Asa remen nu ngocoblak perkara pamingpin Sunda teh. Kudu kitu, kudu kieu. Asa loba teuing syaratna, tapi hese neangan conto kongkritna. Mana nu kudu diheulakeun,haben ngabahas syarat pamingpin, kudu jiga kitu, kudu jiga kieu, atawa jieun we godog jadikeun pamingpin heula, syarat mah engke deui, jiga Ken Arok. ===
Pemimpin Orang Sunda Harus Memiliki Prestasi dan Kemampuan Sabtu, 17/11/2012 - 15:23 BANDUNG,(PRLM).-Mendapat dukungan dari partai saja belum cukup untuk sosok pemimpin Sunda. Memiliki kemampuan serta prestasi dari dalam maupun luar negeri menjadi syarat khusus yang harus dipenuhi agar pemimpin Sunda agar kepemimpinan yang dipegang bukan karena jabatan politis ataupun pemberian. Demikian sejumlah tokoh Sunda menegaskan tentang sosok dan figur orang Sunda yang akan berkiprah dijajaran kepemimpinan masa depan, pada acara dengar pendapat “Ti Sunda Keur Indonesia.....?”, Sabtu (17/11) bertempat di ruang utama Gedung Pasca Sarjana Universitas Pasundan (Unpas) Jalan Sumatra 41 Bandung. “Sosok pimpinan dari Sunda yang dipilih bukan hanya karena partisan ataupun pemberian, tapi benar-benar mereka yang memiliki kemampuan dan prestasi secara nasional maupun internasional,” ujar Tjetje H.Padmadinata, saat diberi kesempatan untuk memaparkan pendapatnya tentang sosok figur pemimpin dari Sunda dihadapan sejumlah tokoh Sunda, Budayawan. Dikatakan Tjetje, selama ini tokoh Sunda yang selalu diusung dan dijadikan figur adalah karena kedekatan ataupun mendapat dikungan partai dan kelompok. Padahal seorang tokoh Sunda yang memiliki prestasi dan kemampuannya diakui lebih terhormat dimata pimpinan maupun suku lain. Hal yang tidak boleh dilupakan, menurut Tjetje adalah sosok atau figur orang Sunda yang kurang muncul dari kalangan generasi muda. “Sudah saatnya kita sebagai orang tua harus memberikan dukungan serta kesempatan kepada generasi muda untuk tampil dan menjadi sosok pemimpin dari Sunda, dan tahun 2012 atau 2013 jangan menjadi target mendorong munculnya pemimpin dari Sunda tapi harus terus diusahakan agar lahirnya pemimpin-pemimpin Sunda,” ujar Tjetje. Senada dengan Tjetje tentang sosok dan figur pemimpin dari Sunda juga diungkapkan oleh Tato Pradjamanggala dan Jend (Purn) Ajat Sudrajat serta Jend (Purn) Ahmad Rustandi. “Kita harus merasa malu kalau ada pemimpin dari Sunda yang menduduki posisi bukan karena prestasi maupun kemampuan yang dimiliki, dan kalau tidak berprestasi siapa yang akan memilih,” ujar Jend (Purn) Ahmad Rustandi. Ditegaskan Ahmad Rustandi, saat ini dimana kompetisi memperebutkan pucuk kepemimpinan sudah sedemikian ketat sangat kecil kemungkinan mendapatkan posisi (pimpinan) karena kedekatan. “Memiliki prestrasi serta kemampuan menjadi syarat mutlak untuk menjadi pimpinan seperti yang dicontohkan oleh para pendahulu kita,” ujar Ahmad Rustandi. Sementara Tb. Hasanuddin, mengatakan ada banyak kelemahan dari pemimpin yang berkiprah dalam lembaga pemerintahan negara. Selain kurang mendapat dukungan untuk bersama-sama maju dan memberikan kontribusi kepada negara, selain itu orang Sunda yang sudah menjadi pemimpin atau berada dijajaran pemimpin lupa akan sosok dirinya sebagai orang Sunda. “Bahkan tidak sedikit dari mereka yang merasa malu mengatakan sebagai orang Sunda. Seperti yang terjadi pada masa era (presiden) Suharto, tidak sedikit pempimpin kita yang berkata sebagai kelahiran tanah Sunda tapi lama di Solo sekian tahun, lama di Jogyakarta beberapa tahun, dirinya tidak mengatakan bahwa saya orang Garut,” ujar Tb.Hasanudin. Sementara seniman dan budayawan, Acil Bimbo menegaskan bahwa orang Sunda jangan bermimpin untuk memberikan kontribusi kepada Indonesia sebagai negara NKRI. “Karena orang Sundanya sendiri sudah lupa akan tanah kelahirannya, mereka mendiamkan tanah leluhurnya dirusak dan dikuasai, bahkan mereka yang berusaha mempertahankan justru dijelek-jelekan,” ujar Acil yang hanya berbicara beberapa saat karena audiens cenderung mengobrol dan kurang memerhatikan orang yang sedang diberi kesempatan berbicara didepan. Calon Gubernur Jabar dari Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan, Diah Pitaloka yang juga diberi kesempatan untuk menyampaikan pendapatnya, mengatakan bahwa sudah saatnya dari tanah Sunda muncul sosok pemimpin yang diakui secara nasional maupun internasional. “Kontribusi dan kiprah para pemimpin dari tanah Sunda sudah dilakukan sejak lahirnya Sumpah Pemuda maupun upaya kemerdekaan yang dilakukan Bung Karno di tanah Parahyangan ini, kenapa saat ini belum kembali lahir pemimpin seperti dulu,” ujar Diah Pitaloka. Seharusnya menurut Diah Pitaloka, orang Sunda, khususnya Jawa Barat harus merasa malu karena saat ini belum muncul figur-figur pemimpin bangsa dari kalangan generasi muda di tanah Sunda. “Sejumlah perguruan tinggi ada di Jawa Barat ini, seperti IPB, ITB, Unpad, dan lainnya, tapi kenapa tidak sedikit dari mereka yang memilih bekerja sebagai teller bank,” ujar Diah Pitaloka. Acara yang digagas Paguyuban Pasundan berlangsung cukup singkat dan masih banyak tokoh Jawa Barat maupun tokoh Sunda yang berniat untuk memberikan pendapatnya terpaksa mengungkapkan saat makan siang. Selain Tjetje H.Padmadinata, Tato Pradjamanggala, Jend (Purn) Ajat Sudrajat, Jend (Purn) Ahmad Rustandi, Tb. Hasanuddin, Acil Bimbo dan Diah Pitaloka, juga tampak Iwan Sulanjana, Edi Darnadi, Memet Hamdan, Sutrisno dan masih banyak lagi. (A-87/A-107)*** http://www.pikiran-rakyat.com/node/211587
