typical orang indonesia mayoritas...
teu di kantor, teu di jalan, teu di mall, teu di jalan tol, mirip2 jiga
kitu

boa2 memang aya hubunganna kejadian kamari jeung pengalaman di handap eta.
boa...

2012/5/21 irpan rispandi <[email protected]>

> **
>
>
> *Boa-boa tragedi Sukhoi kamari teh aya hubunganna jeung carita ieu nya.
> Tapi mudah-mudahan henteu ^_^*
>
> *
> *
>
> *From:* [email protected]
> *Date:* May 17, 2012 3:10:51 PM GMT+07:00
> *To:* [email protected]
> *Subject:* *[Jalansutra] OOT : Sidak ATC*
> *Reply-To:* [email protected]
> Rasanya penting juga untuk diketahui para JSers, yang biasa memakai jasa
> perhubungan udara
>
> SIDAK ATC Dahlan Iskan
>
> Minggu, pukul 06.00 wib, saat jalanan di Jakarta masih lengang, mobil
> Mercy L 1 JP melaju kencang menuju bandara Soekarto Hatta. Penumpangnya
> hanya berempat. Pak Menteri BUMN, aku dan pak Jusak. Pak Dis duduk di depan
> kiri berdampingan dengan Zahidin, sopir pribadinya. Sedangkan aku dan pak
> Jusak, duduk di belakang. Kami berdua seperti juragan di mobil mewah itu.
> Terlihat beberapa botol air mineral dan camilan kecil tersedia rapi. Juga
> ada permen. ''Kita berangkat pagi, karena aku pingin mampir ATC (Auto
> Traffic Control) di Soeta,'' kata pak menteri sambil menggulung lengan hem
> bergaris-garis warna biru yang dikenakan. Sesegera mungkin, tas kopor
> kutarik dan kumasukkan ke dalam bagasi mobil berwarna hitam metalik itu.
>
> Sepinya jalanan ibukota, membuat Zahidin tancap gas full. Tidak sampai 1
> jam, perjalanan menuju bandara Soeta dari Capital Residence, dilalui tanpa
> hambatan. Lucunya, saat sampai di pintu gerbang Perum Angkasa Pura (PAP),
> mobil melaju pelan. Pak menteri bergegas menurunkan kaca sambil menyapa
> sekurity dan satpam yang tengah berjaga. ''Pagi, pak. Permisi, ya'' sapa
> pak Dis dengan ramah. Belum sempat menjawab, mobil yang membawa kita melaju
> menuju sebuah gedung paling ujung. Rupanya gedung ini adalah tempat paling
> vital milik PAP. Karena di gedung inilah letak berbagai mesin pengontrol
> lalu lintas udara yang ada di bandara Soeta.
>
> Belum sampai di tempat parkir, terdengar peluit dari security yang kita
> lalui. Dari belakang, kulihat petugas jaga yang ada di pos, berlari-lari
> menghampiri mobil kami. Dengan wajah garang, seorang petugas berbadan agak
> tambun menyuruh mobil kami kembali. Alasannya, tempat terlarang dan tidakb
> oleh sembarangan orang masuk. Untuk urusan itu, pak Dis menyerahkan pada
> Zahidin. Sepintas, kulihat ada adu argumentasi antara sopir pribadi pak Dis
> dengan petugas security. Sedangkan Pak Jusak buru-buru mencari toilet. Apa
> yang terjadi, aku tidak tahu pasti. Bagiku, mengikuti langkah pak Dis yang
> sangat cepat, lebih penting. Setengah berlari, kuikuti langkah pak Dis
> menuju sebuah gedung yang salah satu mejanya bertuliskan receptionis.
> ''Pagi, Assalamulaikum, permisi,'' sapa pak Dis. Ternyata, ruangan itu
> kosong. Tak ada jawaban. Namun demikian, Pak Dis tetap bertahan dan
> berusaha memasuki ruang demi ruang yang ada sambil melihat-lihat keadaan.
> Kotor dan perlatan kantor berserakan tidak pada tempatnya. Disamping itu,
> terlihat meja kerja maupun meja tamu, terdapat botol air menieral, bekas
> piring makan dan satu lagi, asbak penuh puntung rokok. Padahal, ruangan itu
> full AC. Dingiiiiiin.
>
>
> Bagiku, ini aneh. Meskipun minggu dikenal hari libur bagi masyarakat umum,
> tidak demikian dengan PAP dan dunia airline. Hari libur, justru hari-hari
> sibuk bagi instansi yang ada dalam salahs atu BUMN tersebut. Makanya, ada 3
> shift yang diberlakukan bagi karyawannya di bagian ini. Belum tuntas
> keanehanku, muncul suara nyanyian dari laki-laki yang ada di dalam ruangan
> yang ada di televisinya itu. Akupun kembali mengeraskan suaraku mengucapkan
> salam. Bukan jawaban salam, yang kuterima, malah semprotan sinis. ''Siapa
> sih lo, pagi-pagi gini. Berisik amat,'' demikian jawab laki-laki berseragam
> dengan wajah ketus. Begitu melihat wajahku, laki-laki lain muncul dengan
> suara tak kalah garang. ''Siapa yang suruh masuk ke sini,'' katanya dengan
> suara lebih keras. Akupun tak mau kalah. ''Mana bosmu, pak menteri pingin
> ketemu,'' jawabku dengan tak kalah garang. Mendengar suara galakku,
> laki-laki yang ada di dalam, ikutan keluar. Sampai akhirnya ada lima orang
> lelaki yang bersiap menghadapiku. Saat kutoleh ke belakang, pak Dis
> buru-buru beranjak pergi. Pak Dis keluar dan mencari-cari sendiri ruangan
> ATC. Akupun bergegas mengikuti langkah gesitnya. ''Lho, bukannya itu pak
> Dahlan Iskan ya,'' kata dua petugas yang masih muda dan ganteng. Tanpa
> menjawab, akupun pergi berlari menguntit langkah pak Dis dari belakang.
>
> Kulihat, ada perubahan wajah pak Dis dari yang sebelumnya ramah, agak
> kecut. HP blakberry warna hitam dikeluarkan dan memencet nomor telepon.
> Sambil terus berjalan, pak Dis menelepon seseorang. ''Assalamulaikum,
> selamat pagi mas. Mohon maaf, mengganggu libur anda ya. Sory, nih, saya
> nuwun sewu, dan kulo nuwun, ingin melihat ATC. Melihat komputer yang baru
> kita beli kemarin. Nuwun sewu lho, mas,'' ucap pak menteri. Rupanya, pak
> Dis menelpon bos PAP yang tengah menikmati libur minggu. ''Tidak usah,
> tidak usah. Biar saya sendiri saja yang mencari. Saya sudah ada di dalam
> kantor anda kok ini. Cuma mencari-cari belum ketemu,'' ucap pak menteri
> sambil terus membuka-buka pintu ruangan yang dilalui. Rupanya, sebelum itu,
> pak Dis sudah pernah berkunjung. Hanya saja, lupa tempatnya. Meski
> demikian, pak Dis tidak putus asa. Sampai akhirnya, ada ruangan yang
> bertuliskan ATC. Bergegas, pak Dis masuk. ''Nah, ini dia,'' ucapnya dengan
> wajah berbinar.
>
> Akupun mengikuti langkah pak Dis. Benar. Di ruangan yang agak tersembunyi
> itu, terdapat sebuah ruangan khusus. Di dalam ruangan itu ada beberapa
> orang bekerja. Sambil mengucapkan salam, pak Dis menyalami satu persatu
> karyawan yang tengah bertugas. Tentu saja mereka kaget. Tidak mengira, jika
> ruangan mereka dikunjungi menteri. Beberapa orang yang tadinya santai,
> terlihat kembali ke komputernya. Begitu juga yang tengah merokok,
> meletakkan putung rokoknya di asbak yang ada di sampingnya. ''Wah, nglembur
> ya. Maaf, saya menganganggu,'' ucap pak Dis sambil bertanya-tanya pada
> karyawan yang berkerja kala itu. Setelah meminta penjelasan bagian apa
> ruangan yang tengah didatangi, pak Dis minta ditunjukkan tangga menuju
> tower ATC. ''Wah, disini perokok semua ya,'' kata pak Dis setengah
> menyindir. Kudengar ada yang menjawab dan ada yang membisu, sambil
> mematikan putung rokoknya. Beberapa orang, kulihat sibuk menelepon. Entah
> siapa yang ditelepon.
>
>
> Pastinya, ada dua orang lelaki yang memperkenalkan diri sebagai supervisor
> menjadi penunjuk jalan menuju tower. Kamipun berjalan menuju ruangan yang
> ditunjukkan. ''Di sini pak. Mari,'' ucap lelaki bertubuh tegap yang
> mengenakan hem kuning muda. Di depan pintu masuk ruangan itu, terdapat
> tulisan ''dilarang masuk'' dan tulisan ''steril''. Selain itu juga ada
> tulisan ''jagalah kebersihan''.
>
> Karena tempatnya steril, tanpa diminta pak Dis mencopot sepatu ketsnya.
> Apalagi di tempat itu juga terdapat rak sepatu. ''Di sini tidak sembarang
> orang boleh masuk, pak,'' kata petugas tadi menjelaskan ruangan khusus itu.
> Pak Dis hanya manggut-manggut. Setelah itu, kami diajak naik ke sebuah
> tangga. Kalau tidak salah, ada 10 anak tangga yang kami naiki. Di ujung
> anak tangga, terdapat sebuah ruangan yang dipintunya bertuliskan ''yang
> tidak berkepentingan di larang masuk''. Rupanya, kita diajak ke sebuah
> ruangan kontrol yang seluruh ruangannya full komputer. Suasananya ramai.
> Sedikitnya ada 30 komputer berbagai ukuran. Masing-masing komputer ada
> seorang operatornya. Cuma sayang, ruangan yang super dingin itu tidak
> sesteril, seperti slogan yang dituliskan. Buktinya, di samping meja
> komputer, ada beberapa makanan. Mulai makanan kecil, sampai piring bekas
> makan mie. Tragisnya, ruangan ber suhu super dingin itu terdapat beberapa
> asbak ukuran 1 meter. Sangat kontradiksi, memang.
>
>
> STRES
>
> Melihat ini semua, pak Dis bertanya-tanya. ''Kenapa masih ada rokok dan
> bekas makanan di ruangan ini? Katanya steril,'' ucap pak Dis serius.
> Kulihat, leki-laki yang mengaku supervisor itu gelagapan. ''Oh, iya pak.
> Rokok itu untuk menghilangkan stres saja. Kalau tidak, temen-teman tidak
> bisa konsentrasi dalam memantau jalur-jalu penerbangan,'' jawab lelaki itu
> sekenanya. ''Oh, gitu ya. Kalau stres ya gak usah bekerja saja. Cukup di
> rumah. Di sini kan butuh orang sehat. Bukan untuk orang stres,'' jawab pak
> Dis tak mau kalah. Melihat jawaban itu, lelaki tadi tersenyum kecut. ''Iya,
> pak. Siap,'' jawabnya dengan wajah pucat. ''Tolong ya, pak. yang stres
> diistirahatkan saja,'' tambah pak Dis. Setelah itu, pak Dis minta
> penjelasan tentang komputer raksasa yang baru saja didatangkan oleh
> kementeriannya. Setelah itu, pak Dis berkeliling dan melihat sekeliling.
> Begitu melihat ada piring makan, sendok, mangkuk dan beberapa bekas
> pembungkus mie, pak Dis berucap lagi. ''Lebih komplit disini, dibuka kantin
> atau resto ya,'' ucapnya sinis. Sindiran ini ternyata direspon positif.
> Buktinya, beberapa lelaki yang sebelumnya mengikuti langkah kita, buru-buru
> menugasi kawannya membersihkan bekas makanan, piring atau apa saja yang ada
> di meja sekitar komputer. Akupun hanya senyum-senyum melihat karyawan di
> bagian komputer itu kelabakan.
>
> KONSER
>
> Puas berkeliling, pak Dis minta ditunjukkan tower tempat mesin ATC berada.
> Sesuai namanya, Tower ini merupakan bagian tertinggi yang ada di bandara
> Soeta. Tower inilah tempat paling vital dari setiap bandara. Karena di
> tempat inilah komunikasi antara petugas dengan pilot pesawat untuk minta
> ijin landing atau take off pesawat. Sial. Meskipun tempat ini bisa
> dikatakan jantungnya bandara, tidak seperti yang digambarkan. Super
> sterilnya tidak tampak. Puntung rokok juga masih ada di beberapa tempat.
> Bahkan, sebuah asbak tinggi, juga disiapkan. Pak menteri, kembali kecewa.
> Peralatan serba canggih dan super mahal, tidak diimbangi dengan attitude
> operatornya. Ketika ditanya mengapa masih ada puntung dan asbak, petugas
> tadi berkata lugu.
>
> ''Biasanya kalau teman-teman panik, pelampiasannya memukul-mukul berbagai
> alat yang ada untuk pelampiasan kegalauan sambil menyanyi-nyanyi, pak.
> Apalagi jika cuacanya buruk seperti akhir-akhir ini,'' ujar petugas yang
> bertanggung jawab di bagian tower. Pak Dis pun mendengar dengan serius
> jawaban petugas tersebut. ''Oh begitu. Bagus, bagus,'' jawab menteri
> kelahiran Takeran sambil mengangguk-anggukkan kepala. Sejenak, pak Dis
> minta penjelasan secara rinci, bagaimana dan apa keluhan yang dirasakan
> karyawan di bagian tower itu. Puas, pak Dis mengajak beberapa supervisor
> turun. Di sebuah ruangan kecil, pak Dis mengatakan, bahwa semua keluhan
> akan ditindak lanjuti. Utamanya, masalah stres dan menabuh bunyi-bunyian di
> bagian tower sebagai pelampiasan kegalauan karyawan.
>
> ''Ita, tolong, bapak-bapak ini anda beri penjelasan, bagaimana kinerja
> kita di Jawa Pos dulu. Bila perlu, besok, yang dibagian tower dibuatkan
> orkestra untuk konser musik. Anda kan mantan wartawan musik toh, jadi
> gampang untuk mengatur mereka,'' kata pak Dis kepadaku. Mendengar ucapan
> pak Dis kepadaku, beberapa supervisor tadi hanya menganggukkan kepala.
>
> Jelas sekali, jika pak Dis kecewa. Jelas, bila pak menteri gundah.
>
> DOSEN
>
> Sampai akhirnya, akupun angkat bicara. Pada saat pak menteri mengenakan
> sepatu, akupun memberi pencerahan. Seperti seorang guru, akupun mengisahkan
> bagaimana sterilnya ruangan redaksi Jawa Pos. Bapak-bapak, kataku memulai
> ''ceramah'' kecil''. Di Jawa Pos, peralatannya juga canggih karena ada alat
> cetak jarah jauh dan lain sebagainya yangberkaitan dengan satelit. Untuk
> menjaga itu semua, bukan berarti karyawan yang merokok tidak boleh merokok.
> Boleh. Asalkan di luar ruangan. Begitu juga dengan makan. Semuanya boleh
> dilakukan. Karena merupakan kebutuhan utama manusia. Namun, semuanya itu
> harus dilakukan pada tempatnya. Untuk merokok, haruslah di luar ruangan. Di
> dalam ruang redaksi, harus steril. Jadi, kataku lebih lanjut, tolong, di
> sediakan ruangan merokok bagi yang merokok. Sehingga, selain ruangan ber AC
> jadi segar dan bersih, peralatan super canggih yang dibelikan dengan uang
> rakyat bisa diperlihara dengan aman. Melihat aku berceramah seperti dosen
> di depan mahasiswa, pak Dis menahan senyum sambil pura-pura sibuk
> membetulkan tali sepatunya.
> Oalah....rek....rek. Dadi opo aku iki. Setelah itu, kamipun pamitan
> pulang. Di tengah perjalanan menuju mobil, kulihat ada seorang pejabat yang
> buru-buru hendak menemui kami. ''Mana pak menteri Dahlan,'' tanyanya
> kepadaku. Akupun segera menunjukkan dengan tanganku ke arah belakang.
> Kulihat pak Dis sibuk menelpon di temani tiga orang supervisor yang tadi
> kukuliahi. Sayup-sayup, ku dengar, pejabat yang berlari-lari itu meminta
> maaf pada pak Dis karena keterlambatannya itu. ''Maaf pak. Tadi saya ada di
> tempat lain,'' ucapnya memberi alasan. Akupun berlari menuju toilet karena
> dinginnya ruangan ''steril'' tersebut.
>
> (bandara Soekarno-Hatta medio februari 2012)
>
> dituturkan oleh Siti Ita Nasyi'ah wartawan di Majalah Kartini
>
>
> ------------------------------------
>
> Jalansutra
> "Sekali Jalan-jalan Terus Makan-makan!"
> Kunjungi WebJS di www.jalansutra.or.id. Join di
> Twitter: Jalansutra. Facebook: Jalansutra
> Ikuti acara jalan-jalan paling Mak Nyuss bersama TourJS. Ikuti beritanya
> di WebJSYahoo! Groups Link
>
>  
>



-- 
Dikdik

>>gowes 4life, gowes 4ever<<

Kirim email ke