Mugi we ulah gehgeran lah. Tes diagnostik deui atuh kawas Daud Yusuf 
baheula....boa2 lain math hungkul nu goreng.
Powered by Telkomsel BlackBerry®

-----Original Message-----
From: Ki Hasan <[email protected]>
Sender: [email protected]
Date: Mon, 24 Dec 2012 00:02:42 
To: Ki Sunda<[email protected]>
Reply-To: [email protected]
Cc: Baraya Sunda<[email protected]>; Urang 
Sunda<[email protected]>
Subject: [kisunda] Indonesia jeung Matematika?

Legislator Prihatin Matematika Indonesia di Bawah Palestina
Minggu, 23 Desember 2012 | 16:34 WIB

JAKARTA, KOMPAS.com —  Anggota Komisi X DPR, Rohmani, prihatin atas
publikasi "Trends in International Mathematics and Science Studies" (TIMSS)
terkait urutan nilai rata-rata matematika siswa kelas VIII di Indonesia
yang berada di bawah Palestina.

Dalam publikasi tersebut, katanya melalui pernyataan di Jakarta, Minggu
(23/12/2012), Indonesia menempati urutan ke-38 dari 42 negara. Ia
menyatakan, yang membuat miris, Indonesia berada di bawah Palestina, negara
yang didera konflik berkepanjangan.

"Sungguh kita prihatin melihat urutan Indonesia. Di bawah kita
negara-negara, seperti Ghana, Suriah, dan Oman," kata legislator asal
daerah pemilihan Brebes-Tegal itu.

Karena itu, kata dia, pemerintah harus menjadikan publikasi TIMSS ini
sebagai bahan dalam merumuskan kebijakan pendidikan nasional. Ia berharap
hasil publikasi ini mendorong pemerintah lebih cermat dalam memotret
persoalan pendidikan nasional.

"Saat ini, pemerintah harus jeli melihat akar persoalan pendidikan
nasional. Selama ini, akibat kesalahan mendefinisikan akar pendidikan
menjadikan solusinya tidak bisa menjawab persolan yang ada," katanya.

Rohmani berpandangan episentrum perbaikan pendidikan nasional ada pada
guru. Ia menilai, guru menjadi titik awal dalam menyelesaikan persoalan
pendidikan. Faktanya, guru menjadi faktor utama dalam pembelajaran di
sekolah.

Kondisi tersebut, kata dia, telah terbukti di negara-negara maju di mana
guru menjadi perhatian utama mereka. "Guru-guru terbaik dipersiapkan untuk
mendidik tunas muda bangsa mereka. Guru-guru tersebut direkrut dari lima
lulusan terbaik dari perguruan tinggi," katanya.

Dia mengakui bahwa persoalan guru ini kompleks, mulai dari kesejahteraan
hingga penyebaran kuantitas dan kualitas, di mana semua persoalan itu harus
diuraikan satu per satu.

Dapatkan artikel ini di URL:
http://nasional.kompas.com/read/2012/12/23/16342815/Legislator.Prihatin.Matematika.Indonesia.di.Bawah.Palestina

Kirim email ke