Beunghar keneh boga pembantu 2 mah, kagajih.

Leuwih loba anu ripuh 

 

From: [email protected] [mailto:[email protected]] On Behalf Of
Ahmad Sahidin
Sent: Monday, April 16, 2012 1:44 PM
To: Ki Sunda
Subject: [kisunda] nasib si Unyil

 

  

Hidup sendiri tanpa istri dan kini kesulitan ekonomi serta
sakit-sakitan pula. Itulah penggalan kisah hidup yang dialami Drs
Suyadi atau akrab disapa Pak Raden.

Pak Raden hidup menumpang di rumah milik kakaknya, di Jalan
Petamburan III No 27, Jakarta Barat. Rumah seluas 4X8 meter,beratapkan
seng.

Madun (42), satu dari dua pembantu menuturkan kalau Pak Raden kini
didera sakit encok di sendi kaki sehingga harus ditopang kursi roda
dan tongkat.

Menurut Madun, tak ada harta yang berharga di dalam rumah yang
ditempati Suyadi. Menurutnya, harta termahal yang dimiliki bosnya
adalah hanya lukisan yang dipajang di ruang tengah. "Itu mahal kalau
memang terjual. Tapi, belakangan ini bapak kesulitan menjual. Mahal,
karena melukis itu butuh emosi dari si pelukisnya. Nggak semua orang
bisa mengendalikan emosi," ujarnya.

Di dalam kamar yang ditempati Suyadi hanya terdapat spring bed (kasur)
dan sebuah lemari. "Di ruang tengah cuma ada tape yang pakai kaset
model lama, ada televisi, dan telepon rumah. Selebihnya tidak punya
apa-apa. Sepeda motor atau kendaraan tidak punya," ujar Madun.

Bermodal uang yang dihasilkan dari menjual lukisan dan mendongeng
untuk acara tertentu, Suyadi harus membayar dua orang pembantu. "Jadi
ada satu pembantu lagi. Kalau saya dibayar Rp 1,5 juta setiap bulan,"
ujarnya.

Suyadi juga harus merogoh kocek lebih dalam untuk cek kondisi lutut
dan membeli obat. "Untuk perobatan ke RS Pelni, untuk lututnya itu,
bisa Rp 1 juta setiap bulan. Pengeluarannya tambah lagi untuk listrik
dan telepon rumah," ungkapnya.

Madun mengaku bahwa Suyadi terbilang atasan yang baik dan jarang
marah. "Saya pernah dimarahi cuma gara-gara saya bilang 'kan' setiap
awal saya ngomong. Jadi, bapak tidak suka kalau saya ngomong kata
"kan." Pak Raden juga tidak suka jika sedang melukis di ruangan bagian
depan didatangi tamu.

"Yah, pokoknya jangan diganggu kalau tidak diminta datang. Dia kan
seniman butuh waktu untuk karyanya," ujarnya.

Pantauan Tribun, rumah yang ditinggali Suyadi terdiri dari tiga kamar
dan satu kamar mandi. Satu kamar ditempati Suyadi, satu kamar khusus
tempat melukis, dan satu kamar pembantu.

Sejumlah lukisan jadi dan setengah jadi terpajang di ruang tengah dan
kamar melukisnya. Bercakan cat juga tampak di beberapa lantai.
Kebanyakan karya lukisan Suyadi bertema anak-anak dan dunia wayang
orang dan kulit bergaya figuratif-naratif.

Sementara di bagian dapur, beberapa perkakas memasak yang menghitam
tampak menempel di dinding. "Kalau bapak mandi, saya yang menyiapkan
air panas. Alhamdulilllah, Bapak masih bisa mandi sendiri. Saya cuma
bantu memapah kalau bapak berjalan dari depan ke belakang atau
sebaliknya," ujarnya.

http://id.omg.yahoo.com/news/inilah-gambaran-betapa-prihatin-masa-tua-pak-ra
den-072804975.html



<<image001.jpg>>

<<image002.jpg>>

Kirim email ke