---------- Forwarded message ----------
From: Satria Dharma <[email protected]>
Date: Mon, 26 Nov 2012 01:26:55 -0800 (PST)
Subject: [IGI] UN Halangi Pola Pikir Kreatif
To: IGI <[email protected]>, keluarga unesa
<[email protected]>, center <[email protected]>,
sdislam <[email protected]>, Dikbud <[email protected]>
26 November 2012UN Halangi Pola Pikir KreatifCiptakan Generasi Hafalan
JAKARTA - Kritik terhadap ujian nasional (UN) masih terus disuarakan
oleh berbagai kalangan. Diharapkan, UN tidak lagi dijadikan alat penentu
kelulusan, tetapi sebagai pemetaan atas proses pendidikan.
Budayawan Romo Mudji Sutrisno mengatakan, UN justru menjadi tembok besar
yang menghalangi siswa untuk dapat mengembangkan pola pikir dan
kreativitas. Sebab, pelaksanaan UN hanya mengandalkan jawaban tertutup
berupa pilihan ganda.
”Bagaimana kemampuan anak hanya diukur dengan pilihan-pilihan yang ada
dalam UN,” ungkap Mudji, di Jakarta, kemarin.
Menurutnya, keberhasilan dunia pendidikan itu bagaimana menciptakan
anak-anak untuk dapat berpikir kritis. ”Tapi sayangnya, seluruh isi
pendidikan itu hanya direduksi oleh bahan-bahan UN yang hanya bersifat
hafalan. Anak hanya dipatok untuk menghafal untuk mencari kelulusan
melalui UN,” ujarnya.
Dia juga mengkritik Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Mohammad Nuh yang
menyatakan UN berhasil meningkatkan niat siswa untuk belajar.
”Kelirunya, pemerintah memanfaatkan ketakutan, ketegangan, dan
kegelisahan siswa untuk belajar. Padahal pendidikan itu seharusnya
menyenangkan, bukan paksaan,” tegasnya.
Pernyataan senada juga diungkapkan oleh anggota Dewan Kode Etik Fakultas
Ekonomi Universitas Indonesia, Mayling Oey Gardiner. Pendidikan selama
ini hanya mengutamakan hafalan, bukan membuat anak mengerti dan memahami
materi pelajaran.
”Ketika saya mengajak berdialog mahasiswa tingkat pertama, susah sekali.
Karena mereka tidak pernah ditekankan bagaimana memahami dan mengerti
di jenjang pendidikan sebelumnya,” terangnya.
Membuat Stress
Lebih lanjut dia mengatakan, kondisi riil saat ini, pelaksanaan UN hanya
membuat sebagian siswa stress. ”Apa yang akan dihasilkan kalau mereka
tidak bisa berpikir jernih? Kita sekarang ini hanya mendulang dan
memaksakan hafalan, dan itu tidak bisa dilakuka terus pada era
globalisasi ini,” tandasnya.
Guru besar ilmu matematika ITB, Iwan Pranoto, mengkritik kebijakan
pemerintah yang memberikan porsi 60% UN sebagai alat kelulusan.
Menurutnya, kebijakan tersebut tidak memiliki dasar yang jelas.
”Kenapa UN diberi bobot porsi 60%, sedangkan sekolah hanya 40%? Padahal
yang mengerti tentang kemampuan siswa itu sekolah dan para guru,”
kritiknya.
Meski demikian, dia bukan anti-UN. Namun yang dia inginkan, UN
dilaksanakan hanya sebagai pemetaan atas keberhasilan proses pendidikan
di Indonesia. ”UN itu sejatinya dibutuhkan untuk memetakan pendidikan,
bagaimana pelayanannya. Tapi memang tidak logis jika standar siswa di
Papua disamakan dengan siswa di Jakarta,” ungkap Iwan. (K32-60)
(/)
Salam
Satria Dharma
http://satriadharma.com/
--
http://www.kompasiana.com/ahsa
------------------------------------
Yahoo! Groups Links
<*> To visit your group on the web, go to:
http://groups.yahoo.com/group/kisunda/
<*> Your email settings:
Individual Email | Traditional
<*> To change settings online go to:
http://groups.yahoo.com/group/kisunda/join
(Yahoo! ID required)
<*> To change settings via email:
[email protected]
[email protected]
<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
[email protected]
<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
http://docs.yahoo.com/info/terms/