Sapagodos sareng Bah O. Powered by Telkomsel BlackBerry® -----Original Message----- From: oman abdurahman <[email protected]> Sender: [email protected] Date: Sun, 1 Apr 2012 20:26:40 To: <[email protected]> Reply-To: [email protected] Subject: Re: [kisunda] Re: Fw: Politik Dua Beungeut
Boa kaasup "politik kandeul kulit beungeut" nya Bah> manar On Sun, Apr 1, 2012 at 8:24 PM, Abbas <[email protected]> wrote: > ** > > > Boa politik 4 beungeut, Bah Willy. Hahahaha. > > > --- In [email protected], "Waluya" <waluya56@...> wrote: > > > > Uing mah satuju kana opini koran Tempo dihandap ieu: > > > > Politik Bermuka Dua > > Sabtu, 31 Maret 2012 | 08:25 WIB > > > > Partai politik tampak terjebak dalam politik pencitraan yang berlebihan. > Ini > > menyebabkan pengambilan keputusan mengenai kenaikan harga bahan bakar > minyak di > > Dewan Perwakilan Rakyat sungguh bertele-tele. Kalangan partai, terutama > dari > > partai koalisi, bersikap seolah-seolah menolak kenaikan harga BBM. Tapi > > sebetulnya mereka memberi lampau hijau terhadap usul pemerintah. > > > > Sikap bermuka dua itulah yang membuat kompromi di kalangan partai > koalisi tak > > mudah dicapai. Partai seperti Golkar, Partai Keadilan Sejahtera, dan > Partai > > Kebangkitan Bangsa menyatakan menolak kenaikan harga BBM. Pernyataan yang > > disampaikan dalam pemandangan fraksi rapat pleno DPR kemarin itu > terkesan hanya > > untuk pencitraan. Soalnya, mereka juga bersedia diajak berunding mengenai > > klausul tambahan yang dituangkan dalam Pasal 7 ayat 6A Rancangan > Undang-Undang > > APBN Perubahan 2012. > > > > Klausul itu memberi wewenang kepada pemerintah untuk menaikkan atau > menurunkan > > harga BBM bila ada fluktuasi harga Indonesian Crude Price (ICP). Besarnya > > persentase kenaikan ICP kemudian menjadi perdebatan di antara > partai-partai > > koalisi. Inilah yang membuat lobi di antara mereka memakan waktu lama. > Partai > > PKS, misalnya, menginginkan angka 20 persen dari harga ICP yang > diasumsikan > > dalam APBN. Adapun Demokrat menghendaki 5 persen. > > > > Partai yang selama ini menolak kenaikan harga BBM, seperti PDI > Perjuangan, > > Gerindra, dan Hanura, berkukuh pada sikap mereka. Partai-partai ini sama > sekali > > tak membuka pintu bagi kenaikan harga BBM. Sikap ini, terutama PDIP, > sebetulnya > > tidak konsisten. Soalnya, ketika memerintah, partai ini juga pernah > menaikkan > > harga BBM. > > > > Sikap partai-partai yang lebih menonjolkan politik pencitraan itulah yang > > memprihatinkan. Mereka tak berusaha mencari formula terbaik demi > menyelesaikan > > persoalan akibat kenaikan harga minyak mentah dunia itu. Partai-partai > justru > > memanfaatkan isu kenaikan harga BBM untuk menaikkan popularitasnya demi > pemilu > > 2014. > > > > Pikiran yang sehat sebetulnya akan mudah memahami kuatnya alasan > menaikkan harga > > BBM. Postur APBN 2012 sudah sangat tertekan akibat beban subsidi bahan > bakar > > minyak yang melonjak. Saat harga minyak mentah dunia naik menjadi US$ > 105 per > > barel, anggaran subsidi BBM membengkak menjadi Rp 178,67 triliun. Ini > berarti > > ada selisih Rp 55 triliun dari yang dianggarkan. Padahal harga bahan > bakar fosil > > ini di masa depan diyakini akan terus meningkat dalam beberapa bulan > mendatang. > > Perkiraan moderat menyebutkan, dalam waktu dekat harganya bakal naik > menjadi US$ > > 160. > > > > Bila kenaikan harga BBM tidak dilakukan, hampir bisa dipastikan subsidi > yang > > diberikan akan terus menggunung. Ini bahkan bisa menjadi beban untuk > pemerintah > > di masa mendatang. Dengan harga yang relatif murah, konsumsi BBM juga > akan > > cenderung meningkat. Padahal subsidi ini lebih banyak dinikmati golongan > > masyarakat yang mampu, setidaknya memiliki sepeda motor. > > > > Politik pencitraan dan politik bermuka dua membuat masyarakat kurang > mendapatkan > > argumen yang logis dan jernih tentang kenaikan harga BBM. Pola > komunikasi yang > > tak jujur seperti itu semestinya dihentikan. Soalnya, cara ini sama > sekali tidak > > mendidik, bahkan membodohi rakyat. > > > > http://www.tempo.co/read/opiniKT/2012/04/01/1802/Politik-Bermuka-Dua > > > > >
