Aya MISSING LINK........... Hahahaha
--- In [email protected], MRachmat Rawyani <mrachmatrawyani@...> wrote:
>
> Asa aya anu teu klop. Dina salah sahiji alinea tulisan aya katerangan tina
> budaya Baduy los ka Sunda Wiwitan, kalayan teu aya jujutanana kumaha bedana.
> Si penulis sigana nyakompetdaunkeun budaya baduy identik jeung Sunda
> wiwitan. Atawa kuring anu teu taliti macana.
>
>
> mrahmatrawyani
>
>
>
> ________________________________
> From: Dudi Herlianto <dudi.herlianto@...>
> To: [email protected]
> Sent: Monday, April 23, 2012 9:53 PM
> Subject: Re: [kisunda] Fw: Achmad Chodjim: "Kosmologi Budaya Sunda"
>
>
> Â
> mun nganggo teori asal engab, achmad chodjim ieu keur dipake tulisanna ku
> sakumpulan jalma-jalma romantis nu hayang malikeun deui kakawasaan dpr/mpr
> make terma-terma tina budaya sunda.
>
> sabab rahayat mah... cenah... angger kudu bodo! huapaneun.
>
> haha
>
>
> Pada 21 April 2012 11:42, Waluya <waluya56@...> menulis:
>
>
> >Â
> >Artikel Ustadz Chodzim di Unpad Juni 2011, meunang copy paste ti millis
> >wanita
> >Muslimah. Ustad Chodzim, penulis buku-buku kaislaman. Bukuna aya nu best
> >seller.
> >Anjeunna oge nulis buku perkara Syeh Siti Jenar (ngan poho deui judulna
> >...hehehe).
> >
> >KOSMOLOGI BUDAYA SUNDA
> >
> >oleh:
> >
> >Ir. Achmad Chodjim, MM[1]
> >
> >Adalah sepasang suami-istri yang menghuni suatu daerah yang masih kosong
> >penduduknya. Mereka membangun rumah untuk bertempat tinggal dan berlindung
> >dari
> >kemungkinan adanya gangguan hewan, banjir, hujan, terik matahari, angin, dan
> >gempa. Pasangan suami-istri itu tentunya bergotong-royong untuk mengatasi
> >aneka
> >problema yang dihadapi di tempat itu.
> >
> >Dari sudut budaya tidak mungkin keduanya memiliki perasaan, pikiran, kemauan,
> >dan hal-hal yang bersifat batin sama dan identik. Masing-masing tidak mungkin
> >tahu dan mengerti sepenuhnya apa yang ada di alam batin pasangannya. Namun,
> >keduanya di tempat itu menghadapi persoalan yang sama. Mereka berdua tentunya
> >harus dapat memecahkan persoalan yang ada dengan baik. Akan tetapi, bagaimana
> >caranya memecahkan masalah yang sama yang dihadapinya?
> >
> >Pasangan suami istri itu bukan hanya tidak sama kandungan batinnya, mereka
> >juga
> >berbeda jenis kelaminnya. Artinya, secara fisikal terdapat pembeda kelamin,
> >dan
> >kekuatan fisiknya. Yang jelas, masing-masing tidak dapat hidup secara
> >sendiri-sendiri. Mereka harus menemukan cara untuk dapat memecahkan persoalan
> >yang dihadapi itu secara bersama. Pendek kata, suami-istri itu seperti sebuah
> >atom yang terbentuk dari proton dan elektron. Masing-masing memiliki
> >karakternya
> >sendiri, tetapi keduanya harus bersatu agar berfungsi sebagai elemen dasar.
> >
> >Pasangan suami-istri itu tentunya harus mengungkapkan isi hati masing-masing.
> >Meskipun masing-masing sudah mengungkapkannya, tidak berarti si suami
> >mengerti
> >sepenuhnya apa yang ada di dalam batin istrinya, dan istrinya pun demikian.
> >Kalau masing-masing berkeras hati untuk mempertahankan isi hatinya, tidak ada
> >yang mau mengalah, pastilah pasangan suami-istri itu bubar. Masing-masing
> >harus
> >bisa menahan emosinya, dan masing-masing harus bisa mengambil yang terbaik
> >yang
> >diwariskan oleh leluhur masing-masing.
> >
> >Suami-istri itu menyelaraskan apa-apa yang sudah diungkapkan secara
> >bersama-sama. Mereka merumuskan nilai-nilai pokok yang harus dapat dipatuhi
> >oleh
> >suami-istri itu dan anak keturunannya. Nilai-nilai dasar yang mula-mula
> >disepakati dan diterima inilah yang akan dijadikan acuan dalam bersikap,
> >bertindak, dan beraktivitas oleh mereka dan anak keturunan mereka. Inilah
> >yang
> >kelak menjadi nilai inti budaya. Meminjam istilah dari Fons Trompenaars,
> >nilai
> >inti budaya ini disebut basic assumptions about existence (Trompenaars,
> >1993).
> >
> >Nilai-nilai inti bersifat implisit bahkan esoteris. Nilai-nilai inti ini
> >menjadi
> >landasan usaha bagi seseorang, sekelompok orang, atau suatu etnik untuk
> >mempertahankan hidupnya. Bila kita mengacu pada Trompenaars, budaya
> >terebentuk
> >dari tiga lapis sub-budaya, yaitu lapisan terluar yang berupa produk-produk
> >eksplisit, lapisan tengah yang menjadi nilai dan norma dalam berperilaku, dan
> >lapisan terdalam yang menjadi landasan untuk mempertahankan eksistensi suatu
> >masyarakat.
> >
> >Menurut Trompenaars, bangsa Belanda dari awalnya dihadapkan dengan pasang air
> >laut; bangsa Swiss dengan daerah yang bergunung-gunung, dan longsoran salju;
> >bangsa-bangsa yang tinggal di Afrika dan Amerika Tengah dengan kekeringan,
> >dan
> >bangsa yang tinggal di wilayah Siberia dengan kedinginan. Masing-masing
> >mengorganisasikan komunitasnya untuk menemukan jalan keluar yang efektif
> >untuk
> >mengatasi lingkungan hidupnya dengan memanfaatkan berbagai macam sumber alam
> >yang tersedia. Masing-masing bangsa itu terus-menerus berusaha untuk
> >meningkatkan keefektifan proses problem-solving (pemecahan masalah)
> >berdasarkan
> >seperangkat asumsi logik yang sudah terbentuk.
> >
> >Jelas sekali bahwa nilai-nilai inti yang sudah terbentuk merupakan
> >nilai-nilai
> >yang dijadikan landasan untuk mempertahankan eksistensi suatu masyarakat dan
> >untuk mengatasi problema yang timbul dari keadaan asal lingkungan hidupnya.
> >Nilai-nilai ini terus-menerus ditingkatkan keefektifannya seiring dengan
> >perubahan-perubahan yang terjadi pada lingkungan itu. Dengan demikian,
> >tiap-tiap
> >bangsa atau etnik memiliki nilai-nilai intinya sendiri yang digunakan untuk
> >mempertahankan eksistensinya, sesuai dengan keadaan lingkungan hidupnya.
> >
> >Suatu masyarakat bukanlah sekumpulan robot. Sekumpulan robot akan tetap
> >berada
> >di tempatnya bila tidak dioperasikan. Tetapi, suatu masyarakat yang terdiri
> >dari
> >orang-orang yang setiap orang memiliki kandungan batinnya sendiri, dapat
> >terjadi
> >benturan atau konflik kepentingan bila tidak ada nilai-nilai yang mengatur
> >pergaulan hidupnya. Oleh karena itu, setiap masyarakat, etnik, atau negara
> >memiliki dinamikanya sendiri untuk mengatasi ketegangan-ketegangan atau
> >kontradiksi yang mungkin timbul di antara warganya. Berdasarkan nilai inti
> >pada
> >lapisan terdalam, suatu masyarakat membuat nilai dan norma untuk menjadi
> >landasan berinteraksi atau pergaulan dalam hidupnya. Pada wilayah lapisan
> >tengah
> >inilah ditetapkan apa yang disebut baik-buruk, bersih-kotor, cantik-jelek,
> >alami-nonalami, normal-abnormal, logik-paradoks, dan rasional-tak rasional
> >(Hofstede, 1997).
> >
> >Baik vs buruk pada suatu masyarakat dapat tidak sama dengan baik vs buruk
> >pada
> >masyarakat yang lain. Hal ini ditentukan oleh nilai inti masing-masing
> >masyarakat. Dengan demikian, "baik" dalam suatu masyarakat bisa dinilai buruk
> >oleh masyarakat yang lain. Dan, hal ini akan tampak pada bagaimana seseorang
> >bertutur kata, cara melihat, berjalan, cara menghormati, dan lain sebagainya;
> >yang dalam kehidupan sehari-hari disebut tatakrama.
> >
> >Menurut Hofstede, nilai-nilai yang tidak kasat-mata itu oleh masyarakat
> >diwujudkan dalam bentuk-bentuk yang dapat dilihat. Bentuk-bentuk yang dapat
> >dilihat itulah yang menjadi dasar pengikat eksistensi suatu masyarakat.
> >Menurutnya, setiap budaya masyarakat menampilkan ciri-ciri dari nilai-nilai
> >yang
> >tidak kasat mata itu berupa ritual, hero, dan simbol. Ritual meliputi segenap
> >kegiatan kolektif dan dilakukan secara teratur dengan cara yang sama yang
> >dipandang penting oleh suatu masyarakat untuk mencapai tujuan bersama;
> >walaupun
> >secara teknik ritual adalah kegiatan yang tidak bermanfaat. Hero merupakan
> >dongeng, cerita, atau kisah kepahlawanan yang dijadikan tokoh idola dalam
> >suatu
> >masyarakat, bahkan bisa menjadi mitologi. Dengan demikian, hero berfungsi
> >sebagai model perilaku bagi masyarakat. Simbol dapat berupa kata, gambar,
> >patung, benda, atau apa pun yang dapat digunakan untuk mempertautkan
> >anggota-anggota masyarakat agar tetap dapat mempertahankan eksitensinya.
> >
> >Kembali kepada Trompenaars. Lapisan budaya terluar adalah semua produk yang
> >kasat-mata. Inilah lapisan budaya yang disebut artefak. Pada zaman sekarang
> >yang
> >termasuk dalam artefak adalah semua alat, senjata, dan perlengkapan untuk
> >kesejahteraan hidup. Artefak dapat dipertukarkan antar budaya. Artefak budaya
> >lain dapat ditiru untuk menggantikan artefak budaya sendiri. Dan, hanya
> >lapisan
> >terluar ini yang dapat diubah-ubah atau digantikan dari artefak budaya lain.
> >Perubahan artefak tidak merusak lapisan terdalam suatu budaya.
> >
> >Lapisan tengah budaya, yang memuat nilai dan norma beserta ritual, hero dan
> >simbol, masih dapat ditinjau ulang atau direvisi dengan yang lebih baik dan
> >efektif bila diperlukan atau bila bertemu dengan budaya lain. Tetapi untuk
> >lapisan terdalam yang mengandung inti budaya (basic assumptions about
> >existence), tidak dapat diubah-ubah atau digantikan oleh inti budaya lain.
> >Seandainya terjadi perubahan, maka hal itu harus berasal dari dalam budaya
> >itu
> >sendiri karena adanya perubahan lingkungan hidup yang menyeluruh.
> >
> >Suatu negara yang hendak menghancurkan negara lain biasanya melakukan
> >perusakan
> >terhadap inti budaya suatu masyarakat. Begitu pula suatu masyarakat atau
> >bangsa
> >yang hendak menguasai masyarakat atau bangsa lain, maka mereka akan merusak
> >atau
> >menggantikan inti budayanya. Inti budaya adalah nyawa atau jiwa suatu bangsa.
> >Inti budaya adalah jenis air tertentu bagi kehidupan ikan. Jadi, ikan lele
> >tidak
> >mungkin hidup di air laut. Ikan laut juga tidak mungkin hidup di sungai. Di
> >sinilah pentingnya kita mengerti inti budaya kita sendiri. Dalam hal ini,
> >bilamana masyarakat Sunda tidak mengerti inti budaya Sunda, maka cepat atau
> >lambat budaya Sunda akan hilang dari permukaan bumi. Bila inti budaya Sunda
> >hilang atau hancur, maka masyarakat Sunda hanya akan menjadi objek budaya,
> >dan
> >bukan pelaku budaya.
> >
> >Dalam skala nasional bangsa Indonesia dewasa ini telah menjadi objek budaya.
> >Kita bukan pelaku budaya. Oleh karena kita menjadi objek budaya, maka kita
> >tidak
> >bisa menciptakan keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia. Kita tidak
> >mampu
> >menyejahterakan seluruh rakyat. Kita tidak bisa memecahkan persoalan yang
> >timbul
> >di negeri ini. Kita tidak menemukan jalan ke luar dari aneka krisis yang
> >menimpa
> >bangsa ini. Kita akhirnya tidak mampu menolak nilai-nilai asing yang
> >dipaksakan
> >di negeri ini. Dan, kita tinggal menunggu kehancurannya.
> >
> >Tetapi, kita tentu tidak boleh berputus asa. Kita harus menggali kembali dan
> >berusaha mengerti inti budaya kita sendiri. Dalam hal ini, masyarakat Sunda
> >harus bekerja keras untuk menemukan inti budayanya. Inti budaya adalah
> >kosmologi
> >budaya. Menurut Karl Jaspers kosmologi membuat kebudayaan menjadi sistem
> >realitas (system of reality) dan system makna (system of meaning).
> >Selanjutnya,
> >kebudayaan menjelma menjadi pengetahuan kolektif, dan orang-orang yang hidup
> >dalam kebudayaan itu mendapatkan sistem keyakinan dan pengetahuan sebagai
> >pedoman dan orientasi bagi gerak hidupnya (Arif, 2010).
> >
> >Dari penemuan kembali kosmologinya, masyarakat Sunda akan mendapatkan
> >nilai-nilai dasar budaya secara utuh, dan dari sini bisa dibangkitkan
> >nilai-nilai baru yang relevan dengan kehidupan masyarakat Sunda masa kini.
> >Tetapi yang jelas, nilai-nilai baru tidak akan bertabrakan dengan
> >kosmologinya
> >karena nilai-nilai baru tersebut lahir dari rahim budaya Sunda sendiri.
> >Nilai-nilai baru inilah yang akan menjadikan pandangan dunia (Weltanschauung)
> >masyarakat Sunda menjadi pandangan hidup (Lebensanschauung) masyarakat Sunda.
> >
> >Dari mana kita dapat memperoleh kosmologi budaya Sunda? Pertama, dari
> >lontar-lontar Sunda Kuna yang telah ditemukan; dan kedua, dari kehidupan
> >nyata
> >masyarakat Sunda Kuna yang masih ada. Lontar-lontar yang ada dan sudah
> >diterjemah dan digunakan sebagai sumber dalam makalah seminar ini adalah
> >Sewaka
> >Darma dan Sanghyang Siksakandang Karesian (Danasasmita, dkk., 1987), Kawih
> >Paningkes dan Jatiniskala (Darsa dan Ekadjati, 2006). Telaah kosmologi budaya
> >Sunda tidak dapat dilakukan, tanpa terlebih dulu memperhatikan gambaran Tatar
> >Sunda masa silam.
> >
> >Gambaran Tatar Sunda Masa Silam
> >
> >Wilayah hunian masyarakat Sunda masa silam meliputi daerah-daerah yang
> >sekarang
> >masuk dalam Provinsi Banten, DKI, Jawa Barat, dan sebagian wilayah paling
> >barat
> >dari Provinsi Jawa Tengah. Hal ini dapat diketahui melalui adanya nama
> >tempat,
> >nama desa, nama sungai, atau nama tumbuhan dalam kosa kata Sunda. Tidak ada
> >bukti tertulis tentang waktu masuknya masyarakat Sunda ke wilayah tersebut.
> >Juga
> >belum ditemukan atau tidak ada prasasti yang menyebutkan kedatangan
> >Sukubangsa
> >Sunda ke wilayah-wilayah tersebut.
> >
> >Dari sejarah juga belum ditemukan atau tidak ada prasasti yang memuat asal
> >mula
> >etnik Sunda. Dengan demikian, tidak diketahui apakah etnik Sunda itu
> >merupakan
> >etnik asli dari hasil evolusi manusia purba yang ada di P. Jawa, atau
> >komunitas
> >pendatang dari negara atau pulau lain di Kep. Nusantara. Jika dari aspek
> >prasasti tidak ditemukan asal mula etnik Sunda, maka keberadaan etnik Sunda
> >ada
> >dalam naskah yang ditulis oleh Panitia Wangsakerta yaitu dalam dalam naskah
> >Pustaka Rajyarajya i Bhumi Nusantara (Ayatrohaedi, 2001).
> >
> >Terlepas dari kesahihan naskah tersebut, di dalam naskah PriBN disebutkan
> >bahwa
> >pada sejak 1.600 tahun sebelum Saka berdatangan rombongan orang-orang dari
> >Yawana, Syangka, Campa dan India Selatan. Mereka datang di Pulau Jawa karena
> >P.
> >Jawa dikenal subur, dan mereka meninggalkan negerinya karena berbagai macam
> >sebab seperti melepaskan diri dari penderitaan, ada yang ingin mendapat
> >pekerjaan, ada yang menyingkir karena peperangan di negerinya, ada yang ingin
> >mendapatkan suami atau istri di P. Jawa, dan ada pula yang ingin panjang umur
> >dan mencari tanah yang subur agar dapat memberikan hasil yang lebih baik.
> >
> >Pada 300 dan 200 tahun sebelum Saka, terjadi lagi gelombang migrasi dari
> >negeri-negeri tersebut ke P. Jawa. Mereka adalah orang-orang yang banyak
> >ilmu.
> >Mereka juga kawin dengan penduduk asli. Selanjutnya pada tahun pertama Saka
> >datang serombongan orang dari Singhanagari India, mereka menjual produk
> >mereka
> >ke P. Jawa dan membeli produk Nusantara dari P. Jawa. Di antara mereka ada
> >yang
> >bermukim di Jawa (Barat, Tengah, dan Timur), di Sumatra, Kalimantan, Bali,
> >dan
> >pulau-pulau lainnya. Mereka bergaul, bersahabat, dan kawin dengan penduduk
> >setempat. Dan, mereka memandang bahwa Jawa adalah surga di bumi (makadi
> >Jawadwipa samyasana swargaloka haneng prethiwitala).
> >
> >Di antara mereka ada yang mengajarkan agama yang mereka anut kepada penduduk
> >pribumi. Dalam naskah tersebut disebutkan bahwa mereka mengajarkan agamanya
> >yang
> >menyembah sanghyang seperti antara lain Dewa Iswara, Brahma, Wisnu, dan Siwa
> >yang secara bersama-sama disebut Trimurti. Keterangan tentang hal ini
> >disebutkan
> >dalam naskah tersebut:
> >
> >"Sira mangajar agamanira/ ri kapujana sanghyang/ makadi yeku/ iswara dewa
> >pantaraning/ brahma dewa/ wisnu dewa mwang siwa dewa/ ikang pramanaran
> >trimurtiswara/.."
> >
> >Sampai di sini dapat dimengerti bahwa sejak 1.600 sebelum Saka atau lebih
> >dari
> >3.500 tahun yang lalu P. Jawa telah menarik kedatangan bangsa lain karena
> >kesuburannya. Selain mereka bergaul dan bersahabat dengan penduduk setempat,
> >mereka juga kawin-mawin dengan penduduk setempat. Ini menunjukkan bahwa
> >bangsa
> >ini hidup damai dan bersahabat.
> >
> >Selanjutnya, antara 80 â" 320 Saka semakin banyak orang India yang
> >berdatangan di
> >P. Jawa. Bahkan mereka datang bukan hanya untuk berdagang, melainkan mereka
> >juga
> >membawa pendeta-pendeta agama mereka. Para pendeta itulah yang mengajarkan
> >agama, baik kepada orang-orang pendatang itu maupun kepada penduduk
> >setempat. Di
> >antara pendatang itu, ada seorang raja kecil yang bernama Dewawarman, yang
> >berasal dari keluarga Palawa. Ia dianggap sebagai duta dari negara Palawa,
> >dan
> >pada 130 M ia dinobatkan sebagai raja di Jawa Barat bagian barat. Raja inilah
> >yang kawin dengan seorang putri dari pemuka masyarakat di daerah itu. Raja
> >Dewawarman menjadi cikal-bakal kerajaan Hindu di Jawa, dan sekaligus menjadi
> >leluhur dari Raja Purnawarman yang di kemudian hari memindahkan pusat
> >kerajaan
> >ke Tarumanagara.
> >
> >Kemudian, berdatanganlah rombongan orang dari negara-negara utara yang
> >membawa
> >agama Buddha. Tetapi, tidak diketahui dengan pasti kapan agama Buddha masuk
> >di
> >P. Jawa. Faxian, seorang biksu Buddha dari Cina, mendarat di pantai utara
> >Jawa
> >Barat (bagian barat) pada 414. Dalam catatannya disebutkan bahwa pada masa
> >itu
> >sebagian penduduk Jawa telah beragama Buddha. Menurut Munandar, pada abad V
> >â"
> >VII aktivitas pemeluk agama Hindu dan Buddha di Jawa Barat telah ramai
> >(Munandar, 2010).
> >
> >Dengan demikian, sampai abad VII agama asli Sunda, Hindu, dan Buddha dalam
> >masyarakat Sunda berkembang dengan harmonis. Tak ada catatan dari dalam
> >negeri
> >maupun catatan orang asing yang menceritakan adanya konflik agama pada
> >masyarakat Sunda masa silam. Dari lontar-lontar diketahui bahwa raja-raja
> >kerajaan di Tatar Sunda â"sebelum kedatangan Islamâ" secara formal sebagai
> >pemeluk
> >agama Hindu. Namun, dari lontar Sewaka Darma maupun Sanghyang Siksakandang
> >Karesian, dapat diketahui bahwa para raja juga mendapat pengaruh kuat dari
> >ajaran Buddha. Hal ini mungkin saja merupakan prinsip akomodatif dari para
> >raja
> >di Tatar Sunda. Yang jelas ajaran asli juga dijalankan oleh raja.
> >
> >Dalam rangka memahami kosmologi budaya Sunda, alam yang membentuknya pun
> >harus
> >diperhatikan. Sebab, keadaan alam turut membentuk kearifan lokal dan
> >menyediakan
> >sumber-sumber yang digunakan untuk mengatasi persoalan yang timbul. Dalam
> >bahasa
> >Hadis Nabi, setiap penyakit ada obatnya, kecuali penyakit mati itu sendiri.
> >Marilah kita perhatikan tapak wilayah Jawa Barat baik dari sisi gunung maupun
> >sungainya.
> >
> >Lebih dari 30 buah gunung ada di Jawa Barat, dan sebagian besar berupa gunung
> >berapi yang masih aktif. Di daerah banten terdapat gunung-gunung Rakata,
> >Karang,
> >dan Pulosari. Di daerah segitiga Bogor-Cianjur-Sukabumi terdapat
> >gunung-gunung
> >Salak, Gede, dan Pangrango. Di daerah Bandung terdapat gunung-gunung
> >Papandayan,
> >Malabar, Tilu, Burangrang, Tangkuban Perahu, Bukit Tunggul, Palasari, dan
> >Manglayang. Gunung-gunung yang berada di daerah Garut adalah Mandala-wangi,
> >Haruman, Guntur, dan Cikuray. Dua buah gunung termasuk dalam daerah
> >Tasikmalaya
> >yaitu G. Telagabodas dan G. Galunggung. Di daerah Ciamis ada G. Sawal, di
> >daerah
> >Sumedang ada G. Tampomas dan di daerah Kuningan terdapat G. Ciremai. Selain
> >itu,
> >di daerah Banten terdapat pegunungan yang memanjang dari arah barat ke timur
> >yaitu Pegunungan Kendeng.
> >
> >Di antara gunung-gunung itu terdapat banyak bukit dan pegunungan dengan
> >puncak-puncaknya yang kurang dari 1.500 m. Di sela-sela gunung-gunung
> >tersebut
> >mengalir sungai-sungai. Terdapat 51 DAS (daerah aliran sungai), dengan
> >perincian
> >3 DAS menuju dan bermuara di Selat Sunda, 28 DAS mengarah dan berakhir di
> >Laut
> >Jawa, dan 20 DAS mengarah dan bermuara di Lautan Hindia. Dengan demikian ada
> >sungai yang berakhir di laut dan ada pula yang tidak berakhir di laut.
> >Sungai-sungai yang berakhir di laut seperti S. Cibungur, S. Cipanimbang, dan
> >S.
> >Ciliman yang bermuara di Selat Sunda; yang bermuara di Laut Jawa seperti
> >sungai-sungai: Cibanten, Ciujung, Cidurian, Cisadane, Ciliwung, Ciangke,
> >Cibekasi, Citarum, Cilamaya, Ciasem, Cipunagara, Cipanas, Cimanuk, dan
> >Cilosari;
> >sedangkan yang bermuara di Lautan Hindia: Cimandiri, Ciletug, Cikaso, Cibuni,
> >Cisadea, Cilaki, Cikandang, Cisangiri, Cikaingan, Ciwulan, Cimedang, Ciseel
> >dan
> >Citanduy. Sedang sungai-sungai yang bertemu dengan sungai lain dan akhirnya
> >bermuara di laut secara bersama-sama adalah Cikapundung, Cibeunying, Cidurian
> >yang mengalir di sekitar kota Bandung dan bermuara di S. Citarum. Sungai
> >Cianjur
> >dan Cisokan mengalir di daerah Cianjur dan bermuara di S. citarum juga.
> >(Ekajati, 2005)
> >
> >Nilai Inti atau Kosmologi Budaya Sunda
> >
> >Keadaan alam yang terbentuk dari banyak gunung, pegunungan, bukit-bukit, DAS,
> >dan sungai-sungai telah membentuk kosmologi budaya etnik Sunda. Para tokoh
> >masyarakat Sunda di masa silam â"untuk mempertahankan eksistesi kaum
> >merekaâ"
> >pasti mencari jalan keluar yang efektif untuk mengatasi lingkungan hidupnya.
> >Mereka tentu memanfaatkan sumber daya tersedia, baik berupa sumber daya
> >manusia
> >maupun alam, untuk mengatasi berbagai macam problema yang mungkin timbul dari
> >keadaan alam yang demikian itu.
> >
> >Para tokoh Sunda masa silam pasti menciptakan kosmologi budayanya terlebih
> >dahulu, yang selanjutnya kosmologi itu dijadikan dasar untuk menciptakan
> >kebudayaan yang akan dijadikan sistem realitas dan sistem makna. Dan, setelah
> >kebudayaan menjadi seperangkat pengetahuan kolektif, maka setiap anggota
> >etnik
> >Sunda mendapatkan sistem keyakinan dan pengetahuan sebagai pedoman dan
> >orientasi
> >bagi gerak hidupnya. Pandangan kosmologi itu tertuang dalam Kropak 422 yang
> >membahas Jatiniskala.
> >
> >Pada Kropak Jati Niskala itu diterangkan adanya Dzat yang tidak dapat
> >diterangkan. Dzat[1] yang maha esa ini disebut dengan nama Si Ijunajati
> >Nistemen. Di dalam Alquran, Dzat yang demikian ini disebut Allah dan dalam Q.
> >42:11 dinyatakan sebagai Dzat yang tidak dapat diserupakan dengan segala
> >sesuatu. Dzat ini pula yang di dalam pandangan Jawa diungkapkan dengan tan
> >kena
> >kinaya ngapa (tidak dapat diumpamakan seperti apa pun). Jadi, Si Ijunajati
> >Nistemen bukanlah kekosongan absolut, tetapi Dia adalah Dzat yang maha esa
> >yang
> >kosong dari segala sifat, asma dan perbuatan.
> >
> >Dia ada, tetapi kosong mutlak dari sifat, asma, dan perbuatan. Namun, sifat,
> >asma, dan perbuatan tak mungkin tidak ada karena Dia ada. Oleh karena itu,
> >Dia
> >disebut mahagaib (jati niskala) yang menempati jagat skala (dunia nyata) dan
> >jagat niskala (dunia gaib). Hal ini diterangkan dalam Kropak tersebut pada
> >baris
> >422â"424 sebagai berikut:
> >
> >Inya hana inya tan hana
> >Buni tan buni
> >Ãbréh tan ébréh
> >Dia ada dan Dia tiada
> >
> >Dia tersembunyi tetapi tak tersembunyi
> >Dia nyata (lahir) tetapi juga tak nyata.
> >
> >Inilah landasan absolut ketuhanan, yang tidak mungkin ditafsirkan. Dalam
> >Alquran
> >sifat Tuhan yang demikian ini disebut yang lahir dan yang batin sekaligus,
> >dan
> >Dia mengetahui segala sesuatu (Q. 57:3). Dalam Tao Te Ching disebutkan bahwa
> >semuanya bersumber dari Tao, alam semesta ini mengikuti Hukum Tao. Akan
> >tetapi,
> >bila Tao sudah disebut maka ia bukan Tao lagi. Jadi, kekosongan mutlak itu
> >bukan
> >Dzat-Nya, tapi Dia kosong dari sifat, asma dan perbuatan. Dengan demikian,
> >bila
> >suatu sifat yang disebut maka bukan Dia lagi.
> >
> >Kropak Jatiniskala (Jatiraga) menjelaskan keberadaan Dzat yang maha esa itu
> >dengan baik, yaitu dimulainya tuturan yang menyebutkan bahwa Dia hadir
> >sebagai
> >Sanghyang Tunggal Premana, yang artinya Dzat tunggal yang mahahalus (dalam
> >Alquran dinyatakan huwa lathîf). Lalu, disusul dengan penjelasan Dia sebagai
> >Sanghyang Tunggal Wisésa, Dzat tunggal yang mahakuasa. Dan, Dia-lah pemilik
> >sifat hidup, yang dinyatakan dalam Kropak tersebut dengan Sanghyang Hurip.
> >
> >Sanghyang Hurip dalam keadaan jatiniskala (gaib yang sebenarnya) belum dapat
> >dikenali sebagai yang memiliki sifat BSH (bayu, sabda, dan hidap). Oleh
> >karena
> >itu, Kropak Jatiniskala lebih banyak menerangkan keberadaan kosmos ini dengan
> >kehadiran BSH. Jakob Sumardjo mengutip kosmologi Baduy tentang sebelum segala
> >sesuatunya ada â"yang sebenarnya ini keadaan jatiniskalaâ" sebagai alam
> >awang-awang uwung-uwung (Sumardjo, 2011).
> >
> >Jatiniskala akan gaib selamanya tanpa kehadiran BSH dalam dunia raga ini.
> >Raga
> >akan tampak mati dan tidak menunjukkan aktivitas kehidupan tanpa BSH. Apa
> >yang
> >dimaksud dengan BSH?
> >
> >Bayu secara literal bermakna angin, atau udara yang bergerak. Darsa dan
> >Ekadjati
> >menerjemahkannya tenaga (Darsa dan Ekadjati, 2006). Sebenarnya, bila kita
> >merujuk pada Sanghyang Tunggal Wisésa, bayu mewakili sifat wisésa
> >tersebut, yang
> >berarti meliputi kuasa dan kekuatan. Tanpa kekuatan tak ada kuasa, dan
> >sebaliknya tak ada kuasa tanpa kekuatan. Dalam ajaran makrifat Sifat
> >Duapuluh,
> >keberadaan wisésa ini disebut qiyamun bi nafsihi atau bangkit dan hidup
> >selamanya dari dirinya sendiri.
> >
> >Sabda adalah suara, firman, atau ucapan. Tetapi, sebelum termaterialisasi
> >atau
> >tanpa maujud, suara itu tak terucapkan. Dalam ilmu fisika, suara itu berasal
> >dari getaran energi atau bayu. Ada bayu baru ada vibrasi dan setelah ada
> >medianya barulah ada ucapan atau menjadi asma. Dan, sabda harus mengada
> >menjadi
> >hidap (Jawa Kuna: hidhep yang berarti pikiran, budi, perasaan, atau
> >kesadaran).
> >Dalam Serat Wirid Hidayat Jati hidap masuk dalam kategori apngal (Arab,
> >af`al)
> >atau perbuatan. Dan perbuatan adalah wadah bagi Dzat (Tanojo, 1954).
> >
> >Kropak Jatiniskala secara konsisten menempatkan urutan kata bayu, sabda,
> >hidap.
> >Bayu senantiasa ditempatkan pada permulaan, sabda di tengah, dan hidap yang
> >terakhir, dan ketiganya tak pernah dipisah. Dari aspek kajian Serat Wirid
> >Hidayat Jati, Si Ijunati Jatinistemen adalah Dzat, sedangkan BSH adalah
> >rangkaian sifat, asma dan perbuatan. Pada tingkat perbuatanlah tergelarnya
> >secara nyata Si Ijunati Jatinistemen.
> >
> >Ketika masih dalam keadaan gaib, bayu masih belum bisa dikatakan bayu, sabda
> >belum terucapkan, dan hidap belum terwujud. Keadaan ini tercantum dalam
> >Kropak
> >422 pada baris 320â"327:
> >
> >Ya ta jatinistemen
> >Tan kaucap tan karasa
> >Tan kaprisa tan katwatwan
> >Tan kapretan nis lamun lesmana
> >Hana bayu tan pabayu
> >Hana sabda tan pasabda
> >Hana hidap tan pahidap
> >Hana hurip tan kasengguh hurip
> >
> >Terjemahan:
> >
> >Jadi, demikianlah makna jatinistemen
> >Tak terkatakan tak terasakan
> >Tak terdengar tak terlihat
> >Tak terhalangi, mahagaib, ketika memancarkan keindahan
> >
> >Ada bayu tanpa kekuatan
> >Ada ucapan tanpa bunyi
> >Ada kesadaran tanpa maujud sadar
> >Ada hidup yang tak disebut hidup
> >
> >Dengan demikian, nilai inti budaya Sunda atau kosmologi budaya Sunda adalah
> >Si
> >Ijunati Jatinistemen yang termanifestasikan dalam bayu, sabda, dan hidap.
> >Bila
> >etnik Sunda hendak mempertahankan eksistensinya, maka etnik Sunda harus
> >kembali
> >menegakkan struktur BSH dalam kehidupan sehari-harinya. Sebenarnya, ketika
> >Islam
> >masuk ke Tatar Sunda, para tokoh Sunda yang beragama Islam tidak meruntuhkan
> >struktur kosmologi yang sudah ada. Secara eksplisit dalam pantun Sulanjana
> >yang
> >berkembang di masyarakat Sumedang, Allah hanya ditempatkan pada lapisan surga
> >ke-7 sebagai surga paling nikmat dan paling tinggi. Kemudian, lapisan alam
> >niskala di bawahnya ditempati makhluk-makhluk gaib dalam ajaran Islam.
> >Barulah
> >pada tingkat alam niskala yang keempat hingga kedua ditempati oleh dewa-dewa
> >dalam agama Hindu (Sumardjo, 2011).
> >
> >Yang menjadi persoalan dalam budaya Sunda Islam adalah Tritangtu yang berupa
> >bayu, sabda, dan hidap belum termanifestasi dalam kehidupan nyata karena
> >keburu
> >datangnya penjajahan Belanda. Etnik Sunda akan terus menjadi pelaku budaya
> >bila
> >kosmologi Tritangtu terus-menerus terefleksikan dalam kehidupannya sampai
> >dalam
> >kehidupan sehari-harinya. Dengan Tritangtu budaya Sunda memandang alam
> >semesta
> >dalam 3 tingkatan, yaitu alam atas yang disebut buana nyungcung, alam tengah
> >sebagai buana pancatengah, dan alam bawah sebagai buana larang. Dalam Kropak
> >Jatiniskala keberadaan Dzat dihadirkankan dalam Jagat Jatiniskala, Jagat
> >Niskala, dan Jagat Skala. Jagat tersebut pada akhirnya dihadirkan secara
> >individual sebagai Bethara Jatiniskala, raga alit (tubuh halus) dan raga
> >(tubuh
> >kasar). Untuk bisa memahami keadaan di lapangan dewasa ini, kita coba
> >perhatikan
> >kehidupan masyarakat Kanékés.
> >
> >Kanékés: Masyarakat Sunda Silam
> >
> >Penjajahan telah memporak-porandakan kosmologi budaya Sunda, sehingga etnik
> >Sunda yang semula sebagai pelaku budaya di Tatar Sunda telah menjadi objek
> >budaya di rumahnya sendiri. Untungnya, dalam kehidupan nyata, masih ada yang
> >tersisa, baik dalam bentuk masyarakat maupun dalam bentuk sastra lisan
> >pantun.
> >Meskipun kalau kita telisik dengan sungguh-sungguh, tak ada lagi komunitas di
> >Tatar Sunda yang bebas dari pengaruh asing, baik pengaruh Hindu, Buddha, dan
> >Islam â"termasuk masyarakat Kanékés.
> >
> >Masyarakat Kanékés yang sehari-hari lebih dikenal dengan sebutan masyarakat
> >Baduy, terdiri dari masyarakat Baduy Dalam dan Baduy Luar. Masyarakat Baduy
> >Dalam tinggal di desa kampung Cikeusik, Cikartawana dan Cibéo. Sedangkan
> >Baduy
> >Luar menempati kampung-kampung di sekeliling kampung hunian Baduy Dalam. Ada
> >27
> >kampung di desa Kanékés yang dihuni oleh orang Baduy Luar. Desa Kanékés
> >terletak
> >di Kecamatan Leuwidamar, Kabupaten Lebak, Provinsi Banten. Posisi Desa
> >Kanékés
> >berada di bagian selatan Provinsi Banten. Di daerah Kanékés mengalir
> >beberapa
> >sungai kecil dan akhirnya secara bersama-sama bergabung menjadi Sungai
> >Ciujung
> >dan Cidurian.
> >
> >Di siang hari keadaan kampung Baduy Dalam tampak sepi. Di siang hari
> >orang-orang
> >dewasa â"baik laki-laki maupun perempuanâ" umumnya bekerja di huma,
> >ladang, hutan,
> >atau di saung yang mereka sebut juga sebagai rumah kedua. Saung adalah tempat
> >tinggal mereka selama menjaga dan menunggu tanaman padi tumbuh. Suami-istri
> >sama-sama turun ke ladang, membersihkan lahan, menanam padi, dan menjaga
> >tanaman
> >dari gangguan hama. Mereka berbagi peran dalam kehidupan sehari-hari, suami
> >sebagai pekerja di ladang yang sesekali dibantu istri dan anak, sedangkan
> >tugas
> >pokok istri adalah menjaga saung, mengasuh anak, dan menanak nasi. (Sutendy,
> >2010)
> >
> >Dari berbagai laporan orang Kanékés tidak mau disebut sebagai orang-orang
> >pelarian di masa akhir Kerajaan Pajajaran. Mereka menyatakan bahwa sejak
> >semula
> >hidup di daerah tersebut dan menjalankan keagamaannya sebagai agama Sunda
> >Wiwitan atau agama Sunda sejak awal mula, bukan agama Hindu atau Buddha.
> >Namun,
> >agama yang mereka peluk tidaklah steril dari pengaruh Hindu, Buddha, dan
> >Islam.
> >Mereka menyebut bahwa orang Kanékés itu keturunan langsung dari Nabi Adam
> >(Bathara Tunggal) sebagai manusia pertama di muka bumi, sehingga mereka
> >menyebut
> >diri mereka sebagai komunitas manusia tertua di bumi. Oleh karena itu, mereka
> >menyebut umat-umat lain sebagai saudara muda, dan perlu dihargai dan
> >dinasehati
> >(Sutendy, 2010).
> >
> >Orang-orang Baduy Dalam sampai hari ini masih menerapkan Tritangtu dalam
> >kehidupannya. Hal ini terwujud baik dalam sistem kepercayaan, pemerintahan,
> >dan
> >rumahtangga. Dalam sistem kepercayaan, kosmologi Baduy menyebutkan bahwa
> >sebelum
> >ada segala sesuatu yang ada adalah awang-awang uwung-uwung. Orang Jawa
> >menyebutnya suwung. Dari suwung ini keluarlah tiga bathara yaitu Bathara
> >Karesa,
> >Bathara Kawasa, dan Bathara Bima Maha Karana (Sumardjo, 2011). Dengan kata
> >lain,
> >terwujudnya kosmos ini bila ketiganya telah menyatu, yaitu menyatunya
> >kehendak,
> >kekuatan, dan penyebab utama yaitu pikiran, ucapan, kata-kata. Oleh karena
> >landasan pokok adalah suwung, maka ajaran Sunda Wiwitan tidak diajarkan
> >secara
> >tertulis melainkan dituturkan pada generasi berikutnya semenjak masa
> >kanak-kanak. Yang mengajarkan agama Sunda Wiwitan adalah para bares kolot.
> >Semua
> >orangtua harus menjadi teladan dalam menjalankan agama, dan akhirnya semua
> >anggota masyarakat memraktikkan dalam kehidupan sehari-hari.
> >
> >Untuk memraktikkan ajaran agama Sunda Wiwitan, mereka menjalankan sistem
> >hukum
> >yang tampaknya merupakan hasil dari pengaruh Islam. Sistem hukum ini terdiri
> >dari hukum sunah, haram, makruh, wajib, dan kudu (Sutendy, 2010). Sunah
> >adalah
> >suatu perbuatan yang bila dilakukan berpahala dan bila tidak dilakukan tidak
> >ada
> >dosa, misalnya mempelajari jejampean. Haram adalah hukum yang menyatakan
> >bahwa
> >suatu perbuatan bila ditinggalkan akan mendapat pahala dan bila dilakukan
> >mendapat dosa, contohnya berzina; bila zina dilakukan maka pelakunya akan
> >diasingkan selama 40 hari di kampung tertentu yang sudah ditetapkan, dan
> >mengerjakan lalahan kokolot tanpa upah. Hukum haram lainnya adalah menikah
> >lebih
> >dari satu istri, hanya saja hukumannya tanpa pengerjaan lahan dan hanya
> >berupa
> >pengasingan. Makruh adalah hukum sebagai kebalikan dari hukum sunah, seperti
> >menggunakan sabun, sampo, sikat gigi dengan pasta, dan merokok; bahkan dalam
> >Baduy Dalam semua itu harus ditinggalkan. Wajib adalah perbuatan yang bila
> >dilakukan berpahala, dan bila ditinggalkan berdosa, seperti menikah satu
> >istri,
> >bertani, dan menjaga kelestarian alam. Yang terakhir hukum kudu adalah hukum
> >yang menyatakan bahwa sesuatu perbuatan harus dilakukan dan tidak dapat
> >ditawar-tawar; contohnya khitan bagi anak laki-laki. Atas dasar hukum kudu
> >tersebut, tak mungkin ada orang Baduy Dalam yang tidak khitan hingga dewasa.
> >
> >Sistem Tritangtu juga diterapkan dalam pemerintahan. Dalam hal ini orang
> >Baduy
> >Dalam menempati posisi kabuyutan atau lemah parahyangan. Tanah Baduy Dalam
> >merupakan tempat untuk memuja dan menghormati para Hyang. Pekerjaan yang
> >dilakukan oleh orang Baduy Dalam adalah berladang, dan bagi perempuannya
> >bertenun; sehingga setiap perempuan Baduy Dalam bisa menenun. Di luar
> >Kanékés
> >adalah tugas orang-orang nagara yang meliputi beberapa jenis pekerjaan, dan
> >selanjutnya segala jenis pekerjaan yang dikerjakan oleh orang luar Sunda.
> >
> >Dalam Tritangtu tingkat pertama ditempati oleh bares kolot sebagai pengajar
> >Sunda Wiwitan, dan bares kolot ini pula yang secara musyawarah memilih pu'un
> >(tingkat kedua) sebagai pimpinan tertinggi dalam struktur pemerintahan
> >masyarakat Baduy. Para pu'un bertempat tinggal di daerah Baduy Dalam, yaitu
> >di
> >Cikeusik, Cikartawana, dan Cibéo. Yang mengurus pemerintahan di daerah Baduy
> >Luar adalah para jaro pamarentahan yang berasal dari kampung â"kampung Baduy
> >Luar. Para jaro pamarentahan ini dipilih oleh pu'un berdasarkan hasil
> >musyawarah
> >dengan bares kolot dan disahkan oleh Camat Leuwidamar.
> >
> >Struktur bares kolot â" pu'un â" jaro pamarentahan ini oleh Sumardjo
> >disebut
> >sistem Tritangtu resi (raja pendita) â" raja â" rama (rakyat). Tritangtu
> >inilah
> >yang sudah kehilangan jejaknya pada masyarakat Sunda di luar Baduy. Padahal,
> >kalau etnik Sunda hendak menjadi pelaku budaya, maka sudah waktunya
> >orang-orang
> >Sunda memikirkan kembali cara untuk mewujudkan Tritangtu dalam kehidupan
> >etnik
> >Sunda sehari-hari dewasa ini.
> >
> >Selanjutnya dalam rumahtangga, orang Baduy Dalam juga menerapkan Tritangtu,
> >yang
> >menempatkan suami sebagai pengurus dan penjaga huma, ladang, kebun, hutan dan
> >sungai. Istri sebagai penjaga huma, pengasuh anak-anak, dan menanak nasi.
> >Lalu,
> >semuanya bertanggung jawab untuk menjadikan anak-anak sebagai calon
> >orang-orang
> >Baduy yang mampu melestarikan kehidupan lahir dan batin orang-orang Baduy.
> >
> >Kearifan Lokal Sunda
> >
> >Dalam kehidupan bangsa Indonesia dewasa ini, bukan hanya etnik Sunda yang
> >telah
> >tergusur nilai-nilai budayanya, etnik-etnik lain pun sudah tergusur dan
> >bahkan
> >bisa lebih parah daripada etnik Sunda, misalnya etnik Papua, Anak Dalam di
> >Sumatra dan di etnik-etnik lain di pedalaman Kalimantan maupun Sulawesi.
> >Gusur-menggusur ini karena bangkitnya kehidupan yang berkosmologi dualitas,
> >sehingga yang terjadi adalah terang-gelap, maju-mundur, kalah-menang,
> >atas-bawah, pintar-bodoh, dan lain-lainnya.
> >
> >Dalam perangkap dualitas ini sejak abad XVI secara perlahan-lahan kehidupan
> >bangsa Indonesia didominasi oleh Barat (alam pikiran, perilaku, dan
> >posisinya).
> >Cara berpikir Sunda yang berasaskan Tritangtu telah lenyap dari bumi Sunda.
> >Di
> >Tatar Sunda tidak ada lagi sosok ratu-pendita, atau bares kolot yang
> >mewariskan
> >nilai-nilai luhur secara turun-temurun. Dalam sistem pemerintahan, para
> >gubernur, bupati atau walikota tidak lagi dipilih oleh para bares kolot dan
> >pu'un seperti di Desa Kanékés. Yang dilakukan oleh etnik Sunda sama dengan
> >etnik
> >lainnya, yaitu memilih pemimpinnya berdasarkan pilihan langsung terhadap
> >calon
> >yang diajukan oleh partai-partai yang ada. Rakyat sebagai ladang (menurut
> >pandangan Sumardjo) tidak diperlakukan secara patut, sehingga banyak orang
> >yang
> >menganggur, bekerja tidak pada keahlian atau bidangnya, dan bekerja tanpa
> >terdidik. Hal ini tentu saja sangat jauh dari yang diajarkan dalam SSK
> >(Sanghyang Siksakandang Karesian), seperti yang saya kutip di bawah ini.
> >
> >Ini pakeun urang ngretakeun bumi lamba, caang jalan, panjang tajur, paka
> >pridana, linyih pipir, caang buruan.
> >
> >Anggeus ma imah kaeusi, leuit kaeusi, paranje kaeusi, huma kaomean, sadapan
> >karaksa, palana ta hurip, sowe waras, nyewana sama wong (sa)rat.
> >
> >Sangkilang di lamba, trena taru lata galuma, hejo lembok tumuwuh sarba pala
> >wo(h)wohan, dadi na hujan, landung tahun, tumuwuh daek, maka hurip na urang
> >reya. Inya eta sanghyang sasana kreta di lamba ngarana.
> >
> >Terjemahan:
> >
> >Ini â"jalanâ" untuk kita mengatur dunia kehidupan, bersih jalan, subur
> >tanaman,
> >cukup sandang, bersih bagian luarnya, cerah bagian dalam rumahnya. Bila
> >berhasil
> >rumah terisi, lumbung terisi, kandang ayam terisi, ladang terurus, sadapan
> >terpelihara, lama hidup, seÂlalu sehat, sumbernya terletak pada manusia
> >sedunia.
> >
> >Penopang kehidupan: rumput, pohon-pohonan, tumbuhan rambat, tumbuhan perdu,
> >hijau suÂbur tumbuhnya segala macam buah-buahan, banyak hujan, pepohonan
> >tinggi
> >karena subur tumbuhnya, memberikan kehidupan kepada orang banyak. Ya itulah
> >yang
> >namanya sanghiyang sasana kesejahteraan dalam kehidupan.
> >
> >Jelas sekali, gambaran kehidupan dalam Lontar SSK disebutkan dengan terang
> >bahwa
> >cara-cara menjalankan kehidupan sebagaimana yang tertuang dalam SSK adalah
> >jalan
> >untuk mengatur kehidupan di dunia ini agar jalan-jalan bersih, ladang dan
> >sawah
> >subur tanamannya, sandang dan papan pun terpenuhi. Seluruh rakyat bertindak
> >untuk menyelamatkan lingkungan dalam Tritangtu langit, manusia dan
> >lingkungannya. Selanjutnya disebutkan:
> >
> >Ini panca putra: pretiwi Sang Mangukuhan, apah Sang Katung-maralah, teja Sang
> >Karungkalah, bayu Sang Sandanggreba, akasa Sang Wretikandayun.
> >
> >Ini panca putera: pretiwi adalah Sang Mangukuhan, air adalah Sang
> >Katungmaralah,
> >cahaya adalah Sang Karungkalah, angin adalah Sang Sandanggreba, angkasa
> >adalah
> >Sang Wretikandayun.
> >
> >Selanjutnya oleh Atja dalam Carita Parahyangan dikutip sebagai berikut:
> >
> >""... Sang Mangukuhan njieun maneh pa(ng)huma, Sang Karungkalah njieun maneh
> >panggerek, Sang Katu(ng)maralah njieun maneh panjadap, Sang Sandanggreba
> >njieun
> >maneh padagang" (Atja, 1968 : 17, 43)
> >
> >"... Sang Mangukuhan menjadi tukang ngahuma (peladang), Sang Karungkalah
> >menjadi
> >tukang berburu (pemburu), Sang Katungmaralah menjadi tukang sadap (pembuat
> >gula
> >merah dari nira enau), Sang Sandanggreba menjadi pedagang".
> >
> >Dengan demikian, pancakusika dalam SSK merupakan lima anasir alam yang
> >bersifat
> >"nguripi" atau menghidupi. Pada zaman itu di Tatar Sunda yang bersifat
> >nguripi
> >adalah pertanian, perburuan, penyadapan pohon (untuk gula), pedagang, dan
> >pemerintah (Sang Wretikandayun). Pola pikir untuk menemukan anasir alam yang
> >bersifat menghidupi inilah yang harus terus-menerus dikembangkan. Jadi, sudah
> >waktunya bagi orang-orang Sunda untuk memikirkan pola pikir Tritangtu ini
> >hadir
> >kembali pada masyarakat Sunda.
> >
> >Pertama, berjuang untuk menempatkan perguruan tinggi dan khususnya mereka
> >yang
> >menguasai ajaran spiritual Sunda untuk menjadi bares kolot, yang berfungsi
> >untuk
> >merumuskan nilai-nilai yang patut untuk orang Sunda dalam era globalisasi
> >ini.
> >Dalam hal ini, lingkungan perguruan tinggi sudah sepatutnya untuk dijadikan
> >kabuyutan.
> >
> >Kedua, para calon pemimpin hendaknya diseleksi oleh para bares kolot, meski
> >calon-calon itu diajukan oleh partai politik. Sebab, bagaimana pun, seorang
> >calon pemimpin yang terpilih bukan lagi milik partai tetapi pemimpin bagi
> >seluruh rakyat yang ada di bawah pimpinannya. Dengan demikian tak ada
> >pemimpin
> >karbitan, atau pemimpin yang dipaksakan.
> >
> >Ketiga, bares kolot dan pemimpin pemerintahan harus bekerja sama untuk
> >merumuskan berbagai jenis pelatihan untuk bekerja, sehingga para calon tenaga
> >kerja, bukanlah orang-orang yang terpaksa mencari kerja, tetapi orang-orang
> >yang
> >sudah siap untuk bekerja sesuai dengan bidang keahliannya.
> >
> >Selanjutnya untuk para calon bares kolot harus mulai mendalami lagi
> >ajaran-ajaran spiritual yang telah tertuang dalam Sewaka Darma atau Serat
> >Dewa
> >Buda. Oleh karena yang dikaji dan dipelajari adalah ajaran hakikat spiritual,
> >maka orang-orang Sunda pemeluk agama apa pun boleh dan bisa mengikutinya.
> >Pada
> >tingkatan hakikat tidak ada batas lagi. Yang dikaji dalam tingkatan hakikat
> >adalah alam niskala dan jatiniskala. Jadi, di setiap pusat dari daerah etnik
> >Sunda, harus dibangun perguruan tinggi yang memiliki pusat-pusat kajian
> >Tritangtu.
> >
> >Terima kasih
> >
> >Referensi:
> >Arif, Syaiful, 2010. Refilosofi Kebudayaan: Pergeseran Pascastruktural,
> >Jogjakarta: Ar-Ruzz Media.
> >
> >Atja, 1968. Carita Parahiyangan, Bandung: Yayasan Kebudayaan Nusalarang.
> >
> >Ayatrohaedi, 2005. Sundakala: Cuplikan Sejarah Sunda Berdasarkan
> >Naskah-Naskah
> >Panitia Wangsakerta Cirebon, Jakarta: Dunia Pusata Jaya.
> >
> >Danasasmita, S., Ayatrohaedi, Tien Wartini, dan Undang Achmad Darsa, 1987.
> >Sewaka Darma, Sanghyang Siksakandang Karesian, Amanat Galunggung, Bandung:
> >Direktorat Jenderal Kebudayaan â" Departemen Pendidikan dan Kebudayaan.
> >
> >Darsa, Undang A. dan Edi S. Ekadjati, 2004. Gambaran Kosmologi Sunda,
> >Bandung:
> >Kiblat Buku Utama.
> >
> >Ekadjati, Edi S., 2005. Kebudayaan Sunda: Suatu Pendekatan Sejarah, Jakarta:
> >Dunia Pustaka Jaya.
> >
> >Hofstede, Geert, 1997. Cultures and Organizations: Software of the Mind, New
> >York â" USA: McGraw-Hill.
> >
> >Mardiwarsito, L., 1981. Kamus Jawa Kuna â" Indonesia, Ende â" Flores: Nusa
> >Indah.
> >
> >Munandar, Agus Aris, 2010. Tatar Sunda Masa Silam, Jakarta: Wedatama Widya
> >Sastra.
> >
> >Ronggowarsito, 1954. Wirid Hidayat Jati, ditulis ulang oleh R. Tanoyo,
> >Surakarta: -
> >
> >Sumardjo, Jakob, 2011. Sunda: Pola Rasionalitas Budaya, Bandung: Kelir.
> >
> >Sutendy, Uten, 2010. Damai dengan Alam: Kearifan Hidup Orang Baduy, Tangerang
> >Selatan: Media Komunika.
> >
> >Trompenaars, Fons, 1993. Riding The Waves of Cultures: Understanding Cultural
> >Diversity in Business, London: Nicholas Brealey Publishing.
> >
> >[1] Dipresentasikan pada Seminar Nasional "Nilai-Nilai Budaya Sunda:Warisan
> >Masa
> >Lampau dalam Era Globalisasi" di Universitas Pajajaran, Jatinangor, Bandung
> >pada
> >Rabu, 15 Juni 2011.
> >
> >
> >
> >
> --
> d-: dudi herlianto :-q
> paciringan.wordpress.com
> kunyuk nuyun kuuk, kuuk nuyun kunyuk
>
------------------------------------
Yahoo! Groups Links
<*> To visit your group on the web, go to:
http://groups.yahoo.com/group/kisunda/
<*> Your email settings:
Individual Email | Traditional
<*> To change settings online go to:
http://groups.yahoo.com/group/kisunda/join
(Yahoo! ID required)
<*> To change settings via email:
[email protected]
[email protected]
<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
[email protected]
<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
http://docs.yahoo.com/info/terms/