"Apel Ganjen", Primadona Hasil Kebun Petani Gunungsirah Tembus Pasar Ekspor

Senin, 12/03/2012 - 04:49
 [image: NURYAMAN/"PRLM"]
NURYAMAN/"PRLM"
ROSIM (40) salah seorang pemilik kebun buah kesemek di Desa Gunungsirah,
Kec. Darma, Kab. Kuningan sedang melihat buah tersebut di kebun kesemek
sekitar desanya itu, Minggu (11/3). Buah kesemek atau...

KUNINGAN, (PRLM).- Buah kesemek atau banyak disebut masyarakat di Kab.
Kuningan dengan nama gurauan "apel ganjen", selama ini masih menjadi
primadona hasil kebun para petani di beberapa desa sentra kesemek di Kab.
Kuningan. Terlebih, menurut para pemilik kebun kesemek di Kuningan, buah
dengan ukuran dan bentuk menyerupai apel itu, dalam beberapa tahun terakhir
telah dipasarkan eksportir ke beberapa negera di luar negeri.

Sejak puluhan tahun lalu, pohon "apel ganjen" di Kab. Kuningan banyak
terdapat di kebun-kebun penduduk bawahan lereng Gunung Gegerhalang bagian
selatan kawasan Gunung Ciremai. Seperti di antaranya, di Desa Cisantana,
Kec. Cigugur, dan Desa Gunungsirah, Kec. Darma.

Namun, lahan kebun kesemek di Desa Cisantana, belakangan ini mulai
berkurang karena terdesak kebutuhan lahan untuk ladang sayuran. Sementara
di Desa Gunungsirah hingga saat ini masih banyak, bahkan dengan membaiknya
harga buah tersebut, kini banyak pemilik lahan kebun di desa itu
menjadikannya sebagai kebun kesemek.

Salah seorang pemilik kebun kesemek di Desa Gunungsirah Rosim (40),
menyebutkan, sejak sekitar lima tahun terakhir harga buah kesemek meningkat
cukup menjanjikan bagi para pemilik pohon tersebut. "Dulu harga pembelian
kesemek oleh bandar hanya mencapai Rp 150 sampai Rp 250 per kilo gram (kg).
Akan tetapi, mulai lima tahun terakhir harga kesemek setiap musim panen
terus meningkat dari Rp 1000, Rp 1500, dan pada musim panen tahun kemarin
sempat mencapai Rp 2000 per kg," ujar Rosim, yang sedang melihat-lihat
kebun kesemek di sekitar desanya itu, Minggu (11/3) pagi.

Keterangan tersebut juga dibenarkan oleh tokoh masyarakat Desa Gunungsirah
H. Ja'i (75), yang juga salah seorang bandar buah tersebut. H. Ja'i, Rosim,
dan sejumlah bandar kesemek di desa itu, menduga kuat, harga buah tersebut
meningkat karena pengaruh adanya permintaan pasar luar negeri.

Pohon kesemek, menurut mereka biasa hanya berbuah dan dipanen sekali
setahun. Meskipun demikian, pendapatan yang diperoleh para pemilik kebun
kesemek di desa itu menurut masyarakat di desa itu, bisa mengalahkan hasil
panen tanaman padi dan palawija.

"Mengapa bisa begitu? Karena pohon kesemek itu bebas dari biaya
pemeliharaan. Tidak perlu dipupuk, diberi obat, maupun disiangi. Malahan,
kalau lagi berbuah begini semak-semak di bawah pohonnya disiangi,
perkembangan buahnya suka terganggu sampai membusuk dan rontok sebelum
matang," kata Rosim.

Sebutan "apel genjen" nama lain untuk bua kesemek, menurut masyarakat di
desa-desa tersebut, cukup beken dan sudah tidak asing lagi disebut-sebut
oleh berbagai kalangan masyarakat di Kab. Kuningan. Sebutan apel, karena
bentuk dan ukuran buah kesemek hampir menyerupai buah apel. Sementara,
sebutan "ganjen" menurut masyarakat, diambil dari bahasa Sunda yang berarti
genit.

"Disebut ganjen, karena kesemek biasa dijual setelah dikapur hingga bagian
luar kulitnya yang kuning dipenuhi kapur. Oleh karena itu, banyak orang
bilang kesemek suka dibedak seperti wanita genit memakai bedak," ujar H.
Ja'i, dibenarkan penjelasan senada sejumlah masyarakat di desanya itu.

Para pemilik kebun kesemek di Desa Gunungsirah, menerangkan, pengapuran
terhadap buah tersebut biasa dilakukan pada proses pematangan akhir
pascapanen. Buah kesemek yang sudah matang, setelah dipanen biasa direndam
dulu dalam air bercampur kapur selama tiga sampai empat hari.

"Perendaman dengan air kapur itu, dilakukan supaya rasa daging buahnya
manis tidak kesed (kesat), dan supaya tidak cepat membusuk," ujar H. Ja'i.
(A-91/A-108)***

http://www.pikiran-rakyat.com/node/180315

Kirim email ke