Kumaha uapama aya skenario siga kieu. Boa-boa Pasukan Amerika teh memang 
diondang ku SBY (pan terkenal SBY teh "anak manis" AS). Tah kusabab Indonesia 
nagri bebas aktif, jadi pasukan AS teh "dititipkeun" ka Ostrali anu memang 
jelas pro AS. 

Kunaoan diondang?
Nya eta pikeun ngajaga kapentingan AS di Papua. Da Geuning tangtara urang teu 
bisa nyingsieunan urang Papua/OPM atawa ekstrimis anu ngaganggu pausahaan 
freeport. Tah, lamun aya kajadian urang Papua "ngamuk" ngacak-ngacakl Freeport 
pasukan AS turun ngamankeun. Para ekstrimis bisa dibasmi, tangtara Indonesia 
"bersih" tina ngalanggar HAM/ngagunasika urang Papua. Atuh Tangtara AS oge boga 
alesan, ngamankeun kapentingan AS.


Dian perkara ieu mah sigana beda jeung kasus ngainvasi ka nagri Iraq, atawa 
nyerbu nelasan Osama di Pakistan. Jadi opini dunya moal negatif teuing ka AS. 
Tapi opini ka Indonesia rada repot sigana. Sabab teu bisa ngamankeun tanah 
sorangan. Tapi mun teu kitu, urang Papua moal kapok-kapok.

mrachmatrawyani



________________________________
 From: Gunawan Yusuf Miarsadireja <[email protected]>
To: [email protected]; URANGSUNDA <[email protected]> 
Sent: Wednesday, April 11, 2012 6:19 PM
Subject: [Urang Sunda] Penempatan Marinir AS di Darwin Ancam Kedaulatan RI
 

  
Rabu, 11/04/2012 - 20:10

JAKARTA, (PRLM).-Direktur Sabang Merauke Circle (SMC) Syahganda Nainggolan 
menilai, penempatan 2500 pasukan Marinir Amerika Serikat di Darwin, Australia 
berpotensi mengancam kedaulatan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI), 
dengan lepasnya Papua. Oleh karena itu, dia berharap pemerintah Indonesia bisa 
lebih berani dan tegas dalam menyikapi hal itu.

"Indonesia dalam menjalankan politik bebas aktif, harus lebih berani dan tegas, 
karena ini menjadi panutan dalam menjalankan politik Internasionalnya seperti 
dilakukan Presiden Soekarno. Karena, politik bebas aktif juga harus memiliki 
sikap untuk mengamankan kedaulatan Indonesia," kata Syahganda saat diskusi 
tentang “Pangkalan Marinir AS di Darwin, Ancaman Bagi Kedaulatan Indonesia?”, 
di Jakarta, Rabu (11/4).

Menurut dia, dengan keberadaan pasukan marinir itu, AS bisa saja mendukung 
kemerdekaan Papua agar bisa mengontrol Freeport. "Jadi kalau kita tidak cepat 
bergerak, maka 2500 pasukan tentara AS bisa mendukung Papua merdeka karena 
menurut informasi Organisasi Papua Merdeka (OPM) didukung gereja-gereja di 
Àmerika,” kata Syahganda.

Dikatakan, untuk menjaga kepentingan Pemerintah Amerika Serikat, maka tentu 
saja AS akan meningkatkan kekuatan dan keamanannya di sekitar wilayah 
Indonesia, khususnya yang berbatasan dengan Papua.

Pemerintah AS sebelumnya menyatakan, penempatan pasukan Marinir AS di Darwin 
adalah untuk menjaga kawasan di Asia dari ancaman China dan Korea Utara. 
Seharusnya, kata dia, AS menempatkan pasukannya di atas wilayah Indonesia bukan 
malah di Australia yang lokasinya di bawah Indonesia dan dekat dengan Papua.

“Jadi kalau Australia dan AS mengklaim bahwa mereka adalah bagian dari Asia 
Pasifik dengan ikut mengamankan wilayah Àsia Pasifik, maka harus diwaspadai 
terhadap wilayah kita. Karena pada dasarnya mereka seolah-olah bersahabat 
dengan kita, tapi sebenarnya mereka adalah negara kolonialisme,” ujar Syahganda.

Dia menduga penempatan Marinir AS di Darwin untuk menjaga rencana renegosiasi 
kontrak karya antara Indonesia dengan Freeport “Jadi dengan adanya renegosiasi 
kontrak karya antara Indonesia dengan Freeport, maka menurut saya hal tersebut 
yang melatarbelakangi menempatkan pasukan AS di Australia,” katanya.

Syahganda juga menjelaskan, keberadaan pasukan AS di Darwin tersebut juga 
dikarenakan banyaknya desakan kepada pemerintah Indonesia untuk merenegosiasi 
kontrak karya Freeport oleh para aktivis dan tokoh-tokoh di Indonesia atas 
gejolak konflik di tanah Papua beberapa waktu lalu.

“Banyaknya protes soal renegosiasi kontrak yang selalu diteriakkan oleh para 
tokoh Indonesia maka itu menjadi kekhawatiran bagi AS itu sendiri,” paparnya.

Dia menyarankan agar Indonesia mampu memunculkan tokoh seperti Soekarno kalau 
Indonesia mau aman. "Karena politik bebas aktif itu bukan tidak punya sikap. 
Soekarno menegaskan bahwa ‘go to hell with your aid’ terhadap AS. Jadi harus 
ada pemimpin yang tegas terhadap sikap politik luar negeri kita,” ujarnya. 
(A-78/A-89)***


 

Kirim email ke