Nu ngaruksak basa indonesia mah basa daerah istilahna serapan dari basa daerah. 
Cilakana basa jawa nu dominan diserap jadi we basa indonesia persis basa sunda 
priangan teu egaliter deui. Ayeuna basa nu populer basa indonesia betawi, basa 
sinetron soalna dianggap teu bau kakastaan. CMIIW
Powered by Telkomsel BlackBerry®

-----Original Message-----
From: "mang kaby" <[email protected]>
Sender: [email protected]
Date: Tue, 22 Jan 2013 08:40:07 
To: Baraya_Sunda<[email protected]>; 
UrangSunda<[email protected]>; Kisunda<[email protected]>; Kota 
Bogor<[email protected]>; Senyum-ITB<[email protected]>; 
Alumni IPB<[email protected]>
Reply-To: [email protected]
Subject: [kisunda] Re: bahasa subversi?

Bener Kang,
Bahasa Indonesia udah mirip bahasa Kolonial di Australia seabad yg lalu :((. 

Banyak yg salah kaprah euy... Bahasa Indonesia ya bahasa persatuan tapi jangan 
justru menghancurkan bahasa daerah karena itulah ciri khas daerah yg ada di 
Indonesia yg beranekaragam, bhineka tunggal ika tea apanan. Apakah 
keanekaragaman akan merusak persatuan? Rasanya kok tidak... Justru karena 
beranekaragamlah bisa bersatu. Kalo sudah seragam mah apanya yg mau disatukan? 

Mengutip kata Si Jack juga pan itu identitas diri sekaligus budaya ceunah 
hehehe. 

Senang yg beraneka ragam... Kecuali istri, maksudnya seragam perempuan xixixi. 

nuhuuuuns,
mang kabayan
www.udarider.com

-----Original Message-----
From: rsyaifoel <[email protected]>
Sender: [email protected]
Date: Tue, 22 Jan 2013 08:08:51 
To: <[email protected]>
Reply-To: [email protected]
Subject: [Baraya_Sunda] basa subversi?

Sigana politik basa Indonesia KUDU direvisi. Kaayaan ayeuna bet siga kaayaan 
Ustrali saratus taun ka tukang. Basa wewengkon anu masih keneh hirup di wilayah 
RI wajib diangkat jadi basa panganteur di sakola... ngarah teu paeh. Status 
basa Indonesia ulah nepi ka siga basa kolonial siga di Ustrali anu ahirna 
ngadesek basa daerah nepi ka beak.

Ner teu?

Bahasa asli Australia kembali ditemukan
Terbaru  22 Januari 2013 - 14:29 WIB

Bahasa yang digunakan suku Aborigin di Australia banyak yang punah.

Bahasa Aborigin tersingkir selama masa kolonialisasi di Australia kembali 
ditemukan atas kerja keras para peneliti dan misionaris Jerman pada abad 19.

Bahasa Kaurna satu dari bahasa asli yang digunakan penduduk di Adelaide. Tetapi 
mulai menghilang dalam penggunaan sehari-hari di Australia Selatan pada masa 
awal 1860 an.

Ivaritji, seorang tetua diperkirakan merupakan penutur terakhir bahasa Kaurna, 
meninggal pada akhir 1920an. Lebih dari 80 tahun kemudian, bunyi yang unik itu 
dihidupkan kembali.

"Ini mengenai identitas diri dan sekaligus identitas budaya," jelas Vincent 
"Jack"' Buckskin, yang membuka kelas sore kursus bahasa bagi suku Aborigin dan 
murid lainnya.

"Pertamanya sedikit sulit untuk mempelajarinya dan sangat berbeda dengan bahasa 
Inggris, yang digunakan oleh kita," kata dia.

"Untuk mengatakan helo kepada seseorang, anda mengucapkan 'niinamarni'. Yang 
juga berarti "Apakah kabar anda baik". Untuk bertanya apakah seseorang 
mengalami hari yang baik, anda mengucapkan 'niinamarnitidli'.

"Bahasa kami dilarang pada 1800an, dan larangan itu tak berlaku sekitar 1980an 
ketika seorang ahli bahasa mulai mengerjakan penelitian PhD nya terhadap 
revitalisasi bahasa dan kembali mengajarkan bahasa tersebut," jelas Buckskin.

Untuk mengembalikan bahasa asli itu, para peneliti membuka catatan yang dibuat 
oleh kelompok religius dan pejabat kolonial.

Bahasa subversi
Selama 18 bulan sejak kedatangan mereka di Australia Selatan pada 1838, para 
misionaris asal Jerman Christian Teichelmann dan Clamor Schurmann, membuat 
kumpulan perbedaharaan kata definitif sekitar 2.000 kata, skeitar 200 kalimat 
terjemahan dan tata bahasa yang penting.

Sepuluh perintah Tuhan, sebagian himne Jerman dan doa yang diucapkan di sekolah 
juga diterjemahkan.

Pasangan misionaris Jerman itu juga membuka sekolah yang menggunakan bahasa 
Kaurna sebagai pengantar selama enam tahun sebelum ditutup oleh otoritas yang 
hanya mengijinkan penggunaan bahasa Inggris.

"Kolonialisasi menuduh penggunaan bahasa ini subversi," kata Dr Bill Fogarty 
dari National Centre for Indigenous Studies di Australian National University.

"Pada masa kolonialisasi terdapat 250-300 bahasa asli di Australia. Sekitar 
separuh bahasa itu kini punah."

Diperkirakan sekitar 150 bahasa masih digunakan, Dr Fogarty mengatakan hanya 
sekitar 6% yang sangat kuat dan mereka masih digunakan sebagai bahasa ibu, 
sementara yang lainnya terancam punah.

Masih ada sejumlah tempat aktivitas bahasa di wilayah utara Australia dan 
wilayah Alice Springs.

Bahasa Kaurna kembali dari kepunahan. Atau seperti dikatakan oleh penutur asli 
, "Purrunarninthi," - yang artinya "kembali hidup".



Kirim email ke