Baraya, dina koran tempo poe ieu kaca a13, aya tulisan ngeunaan hiji panalungtikan nu nyindekeun yen tukang ngudud teu sieun dut (modar)! Eta tulisan mancing kuring nyieun oge tulisan. Kahayang mah jadi tulisan provokasi, tulisan propaganda. Hampura mun rea kurangna, jeung oge perkara make basa indonesia. Tulisan ieu, ditujukeun keur pembaca nu leuwih jembar, lain wae nu bisa basa sunda. jeung beneran kuring males mun kudu nulis deui dina basa Sunda. Nyanggakeun, tamba gado ngaburayot. Nuhun.
Dudi --- Jangan Musuhi, Perokok Tidak Takut Mati! http://goo.gl/aqZmM Rekan yang budiman, rapat di kantor saya kemarin menyisakan ampas di pikiran saya, “Betapa asiknya ruangan kerja rekan saya, tempat rapat ini”. Benar, iri saya! sirik saya! dengan kuasa mereka atas ruangan sendiri. Perasaan itu dipicu oleh papan ber-*uni* “*No Smoking*” yang ditempel di tembok sebelah kiri pintu masuk ruangan, yang sempat dengan sinis, walau ternyata tidak tepat sasaran, saya komentari, “untung saya tidak mengerti bahasa Inggris”. Eh, kemudian ternyata, memang di tembok seberangnya ada papan yang bertuliskan terjemahannya, dalam Bahasa Indonesia. Dan kedua papan peringatan itu cukup ampuh mematikan nyala sebatang rokok, walau dengan sisa sebal di wajahnya. Seandainya saja, ya, karenanya, karena “iri bin sirik” tadi, sampai saat ini, saya menjadi berandai-andai, di semua ruangan kantor terekat kedua papan ini. Tapi, ya, saya harus tetap menyadari, itu pasti hanya sampai sebatas andai-andai, keinginan yang sepertinya akan amat sangat sulit sekali terwujudkan. Sampai sekarang, saya terus belajar memaklumi, memaksa memasukannya ke akal saya, cerita rekan yang tidak bisa bekerja jika tidak merokok. Atau cerita yang lebih tragis lagi, ada yang kemudian mengungsi, datang (kembali) ke kantor, untuk merokok sambil bekerja, karena jika bekerja di rumah asap rokoknya takut meracuni anggota keluarga lain. Karena sejujurnya, asap rokok pun mengganggu pernapasan saya. Karena asap rokok, saya menjadi susah bernapas. Hanya itu. Mengganggu kerja? Rasanya belum ada hubungan langsung. Hanya saja, coba bayangkan, bekerja sambil susah bernapas? hehe Saya sempat menyodorkan solusi ke seorang rekan, untuk mengganti rokoknya ke merk lain, yang menurut hidung saya baunya lebih ramah. Atau, meja kerja saya pindah ke balkon saja. Sedangkan, di luar sana informasi kerugian merokok bagi kesehatan sudah banyak bertebaran. Di jalan, di koran, di tipi, di internet, pokoknya di mana-mana deh. Kabar buruknya merokok mudah diperoleh. Ancamannya tidak tanggung-tanggung, kehilangan nyawa. Rokok merupakan penyebab kematian terbesar di dunia. Dan, perokok pasif terancam tiga kali lebih besar dibanding perokok aktif. Tapi ternyata, sebuah penelitian membuktikan, PEROKOK (AKTIF) MEMANG TIDAK TAKUT MATI, cuma takut dimusuhi. Ini artinya, upaya perokok pasif untuk mengingatkan bahaya kematian tidak akan maksimal mencegah perokok aktif berhenti merokok. Bahkan yang paling minimal pun, tidak merokok jika berada di sekitar orang lain. Tapi untuk memusuhi perokok aktif rasanya juga terlalu berlebihan. Paling baik, menurut saya dalam menyikapi hasil penelitian itu adalah kita, kaum perokok pasif, membuat para perokok aktif itu merasa tidak nyaman merokok di sekitar kita. Ayo, kaum perokok pasif, teruslah menyuarakan keberatan kita! Dengan ucapan juga dengan tulisan. Jangan lelah. Sekian, mohon maap kepada perokok aktif yang sudah bijaksana, bijak dan bestari :) Terimakasih. Terakhir, saya tulis ulang berita tentang hasil penelitian itu. Koran Tempo, 20 Maret 2012, Hal. A13. *“Perokok Tidak Takut Mati, Cuma Takut Dimusuhi”* Canterbury - Poster bahaya merokok yang mengancam nyawa tak membuat perokok berhenti mengisap asap. Sebuah studi baru menunjukkan kecaman dan permusuhan dari orang lainlah yang membuat perokok kapok. Pada 2008, Inggris menjadi negara pertama di Eropa yang mengharuskan foto dampak negatif merokok ditempel bersama poster tersebut. Kebijakan ini ditempuh dengan asumsi unsur ketakutan mampu menggugah perokok berhenti merokok. Dua ahli psikologi dari Canterbury Christ Church University, Inggris, Masi Noor dan Caroline Wood, tak sependapat dengan asumsi tersebut. Mereka merancang eksperimen dengan pendekatan banyak model. Dalam eksperimen ini, mereka menerapkan faktor-faktor yang selama ini membuat perokok berpikir ulang untuk meneruskan kebiasaan mengisap asap. Ada empat faktor yang dianggap membuat kapok perokok. Pertama, rasa takut yang dihadirkan bersama poster peringatan bahaya rokok dan ancaman kematian yang menyertainya. Kedua, proses informasi, menyangkut apakah seseorang terpengaruh informasi. Ketiga sifat munafik orang yang melakukan kampanye anti-rokok. Keempat, keinginan seseorang mencapai tujuan tertentu. “Pendekatan multimodel adalah yang pertama. Hasilnya, bisa jadi bahan pertimbangan kampanye berhenti merokok,” ujar Wood melalui siaran pers, Kamis lalu. Setelah mengutak-atik keempat faktor tersebut, psikolog sampai pada satu kesimpulan, perokok berhenti merokok jika mendapat perilaku negatif dari orang di sekitarnya. “Eksperimen memperlihatkan rasa berhenti merokok timbul dari keluhan orang lain atas perilaku perokok,” kata Noor, menambahkan. Kampanye antirokok yang disampaikan melalui poster memang tak berpengaruh banyak bagi perokok. Namus psikolog menilai langkah ini cocok untuk pencegahan. Anak muda dan orang yang belum merokok cenderung berpikir ulang untuk memulai membeli dan mengisap rokok setelah melihat poster menyebutkan racun berbahaya yang terkandung di dalam rokok. -- d-: dudi herlianto :-q paciringan.wordpress.com kunyuk nuyun kuuk, kuuk nuyun kunyuk
