Resensi buku: Percikan dari Dahulukan Akhlak Di Atas Fiqih (2)
Oleh AHMAD SAHIDIN
 
MEMANG dari judulnya, buku karya Ustadz Jalal ini terasa menohok pemahaman 
keagamaan secara umum yang biasanya memahami fiqih lebih utama dalam ajaran 
Islam. Bahkan, seorang Gurubesar Pemikiran Islam di UIN Bandung menyatakan 
tidak setuju dengan buku Dahulukan Akhlak Di Atas Fiqih. Kalau tidak salah 
dengar, beliau mengatakan, justru fiqih yang akan melahirkan akhlak atau 
kemuliaan seorang Muslim kalau dijalankan dengan baik. Karena itu, menurutnya, 
yang perlu didahulukan bukan akhlak tetapi fiqih atau amaliah Islam. kalau 
seseorang sudah bagus fiqihnya pasti akan berakhlak. 
 
Ketika mendengar komentar tersebut, saya tersenyum. Saya tanya kepadanya, 
apakah beliau sudah membaca buku Dahulukan Akhlak Di Atas Fiqih dengan tuntas 
dan mendalam? Beliau menggelengkan kepala. Saya berkesimpulan, beliau hanya 
sekadar baca dari ulasan resensi atau wawancara, bisa juga dapat informasi dari 
orang lain.
 
Tadinya saya mau berkata kepada beliau bahwa misi Nabi Muhammad saw adalah 
menyempurnakan akhlak, bukan menjalankan syariat yang bersifat lahiriah.
 
Bahkan dalam buku Ustadz Jalal banyak memuat ayat Quran dan hadis Rasulullah 
saw yang berkaitan dengan pentingnya akhlak. Misalnya, shalat dapat mencegah 
perbuatan keji.Dengan menjalankan kehidupan disertai akhlak yang baik maka 
shalat yang dimaksud dalam ayat Quran bisa tercapai. 
 
Begitu juga dalam surah Al-Maun disebutkan bahwa termasuk pendusta kalau tidak 
berbuat baik kepada anak yatim.  Disebutkan salah satunya dengan memberi makan. 
Saya pikir memberi makan buat orang yang tidak mampu atau anak yatim yang 
kelaparan termasuk perbuatan baik. Bukankah perbuatan demikian termasuk dalam 
akhlak yang dicontohkan Sang Nabi? 
 
Ustadz Jalal juga memuat sebuah dialog Rasulullah saw dengan orang yang 
bertanya tentang agama. Orang tersebut bertanya berkali-kali dengan 
berpindah-pindah posisi; dari depan, kiri, kanan, dan belakang. Jawaban Sang 
Nabi tetap: akhlak yang baik dengan contoh tidak marah.
 
Nah, orang yang tidak marah atau tidak cepat emosi dan mampu mengendalikan 
diri, atau menjaga dari perbuatan yang keji, saya kira masuk dalam kategori 
akhlak yang baik. Terlepas dari motivasi dari berbuat demikian karena apa, 
tetapi secara lahiriah itu akhlak dan diperintahkan Sang Nabi dalam sejumlah 
riwayat. 
 
Bahkan, kalau ditelaah dari Al-Quran disebutkan Sang Nabi itu berperilaku agung 
nan mulia dan teladan yang pantas diikuti umat manusia. Mendahulukan akhlak 
dalam konteks buku Ustadz Jalal, yang saya pahami, berarti menjalankan Sunnah 
Nabawiyah yang berimplikasi pada terwujudnya kerukunan dan kehidupan yang 
harmonis serta tercegahnya perilaku-perilaku keji ayng kerapkali 
mengatasnamakan agama. Karena itu, paradigma dahulukan akhlak di atas fiqih 
berupaya mengembalikan umat Islam pada misi awal Sang Nabi diturunkan di dunia 
ini: menyempurnakan akhlak.[AHMAD SAHIDIN, guru di Sekolah Cerdas Muthahhari 
Bandung]


www.albanduni.wordpress.com  www.ahmadsahidin.wordpress.com

Kirim email ke