Aya buku nu relatif enggal, perkara teori evolusi nu kontroversial. Dina
buku eta dibahas oge soal mangsa kahareup salah sahiji species primata nu
aranna manusa. Nu ngarang buku ieu pesimis kana mangsa kahareup manusa,
pangpangna ku nurunna kualitas lingkungan Dunya nu bakal ngancam kahirupan
species manusa.
Nyanggakeun resensina:
Peta Jernih Perjalanan Evolusi
Minggu, 19 Juni 2011 | 04:54 WIB
TEMPO Interaktif, Jakarta - Sebelum perjalanan hidup manusia berhenti,
pertanyaan itu akan abadi kendati banyak orang telah berupaya keras mencari
jawabannya. Para filosof dengan akal budinya, agamawan dengan keimanannya,
ilmuwan dengan semangat pencariannya, dan suku "yang disebut primitif"
sekalipun dengan kearifannya, memikirkan perkara nan pelik ini.
Pikiran-pikiran itu terguncang tatkala Charles Darwin mempublikasikan
karyanya, On the Origin of Species, satu setengah abad silam. Bagi kaum
agamawan, ajarannya perihal evolusi dan seleksi alam terlihat sebagai
ancaman. Gagasan evolusi dianggap berseberangan langsung dengan kreasionisme
dalam pengertiannya yang mutlak.
Penerimaan universal atas teori-teori Darwin belum terjadi sampai sekitar 80
tahun kemudian. Penolakan ini, menurut Ernst Mayr, disebabkan oleh dominasi
beberapa gagasan filosofis yang dianut hampir secara universal dalam
pandangan-hidup lawan-lawan Darwin. "Salah satunya adalah kepercayaan akan
kebenaran harfiah tiap kata dalam Alkitab," tulis guru besar Harvard
University itu.
Serangan kepada Darwin alih-alih meruntuhkan gagasan evolusinya, malah
menarik banyak pengikut yang membangun dan memperkuat argumennya dari waktu
ke waktu. Ikhtiar mengukuhkan gagasan Darwin dicapai lewat pertarungan yang
tak kalah hebat di kalangan para pewarisnya sendiri. Apakah evolusi,
misalnya, berlangsung berangsur-angsur (gradual) ataukah meloncat-loncat
(discontinuous)?
Ernst Mayr, salah satu ahli waris ide Darwinian, dalam buku ini memetakan
perjalanan gagasan evolusi sejak sebelum masa Darwin (Jean-Baptiste de
Lamarck menerbitkan publikasinya 50 tahun lebih awal dari On the Origin).
Namun, Darwinlah yang memasukkan cara berpikir populasi ke dalam sains.
Wawasan dasarnya adalah bahwa dunia kehidupan tidak tersusun atas
esensi-esensi yang tidak dapat berubah, tapi populasi-populasi yang sangat
beragam.
Sebagai peta dasar, Mayr menekankan pada kaidah dan tidak hanyut dalam
perincian. Dalam memahami Darwin, menurut Mayr, kita harus melihat teori
evolusi Darwin sebagai keutuhan dari lima teori utama yang berbeda. Lima
teori itu: tidak konstannya spesies (teori evolusi dasar), penurunan segala
organism dari leluhur-leluhur bersama (evolusi bercabang), evolusi gradual
(tidak ada keterputusan), bertambahnya spesies (asal-usul keragaman), serta
seleksi alam (teori ini secara terpisah juga diajukan oleh Alfred Russell
Wallace).
Mayr mengajak kita memasuki wilayah yang paling kontroversial: evolusi
manusia. Manusia selalu dianggap sepenuhnya berbeda dari makhluk ciptaan
lain. Para filsuf, dari Plato ke Descartes sampai Kant, setuju sepenuhnya
dengan kesimpulan itu. Manusia dianggap sebagai puncak penciptaan dan
berbeda dari segala hewan dalam berbagai hal, terutama karena memiliki jiwa
rasional.
Mayr menguraikan tahap-tahap di mana manusia menjadi makin berbeda dari kera
(bukan monyet) leluhurnya hingga kemudian menunjukkan ciri-ciri khas
manusia. Salah satu yang terpenting adalah perkembangan otak manusia. Otak
yang besar memungkinkan perkembangan seni, sastra, matematika, dan sains.
Pada sebagian besar hewan, jumlah informasi yang dapat diteruskan melalui
sistem transfer nongenetis tersebut terbatas. Pada manusia, transformasi
informasi budaya menjadi aspek penting.
Bagaimana masa depan manusia? Pertanyaan yang sangat menggoda ini sering
diajukan dalam dua rupa. Pertama, mungkinkah spesies manusia yang ada
sekarang pecah menjadi beberapa spesies? Kedua, bisakah spesies manusia yang
ada sekarang berevolusi secara keseluruhan menjadi spesies baru yang "lebih
maju"? Untuk kedua pertanyaan itu, jawaban Mayr negatif. Ia mencemaskan
memburuknya kondisi alam dan masyarakat saat ini akan menurunkan kualitas
spesies manusia.
Sebagai seorang Darwinis, Mayr bukanlah pendukung yang membabi buta. "Segala
teori dalam Darwinisme bisa ditolak bila terbukti keliru. Mereka bukan tak
bisa berubah sebagaimana dogma agama yang diwahyukan," tulis Mayr. Sejarah
biologi evolusi mencatat banyak sekali kasus teori evolusi yang akhirnya
ditolak.
Mayr juga menunjukkan sumber-sumber kesalahpahaman. Misalnya, orang sering
hanya memperhatikan satu penyebab atas suatu gejala evolusi. Berbagai
penyebab terlibat dalam segala proses seleksi karena fenomena kebetulan
terjadi bersama-sama seleksi. Munculnya spesies baru, umpamanya, tak pernah
hanya disebabkan oleh perubahan pada gen atau kromosom, tapi juga oleh
faktor geografi dan populasi tempat terjadinya perubahan genetis.
Sembari mengakui bahwa belum semua perincian yang terkait dengan proses
evolusi telah dipahami, bagi Mayr, istilah "teori evolusi" seharusnya tak
usah dipakai lagi. Bahwa evolusi terjadi dan terus terjadi sepanjang waktu
adalah fakta yang amat mapan, sehingga tidak lagi rasional menyebutnya
teori. Mayr telah menghadirkan karya yang layak dibaca oleh siapa pun,
apakah ia pendukung, penentang, ataupun yang ragu-ragu terhadap teori
evolusi.
PERESENSI: DIAN R. BASUKI, PEMINAT ISU_ISU SAINS
Judul: Evolusi: Dari Teori ke Fakta
Penulis: Ernst Mayr
Penerbit: KPG
Edisi: I, 2010
Tebal: xxii + 433 hlm
Print
------------------------------------
Yahoo! Groups Links
<*> To visit your group on the web, go to:
http://groups.yahoo.com/group/kisunda/
<*> Your email settings:
Individual Email | Traditional
<*> To change settings online go to:
http://groups.yahoo.com/group/kisunda/join
(Yahoo! ID required)
<*> To change settings via email:
[email protected]
[email protected]
<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
[email protected]
<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
http://docs.yahoo.com/info/terms/