Ieu aya salah sapuluh anu nolak kurkul 2013. Anu tiasa diconto nyaeta dina 
perkara latar belakang penolakanana sarta argumen anu diajukeun. 


mrachmatrawyani




http://www.ipetitions.com/petition/petisi-menolak-kurikulum-pendidikan-2013/

PETISI MENOLAK KURIKULUM PENDIDIKAN 2013

Jakarta, 17 Desember 2013

Kepada Yth. 
Prof. Dr. Ir. KH. Mohammad Nuh
Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Negara Republik Indonesia
Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan Negara Republik Indonesia

Tembusan: 
Wakil Presiden Negara Republik Indonesia
Ketua DPR Negara Replublik Indonesia 

Dengan hormat,
Melalui surat ini, kami warga negara Indonesia sebagai wakil orangtua siswa
menyampaikan penolakan terhadap pelaksanaan dan penerapan Kurikulum
Pendidikan Nasional 2013 yang akan diberlakukan pada tahun ajaran 2013,
sesuai dengan informasi yang kami dapatkan secara resmi pada materi rujukan
Kurikulum 2013 pada situs Uji Publik Kurikulum 2013" dengan alamat: 

http://kurikulum2013.kemdikbud.go.id/main/pengantar

Kami sebagai bagian dari masyarakat Indonesia, sebagai orangtua dan sebagai
pelindung anak menggugat kebijakan Pemerintah Republik Indonesia atas
rencana pemerintah untuk mengganti Kurikulum Pendidikan Nasional yang
berlaku saat ini dengan Kurikulum Pendidikan Nasional 2013. Kurikulum
Pendidikan Nasional 2013 adalah sebuah kurikulum baru yang belum tervalidasi
efektivitasnya untuk diterapkan pada lingkup pendidikan di Indonesia.

Adapun yang menjadi latar belakang Petisi Penolakan atas pemberlakuan
Kurikulum Pendidikan Nasional 2013 di tahun 2013 adalah :

1. Dasar pemikiran perubahan kurikulum juga tidak jelas, karena belum ada
kajian ilmiah yang mendalam dan sahih tentang keunggulan Kurkulum Pendidikan
Nasional 2013 dibandingkan dengan kurikulum yang berlaku saat ini. Kami
tetap menyadari bahwa Kurikulum yang berlaku sekarang memang perlu dilakukan
penyempurnaan agar sesuai dengan perkembangan jaman, akan tetapi perubahan
dan penyempurnaan kurikulum tanpa memiliki landasan kajian mendalam berbasis
metoda ilmiah dan tanpa berlandaskan "Master Plan" jangka panjang Pendidikan
Nasional NKRI adalah salah

2. Kami memandang Kurikulum Pendidikan Nasional 2013 akan mengalami masalah
besar dalam penerapannya, karena di sisi lain terlihat bahwa penguatan
kompetensi dan kualitas sumber daya manusia yaitu guru sebagai ujung tombak
di lapangan belum disiapkan secara maksimal. Perlu diingat bahwa di
Indonesia terjadi kesenjangan kualitas yang lebar antar sekolah, antar
pengajar, dan juga fasilitas serta sarana pendukung. Masih banyak sarana
prasarana atau fasilitas pendidikan utama dan pendukung yang masih jauh dari
layak. Perubahan kurikulum juga berarti perubahan tata cara belajar mengajar
yang perlu didukung oleh sarana dan prasarana yang sesuai ( misalnya buku,
alat peraga, dan lain-lain).

3. Lingkungan akademis membutuhkan waktu minimal 3 tahun (seperti tertera
pada slide presentasi uji publik kurikulum 2013) untuk dapat melatih semua
guru di Indonesia, supaya penerapan kurikulum baru dapat dilakukan dengan
efektif dan efisien. Apabila seluruh proses transisi dilakukan mulai 2013,
sarana dan prasarana yang diperlukan paling cepat akan tersedia pada tahun
2016, sementara pemerintah sudah memutuskan untuk menerapkan kurikulum baru
dimulai tahun 2013.

4. Pada tahun 2014, bangsa Indonesia akan kembali melaksanakan Pemilihan
Umum dan - berdasarkan Undang-Undang - Presiden yang menjabat saat ini tidak
dapat dipilih kembali. Dengan demikian, dapat dipastikan bahwa akan
terbentuk pemerintah baru yang mungkin memiliki perbedaan kebijakan dengan
pemerintah saat ini dan karena itu tahun 2013 bukanlah saat yang tepat untuk
melakukan perubahan bermakna pada kurikulum pendidikan.

5. Pembuatan Kurikulum Pendidikan harus mengacu kepada suatu "`Master Plan'
Pendidikan Nasional NKRI" jangka panjang yang meliputi semua jenjang
pendidikan di Indonesia. Kurikulum baru dapat diberlakukan jika telah
melewati kajian/studi berbasis metodologi ilmiah dan mengacu kepada `Master
Plan' Pendidikan Nasional NKRI jangka panjang tersebut. Apabila suatu
kurikulum baru diterapkan tanpa pendekatan tersebut di atas, maka pemerintah
bagaikan menerapkan pola uji coba (trial and error) terhadap kurikulum baru
tersebut. Penggunaan pendekatan uji coba untuk suatu kurikulum berskala
nasional adalah salah dan memiliki resiko yang tinggi terhadap kualitas dan
pelaksanaan pendidikan di seluruh Indonesia.

6. Hal lain yang tidak kalah penting perlu diingat adalah sejauh ini belum
terbentuknya suatu jaringan rujukan pedagogi klinis dan psikologis sebagai
sarana penunjang terbentuknya sistem pengajaran yang adaptif dan sesuai
dengan karateristik kondisi anak.

Landasan Petisi Penolakan atas pemberlakuan Kurikulum Pendidikan Nasional
2013 di tahun 2013 tersebut adalah sebagai berikut :

I. UNDANG-UNDANG DASAR NEGARA REPUBLIK INDONESIA TAHUN 1945 UUD 1945 Bab X
Pasal 28C.
II. UNDANG-UNDANG DASAR NEGARA REPUBLIK INDONESIA TAHUN 1945 UUD 1945 Bab
XIII Pasal 31.
III. UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 23 TAHUN 2002 TENTANG
PERLINDUNGAN ANAK (Bagian Ketiga Pendidikan)
IV. UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 20 TAHUN 2003 TENTANG SISTEM
PENDIDIKAN NASIONAL (BAB IV, Bagian Ketiga Hak dan Kewajiban Masyarakat,
Pasal 8)

TUNTUTAN DAN SARAN

1. Pembuatan sistem pendidikan, pembuatan kurikulum, dan pembuatan
standarisasi pendidikan nasional Indonesia harus mengacu pada Master Plan
Pendidikan Nasional Indonesia. Sebagai wakil orangtua murid, kami menuntut
pemerintah (dalam hal ini adalah Menteri Pendidikan dan Kebudayaan NKRI
sebagai pemangku jabatan), untuk membuat `Master Plan' Pendidikan Nasional
Indonesia jangka panjang yang masa berlakunya lebih panjang daripada satu
periode pemerintahan terpilih. 
Penerapan kurikulum baru secara nasional juga harus melalui tahap uji coba
dan evaluasi dalam skala yang lebih kecil. Untuk itu, kami menuntut kepada
Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia untuk membentuk dan
membuka jaringan sekolah uji ("lab-school") untuk tingkat pendidikan dasar
dan menengah di seluruh provinsi di Indonesia. 
Sekolah uji tersebut sebaiknya dikelola secara langsung oleh Universitas
Pendidikan untuk menguji kurikulum dan sistem pendidikan, Pengujian
kurikulum baru di sekolah uji tersebut akan menghasilkan data yang akurat
dan dapat dipertanggung-jawabkan secara ilmiah. Data tersebut seyogyanya
mencakup seluruh seluruh provinsi dan mampu menggambarkan hal-hal berikut
ini :
a. pengaruh perubahan metoda pembelajaran terhadap murid, 
b. pengaruh perubahan tata cara belajar-mengajar antara murid dan guru
c. pengaruh atas kompetensi dan keahlian yang diperlukan para guru, 
d. pengaruh sistem evaluasi terhadap murid dan guru, 
e. pengaruh partisipasi orangtua terhadap proses belajar murid, 
f. pengaruh terhadap proses kelulusan dan penerimaan siswa baru, 
g. kebutuhan sarana pendukung atau infrastruktur pendukung. 

2. UUD 1945 sebagai dasar hukum Republik Indonesia menjelaskan sebagai
berikut: Pasal 28B Ayat 2
Setiap anak berhak atas kelangsungan hidup, tumbuh, dan berkembang serta
berhak atas perlindungan dari kekerasan dan diskriminasi.** ) 
Pasal 28C Ayat 1
Setiap orang berhak mengembangkan diri melalui pemenuhan kebutuhan dasarnya,
berhak mendapat pendidikan dan memperoleh manfaat dari ilmu pengetahuan dan
teknologi, seni dan budaya, demi meningkatkan kualitas hidupnya dan demi
kesejahteraan umat manusia.** ) 
Berdasarkan kutipan di atas, anak-anak dengan kekhususan membutuhkan
strategi pendidikan yang khusus, dan anak-anak tersebut mempunyai hak yang
sama dan dijamin oleh UUD 1945, dengan demikian kami menuntut pemerintah
untuk memasukkan masalah penanganan untuk anak-anak dengan kekhususan ke
dalam "Master Plan" Pendidikan Nasional Indonesia. 

3. Kami menuntut pemerintah agar membentuk suatu jaringan rujukan pedagogi
klinis dan psikologis sebagai sarana penunjang terbentuknya sistem
pengajaran yang adaptif dan sesuai dengan karateristik serta kondisi anak
termasuk anak-anak dengan kekhususan. 

4. Kami menuntut transparansi penggunaan biaya untuk perubahan kurikulum
2013.Kami mendapatkan informasi bahwa biaya tersebut hamper mencapai Rp 180
milyar (Seratus Delapan Puluh Milyar Rupiah), Mengingat bahwa biaya ini
sangat besar, maka sebagai sebagai pembayar pajak di Negara Kesatuan
Republik Indonesia, kami berhak mempertanyakan aliran dana serta efisiensi
dan efektifitas penggunaan anggaran pada perubahan kurikulum 2013.

Demikian petisi ini kami ajukan sebagai bentuk upaya dari pemerhati
pendidikan, orangtua dan anggota masyarakat dalam mendukung langkah bangsa
untuk menuju VISI RPJPN NKRI 2005-2025.
Secara umum, kami menginginkan sistem pendidkan nasional yang
berkesinambungan dan sesuai dengan arah menuju VISI NKRI 2005-2025.
Kami yang bertanda-tangan dibawah ini, mengajukan petisi mewakili sejumlah
pendukung perwakilan orangtua murid, pendidik dan masyarakat pada umumnya, 

Yang mengajukan
PETISI: MENOLAK KURIKULUM PENDIDIKAN 2013. 

Nama lengkap : 
Syanaz Nadya Winanto Putri, SH.MDM .Orangtua Siswa, Penggiat Sosial. 

Nama lengkap : 
Dr. drg. Julia Maria Van Tiel, MS.Pembina kelompok diskusi Orangtua
Anak Gifted Indonesia [email protected]
<mailto:anakberbakat%40yahoogroups.com>  Penulis buku Anakku
terlambat bicara. 

Nama lengkap :
Koeshartati Saptorini, ST. Orangtua Siswa, Pendidik, Pembina Kelompok
Diskusi Komunitas Mari Saling Bantu ABK dan Orangtua ABK (CP dan DAKSA). 

Nama lengkap :
Lies Dahlia, ST. MM. Orangtua siswa, Pendidik. Pembina Yayasan Pendidikan
Sosial.

Nama lengkap :
Septi Peni Wulandani Orangtua Siswa, Pembina Komunitas Ibu Profesional. 

Nama lengkap :
Nien Yudanto, orangtua siswa, penggiat sosial. 

Nama lengkap :
Adi D. Adinugroho - Horstman Ph.D. SpecEd. Specialist. Dosen, Researcher,
Praktisi
dan Pemerhati Pendidikan. Founder : VEN (Volunteer Educator Network)
Indonesia.

Nama lengkap : 
Deddy Arifin, S.Kom. Dosen, orangtua siswa.

Kirim email ke