Di dunya medis, aya usaha-usaha nyangkokkeun organ sato ngaganti organ manusa
anu rusak/gering. Salah sahijina saperti beja lawas Majalah Tempo, 10 November
1984 dihandap ieu, jantung monyet baboon dicangkokkeun ka orok nu boga kalainan
jantung. Usaha-usaha samodel kieu dimungkinkeun kulantaran make asumsi manusa
jeung monyet teh teu jauh beda. Hasilna memang acan kaciri signifikan, sabab
jelema nu make jantung monyet, hirupna ukur bubulanan. Tapi saha nu nyaho,
kahareup mah leuwih maju deui.

Tah, keur nu anti teori evolusi, kumaha nyanghareupan hal-hal nu model kieu,
bade meumpeun bae urang teh?

Majalah Tempo, 10 November 1984

Dari Baboon Untuk Fae

BAYI berjantung kera Afrika itu, sampai pekan lalu, dikabarkan masih hidup. Dua
hari setelah dioperasi, namanya dicoret dari daftar pasien kritis. Tekanan
darahnya sangat stabil. Alat pembantu pernapasan yang diberikan padanya sejak
kritis, seminggu sebelum operasi, sudah dicabut sejak hari kedua setelah
operasi. Ia sudah bisa main mata. Sudah pula minum susu secara normal sejak
Selasa lalu.

Satu tim ahli jantung tetap menekuni bayi itu di Universitas Loma Linda,
California, AS. Si mungil merah bernama kecil Fae itu nyaris meninggal pada usia
enam hari. Ia dilahirkan dalam keadaan menderita hypoplastic jantung - tak bisa
berkembang dewasa karena bagian kiri jantungnya lebih kecil dari bagian kanan.
Atas persetujuan orangtuanya - belum diungkapkan nama keluarga itu - Fae
dioperasi pada usia 15 hari.

Akhir bulan lalu, jantungnya dicabut dan diganti dengan jantung dari seekor
baboon. Percobaan tim ahli itu diprotes sekelompok orang. Eksperimen itu
dianggap sebagai "siksaan" atas si kecil yang tak bersalah. Sebaliknya, tak
sedikit yang memuji usaha tim tadi, dan hasilnya bahkan mereka anggap sebagai
mukjizat.

Harapan para dokter, Fae akan berumur panjang. Dari percobaan-percobaan
sebelumnya terhadap binatang, jantung cangkokan dari baboon muda, akan ikut
tumbuh sejalan dengan pertumbuhan badan penerimanya (resipien). Donor jantung
Fae mula-mula ada enam ekor baboon berusia empat sampai dua belas bulan. Setelah
diseleksi dengan tes kekebalan, cuma dua ekor yang terpilih: satu dipakai
langsung, satu sebagai cadangan.

"Benar-benar mencemaskan," kata seorang ahli yang terlibat dalam percobaan itu.
"Tak ada data pendukung untuk memilih primat (hewan termirip manusia) mana yang
terbaik untuk jadi donor," tambahnya. Tapi, eksperimen cangkok jantung hewan ke
tubuh manusia itu disetujui komisi etika Universitas Loma Linda. Percobaan
cangkok jantung di universitas itu memang khusus dengan jantung hewan.
Rencananya, ada lima orang akan dicangkok dengan jantung baboon. Tujuannya,
untuk mempermudah mencari donor, karena donor jantung manusia sangat terbatas.
Di AS sendiri, diperkirakan 75.000 orang butuh jantung baru setiap tahun, tapi
donor yang tersedia cuma sekitar 2.000.

Percobaan dengan mencangkok jantung buatan sudah dilakukan pada Desember 1982.
Barney Clark, yang dicangkok dengan jantung buatan berlabel Jarvik-7 itu, cuma
bertahan 112 hari. Percobaan cangkok jantung hewan ke tubuh manusia sebenarnya
tercatat paling awal dalam sejarah cangkok jantung manusia. Cangkok jantung dari
donor manusia baru pada 1967, sedangkan cangkok jantung hewan ke tubuh manusia
terjadi pada 1964, di Universitas Mississippi. Dr. James Hardy, yang memimpin
pencangkokan pertama itu, memasang jantung seekor simpanse ke tubuh seorang
berusia 68 tahun yang sudah hampir mati.

(Sebenarnya, waktu itu ada tiga manusia donor mendampingi dia, tapi para donor
belum meninggal sampai tiba saatnya operasi). Sayang, penerima jantung hewan
yang pertama itu meninggal dalam waktu 90 menit setelah operasi. Agaknya,
jantung simpanse donor tadi terlalu kecil. Masalahnya bukan cuma bentuk ukuran
jantung donor, tapi juga kepekaan tubuh untuk menerima "benda asing". Percobaan
mencangkok jantung dari donor baboon pernah dilakukan ahli jantung terkemuka
Christian Barnard. Pada 1977, Barnard mencoba memperbesar jantung seorang wanita
Italia di Cape Town, Afrika Selatan, dengan mengganjalkan jantung baboon.
Operasi yang berlangsung 10 jam itu gagal, karena beberapa jam kemudian jantung
wanita Italia itu tak berdebar lagi. Barnard pernah mencoba lagi mencangkokkan
jantung seekor simpanse pada pasien lain, tapi penerima jantung simpanse itu
meninggal tiga setenah hari kemudian. Zat anti gen dalam tubuh manusia, yang
menjadi unsur penolak benda asing, menjadi halangan terbesar dalam
operasi-operasi pencangkokan itu.

Para ahli mulai lagi mencangkokkan jantung, setelah ditemukan obat yang disebut
cyclosporin A, yang mampu menawarkan kepekaan tubuh menerima benda asing.
Penggunaan obat ini telah meningkatkan keberhasilan operasi cangkok jantung,
terutama di Universitas Standford (AS), yang berspesialisasi pada cangkok
jantung dari donor manusia. Cangkok jantung hewan ke tubuh manusia selama ini
sebenarnya hanya dilakukan untuk cadangan, menunggu donor jantung manusia. Tapi,
percobaan yang dilakukan di Universitas Loma Linda oleh tim yang diketuai Dr.
Leonar L. Bailey itu sama sekali tidak mengharapkan penggunaan donor hewan itu
sebagai cadangan. "Penelitian kami seratus persen ditujukan untuk
mentransplantasikan jantung binatang ke tubuh manusia," kata Bailey. Bailey sama
sekali tidak mencari donor manusia untuk cadangan. Alasannya, selain donor
manusia terbatas, ukuran jantung donor belum tentu cocok dengan jantung yang
diperlukan resipien. Yang mempermasalahkan percobaan Universitas Loma Linda itu
kini kalangan penyayang binatang.







------------------------------------

Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/kisunda/

<*> Your email settings:
    Individual Email | Traditional

<*> To change settings online go to:
    http://groups.yahoo.com/group/kisunda/join
    (Yahoo! ID required)

<*> To change settings via email:
    [email protected] 
    [email protected]

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [email protected]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/

Kirim email ke