---------- Forwarded message ----------
From: Unismuh Menulis <[email protected]>
Date: Mon, 3 Dec 2012 05:13:56 -0800 (PST)
Subject: [IGI]  Haruskan Kurikulum Pacaran Ditiadakan di Sekolah?
To: [email protected]


                Siapa sekarang anak
sekolah yang tidak pacaran? Khususnya yang sudah duduk di bangku SMP,
SMA, apalagi kuliah? Pasti Anda tahu jawabannya. Sekarang yang menjadi
titik pembahasan adalah apa pengaruh pembelajaran atas kerjasamanya
dengan interaksi berpacaran? Apakah ada kebaikannya, atau sebaliknya?


Mari kita diskusikan bersama.


Artikel seperti ini, sempat saya bahas ditulisan saya beberapa bulan
yang lalu. Sekarang sudah saya hapus. Maksudnya? Begini, waktu itu saya
hendak membukukannya jadi satu E-book, dan alhamdulillah sekarang sudah
tercapai. Bagi yang hendak memilikinya, silahkan kontak saya di E-mail:
[email protected]. Pak Kus tunggu, ya!


Kembali ke awal, sebelumnya, saya harus ingatkan bahwa sebagai guru,
kita harusnya membangun pola dakwah yang mengena. Jangan sampai kita
lebih mementingkan dunia anak kita ketimbang akhiratnya. Output murid
merupakan hasil kerja dari guru selama ia mengajar dan memberikan
pengaruh tentunya. Sangat berbeda antara guru yang cuek dan mengemban
dakwah. Guru mestinya melakukan usaha yang maksimal untuk dalam rangka
menghasilkan murid yang siap menghadapi tantangan di dunia, alam kubur,
dan akhirat. Sekali lagi, pendidikan ini sangat rumit. Bahkan salah
seorang tokoh parenting mengaatakan, “Pendidikan kita ini semakin tidak
jelas arahnya mau kemana, sementara teknik mengajar sudah keren dan
terupdate.”


Ini merupakan tamparan bagi guru yang selama ini berjalan di atas
fenomena fatamorga. Salah satu kasus yang rumit dihadapi tentunya
ialah: pacaran.


Murid berpacaran merupakan musibah bagi murid, orang tuanya, gurunya,
dan sekolahnya. Murid-murid yang melakukan aksi seperti ini memerlukan
guru yang peduli. Sebab pacaran ini sudah menjadi lumrah, dan dianggap
biasa saja. Hendaknya guru tak bermain-main taktala persoalan sudah di
depan mata. Jangan sampai kejadiannya seperti ini: saya teringat oleh
seorang guru, yang malah menjadi teladan syahwat (nafsu) di depan
murid-muridnya. Saat itu, bapak guru sedang berdiri di depan guru, maka
lewatlah ibu guru. Apa yang terjadi? Bapak guru kita ini menyapa,
“Cantiknya, Ibu?” Semua yang menyaksikan hal ini saat itu tersenyum
malu.


Ada lagi lebih ekstrem, di depan guru yang lain, Pak Guru itu
menawarkan kepada Bu Guru, “Ibu, mauki jadi pacarku?” Astagfirulloh.
Saya tahu saat itu ia bermain-main. Tapi, ingatlah bahwa semua akan
terkena tanggung jawab di akhirat.


Kembali ke awal, persoalan pacaran ini sudah stadium 4. Butuh
penanganan serius. Kalaupun ada guru yang malah menganjurkan pacaran,
membolehkan pacaran, rasanya ia masih butuh belajar akan hal dampak ke
depannya. Betapa banyak anak-anak kita jadi tak perawan, membunuh
dirinya sendiri, tawuran, itu semua diantarai oleh pacaranya. Cinta
yang menggejolak membuat semua indra menjadi tak terkontrol. Sudah
saatnya guru betul-betul berdakwah dengan tegas, cepat, dan berani,
mengungkapkan “pacaran itu harom”. Dari sisi agama, sosial, pendidikan,
dan segala aspek pastinya. Karena kita menginginkan sekolah yang aman
dari koleksi maksiat, maka guru harus melakukan 3 aksi tadi tersebut di
atas. Tentunya berdasarkan dalil yang pas.



Semoga ada guru yang siap berjalan bersama mengemban dakwah ilahi.


Salam,

Pak Kus


-- 
http://www.kompasiana.com/ahsa


------------------------------------

Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/kisunda/

<*> Your email settings:
    Individual Email | Traditional

<*> To change settings online go to:
    http://groups.yahoo.com/group/kisunda/join
    (Yahoo! ID required)

<*> To change settings via email:
    [email protected] 
    [email protected]

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [email protected]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/

Kirim email ke