Kitu nya Kang Hasan, panatesan eta sapeker di Masigit sok aya sada sora radio 
saperti alunan musik jeung obrolan padahal eta sapeker dina kayaan pareum. Kitu 
oge meureun jeung pasawat anu hibeur di luhur kaasupan frekuensi radio jeung 
hp. Naha ieu teh bener kitu, mun kitu atuh ngaganggu jalur frekuensi antara 
Pilot jeung pengatur lalu lintas udara.
Mun ningali  musibah SUKHOI SJ 100, ari ceuk pikiran awam kuring mah pangaruh 
cuaca. Mun teknis asa piraku da Kru Pasawat Sukhoi teh aya teknisi andal, jeung 
deui moal gagabah ngahiberkeun pasawatna, ieu teh tina raraga promosi produk 
Sukhoi SSJ 100. Atawa Pilot SSJ 100 boga niat pamer kamampuan rek nunjukkan 
kahebatan ieu pasawat hibeurna rada handap ameh katempo ku masyarakat urang 
(Indonesia) anu balukarna nenggar Gunung Salak.  Ceuk urang Rusia "nubrukna 
pasawat SSJ 100 salah urang Indonesia, sabab henteu ngabejaan timimitina yen 
aya Salak Sagede Gunung".
 
Kuring ngiring "TURUT BERDUKA CITA ATAS MUSIBAH PESAWAT SUKHOI SJ 100", mugia 
kaluargi anu katimpa musibah dina kayaan sabar sareng kakiatan.
 
Salam,
 
 
 

________________________________
 Dari: Ki Hasan <[email protected]>
Kepada: Ki Sunda <[email protected]> 
Dikirim: Sabtu, 12 Mei 2012 19:00
Judul: [kisunda] Sukhoi - Neraka di Langit Indonesia?
  

 
   
 
Sabtu, 12 Mei 2012 | 18:31 WIB 
Neraka di Langit Indonesia: Seluler dan Sex Phone   
TEMPO.CO, Jakarta -Pilot senior Garuda Indonesia Jeffrey Adrian mengungkapkan 
keluhan 
banyak pilot asing saat terbang di langit Indonesia. Area udara 
Indonesia, dalam penilaian para pilot asing itu bagai neraka bagi 
mereka. “Mereka bilang seperti masuk neraka,” kata dalam diskusi di 
Cikini, Jakarta, Sabtu, 12 Mei 2012. " Disebut neraka karena banyak 
kebocoran frekuensi radio dan telepon seluler"

Karenanya, menurut Jeffrey, banyak rembesan siaran 
radio dan telepon masuk ke ruang kemudi pesawat. Akibatnya, aktivitas 
penerbangan pilot terganggu. “Kami sering dengar lagu dangdut, drama, 
jazz, masuk frekuensi kami" kata  Jeffrey, yang juga pilot pembalap. 
"Pembicaraan tertentu antara orang per orang juga terdengar. Malah saya 
pernah dengar suara sex phone di atas, dari ruang kemudi pesawat,” 

Bocornya frekuensi itu mau tak mau membuat pilot harus 
ekstrakonsentrasi saat berkoordinasi dengan menara pengatur lalu lintas 
udara (ATC). “Sudah masuk pintu neraka, harus konsentrasi penuh 
mendengarkan petunjuk ATC,”  ujarnya.

Jeffrey menjelaskan, 
frekuensi bisa bocor karena banyak pemancar radio yang lebih memilih 
menguatkan sinyal, dibanding menambah stasiun pemancar. Sebaliknya, ATC 
pada umumnya hanya memiliki tiga frekuensi back-up. Hal ini menyebabkan 
pilot kerap mendapati “blank spot”.

Gangguan sinyal telepon 
seluler dinilai Jeffrey tak seberapa dibandingkan kebocoran frekuensi. 
Menurutnya, sinyal telepon seluler memang kadang mengganggu sistem 
kemudi. Tapi, kata dia, sejak awal pilot sudah dididik untuk tidak 
terpengaruh gangguan semacam itu.

“Bagi kami, kondisi seekstrim
 sekalipun, tanpa instrumen yang membantu, kami harus tetap 
mengendalikan pesawat. Kami tidak boleh terpengaruh pada sinyal 
handphone yang menyala,” kata dia.

ISMA SAVITRI
http://www.tempo.co/read/news/2012/05/12/173403460/Neraka-di-Langit-Indonesia-Seluler-dan-Sex-Phone
  
      

Kirim email ke