Hade pisan tulisan ieu

-----Original Message-----
From: ahmad sahidin <[email protected]>
Sender: [email protected]
Date: Thu, 22 Nov 2012 10:41:43 
To: apisejarah milis<[email protected]>; Baraya 
Sunda<[email protected]>; Ki Sunda<[email protected]>; 
CahayaIslam<[email protected]>; 
sosiologibudaya<[email protected]>
Reply-To: [email protected]
Subject: [kisunda] Mengapa Iran Tak Serang Israel?

By Dina Y. Sulaiman

http://dinasulaeman.wordpress.com/2012/11/21/mengapa-iran-tak-serang-israel/
Mengapa Iran Tak Serang Israel?

Oleh: Dina Y. Sulaeman
Pertanyaan ini sering muncul di dalam berbagai diskusi di dunia maya,
"Kalau Iran betul-betul anti-Israel, mengapa Iran sampai sekarang
tidak jua menyerang Israel?" Pertanyaan ini konteksnya adalah menuduh
Iran omdo (omong doang), bahkan ada yang lebih parah lagi, menggunakan
teori konspirasi, "Ini bukti bahwa ada kerjasama di balik layar antara
Iran dan Israel."
Bila memakai kalkulasi hard power, harus diakui bahwa sebenarnya
kekuatan Iran masih jauh di bawah AS. Apalagi, doktrin militer Iran
adalah defensive (bertahan, tidak bertujuan menginvasi negara lain).
Iran hanya menganggarkan 1,8% dari pendapatan kotor nasional (GDP)-nya
untuk militer (atau sebesar 7 M dollar). Sebaliknya, AS adalah negara
dengan anggaran militer terbesar di dunia, yaitu 4,7% dari GDP atau
sebesar  687 M dollar. Bahkan, AS telah membangun pangkalan-pangkalan
militer di berbagai wilayah di sekitar Iran. AS adalah pelindung penuh
Israel dan penyuplai utama dana dan senjata untuk militer Israel.
Bujet militer Israel sendiri, pertahunnya mencapai 15 M Dollar (dua
kali lipat Iran).
Sebelum menjawab 'mengapa Iran tidak langsung menyerang Israel'?, mari
kita jawab dulu pertanyaan sebaliknya, mengapa AS dan Israel tidak jua
menyerang Iran? AS sebenarnya tidak berkepentingan menyerang Iran.
Tetapi, Israel berkali-kali meminta AS untuk menyerang Iran dengan
alasan "Iran memiliki nuklir yang mengancam keselamatan Israel."
Ketika rezim Obama enggan menuruti permintaan Israel, Israel bahkan
mengancam akan menyerang Iran sendirian, tanpa bantuan AS. Untuk
menelaah prospek perang AS+Israel melawan Iran, Anthony Cordesman dari
Center for Strategic and International Studies merilis hasil
penelitiannya pada bulan Juni 2012.  CSIS melakukan kalkulasi bila AS
dan Israel menyerang Iran, antara lain menghitung berapa banyak
pesawat pengebom yang dibutuhkan, berapa banyak bom yang harus dibawa,
apa kemungkinan serangan balasan dari Iran, dan bagaimana cara
menghadapinya.
Salah satu kesimpulan yang diambil Cordesman adalah, profil militer
Israel tidak akan mampu melakukan serangan tersebut. Untuk menyerang
Iran, Israel harus mengerahkan seperempat pasukan udaranya dan semua
pesawat tempurnya, sehingga tidak ada pesawat cadangan untuk
berjaga-jaga. Pesawat-pesawat tempur itu harus melewati perbatasan
Syria-Turki sebelum terbang di atas udara Irak and Iran. Dan
wilayah-wilayah tersebut, sangat rawan bagi Israel. Menurut Cordesman,
"Berdasarkan jumlah pesawat yang diperlukan, proses pengisian bahan
bakar yang harus dilakukan sepanjang perjalanan menuju Iran, serta
usaha mencapai target gempuran tanpa terdeteksi sangatlah beresiko
tinggi dan kecil kemungkinan keseluruhan operasi militer tersebut akan
berhasil."
Dan bahkan jika pesawat tempur Israel berhasil mengebom reaktor nuklir
Iran, pembalasan yang dilakukan Iran akan membawa dampak yang sangat
buruk bagi kawasan Timur Tengah. Cordesman menulis, "Anda tidak akan
ingin tahu seperti apa jadinya Timur Tengah sehari setelah Israel
berupaya menyerang Iran."
Karena itu, bila Israel berkeras ingin menyerang Iran, Israel harus
menggandeng AS. Tapi, bila AS menyetujui permintaan Israel ini, AS
harus mengerahkan ratusan pesawat dan kapal tempur. Serangan awal saja
sudah membutuhkan alokasi kekuatan yang sangat besar, termasuk
pengebom utama, upaya penghancuran system pertahanan  udara lawan,
pesawat-pesawat pendamping untuk melindungi pesawat pengebom,
peralatan perang elektronik, patrol udara untuk menahan serangan
balasan dari Iran, dll. Pada saat yang sama, AS harus menghalangi Iran
agar tidak melakukan aksi apapun di Selat Hormuz. Bila Iran sampai
berhasil memblokir Selat Hormuz, suplai minyak dan gas dunia akan
terhambat dan efeknya akan sangat buruk bagi perekonomian dunia. Dan
ini bukan pekerjaan mudah. Iran selama ini justru sangat memperkuat
kemampuan militernya demi mengontrol Selat Hormuz bila terjadi perang.
 Meskipun, AS juga sudah mempersiapkan banyak hal untuk menjaga agar
Hormuz tetap terbuka, antara lain dengan menempatkan berbagai
perlengkapan militer di Bahrain, Saudi Arabia, Qatar, Kuwait, dan UAE.
Namun inipun mengandung ancaman lain. Iran berkali-kali mengancam,
bila wilayahnya diserang, Iran akan melakukan serangan balasan ke
semua negara Arab yang di dalamnya ada pangkalan militer AS. Belum
lagi, Rusia dan China diperkirakan akan ikut campur demi mengamankan
kepentingan mereka sendiri di Timteng. Tak heran bila banyak analis
mengungkapkan ramalan bahwa Perang Dunia III akan meletus bila AS
sampai menyerang Iran.
Lihatlah situasinya: bila Israel dan AS menyerang Iran, artinya mereka
keluar dari wilayah mereka sendiri dan harus bersusah-payah mengusung
semua perlengkapan militernya. Lalu, urusan tidak selesai hanya dengan
menjatuhkan bom ke situs nuklir Iran. Serangan balik dari Iran, dan
posisi geostrategis Iran, sangat memberikan potensi kekalahan bagi AS
dan Israel. Karena itulah, Menhan Leon Panetta sampai berkata, "Sangat
jelas bahwa bila AS melakukan serangan itu, kita akan mendapatkan
akibat buruk yang sangat besar."
Sekarang mari kita balik: bagaimana seandainya Iran menyerang Israel?
Minimalnya, ada dua versi jawaban yang bisa diberikan sementara ini.

  1.  Berdasarkan kalkulasi hard power. Ingat lagi profil militer
Iran. Bisa dibayangkan, berapa banyak senjata yang dimiliki Iran
dengan dana 7 M Dollar pertahun, dibandingkan dengan banyaknya senjata
yang dimiliki AS dengan dana 687 M Dollar pertahun.  Bandingkan lagi
dengan kondisi 'seandainya Israel menyerang Iran' seperti yang sudah
dianalisis Cordesman di atas.   Kesimpulan yang bisa diambil adalah
saat ini, profil militer Iran memang belum mampu menyerang Israel
secara langsung, begitu juga sebaliknya, Israel juga belum mampu
menyerang Iran secara langsung. Sementara, AS punya hitung-hitungan
lain di luar sekedar menyerang Iran. AS akan menghadapi kehancuran
ekonomi yang sangat parah bila sampai mengobarkan perang terhadap
Iran.
Artinya, kedua pihak saat ini masih dalam posisi sama-sama bertahan.
Itulah sebabnya, retorika Iran selama ini memang selalu defensif: Iran
tidak mengancam akan menyerang, melainkan 'akan membalas bila ada yang
berani menyerang'. Seandainya Iran dalam posisi diserang dan membela
diri dari dalam negeri (bukan dalam posisi menyerang dan mengirimkan
pasukan ke luar wilayahnya) Iran sangat mungkin bertahan dan meraih
kemenangan, karena memiliki keunggulan geostrategis. Hanya dengan
memblokir Selat Hormuz, seluruh dunia akan merasakan dampak buruk
perang dan bahkan AS akan bangkrut sehingga tak akan mampu melanjutkan
perang.
Sebaliknya, untuk bisa maju perang (=secara ofensif mengirimkan
senjata dan pasukan ke luar wilayahnya), Iran tidak mungkin maju
sendirian. Bila negara-negara Arab, terutama yang berbatasan darat
dengan Palestina, belum siap berjuang, tentu sangat konyol bila Iran
harus mengirim pasukan ke Palestina yang jauhnya 1500 km dari Teheran.
Berapa banyak pasukan, pesawat tempur, dan rudal yang mampu dikirim
oleh Iran yang hanya punya anggaran 7 M Dollar pertahun?  Bila Mesir
saja yang pemerintahannya dikuasai Ikhwanul Muslimin (artinya,
seideologi dengan Hamas) masih menutup pintu perbatasannya dengan
Gaza; masih menolak untuk terjun langsung ke medan pertempuran membela
saudara se-harakah mereka, mengapa Iran yang di-ojok-ojok untuk
mengirim pasukan perang? Karena itu, dari sisi ini, hanya satu kata
untuk menilai pertanyaan 'mengapa Iran tidak langsung menyerang
Israel?' : naif.
2. Berdasarkan kalkulasi soft power. Sangat mungkin, di atas kertas,
profil militer Iran memang seperti yang diungkapkan di atas. Tapi,
bila diingat lagi percepatan kemajuan teknologi militer yang dicapai
Iran dan statemen beberapa petinggi militer Iran yang menyebutkan
bahwa kemampuan Iran 'jauh lebih besar dari apa yang terlihat', ada
aspek lain yang perlu dipertimbangkan. Iran adalah negara yang
berbasis teologi mazhab Syiah dan meyakini adanya aspek transenden
dalam setiap keputusan yang diambil oleh pemimpin spiritual mereka
(rahbar). Militer Iran pun berada di bawah wewenang rahbar, yang
sekarang dijabat Ayatullah Khamenei. Iran meyakini bahwa Ayatullah
Khamanei memiliki kemampuan transenden sehingga mengetahui kapan saat
yang tepat untuk maju perang. Orang lain boleh tidak percaya, tetapi
ini adalah urusan rakyat Iran sendiri.
Di sini, pertanyaan mengapa Iran belum juga menyerang Israel secara
langsung (seandainya memang kemampuan militernya sebenarnya sudah
mencukupi) akan mendapat jawaban sederhana saja: karena belum
diizinkan oleh sang Rahbar. Lalu, mengapa Rahbar belum memberi izin?
Silahkan dipikirkan sendiri, dengan mengaitkannya pada hal-hal yang
bersifat ideologis dan relijius; dan hal ini di luar kapasitas saya
untuk menjelaskan.
Intinya, perjuangan melawan Israel bukanlah perjuangan Iran saja. Ini
seharusnya menjadi perjuangan bersama semua negara-negara muslim. Dan
inilah yang terus diupayakan para pemimpin dan ulama Iran melalui
berbagai statemen dan orasinya: membangkitkan kesadaran dan semangat
juang kaum muslimin sedunia; sambil terus berupaya memperkuat profil
militernya. Ini bukanlah omdo (omong doang), tapi upaya yang memang
harus dilakukan sebelum mencapai kemenangan.
Akan tiba suatu masa ketika kaum muslimin sedunia bangkit bersatu dan
bersama-sama merebut kembali Al Quds dari tangan para penjajah. Inilah
janji Allah dalam QS 17:4-5, "Dan telah kami tetapkan terhadap Bani
Israel di dalam Alkitab: sesungguhnya kalian akan membuat kerusakan di
muka bumi ini dua kali dan kalian akan menyombongkan diri dengan
kesombongan yang besar. Dan maka ketika telah tiba apa yang dijanjikan
itu, akan kami bangkitkan para hamba yang perkasa dan  memiliki
kekuatan besar untuk mengalahkan kalian. Para hamba itu akan mencari
kalian sampai ke tempat persembunyian kalian dan janji [Allah] itu
pasti terjadi."

The information contained in this communication is intended solely for
the use of the individual or entity to whom it is addressed and others
authorized to receive it. It may contain confidential or legally
privileged information. If you are not the intended recipient you are
hereby notified that any disclosure, copying, distribution or taking
any action in reliance on the contents of this information is strictly
prohibited and may be unlawful. If you have received this
communication in error, please notify us immediately by responding to
this email and then delete it from your system. We are neither liable
for the proper and complete transmission of the information contained
in this communication nor for any delay in its receipt.



-- 
http://www.kompasiana.com/ahsa

Kirim email ke