Punten kang Ahsa, ari ceuk kuring mah mun urusan perkara ibadah "heulakeun 
Fiqh, bari dibarengan akhlaq", mun perkara aqidah "Fiqh jeung akhlaq teh kudu 
ngahiji sauyunan, siling corok hangket jeung pageuh"


 
 

________________________________
 Dari: Ahsa <[email protected]>
Kepada: apisejarah milis <[email protected]> 
Cc: Ki Sunda Milis <[email protected]>; buku-islam Milis 
<[email protected]> 
Dikirim: Rabu, 21 Maret 2012 10:30
Judul: [kisunda] Resensi buku: Percikan dari Dahulukan Akhlak Di Atas Fiqih (3)
  

 
   
 
Resensi buku: Percikan dari Dahulukan Akhlak Di Atas Fiqih (3) 
Oleh AHMAD SAHIDIN 
  
SEBAIKNYAorangyang kurang dapat memahami pesan yang terkandung dalam sebuah 
karya atau pemikiran,tidak langsung memberikan komentar yang asal bunyi. Namun, 
harus berupaya untuk membaca dan menelaahnya langsung dengan menyeluruh, bahkan 
kalau perlu “menyimpan” dahulu prasangka yang berasal dari orang lain. 
  
Sebagai informasi dan mudah-mudahan tertarik untuk membaca kemudian 
menelaahnya, buku Dahulukan Akhlak Di Atas Fiqih karya Jalaluddin Rakhmat ini 
isinya terbagi dua bagian. 
  
Bagian pertama 
Bagian pertama ini terdiri dari lima bahasan atau bab. Pada bahasan kesatu 
(1),menjelaskan tentang karakteristik paradigma fiqih. Dalam bahasan ini 
disebutkan bahwa orang yang cenderung (memegang) paradigma fiqih atau 
mendahulukan cara pandang fiqih biasanya menganggap bahwa kebenaran itu 
tunggal. Orang seperti ini menganggap fiqih atau tata cara ibadah yang 
dilakukannya adalah mutlak benar dan orang yang berbeda dengannya tidak benar.  
  
Dari menunggalkan kebenaran kemudian ia akan menganggap mazhab yang dianutnya 
sebagai kebenaran dan selanjutnya memiliki keinginan untuk menunggalkan azas 
mazhab yang berlaku di negerinya. Di negeri yang dihuni umat Islam tidak 
sedikit pemerintah atau kelompok Islam yang menginginkan mempersatukan umat 
Islam yang berbeda dalam satu mazhab fiqih. Orang yang berparadigma fiqih lebih 
jauh mengukur kesalehan dari ketaatan atau kesetiaan pada fiqih atau mazhab 
tertentu. Kalau seorang Muslim itu tidak melaksanakan ibadah sunnah seperti 
shalat tahajud, dhuha, puasa senin kamis, berjenggot, dan yang berkaitan dengan 
fiqih maka dikategorikan tidak saleh.   
  
Bahkan kalau mendapati seorang Muslim melakukan tata cara gerakan shalat yang 
berbeda langsung disebut sesat atau menyimpang. Biasanya orang yang sering 
langsung lempar komentar demikian kurang mendalam dalam mengkaji fiqih, bahkan 
termasuk awam dalam beragama. Orang yang sudah tidak mempersoalkan kebenaran 
tunggal, menyadari mazhab tidak satu, dan ukuran kesalehan bukan pada fiqih, 
dapat disebut sudah mendahulukan akhlak di atas fiqih. 
  
Bahasan kedua (2),tentang karakteristik paradigma akhlak. Pada bahasan kedua 
ini disebutkam bahwa orang yang memegang prinsip paradigma akhlak memiliki 
empat ciri: menganggap kebenaran itu jamak, meninggalkan fikih demi 
persaudaraan, menganggap ikhtilaf sebagai peluang untuk kemudahan, dan 
kesalehan diukur dengan akhlak.  
  
Bahasan ketiga (3), dari syariat ke fiqih.  Bahasan ini meliputi makna syariat 
dan fiqih secara bahasa,  syariat dan fiqih secara istilah, prosedur merumuskan 
fiqih, dan definisi ilmu ushul. 
  
Bahasan keempat (4), dari ikhtilaf  ke khilaf. Dalam bahasan ini meliputi 
penjelasan Imam Ali tentang ikhtilaf dan khilaf,  sebab-sebab ikhtilaf, dan 
sebab-sebab khilaf. 
  
Bahasan kelima (5),  dahulukan akhlak. Di dalamnya membahas akhlak dalam Quran, 
akhlak dalam sunnah, dan akhlak dalam kajian ushul fiqih. 
  
Bagian kedua 
Bagian kedua buku Dahulukan Akhlak Di Atas Fikih terdiri dari tujuh bahasan 
yang berkaitan dengan sejarah lahirnya fikih, fikih sahabat, fikih tabiin, 
fikih imam mazhab Ahlussunah dan fikih Jafari, stagnasi pemikiran fiqih, fiqih 
skripturalisme, dan fikih mazhab liberal. Bahasan-bahasan tersebut terdapat 
dalam bab demi bab sehingga uraiannya bersifat tersendiri. Bahasan akhir buku 
ini dikupas tentang masalah Sunnah dan Hadis sebagai pegangan dan pedoman umat 
Islam. Terdapat juga analisa tentang sahih dan tidaknya serta sejarah penulisan 
hadis dan pemalsuan hadis. 
  
Semua bab atau bahasan dalam buku Dahulukan Akhlak Di Atas Fikih diurutkan 
sebanyak dua belas bahasan atau bab. Setiap tulisan dikuatkan dengan rujukan 
yang tertuang dalam catatan akhir dan sumber bacaan atau daftar pustaka 
bertengger di akhir buku sebagai penguat dari buku ini. Saya kira ini termasuk 
buku Kang Jalal yang mencantukan sumber, biasanya hanya tertulis dalam tulisan 
atau bahasan. Anda ingin tahu lebih jauh, silakan baca. Jangan lupa bagikan 
hasil bacanya melalui tulisan pendek agar orang lain mendapatkan pencerahan! 
[AHMAD SAHIDIN, guru di Sekolah Cerdas Muthahhari Bandung] 
  
  
  
  

www.albanduni.wordpress.com  www.ahmadsahidin.wordpress.com
   
      

Kirim email ke