Tiba-tiba saja saya teringat 
sesuatu yang rasanya pantas untuk diceritakan. Ada seorang sahabat pernah 
mengungkapkan isi hatinya. Tepatnya karena saya pernah bertanya : “Kamu kok 
dari 
dulu begitu-begitu saja padahal saya lihat potensi kamu untuk jadi orang kaya 
cukup besar ?. Kemampuan kamu saya lihat di atas rata-rata orang yang saya 
kenal. Kamu sering dapat pekerjaan besar dan istrimu juga 
kerja”.

Sahabatku 
cuman menjawab datar: “Saya ini kan orang digaji, pendapatan saya sudah jelas 
besarnya tiap bulan. Dikasih pekerjaan besar atau kecil sama saja karena di 
kantorku tidak mengenal adanya bonus prestasi. Kalau saya bisa nabung ya 
syukur, 
kalau tidak juga penghasilan kita kan habis untuk anak istri, bukan untuk orang 
lain”

Aku balik 
nanya :”Yaa.., tapi kan kalau liat teman-teman kantormu rata-rata mereka bisa 
punya tabungan lebih. Mestinya kan dari anggaran yang disediakan kamu bisa 
mainkan supaya ada lebihnya buat kamu. Saya lihat orang-orang melakukan hal itu 
dan yang begitu kan sah sah saja. Namanya juga karena usaha 
kita”

Akhirnya dia 
cerita cukup panjang, begini :

Pada prinsipnya, kalau kita kerja sama 
orang dengan sistim gaji, apapun yang ditugaskan oleh kantor, besar atau kecil, 
berat atau ringan, bayarannya kan sudah disepakati sekian. Kalau lantas saya 
mengusahakan agar biaya opersional pekerjaan saya lebih irit, itu juga kan 
tuntutan prestasi dari kantor. Jadi rasanya saya tidak berhak lah untuk 
mengambil sisa anggaran, karena memang perusahaan kan tujuannya menguntungkan. 
Kalau perusahan selalu beruntung, kita juga terjamin akan bekerja terus. Coba 
kalau perusahaan rugi terus, lama-lama bangkrut dan kita terpaksa cari kerjaan 
lain. Kan repot juga.

Kalau yang kamu maksud saya tidak pernah 
mengambil untung barang sedikit pun ya tidak juga sih. Saya kadang-kadang juga 
kalau kantor menugaskan saya belanja barang, saya cari tempat yang paling murah 
dengan kualitas yang sama baiknya, lantas saya minta discount. Nah kelebihan 
discount itu saya ambil, lantas saya bagi-bagi ke sopir dan office boy, agar 
mereka senang bekerja walaupun gajinya kecil. Kalau saya ambil sendiri kan 
tidak 
seberapa, tapi buat mereka yang gajinya 20% dari kita kan sangat berarti. Buat 
saya, uang seperti ini masih dapat dimiliki karena tidak sampai merugikan 
perusahaan.

Saya 
juga pernah mendapatkan kemudahan pekerjaan di tempat proyek sampai perusahaan 
dapat menghemat biaya operasional cukup tinggi. Tapi yang begini saya tidak 
berani ambil, tetap saya laporkan apa adanya karena walaupun penghematan itu 
terjadi karena pendekatan saya di lokasi tapi saya datang dengan baju 
perusahaan. Jadi menurut saya hal itu merupakan keuntungan perusahaan. Saya sih 
senang saja karena bisa membuat senang bos kita. Saya tahu, banyak teman-teman 
yang menganggap bahwa keuntungan pekerjaan atas usaha lebih kita itu berhak 
kita 
ambil, tentunya tanpa sepengetahuan perusahaan. Yang penting perusahaan tidak 
tahu dan setuju dengan biaya yang kita laporkan. Kalau saya sih menganggap 
bahwa 
hal ini menjadi subhat karena toh tidak ada perjanjian apa-apa antara kita 
dengan perusahaan mengenai status keuntungan seperti itu. Yang jelas saya 
yakin, 
temen-temen yang suka mengambil keuntungan seperti itu pasti punya rasa takut 
jangan sampai perusahaan tahu. Kalau statusnya membuat was-was menurut agama 
saya kan sudah ciri-ciri perbuatan dosa.

Maka dari itu, saya tidak pernah punya 
penghasilan lebih dari apa yang dibayarkan kantor untuk saya. Saya juga tidak 
pernah minta-minta bonus atas prestasi saya. THR pun kalau kantor tidak 
menyediakan tidak pernah saya tuntut karena mungkin memang kondisi keuangan 
kantor sedang tidak baik.

Saya lihat temen-temen juga suka 
menyisihkan waktu untuk melakukan bisnis di luar kantor. Sah-sah saja sih asal 
tidak menyita waktu kerja kantor aja. Kan kita sudah komitmen dibayar sekian 
untuk bekerja sekian jam sehari dan sekian hari seminggu. Lagi pula kayaknya 
saya memang kurang berbakat untuk itu.

Kalau begitu saya ini termasuk pekerja 
yang kurang beruntung dong ? Kerja sering berat tapi penghasilan tetap ? Tidak 
juga. Dengan seringnya kantor memberikan tugas berat pada kita, banyak 
keuntungan yang kita dapat. Yang jelas kita sudah terbiasa kerja berat, 
kedisiplinan kita terbina, dan pasti kemampuan keterampilan kerja kita terus 
bertambah. Kalau kemampuan kerja bertambah, setiap pekerjaan akan terasa mudah 
kan ? Artinya kita kerja berat tapi happy ! Coba kalau kita tidak punya 
pengalaman mengerjakan hal-hal yang berat, begitu dikasih tugas berat bawaannya 
emosi, stress. Emang enak ?

Lagi pula pengetahuan kita pasti terus 
bertambah. Bayangkan kalau kita harus sekolah untuk mendapatkan ilmu 
keterampilan seperti itu, berapa banyak harus kita bayar. Makanya saya enjoy 
aja 
dengan kondisi seperti ini. Paling kadang pijit kepala kalau abis bulan 
anak-anak minta dibelikan itu ini. Kalau masih bisa diusahakan ya diusahakan, 
kalau tidak ya pasrah saja. Kalau pengeluaran sedang ringan, saya juga masih 
bisa ajak anak-anak makan di restoran, beli buku, atau beli kebutuhan lain yang 
menyenangkan. 

Pernah juga sih saya kadang ada perasaan 
menyesal tidak mengambil kesempatan seperti itu padahal kesempatan itu cukup 
banyak. Hal itu sempat kepikiran juga waktu saya tangani pekerjaan besar dengan 
biaya besar. Waktu itu saya berusaha keras supaya biaya operasional bisa 
ditekan 
sebanyak mungkin. Lumayan juga agak berhasil. Tapi ujung-ujungnya, karena biaya 
masih dianggap besar, ada tendensi saya dicurigai melipat uang operasional. 
Sakit sekali rasanya, sampai pikir saya kenapa dulu tidak sekalian saya ambil 
saja kelebihan hasil penghematan saya karena ada beberapa materi pekerjaan yang 
harusnya dibayar bisa saya dapatkan secara gratis. Tapi ya sudah lah, kadang 
orang kan menilai lain. Yang penting saya tidak melakukan 
penyelewengan.

Saya 
justru sering mendapat kebahagiaan saat mendapat kesusahan karena ekonomi. Saya 
biasa lebih khusyu melakukan shallat saat begini, artinya saya bisa lebih 
mendekatkan diri pada Sang Khalik. Bukannya saya tidak ingin kaya, tapi rasanya 
dengan begini saja saya sudah bahagia. Banyak kesempatan yang bisa saya 
manfaatkan untuk berbuat baik, menolong orang walaupun sekedar memberikan saran 
atau nasihat, dan terutama banyak waktu untuk anak-anak. Pokoknya enjoy lah. 
Kalau Tuhan memberikan jalan kemudahan saya untuk kaya ya kenapa tidak, sudah 
pasti saya akan kaya juga.

Ada juga pikiran saya yang lain, saya 
ini kan termasuk malas melakukan shallat. Masih bolong-bolong lah. Artinya 
dalam 
hal ini saya menumpuk dosa kan ?. Makanya saya menghindari dosa lainnya yang 
saya bisa dan menambah amalan saya dari pengalaman dan keterampilan saya dengan 
berbagi pada teman dan kerabat saya. Mudah-mudahan sih minimal jadi imbang ya 
karena Allah itu kan maha adil dan maha mengetahui. Soal saya belum punya 
apa-apa sampai sekarang, ya sudah lah, mungkin Tuhan hanya mempercayakan amanah 
kekayaan pada saya sebesar itu, kalau saya dikasih lebih mungkin gak 
kuat.

Rasul saja 
memilih tetap menjadi miskin, tambah dia. Berarti miskin itu indah kan ? Asal 
jangan miskin ilmu aja, menderita kita nanti.


Dipikir-pikir, benar juga alasan 
sahabatku itu. Buat apa kita mencari kekayaan yang tidak jelas diridhai atau 
tidaknya oleh Allah. Mendapatkan kekayaan seperti itu pastilah membuat diri 
kita 
merasa cemas, takut kalau rahasia itu bocor. Setiap membuat laporan keuangan, 
kita selalu cemas takut kalau ada yang salah tulis atau salah membuat nota 
belanja yang akhirnya bisa ketahuan ada kelebihan anggaran. Setiap ada 
keributan 
di pihak manajemen pasti kita akan was-was juga, padahal belum tentu sedang 
membicarakan masalah keuangan.

Saya lihat kehidupan sahabatku itu 
memang tentram, jarang sekali kelihatan susah. Selalu tertawa dan bercanda. 
Dapat tugas apapun selalu happy. Pernah saya dengar kantornya terlambat bayar 
gaji sampai hampir 2 bulan. Apa komentarnya ? Dia bilang kantornya memang lagi 
susah, yang penting masih ada warung atau temen yang mau ngasih utangan. Kenapa 
mesti ribut katanya.

Soal kemiskinan, siapa sih yang mau 
miskin ? Tapi rasanya kalau kekurangan harta itu malah membuat kita lebih 
tentram dan lebih rajin beribadah, menjadikan kita lebih khusyu dan tawadlu, 
artinya kekurangan itu justru membawa berkah buat kita. Yang jelas, seperti 
kata 
temanku tadi, kalau miskin ilmu sudah pasti orang itu sering mendapat 
kesusahan. 
Namanya juga orang bodoh. Siapa juga yang tidak mau kaya ? Yang penting 
kekayaan 
itu tetap berkah dan tidak malah membuat kita tambah susah. (Jangan seperti 
cerita orang kaya jaman dulu yang menyimpan uangnya di dalam lemari sampai 
bertumpuk-tumpuk. Setiap saat dia harus menghitung jumlah uangnya karena takut 
ada yang mencuri. Bayangkan saja ! Banyak uang tapi menderita, selalu 
dihinggapi 
rasa was-was)

Subhanallah.
Yaa Allah Yaa Rabbi, jauhkan aku dari 
kekayaan yang dapat menjauhkan diriku dari Engkau, perkayalah diriku dengan 
ilmu 
agar aku dapat lebih mengenal Engkau. Janganlah engkau limpahkan kekayaan 
padaku 
kekayaan yang dapat menjauhkan diriku dariMu. Tetapkanlah aku dalam kemiskinan 
agar aku memiliki waktu yang lebih untuk mendekatkan diri padaMU. Dengan 
begitu, 
aku akan mendapatkan ketentraman dan kebahagian karenanya. Yaa Allah, 
jadikanlah 
aku orangtua yang mewariskan ilmu pada anak-anakku agar anak-anakku kelak 
mendapatkan ketentraman bathin yang hakiki dengan kedekatannya denganMu. Aku 
percaya bahwa Engkau telah menjamin rizki setiap nyawa yang Engkau ciptakan. 
Maka limpahkanlah rizki yang dapat membuatku tentram dan jauhkanlah hal yang 
sebaliknya. 
http://e-cornermarket.blogspot.com/2009/11/miskin-itu-indah.html

Kirim email ke