Selasa, 11 Desember 2012 | 20:52 WIB
Sungai Citarum Tercemar Limbah Berbahaya
<http://www.tempo.co/read/news/2012/12/11/058447540/Sungai-Citarum-Tercemar-Limbah-Berbahaya#>

*TEMPO.CO*, *Bandung* -Greenpeace menandai saluran limbah pembuangan
industri tak bertuan di aliran sungai Cihaur anak Sungai Citarum di Desa
Cipeudeuy, Kecamatan Padalarang, Kabupaten Bandung Barat, Jawa Barat dengan
sebuah plang bertuliskan "Perhatian. Limbah Berbahaya Keluar Dari Sini!!!",
Selasa, 11 Desember 2012.

Dari lokasi saluran limbah yang berdekatan dengan sawah tersebut, aktivis
Greenpeace menemukan bahan kimia logam berat berbahaya Kromium Heksavalen
(Cr6+) dan Merkuri (Hg) yang bisa menyebabkan kanker. Serta senyawa kimia
organik lainnya seperti Alkylphenol (BHT), Diethyl Phthalate (DEP), dan
Dibutyl Phthalate (DBP) yang bisa menganggu kerja endokrin serta menganggu
sistem reproduksi.

"Bahan kimia logam berat itu sifatnya tidak bisa diurai. Jika terus dilepas
ke lingkungan akan terakumulasi di jaringan makhluk hidup melalui rantai
makanan dan dapat menganggu kesehatan," kata Ahmad Ashov Birry, Juru
Kampanye Air Bebas Racun Greenpeace Indonesia pada Tempo.

Menurut Ashov, adanya senyawa kimia di suatu lingkungan juga berdampak pada
penurunan produktivitas pertanian masyarakat mencapai 1 - 1,5 ton per
hektare per musim panen.

Sebelumnya, para aktivis telah menandai temuan saluran air limbah beracun
pabrik tekstil di pinggiran Sungai Citarum, Desa Sukamaju, Kecamatan
Majalaya, Kabupaten Bandung, Jawa Barat, Rabu, 5 Desember 2012.

Ashov mengatakan, penandaan yang dilakukan aktivis Greenpeace merupakan
rangkaian penelitian dan pengambilan sampling air sejak bulan Juni -
Oktober 2012 di sepuluh area industri yang tersebar dari hulu-hilir Sungai
Citarum. Lokasi tersebut diantaranya, Majalaya, Rancaekek, Dayeuhkolot,
Leuwigajah, Batujajar, Padalarang, Purwakarta, Karawang, dan Bekasi.

Sampel  diuji ke Laboratorium Institute of Ecology Universitas Padjajaran
Bandung dan Laboratorium Afiliasi Kimia Universitas Indonesia. "Dari sampel
air di sepuluh titik, semuanya terindikasi bahan kimia berbahaya
yang berasal dari industri tekstil," katanya.

Greenpeace, kata Ashov, menghimbau pemerintah dan industri untuk segera
berkomitmen menghentikan pembuangan limbah berbahaya ke Sungai Citarum.

Kepala Bidang Pengendalian dan Pencemaran Lingkungan Badan Pengelolaan
Lingkungan Hidup Daerah (BPLHD) Jawa Barat, Suharsono, mengatakan kondisi
Citarum sejak tahun 1999 hingga sekarang memang semakin tercemar.  "Tekanan
idustri dan penduduk mengakibatkan limbah industri dan domestik dari warga
kian meningkat dan mencemari Citarum," kata Suharsono ketika dihubungi
Tempo.

Menurut Suharsono, pembuangan limbah cair pada industri harus diawasi oleh
pemerintah kabupaten dan kota. "Dinas perikanan, peternakan, kehutanan dan
masyarakat juga harus bersinergi untuk memperkecil pembuangan limbah ke
sungai," katanya.


RISANTI
http://www.tempo.co/read/news/2012/12/11/058447540/Sungai-Citarum-Tercemar-Limbah-Berbahaya

Kirim email ke