sumuhun. abdi reuwas. jiga anu embung katempo "hal-hal anu
disumputkeun" dina sajarah. dibersihkan sangkan putus tina jejak
sajarah. Euleuh, jigana mah mun Buya Hamka hirup keneh manehna bakal
nyieun novel: Di Bawah Kehancuran Ka'bah, lain Di Bawah Lindungan
Ka'bah. He3

Pada tanggal 12/11/12, Waluya <[email protected]> menulis:
> Maca Catatan Pinggir Gunawan Mohamad dihandap ieu, kuring ngajenghok, euleuh
> kutan teh kitu?
>
> http://www.tempo.co/read/caping/2012/11/04/128552/Mekah
>
> Mekah
> Minggu, 04 November 2012
>
> Betapa berubahnya Mekah. Duduk di salah satu sudut Masjidil Haram ketika
> matahari meredakan panasnya, kita bisa merasakan bayang-bayang sebuah
> bangunan
> yang menjangkau langit dari arah Selatan.
>
> Memang: di seberang gerbang Baginda Abdul Aziz, berdiri sebuah
> super-gedung,
> (baru diresmikan Agustus tahun ini), yang disebut Abraj al Bait. Raksasa
> ini
> lebih dari 600 tingginya: menara waktu yang paling jangkung sedunia. Empat
> muka
> jam di puncaknya masing-masing berbentuk mirip Big Ben di London, meskipun
> mengalahkannya dalam ukuran: diameternya masing-masing 46 m, dengan jarum
> panjang yang melintang 22 meter. Dan berbeda dari Big Ben, di jidatnya yang
> diterangi dua juta lampu LED tertulis Çááå ÃßÈÑ, "Allahu Akbar."
>
> Di Abraj al Bait ada 20 lantai pusat perbelanjaan dan sebuah hotel dengan
> 800
> kamar. Juga tempat tinggal. Garasenya bisa menampung 1000 mobil. Tapi para
> tamu dan penghuni juga bisa datang dengan helikopter (ada lapangan untuk
> menampung dua pesawat), karena ini memang tempat bagi mereka yang mampu
> menyewa,
> atau memiliki, kendaraan terbang itu. Ongkos semalam di salah satu kamar di
> Makkah Clock Royal Tower bisa mencapai 7.000.000 rupiah.
>
> Dari ruang yang disejukkan AC itu orang-orang dengan duwit berlimpah bisa
> memandang ke bawah — ya, jauh ke bawah — mengamati ribuan muslimin yang
> bertawaf
> mengelilingi Kaabah bagai semut yang berputar mengitari sekerat coklat.
>
> Saya tak bisa membayangkan, bagaimana dari posisi itu akan ada orang yang
> bisa
> menulis seperti Hamka di tahun 1938. Apa kini artinya "di bawah lindungan
> Kaabah"? Justru kubus sederhana tapi penuh aura itu yang sekarang
> seakan-akan
> dilindungi gedung-gedung jangkung, terutama Abraj al Bait yang begitu megah
> dan
> gemerlap — dengan 21.000 lampunya yang memancar sampai sejauh 30 km dan
> membuat
> rembulan di langit pun mungkin tersisih.
>
> Betapa berubahnya Mekah. Atau jangan-jangan malah berakhir. "It is the end
> of
> Mekkah", kata Irfan al-Alawi, direktur pelaksana Islamic Heritage Research
> Foundation di London kepada The Guardian. Nada suaranya murung seperti juga
> suara Sami Angawy.
>
> Hampir 40 tahun yang lalu arsitek ini mendirikan Pusat Penelitian Ibadah
> Haji di
> Jeddah. Dengan masygul ia menyaksikan transformasi Mekah berlangsung di
> bawah
> kuasa para pengusaha properti dan pengembang. "Mereka ubah tempat ziarah
> suci
> ini jadi mesin, sebuah kota tanpa identitas, tanpa peninggalan sejarah,
> tanpa
> kebudayaan dan tanpa lingkungan alam. Bahkan mereka renggut gunung dan
> bukit."
> Angawy, 64 tahun, mungkin terlalu romantis. Ia mungkin tak mau tahu hukum
> permintaan dan penawaran: jumlah orang yang pergi haji makin lama makin
> naik;
> kalkulasi masa depan mendesak. Mekah harus siap. Tapi Angawy justru melihat
> di
> situlah perkaranya. Ia menyaksikan "lapisan-lapisan sejarah" Mekah
> dibuldoser
> dan dijadikan lapangan parkir.
>
> Akhirnya ia, yang lahir di Mekah, menetap di Jeddah, di rumah pribadinya
> yang
> didesain dengan gaya tradisional Hijaz. Ketika Abraj al Bait dibangun
> seperti
> Big Ben yang digembrotkan ("meniru seperti monyet", kata Angawy) ia merasa
> kalah
> total. Ia lebih suka tinggal di Kairo.
>
> Tapi bisakah transformasi Mekah dicegah? Kapitalisme membuat sebuah kota
> seperti
> seonggok besi yang meleleh, untuk kemudian dituangkan dalam cetakan yang
> itu-itu
> juga. Dengan catatan: dalam hal Mekah, bukan hanya karena "komersialisasi
> Baitullah" kota suci itu hilang sifat uniknya. Angawy menyebut satu faktor
> tambahan yang khas Arab Saudi: paham Wahabi.
>
> Wahabisme, kata Angawy, adalah kekuatan di belakang dihancurkannya
> sisa-sisa
> masa lalu. Dalam catatannya, selama 50 tahun terakhir, sekitar 300 bangunan
> sejarah telah diruntuhkan. Paham yang berkuasa di Arab Saudi ini hendak
> mencegah orang jadi "syrik" bila berziarah ke petilasan Nabi, bila
> menganggap
> suci segala bekas yang ditinggalkan Rasulullah – dan sebab itu harus
> disembah.
>
> Sejarah Arab Saudi mencatat dihapusnya peninggalan sejarah itu secara
> konsisten.
> April 1925, di Madinah, kubah di makam Al-Baqi' diruntuhkan. Beberapa
> bagian
> qasidah karya al-Busiri (1211–1294) yang diukir di makam Nabi sebagai himne
> pujaan ditutupi cat oleh penguasa agar tak bisa dibaca. Di Mekah, makam
> Khadijjah, isteri Nabi, dihancurkan. Kemudian tempat di mana rumahnya dulu
> berdiri dijadikan kakus umum.
>
> Contoh lain bisa berderet, juga protes terhadap tindakan penguasa Wahabi
> itu. Di
> awal 1926, di Indonesia berdiri "Komite Hijaz" di kediaman K. H. Abdul
> Wahab
> Khasbullah di Surabaya, ekspresi keprihatinan para ulama.
>
> Reaksi dari seluruh dunia Islam itu berhasil menghentikan destruksi itu.
> Tapi
> kini, di abad ke-21, Wahabisme dan kapitalisme bertaut, dan Mekkah berubah.
>
> Mengherankan sebenarnya. Di sebuah tulisan dari tahun 1940 Bung Karno
> mengutip
> buku Julius Abdulkarim Germanus, Allah Akbar, Im Banne des Islams. Di sana
> Bung
> Karno menggambarkan kaum Wahabi sebagai orang-orang yang dengan keras dan
> angker
> mencurigai "kemoderenan"; mereka bahkan membongkar antena radio dan menolak
> lampu listrik. Tapi kini, seperti tampak di kemegahan Abraj al Bait bukan
> hanya
> lampu listrik yang diterima, tapi juga transformasi Mekah jadi semacam
> London &
> Las Vegas. Apa yang terjadi?
>
> Mungkin sikap dasar Wahabisme tak berubah. Menghapuskan petilasan
> (menidakkan
> masa lalu), sebagaimana menampik "kemoderenan", (menidakkan masa depan)
> adalah
> sikap yang anti-Waktu. Jam besar di Abraj al Bait itu akhirnya hanya
> menjadikan
> Waktu sebagai jarum besi. Benda mati. Dan bagi yang menganggap Waktu benda
> mati, yang ada hanya rumus-rumus ibadah tanpa proses sejarah.
>
> Tapi apa arti perjalanan ziarah, tanpa menapak tilas sejarah dan menengok
> yang
> pedih dan yang dahsyat di masa silam?
>
> Mungkin piknik instan ke kemewahan.
>
> Goenawan Mohamad
>
>
>
>
>
>
>
>
>
>
>


------------------------------------

Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/kisunda/

<*> Your email settings:
    Individual Email | Traditional

<*> To change settings online go to:
    http://groups.yahoo.com/group/kisunda/join
    (Yahoo! ID required)

<*> To change settings via email:
    [email protected] 
    [email protected]

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [email protected]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/

Kirim email ke