----- Pesan yang Diteruskan -----
Dari: Irwan Nurcahyadi <[email protected]>
Kepada: "[email protected]" <[email protected]>; 
"[email protected]" <[email protected]> 
Dikirim: Kamis, 26 April 2012 12:03
Judul: [WongBanten] Miskin dan Kaya
  
 
   
 


Miskin dan Kaya
>
>Ibnu Mas’ud bercerita:  Rasulullah SAW tidur beralaskan tikar jerami
>hingga tampak bekas-bekas di sisi tubuhnya.  Kemudian ia terbangun dan
>mulai menyaputnya.  Akupun bertanya “Ya Rasulullah, Bolehkah kami
>membentangkan sesuatu yang lunak dan lembut di atasnya?” Dia SAW
>menjawab:  “Aku tak peduli dengan (dunia) ini.  Perumpaman aku dan
>dunia ini adalah bagaikan seorang pengembara yang berteduh di bawah
>sebuah pohon, kemudian melewati, dan meninggalkannya”.  Demikianlah
>arti dunia di mata Rasulullah SAW, hikmah yang beliau ajarkan sesuai
>dengan firman Tuhan.  “Sungguh kehidupan akhirat lebih baik untukmu
>daripada saat ini”.  (QS. 93:4).
>
>Tapi, apakah kita tidak boleh kaya? Mana yang lebih baik, menjadi
>muslim kaya atau miskin? Kalau kita kaya kan bisa lebih banyak beramal
>dengan harta
 kita? Pertanyaan kritis di atas sangat wajar dan masuk
>akal kalau kita memandang kekayaan sebagai sesuatu yang bersifat
>materi.  Di dalam kerangka pikir materialistik, kekayaan diukur dari
>banyaknya kepemilikan.  Tak heran jika, disadari atau tidak, kita
>sering berpikir, uang adalah segalanya, dengan uang kita berbuat atau
>mendapatkan apa saja.
>
>Faktanya tidak selalu demikian.  Lihatlah para pemikir dan pekerja
>keras, bisa tertidur lelap di mana saja,  kapan saja.  Sementara itu,
>di gedung-gedung mewah, di rumah-rumah megah, di atas tempat tidur
>berharga jutaan, puluhan bahkan ratusan juta, masih ada saja yang
>gelisah tak bisa tidur.  Dibolak-balik badannya telungkup terlentang,
>dimiringkannya ke kiri ke kanan, mata tak juga terpejam.  Berhitung
>satu sepuluh seratus sampai seribu tidak juga mengantuk.  Terakhir
>dicobanya minum obat tidur.  Atau, lihatlah seorang
 petani yang dengan
>lahap menyantap hidangan siang kiriman istri atau anaknya.
>Dinikmatinya hingga bulir-bulir nasi terakhir, tak jarang hanya dengan
>lauk seadanya.  Di sisi lain, banyak orang yang tidak bisa menikmati
>hidangan yang mahal lagi lezat.  Mungkin hanya karena sakit gigi,
>sariawan, atau radang tenggorokan.  Bisa pula karena anjuran atau
>larangan diet tertentu.
>
>Lalu, apakah arti kekayaan?  Di dalam ayat lain surat QS. Ad-Duha,
>Allah SWT berfirman,  “Dia Mendapatimu sebagai seorang yang kekurangan
>(miskin), lalu Dia Memberikan kecukupan (kaya)” (QS. 93:8).  Kekayaan
>adalah keadaan yang diberikan Allah SWT.  Sementara kemiskinan adalah
>keadaan yang ada di dalam diri.  Belajar dari ayat-ayat sebelumnya,
>ada dua keadaan bertolak belakang yang pernah dialami oleh Rasul SAW,
>yaitu miskin dan kaya.  Dalam keadaan pertama Rasul SAW bersabar,
>sebaliknya dalam
 keadaan kedua Rasul SAW bersyukur.  Kekurangan yang
>pernah dialami oleh Rasulullah SAW adalah:  (1) saat Rasul SAW
>“merasa” tidak Diperhatikan dan Dibenci Tuhannya, (2) saat Rasul SAW
>Yatim (dan merasa tidak mendapatkan perlindungan) (3) saat Rasul SAW
>merasa gamang atau bingung.  Sebaliknya, kecukupan yang dirasakan
>Rasul SAW adalah: (1) saat Rasul mengetahui bahwa ia Diperhatikan dan
>Disayangi oleh Tuhan-nya. (2) saat Rasul SAW mendapatkan perlindungan
>(3) saat Rasul SAW mendapatkan petunjuk.
>
>Dari ayat-ayat tersebut di atas kita dapat mengambil pelajaran penting
>bahwa kekayaan adalah sesuatu yang bersifat ruhani, bukan bersifat
>materi.  Mengacu pada ayat-ayat di atas, sesorang merasakan kekayaan
>atau kecukupan apabila yakin bahwa ia Diperhatikan dan Disayangi
>Tuhan, Mendapatkan Perlindungan dan Petunjuk dari-Nya.  Rasulullah
 SAW
>menjelaskan dengan bahasa yang lugas dan indah bahwa “Kekayaan
>tidaklah ditentukan oleh banyaknya kepemilikan, tetapi kekayaan
>(sejati) adalah kekayaan hati” (HR Bukhari Muslim).
>
>Ibnu Katsir menambahkan bahwa esensi kekayaan adalah terlepasnya
>seseorang dari ketergantungan terhadap selain Allah SWT.   Kemerdekaan
>adalah nikmat tertinggi seorang manusia.  Seorang bekerja keras dan
>cerdas, pada hakekatnya, adalah di dalam rangka memenuhi sunatullah,
>memerdekakan dirinya terhadap selain Allah SWT.  Lebih jauh lagi,
>bekerja keras cerdas dan ikhlas, bertebaran di muka bumi, adalah upaya
>untuk menjalankan fungsi kemanusiaan sebagai hamba Allah dan wakil
>Allah di muka bumi, serta fungsi dakwah sebagai umat terbaik.  Perlu
>diingat kembali, kekayaan sejatinya bukanlah terletak pada banyak atau
>sedikitnya hasil yang diperoleh tetapi semata-mata adalah karunia
>Allah SWT berupa rasa puas
 dan bahagia, yang ditanamkan ke dalam
>hati-hati manusia.  Rasul SAW pernah bersabda bahwa:  “Sungguh
>beruntung orang yang menerima Islam, dan dicukupi rizkinya, dan Allah
>SWT menganugerahi rasa puas dan bahagia (qona’ah) atas apa-apa yang
>telah diberikan” (HR Muslim).  Sahabat Ali RA pernah ditanya tentang
>arti sebuah kesuksesan.  Beliau menjawab, antara lain:  “… Bersyukur
>dengan nikmat yang banyak, dan ridha terhadap yang sedikit, senantiasa
>bersiap untuk perjalanan panjang”.
>
>Bersyukur terhadap kepada Allah SWT antara lain dilakukan dengan
>merasakan kesusahan orang-orang yang kekurangan, menyebut-nyebut
>nikmat Tuhan, dan tak lupa berterimakasih terhadap mahluk yang menjadi
>penghantar nikmat-nikmat  tersebut (QS.93:8-10)
>
>Ya Allah, Janganlah Engkau jadikan dunia tujuan utama kami, dan tidak
>pula tujuan ilmu kami.   Ya Allah tolonglah agar kami dapat
 senantiasa
>mengingatmu, bersyukur kepadamu, melakukan pengabdian terbaik hanya
>kepadamu. Wallahu’a’lam
>
>Abi Muhammad Ismail Halim, Arlington, TX April 22, 2012   
      

Kirim email ke