci apa pun kita melihat diri kita, tidak > mungkin > kita lebih tahu dari orang tua kita tentang semua kejadian sebelum kita lahir. > Di sini, keinginan kita untuk mengetahui sejarah otentik keluarga kita atau > masa-masa balita kita, harus meletakkan orang tua kita sebagai sumber > informasi > yang terpercaya. Kecuali jika mereka terbukti senang berdusta. Karena jika > tidak, kemana lagi kita mesti mencari informasi tersebut? > Membatasi > sumber informasi, membuat kita menghasilkan gambaran yang tidak otentik > terhadap objek yang ingin kita ketahui. > Demikian > juga dengan keinginan kita untuk mengetahui riwayat otentik Al-Qurâan dan > sunnah-sunnah Nabi SAW. Melalui siapa kita mengetahui semua itu? Tentu > jawabnya > adalah melalui para sahabat, isteri-isteri beliau dan anak-anak serta menantu > beliau yang pernah mengalami hidup bersama beliau atau mendengar suatu riwayat > dari beliau. > Di sini kita > mesti meletakkan para sahabat sebagai sumber informasi atau riwayat otentik > dari Nabi SAW. Kecuali jika orang tersebut terbukti pernah berdusta terhadap > Nabi SAW, atau Nabi SAW sudah memberikan kata pasti bahwa si A adalah sosok > yang tidak bisa dipercayai/munafik. > Apakah ada > alternatif selain itu untuk mengetahui riwayat otentik dari Nabi SAW? > Orang bisa > mengatakan: "Ada, yaitu lewat anak dan menantu serta keturunannya. Yaitu > anak beliau, Fathimah Radhiyallahu âanha dan menantu beliau, Ali bin Abi > Thalib serta kedua anak mereka, Hasan dan Husein. Karena merekalah Ahlu Bait > yang masuk dalam hadits Kisaaâ.â > Tapi > nyatanya untuk mengetahui keutamaan (fadhail) diri mereka saja kita harus > mengandalkan riwayat-riwayat dari para sahabat. Bayangkan jika kita > mencampakkan para sahabat atau isteri Rasulullah SAW sebagai sumber riwayat > dari Nabi SAW, dari mana lagi kita mengetahui keutamaan atau fadhaail Ali bin > Abi Thalib Radhiyallahu âanhu dan keluarganya yang disampaikan langsung > oleh Rasulullah SAW? Bukankah hadits Kisaaâ yang diagung-agungkan Syiâah > sebagai keutamaan Ali bin Abi Thalib dan keluarganya itu diriwayatkan oleh > Aisyah Radhiyallahu âanha, isteri Nabi SAW? > Orang bisa > meneliti, kitab-kitab ulama Syiâah Imamiyah Ja'fariyah yang mengklaim hanya > mengandalkan riwayat dari Ahlu Bait, nyatanya mereka hampir tidak memiliki > riwayat-riwayat yang bersambung dengan sanad sahih hingga Rasulullah SAW > melalui jalur Ahlu Bait. Apakah seperti itu bisa dianggap otentik? > Kalau orang > menisbahkan riwayat Ahlul Bait kepada Ja'far As-Shadiq, namun hingga saat ini > kita tidak pernah tahu Ja'far As-Shadiq mempunyai kumpulan hadits atau karya > tulis yang bisa dijadikan rujukan. Jadi dari mana kita tahu ajaran Nabi SAW > yang otentik melalui Ahlul Bait? > Dan > Al-Qurâan yang sampai kepada kita saat ini juga tidak diriwayatkan melalui > Ahlu > Bait. Tapi melalui jalur periwayatan para sahabat. Bagaimana jadinya jika kita > menolak para sahabat sebagai jalur periwayatan Al-Qurâan dan hadits-hadits > Nabi > SAW? Dari mana kita mengetahui teks dan bacaan Al-Qurâan yang benar? > Oleh karena > itu, tidak aneh jika para Imam dari kalangan keluarga Ali bin Abi Thalib > Radhiyallahu > âanhu mengambil riwayat-riwayat Sunnah dari kalangan sahabat serta berdalil > dengan perbuatan mereka. Seperti diriwayatkan dalam salah satu dari empat > kitab > terpenting Syiâah Imamiyah Ja'fariyah, yaitu kitab Man La Yahdhuruhul Faqih > sebagai berikut: > ÙØ§Ù Ø§ÙØ´ÙØ® > Ø§ÙØµØ¯ÙÙ 4242: Â ÙØ±Ù٠عبد اÙÙ٠ب٠٠ÙÙ Ù٠ع٠أب٠> عبد اÙÙÙ Ø Ø¹Ù Ø£Ø¨Ù٠عÙÙÙ٠ا > Ø§ÙØµÙØ§Ù ÙØ§Ù : ":Ø§Ù Ø£ØµØØ§Ø¨ رسÙ٠اÙÙ٠صÙ٠اÙÙÙ > عÙÙÙ ÙØ¢Ù٠بتبÙÙ ÙØ¹Ø¨Ù٠اÙ٠اء Ø > ÙÙØ§Ù رسÙ٠اÙÙ٠صÙ٠اÙÙ٠عÙÙÙ ÙØ¢ÙÙ : Ø§Ø´Ø±Ø¨ÙØ§ > ÙÙ Ø£ÙØ¯ÙÙÙ ÙØ¥ÙÙØ§ Ù Ù Ø®ÙØ± Ø¢ÙÙØªÙÙ " > . ( Ù Ù ÙØ§ ÙØØ¶Ø±Ù Ø§ÙÙÙÙ٠ج 3 ص 353) > Syekh Shaduq > berkata: (4242) Abdullah bin Maimun meriwayatkan dari Abi Abdillah (Ja'far > As-Shadiq) dari ayahnya âAlaihis salam, ia berkata: "Para sahabat > Rasulullah SAW saat di Tabuk minum dengan secara langsung ke tempat air. > Kemudian Rasulullah SAW bersabda: "Minumlah dengan tapak tangan kalian, > karena ia adalah gelas yang paling baik bagi kalian." (Man La Yahdhuruhu > Al-Faqih, jilid. 3, hal. 353). > Konsep > 'Adalah Sahabat Menurut Ulama. > Ibn Taimiah > berkata dalam Minhaj As-Sunnah (1/306-307): "Dari kalangan sahabat > bisa saja seseorang dari mereka melakukan kesalahan, dan berbuat dosa. Karena > mereka bukan orang-orang yang maâshum. Namun mereka tidak mungkin sengaja > berdusta. Karena siapa yang sengaja berdusta atas nama Nabi SAW niscaya Allah > SWT akan membongkar dustanya." Dalil tentang hal itu terdapat dalam kitab > Sahih Bukhari (6780) yang berisi tentang seorang laki-laki yang berulang kali > dihadapkan ke pengadilan Rasul SAW untuk dihukum dera karena meminum-minuman > keras. Kemudian ketika salah seorang sahabat melaknatnya, maka Nabi SAW > mencegahnya sambil bersabda: > ÙØ§ ØªÙØ¹ÙÙÙØ > Ù٠اÙÙ٠٠ا عÙ٠ت Ø¥ÙÙ ÙØØ¨ اÙÙÙ ÙØ±Ø³ÙÙÙ > "Jangan > kalian laknat dia, Karena demi Allah, aku tahu dia mencintai Allah dan > Rasul-Nya." > Ibnu Hajar > berkomentar: "Dalam hadits tersebut terdapat bantahan bagi orang yang > menyangka bahwa pelaku dosa besar otomatis kafir. Karena Rasulullah SAW > melarang orang melaknatnya. Sambil memerintahkan untuk mendoakan orang itu. > Dari situ juga dipahami bahwa tidak ada unsur saling menafikan antara > melanggar > larangan dengan keberadaan cinta kepada Allah dan Rasul-Nya dalam hati pelaku > dosa itu. Karena Rasul SAW memberitakan bahwa orang itu mencintai Allah dan > Rasul-Nya, meskipun orang itu melakukan tindakan yang diharamkan." (Lihat: > Fathul Bari: 12/78). > Kasus serupa > pernah terjadi pada Hathib bin Abi Balta'ah, dalam hadits yang diriwayatkan > dalam Sahih Bukhari (4890) dan Muslim (2494). Ia saat itu dituduh melakukan > tindakan memata-matai kaum Muslimin. Namun demikian Nabi SAW tetap tidak > memvonis dia sebagai kafir. > Orang yang > mempelajari sirah para sahabat Radhiyallahu âanhum niscaya akan > mendapati sahabat yang diberitakan pernah melakukan dosa sangatlah sedikit > jumlahnya. Dan diantara yang sedikit itupun tidak dapat dibuktikan > kesalahannya. > Jika kita > melihat dengan pandangan jujur, niscaya kita dapati para sahabat yang > meriwayatkan sunnah tidak didapati melakukan dosa seperti itu. Sedangkan jika > pun ada, ternyata yang melakukannya orang yang statusnya sebagai sahabat masih > diperdebatkan, seperti Walid bin Uqbah. Dan begitu pun, Walid bin Uqbah tidak > pernah meriwayatkan hadits, setelah meninggalnya Rasulullah SAW. Sedangkan > namanya disebut pada masa hidup Rasulullah SAW semata untuk kepentingan > penjelasan hukum atas kasus yang terjadi, sesuai syari'ah. > Al-Alusi > berkata dalam kitab Al-Ajwibah Al-'Iraqiyah, hal. 23-24: > "Bukanlah > maksud perkataan kami: Seluruh sahabat 'uduul (dipercaya dan jujur), berarti > mereka tidak melakukan kesalahan atau dosa sama sekali. Mereka bisa saja > melakukan dosa⦠kemudian yang patut diingat bahwa dari kalangan sahabat yang > melakukan dosa, hingga akhirnya dijatuhui hukuman, mereka sangat sedikit > jumlahnya, dibandingkan ribuan sahabat yang mulia yang terbukti memegang teguh > jalan hidup yang lurus. Dan Allah SWT menjaga mereka dari dosa dan maksiat, > yang besar maupun kecil dan yang lahir maupun yang bathin. Sejarah yang jujur > menjadi bukti atas fakta tersebut." > Sedangkan > Abu Hamid Al-Ghazali berkata dalam kitab Al-Mustashfa, hal. 189-190 > sebagai berikut: > âYang > dijadikan pegangan oleh para sahabat dan jumhur: bahwa 'adalah Sahabat > diketahui sesuai dengan pemberian sifat 'adalah itu oleh Allah SWT > kepada mereka. Serta pujian-Nya bagi mereka dalam Al-Qurâan. Ini adalah > keyakinan kami tentang mereka. Kecuali jika terbukti secara nyata salah > seorang > dari mereka melakukan dosa dengan sengaja. Dan hal seperti itu ternyata tidak > terjadi. Sehingga terhadap mereka tidak perlu lagi dilakukan screening > ke-'adalah-an.â [nosra.islammemo/syiahindonesia.com]. > > > ________________________________ > Dari: Mohammad zen <zenhusein@...> > Kepada: "[email protected]" <[email protected]>; > "[email protected]" <[email protected]> > Dikirim: Selasa, 21 Februari 2012 17:13 > Judul: Re: Trs: Bls: [JARKOM PERSIS] Orang Munafik di madinah bukan orang > baduy (Untuk kang deni) > > >  > Kang deni Berkata : > > Salam, > > Yang tidak nyambung itu bantahan antum ini. Coba kita lihat rekam ulang > lagi pendapat saya : > > Dalam ayat 101 at Taubah di atas, Allah > menginformasikan keberadaan orang2 munafik dari : > > 1.                  > ÙÙÙ ÙÙ Ù`ÙÙÙ' ØÙÙÙ'ÙÙÙÙÙ Ù' Ù ÙÙ٠اÙÙ'Ø£ÙØ¹Ù'Ø±ÙØ§Ø¨Ù > > 2.                  >  ÙÙÙ ÙÙÙ' > Ø£ÙÙÙ'Ù٠اÙÙ'Ù ÙØ¯ÙÙÙÙØ© > > Nah, segini dulu, pelan-pelan saja. Pertanyaan awal, setuju tidak dari > pembagian di atas? > > Setelah itu kita bahas, satu persatu siapa mereka?! (walaupun dalam > tafsir Ad Durur Mantsur sudah diterangkan, nanti kita cari tafsir yg lebih > ringan dari itu), kemudian fokus akhir adalah apakah mereka itu semua sahabat > Nabi. > > Wassalam, > > Denâs > > __________________________________________________________ > > Zen Menjawab : > > salam, > > Lah Dari Awal ana memisahkan antaracoba lihat tulisan ana sebelumnya ana > salil lagi dibawah > > nash yang sarih menjelaskan dua kaum yang dijelaskan di ayat tersebut > > 1. orang baduy yang ada di kota madinah munafik (sebagian) > 2. Ahli Madinah munafi (sebagian) > > dari kedua hal tersebut bisa dilihat bahwa sebagian sahabat dari kota madinah > itu munafik. > > Sekarang saya mau tanya Ahli Madinah itu SEBAGIAN sahabat atau bukan???? > > ok saya tulisakan lagi dibawah penjelasannya > > ÙÙÙ ÙÙ Ù`ÙÙÙ' ØÙÙÙ'ÙÙÙÙÙ Ù' Ù ÙÙ٠اÙÙ'Ø£ÙØ¹Ù'راب٠> Ù ÙÙØ§ÙÙÙÙÙÙÙ > ÙÙÙ ÙÙÙ' Ø£ÙÙÙ'Ù٠اÙÙ'Ù ÙØ¯ÙÙÙÙØ©Ù Ù ÙØ±ÙدÙÙØ§ > عÙÙÙ٠اÙÙÙ`ÙÙØ§ÙÙ ÙØ§ ØªÙØ¹Ù'ÙÙÙ ÙÙÙÙ Ù' ÙÙØÙ'ÙÙ > ÙÙØ¹Ù'ÙÙÙ ÙÙÙÙ Ù' > سÙÙÙØ¹ÙذÙ`ÙØ¨ÙÙÙÙ Ù' Ù ÙØ±Ù`ÙØªÙÙÙ'ÙÙ Ø«ÙÙ Ù`Ù > ÙÙØ±ÙدÙ`ÙÙÙ٠إÙÙÙ Ø¹ÙØ°Ø§Ø¨Ù Ø¹ÙØ¸ÙÙÙ Ù > Terjemahan depag : > di antara > orang-orang Arab Badwi yang di sekelilingmu[657] itu, ada orang-orang munafik; > dan (juga) di antara penduduk Madinah. Mereka keterlaluan dalam > kemunafikannya. > kamu (Muhammad) tidak mengetahui mereka, (tetapi) kamilah yang mengetahui > mereka. nanti mereka akan Kami siksa dua kali kemudian mereka akan > dikembalikan > kepada azab yang besar. > Lalu kang deni > menulis kan : > [657] > Maksudnya: > orang-orang > Badwi yang berdiam di sekitar Madinah. (Fn dari Tafsir Depag) >  > Jawab Zen : > 1. Tanpa > melihat merujuk ke iârabnya langsung kita bisa melihat dari bahasa > Indonesianya menurut tarjamah depag saja dua hal yang berbeda antara > baris :âdi antara orang-orang Arab Badwi yang di sekelilingmuâ dengan > keterangan yang ada di Madinah dengan baris ayat :âdan (juga) di > antara penduduk Madinahâ dua maksud yang berbeda Badui yang ada di > Madinah dengan penduduk Madinah. Dan kedua2nya disifati dengan ;âmunafikâ > cuman > yang orang baduy dengan kata âmunafikâ yang orang madinah dengan kata > âketerlaluan > kemunafikannyaâ , kata âDanâ dalam baris diatas menunjukkan dua hal yang > berbeda yang satu Baduy yang ada di Madinah yang kedua Penduduk Madinah. > Apakah > seluruh penduduk Madinah itu orang Baduy? Tentu jawabnnya tidak bukan, bahkan > secara tegas dituliskan diatas Baduy bukanlah penduduk Madinah hanya > âberdiamâ > saja di Madinah atau istilah kerennya numpang , bukan penduduk madinah, Dan > penduduk Madinah bukan orang Baduy, seperti misalnya : kuring urang sunda yeuh > tinggal di iran, kan lain jadi penduduk iran hehe...sehingga Orang munafik itu > ada dua yang diisyaratkan di ayat tersebut diantara Orang Baduy dan ada juga > diantara penduduk Madinah. > 2. Kalau dengan definisi mazhab Suni bahwa sahabat adalah orang islam yang > bertemu dengan nabi, walaupun Islam secara dhahir karena munafik adalah > pekerjaan bathin. Maka Orang baduy dan penduduk madinah itu SEBAGIAN itu > munafik berdasarkan terjemahan yang ada. Kenapa SEBAGIAN. Sebab di dalam ayat > sebelumnya Baduy pun ada dua golongan ada yang mukmin ada yang memiliki sifat > munafik > Sebagian baduy munafik mereka juga sahabat bukan > 98. Di antara orang-orang Arab Badui itu, > ada orang yang memandang apa yang dinafkahkannya (di jalan Allah) sebagai > suatu > kerugian dan dia menanti-nanti marabahaya menimpamu; merekalah yang akan > ditimpa marabahaya. Dan Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui. > Dan ayat 99 menunjukkan orang Baduy yang > Mukmin, mereka juga sahabat bukan. > 99. Dan di antara orang-orang Arab Badui itu, > ada orang yang beriman kepada Allah dan hari kemudian, dan memandang apa yang > dinafkahkannya (di jalan Allah) itu sebagai jalan untuk mendekatkan diri > kepada > Allah dan untuk memperoleh doa Rasul. Ketahuilah, sesungguhnya nafkah itu > adalah suatu jalan bagi mereka untuk mendekatkan diri (kepada Allah). Kelak > Allah akan memasukkan mereka ke dalam rahmat-Nya; sesungguhnya Allah Maha > Pengampun lagi Maha Penyayang. > Sebab kalau anda mengkambinghitamkan baduy > itu munafik seluruhnya karena takut > disebut sahabat maka orang baduy yang mukmin dalam ayat 99 siapa atuh, BUKAN > SAHABAT? Orang planet kali Hehe... > Begitu juga penduduk Madinah , hal ini > sudah jelas sebab sebagian penduduk Madinah Mukmin, misal kecilnya Rasulullah > saww sendiri dan sahabat mukmin lainnya. Kalau seluruhnya maka wah gawat... > Bisa dilihat bahwa yang bertemu dengan > nabipun orang munafik yakni sahabat nabi dengan definisi yang ada : > 94. Mereka (orang-orang munafik) mengemukakan > uzur kepadamu, apabila kamu telah kembali kepada mereka (dari medan perang). > Katakanlah, âJanganlah kamu mengemukakan uzur; kami tidak percaya lagi > kepadamu, (karena) sesungguhnya Allah telah memberitahukan kepada kami > beritamu > yang sebenarnya. Dan Allah serta rasul-Nya akan melihat pekerjaanmu, kemudian > kamu dikembalikan kepada Dzat yang mengetahui yang gaib dan yang nyata, lalu > Dia memberitakan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan.â > Sekarang kalau  uzur gak berperang siapa mereka , mereka > sezaman merekapun Islam, karena kalau gak islam gak dituntut berperang. > 3. Min disana adalah min tabâidiah(sebagian) > , bukan lainnya...sehingga dapat disimpulkan bahwa sebagian Baduy Munafik > sebagian > lagi mukmin dan sebagian penduduk madinah munafik sebagian lagi Mukmin, dan > mereka > semua adalah sahabat nabi. Dengan definisi para ulama Mazhab suni seklaipun > bahkan Bukhari, dengan definisi mereka yang sezaman dan Islam di zaman Nabi > saww. Kalau bukan Islam bagaimana bisa uzur dari peperangan. Orang kafir mah > mana bisa dimintai berperang. > 4. Mari kita melihat secara lebih ilmiah , > detail bukan hanya terjemahan saja > (اÙÙØ§Ù) Ø¹Ø§Ø·ÙØ© (Ù Ù) ØØ±Ù > جرÙ` (Ù Ù) Ø§Ø³Ù Ù ÙØµÙ٠٠بÙÙÙ` ÙÙ Ù ØÙÙ` جرÙ` ٠تعÙÙ`Ù > بخبر Ù ÙØ¯Ù`Ù (ØÙÙ) Ø¸Ø±Ù Ù ÙØ§Ù Ù ÙØµÙب ٠تعÙÙ`Ù > Ø¨Ù ØØ°ÙÙ ØµÙØ© Ù Ù Ù(ÙÙ ) Ø¶Ù ÙØ± ٠ضا٠إÙÙÙ (Ù Ù > Ø§ÙØ£Ø¹Ø±Ø§Ø¨) جارÙ` ÙÙ Ø¬Ø±ÙØ± ٠تعÙÙ`Ù Ø¨ØØ§Ù Ù Ù > اÙÙ ÙØµÙÙ > (Ù ÙØ§ÙÙÙÙ) ٠بتدأ ٠ؤخÙ`ر ٠رÙÙØ¹ ÙØ¹Ùا٠ة Ø§ÙØ±Ùع > اÙÙØ§Ù (اÙÙØ§Ù) Ø¹Ø§Ø·ÙØ© (٠٠أÙÙ) جارÙ` ÙÙ Ø¬Ø±ÙØ± > ٠تعÙÙ`٠ب٠ا تعÙÙ`٠ب٠٠٠Ù`ÙØ ÙÙ٠خبر ٠عطÙÙ > عÙÙ Ø§ÙØ£Ù٠«1Â»Ø (اÙ٠دÙÙØ©) ٠ضا٠إÙÙÙ Ù Ø¬Ø±ÙØ± > (Ù Ø±Ø¯ÙØ§) ÙØ¹Ù ٠اض ٠بÙÙÙ` عÙÙ Ø§ÙØ¶Ù Ù` .. ÙØ§ÙÙØ§Ù > ÙØ§Ø¹Ù (عÙ٠اÙÙÙØ§Ù) جارÙ` ÙÙ Ø¬Ø±ÙØ± ٠تعÙÙ`٠ب > (Ù Ø±Ø¯ÙØ§) > Ø£Ù Ù٠خبر Ù ÙØ¯Ù`Ù Ù٠بتدأ > ٠ؤخÙ`ر ØªÙØ¯Ùر٠ÙÙÙ Ù Ø±Ø¯ÙØ§. > Al-Jadwal fi Iârabi al-Quran > Di dalam Jadwal Iârab > bisa dilihat bahwa â wa min ahli madinah â mutaâallaq kepada apa yang > ditaâalluq > dengan âmiman haulakumâ dengan khabar > muqaddam mahdzuf â kaumâ dan mubtada muakhar yakni (munafiqun), dan > mubtadanya > wa min ahli madinah adalah âMunafikâ seperti yang disebutkan dalam jadwal > iârab > diatas, sehingga maknanya tidak jauh dari terjemhan Depag, cuman kalau mau > diurai berdasar iârab jadinya: > Dan kaum > diselilingmu dari sebagian orang Baduy adalah orang munafik. > Dan kaum di > sebagian ahli madinah mereka adalah munafik > Dan keduanya keterlaluan > dalam kemunafikannya >  > ÙÙ Ù ÙÙ Ù`ÙÙÙ' ØÙÙÙ'ÙÙÙÙÙ Ù' > ÙØ¹ÙÙ ØÙÙ Ø¨ÙØ¯ØªÙÙ Ù Ù٠اÙ٠دÙÙØ© Ù ÙÙØ§ÙÙÙÙÙÙÙ Ù > Ù٠جÙÙÙØ© ٠أسÙ٠٠أشجع Ù ØºÙØ§Ø±Ø ÙØ§ÙÙØ§ > ÙØ§Ø²ÙÙÙ ØÙÙÙØ§ ÙÙ Ù ÙÙÙ' Ø£ÙÙÙ'Ù٠اÙÙ'Ù ÙØ¯ÙÙÙÙØ©Ù > عط٠عÙ٠خبر اÙ٠بتدأ Ø§ÙØ°Ù ÙÙ Ù Ù Ù ØÙÙÙÙ Ù > ÙØ¬Ùز Ø£Ù ÙÙÙÙ Ø¬Ù ÙØ© ٠عطÙÙØ© عÙ٠اÙ٠بتدأ Ù > Ø§ÙØ®Ø¨Ø± إذا ÙØ¯Ù`رت: ٠٠٠أÙ٠اÙ٠دÙÙØ© ÙÙÙ Ù Ø±Ø¯ÙØ§ > عÙ٠اÙÙÙØ§ÙØ Ø¹Ù٠أÙÙ` Ù ÙØ±ÙدÙÙØ§ ØµÙØ© Ù ÙØµÙÙ > Ù ØØ°ÙÙâ > Tafsir Al-Kasyaf Zamakhsyari > Seperti pula yang > disebutkan oleh Zamakhsyari di dalam iârabnya mengetakan seperti yang > disebutkan dalam jadwal iârab, bahkan menuliskan > taqdirnya : > ٠٠٠أÙ٠اÙ٠دÙÙØ© ÙÙÙ > Ù Ø±Ø¯ÙØ§ عÙ٠اÙÙÙØ§Ù > Yakni : dan dari > Ahli Madinah ada penduduk yang keterlaluan dengan kemunafikan >  > Catatan : > 1.Kata Sahabat yang didefinisikan oleh bukhari sendiri dan ulama lainnya > adalah > demikian, dan kalau kita jeli bahwa tidak ada nash (dengan kata shabat nabi) > itu seluruhnya adil, yang ada adalah anda dan kami bisa memahami adanya makna > sahabat itu di dalam alquran dengan orang2 yang islam yang sezaman dengan > nabi. > Baik itu yang munafik atau yang tidak. Jadi tidak ada secara nash seluruh > sahabat adil bahkan tidak pula adanya nash yang menyebutkan sebagian sahabat > munafik, tapi yang ada adalah makna dari quran yang kita ambil bahwa mereka > yng > sezaman dengan nabi dan islam baik itu yang mukmin maupun yang munafik , dari > mana pensifatan itu dari ayat lain yang menjelaskan orang2 yang sezaman dengan > nabi dan islam itu ada yang memiliki sifat mukmin ada yang memiliki sifat > munafik. > 2. Kalau kita menganggap kata âsahabatâ itu selalu disifati dengan sifat > baik, mak ahal itu keliru, sebab kata sahabat di dalam quran tidak selalu > disifati dengan kebaikan bahkan sebagian disifati dengan keburukan, misahat > sahabat neraka, sahabat iblis , ashab kaum rass yang diazab,ashab neraka > saâir, > ashab madyan yang diazab, ashab qaryah yang diazabdll. Sehingga makna ashab > disini adalah netral tidak disifati dengan baik atau buruk menurut mufradat > Quran. >  > Kesimpulan : > 1. Ayat tersebut > tidak menjelaskan keadilan seluruh sahabat, > 2 Ayat tersebut > menjelaskan sebagian sahabat keterlaluan dalam kemunafikan. >  > > ________________________________ > From: deni solehudin <pesantiga@...> > To: "[email protected]" <[email protected]>; > "[email protected]" <[email protected]> > Sent: Tuesday, February 21, 2012 3:56 AM > Subject: Trs: Bls: [JARKOM PERSIS] Orang Munafik di madinah bukan orang baduy > (Untuk kang deni) > > >  > > ----- Pesan yang Diteruskan ----- > Dari: deni solehudin <pesantiga@...> > Kepada: [email protected] > Dikirim: Sabtu, 14 Mei 2011 7:46 > Judul: Re: Bls: [JARKOM PERSIS] Orang Munafik di madinah bukan orang baduy > (Untuk kang deni) > >  > > Salam, > > Yang tidak nyambung itu bantahan antum ini. Coba kita lihat rekam ulang > lagi pendapat saya : > > Dalam ayat 101 at Taubah di atas, Allah > menginformasikan keberadaan orang2 munafik dari : > > 1.                  > ÙÙÙ ÙÙ Ù`ÙÙÙ' ØÙÙÙ'ÙÙÙÙÙ Ù' Ù ÙÙ٠اÙÙ'Ø£ÙØ¹Ù'Ø±ÙØ§Ø¨Ù > > 2.                  >  ÙÙÙ ÙÙÙ' > Ø£ÙÙÙ'Ù٠اÙÙ'Ù ÙØ¯ÙÙÙÙØ© > > Nah, segini dulu, pelan-pelan saja. Pertanyaan awal, setuju tidak dari > pembagian di atas? > > Setelah itu kita bahas, satu persatu siapa mereka?! (walaupun dalam > tafsir Ad Durur Mantsur sudah diterangkan, nanti kita cari tafsir yg lebih > ringan dari itu), kemudian fokus akhir adalah apakah mereka itu semua sahabat > Nabi. > > Wassalam, > > Denâs > > --- Pada Jum, 13/5/11, Mohammad zen <zenhusein@...> menulis: > > Dari: Mohammad zen <zenhusein@...> > Judul: Re: Bls: [JARKOM PERSIS] Orang Munafik di madinah bukan orang baduy > (Untuk kang deni) > Kepada: [email protected] > Tanggal: Jumat, 13 Mei, 2011, 2:00 AM > >  > > [Non-text portions of this message have been removed] > > [Non-text portions of this message have been removed] > > [Non-text portions of this message have been removed] > > [Non-text portions of this message have been removed] > > [Non-text portions of this message have been removed] > > [Non-text portions of this message have been removed] > ------------------------------------ Yahoo! Groups Links <*> To visit your group on the web, go to: http://groups.yahoo.com/group/kisunda/ <*> Your email settings: Individual Email | Traditional <*> To change settings online go to: http://groups.yahoo.com/group/kisunda/join (Yahoo! ID required) <*> To change settings via email: [email protected] [email protected] <*> To unsubscribe from this group, send an email to: [email protected] <*> Your use of Yahoo! Groups is subject to: http://docs.yahoo.com/info/terms/
