Waduh, hebat Ki Hasan nimu barang antik. Usahana kudu diacungaan 2 jempol tah,
Nuhun, Nambah wawasan.

--- On Thu, 21/2/13, Ki Hasan <[email protected]> wrote:

From: Ki Hasan <[email protected]>
Subject: [kisunda] Ajimantra, Sastra Magis Sunda Banten?
To: "Ki Sunda" <[email protected]>
Cc: "Baraya Sunda" <[email protected]>, "Urang Sunda" 
<[email protected]>
Received: Thursday, 21 February, 2013, 4:33 AM
















 



  


    
      
      
      Harita teh, aya nu nanyakeun perkara jampe jeung jangjawokan nya. Tah ieu 
aya bahan nu rada lengkep, merenah dibacana. 
=====

Ajimantra, Sastra Magis Sunda Banten
Oleh  Sulaiman Djaya


Secara umum, pantun yang dipahami oleh “masyarakat Sunda Kuno” di Banten 
berbeda dengan pengertian pantun modern, yang hanya dipahami sebagai larik 
berulang itu. Sebab, seperti telah ditunjukkan langsung oleh bentuk dan bunyi 
pantun “masyarakat Sunda Kuno” itu, pantun ternyata masih dikaitkan dengan 
tradisi yang sifatnya keagamaan, semisal ruwatan. Dalam tradisi masyarakat 
Sunda Kuno ini, pantun adalah “pembacaan mantra dan lirik prosa atau cerita 
pantun yang dibaca oleh juru pantun sembari memainkan kecapi parahu alias 
kecapi gelung atau dengan diiringi permainan angklung, di mana  yang 
menggunakan kecapi tersebut dua ujung kecapinya mirip sebuah gelung yang 
melengkung, dalam sebuah acara ruwatan untuk meminta keselamatan.”


Salah-satu komunitas adat masyarakat Sunda di Banten yang telah melahirkan 
pantun dalam artian tersebut, adalah masyarakat adat Sunda-Baduy atau 
masyarakat Kanekes. Pantun yang lahir dari masyarakat Baduy tersebut, seperti 
dikatakan para filolog dan sejarawan-budaya, merupakan pantun yang memiliki 
nilai magis dan spiritual yang lebih murni ketimbang pantun-pantun yang lahir 
dari masyarakat atau komunitas-komunitas adat Sunda lainnya. Selain itu, Urang 
Baduy sendiri menganggap cerita pantun sebagai sesuatu yang sakral dan tidak 
boleh dipergelarkan secara sembarangan.


Meskipun demikian, selain sisi magis dan efek mantranya, itu carita pantun 
Urang Baduy kadang-kadang juga digunakan untuk merujuk tempat-tempat di alam 
nyata, semisal Pasir Batang Lembur Tengah, Pasir Batang Lembur Hilir, atau 
Pasir Batang Lembur Girang. Di mata kata “batang” itu juga merupakan kiasan 
tubuh manusia, sehingga penyebutan itu sendiri dapat diartikan sebagai 
penyebutan bagian-bagian tubuh manusia, semisal Girang yang berarti kepala, 
Lembur Tengah yang berarti perut, dan Lembur Hilir yang berarti bagian kaki. 
Begitulah di jaman Kerajaan Sunda, nama-nama tempat dicocokkan dengan sebutan 
Girang, Hilir, atau Tengah.


Sementara itu, dari sisi lakon dan subjek carita pantun setidak-tidaknya ada 
sepuluh judul, di mana judul-judul lakon-lakon carita pantun itu menggunakan 
nama-nama satwa yang sekaligus dipinjam sebagai para pelaku lakon carita pantun 
itu sendiri, yang dapat dibagi menjadi beberapa golongan, yang antaranya 
adalah: (1) Golongan Munding (Kerbau), seperti Munding Daratan, Munding Barang, 
Munding Mregaluncat, Munding Mregalaksana, Munding Mregasingha, Munding Singha, 
Munding Liman, Munding Sari, dan Munding Wangi. (2) Golongan Kuda, seperti Kuda 
Gandar, Kuda Jayengsari, Kuda Kancana, dan Kuda Wangi. (3) Golongan Gajah, 
seperti Gajah Lumantung dan Gajah Haruman. (4) Golongan Kidang atau Rusa, 
seperti Kidang Panadri dan Kidang Pananjung. (4) Golongan Singa, seperti Singa 
Tajiwangsa dan Singa Kombala, selain ada juga nama-nama lakon lainnya seperti 
Badak Sangara, Galudra Kancana, Paksi Keling, Naga Menang, dan Naga Panggiling.


Juga, ada lakon-lakon dengan tokoh-tokoh perempuan, seperti Lenggang Manik, 
Lenggang Haruman, Naga Lumenggang Kusumah, dan Lenggang Wangi. Selain dengan 
menggunakan alat instrument kecapi, carita pantun atau pun pantun mantra juga 
dibacakan oleh juru pantun dengan menggunakan angklung, seperti dalam sebuah 
upacara penghormatan kepada padi atau Dewi Sri Pohaci, semisal pantun Langga 
Sari Tua. Sedangkan dua carita pantun yang dianggap sakral adalah carita pantun 
Lutung Kasarung dan carita pantun Ciung Wanara, di mana Urang Baduy menganggap 
dua carita pantun tersebut berkaitan dengan ilmu-ilmu khusus, dan mereka lebih 
mengenal carita pantun Lutung Kasarung tersebut sebagai Lakon Paksikeling, 
semisal yang berbunyi berikut:


Japun! Awaking kiwari // Deuk make pasang pasaduan, // Pasaduan guru. Ahung! // 
Pak sampun! // Majar ahung tujuh balen // Ahung deui, ahung deui! // Ahung 
manglunga, // Ahung manglingeu, // Ahung mangdegdeg, // Ahung manglindu. // 
Paksi kangkayang // Basaning angka, // Hayam beureum putih kukang, // Anjing 
belang sina tawe, // Mapay paksi ka hilirkeun, // Rempuh bayu ti galunggung, // 
Mapag bala ti Jasinga, // Sasakala Indra Baya. // Ambuing sira mangumbang, // 
Bapaing terus mangambung, // Pangjungjungkeun, // Panglawungkeun // Sora 
awaking. // Ka luhur ka nu di manggung, // Ka nu wenang mucuk ngibun, // Ka 
atina sukma langlaung, // Gurit leungit cakra mega, // Wekas tuang ka hineban, 
// Korejat milepas manten. // Reuwas teuing ku impian, // Ngimpi ngadu picis di 
langit, // Totolan di awang-awang, // Ditujah tuang tilepan, // Diwaca henteu 
kawaca, // Taya panca aksarana. // Tujahkeun // Ka lautna, // Ka harusna, // Ka 
sagara leuleuy, // Ka sagara ireng,
 // Ka sagara lolopangan.


Selain Lakon Paksikeling tersebut, masyarakat Baduy juga memiliki khasanah yang 
sifatnya prosaik atau cerita naratif, semisal Hikayat Dewa Kaladri berikut:  

“Syahdan, sebagaimana telah diceritakan banyak orang di Tatar Banten dan 
Kerajaan Sunda yang mulanya beribukota di Banten Girang dan kemudian pindah ke 
Pakuan, sejak Sanghyang sampai ribuan tahun ke belakang, waktu itu ada seorang 
Sanghyang yang bernama Sanghyang Sakti yang mempunyai seorang anak laki-laki. 
Namun rupa anak ini sangat jelek alias buruk sekali, badannya hitam dan 
perutnya buncit. Oleh ayahnya anak ini diturukan ke bumi, disuruh bertapa dan 
mengelilingi dunia. Demikianlah si anak buncit itu turun ke bumi. Kala itu ia 
sampai pusat kota Cipaitan, yaitu desa Cihandam yang telah lama ditinggalkan, 
dan ia terus bertapa di Gunung Kujang. Saat ia sedang bertapa, ia pun ditemukan 
oleh Daleum Sangkan sedang telentang bertapa di atas sebuah batu yang besar. 
Persis ketika itulah, oleh Daleum Sangkan ia dibawa pulang dan diambil sebagai 
anak, serta diurus dengan baik sekali dan disayangi sampai besar kira-kira 
teguh samping (berumur delapan atau
 sepuluh tahun, menurut perhitungan sekarang).


Apakah yang menjadi menjadi kesukaan anak buncit ini? Tak lain memasang bubu 
setiap hari. Dan lama-kelamaan istri Daleum Sangkan membenci anak buncit ini 
karena parasnya yang jelek hitam, perutnya makin lama makin buncit dan matanya 
besar membelalak. Hanya saja Nyi Sangkan tidak berani mengusirnya karena takut 
terhadap Daleum Sangkan. Pada suatu hari, waktu itu, Daleum Sangkan mengajak si 
anak buncit untuk memasang bubu di sungai, tetapi tidak diperkenankan 
memasangnya di tempat yang baik dan dalam, ia harus memasangnya di tempat yang 
jelek dan diangkat saja, agar tidak mendapat ikannya. Ketika itu Nyi Sangkan 
berkata: “Kalau tempat yang baik adalah untukku memasang bubu, jangan oleh 
kamu”. Lalu mereka masing-masing menempatkan bubunya.


Diceritakan, si anak buncit itu memasang bubunya di tempat-tempat yang telah 
ditunjukan oleh Nyi Sangkan, yaitu di tempat-tempat yang jelek dengan arus 
airnya yang deras. Sedangkan Nyi Sangkan menempatkannya di tempat-tempat yang 
baik dengan airnya yang tenang. Waktu keesokan harinya, saat mereka sama-sama 
melihat, bubunya Nyi Sangkan tidak berisi ikan sama sekali, meski dipasang di 
tempat yang baik. Sementara ketika bubunya si buncit diangkat, ternyata banyak 
ikan di dalamnya, bahkan ada seekor ikan yang besar yang disebut ikan lubang, 
lalu ikannya dibawalah pulang. Dengan kejadian itu, Nyi Sangkan bertambah benci 
terhadap anak buncit itu. Ikan yang besar tadi, tidaklah diberikan kepada Nyi 
Sangkan oleh anak itu, bahkan ia pelihara dan dismpan dalam tong yang terbuat 
dari batang pohon kawung. Nyi Sangkan menjadi sangat marah, lalu memaki-maki, 
tetapi si anak buncit ini tidaklah menghiraukannya.


Tak lama kemudian, Nyi Sangkan mengajak menanam talas di humanya. Tetapi 
seperti biasa saja, yaitu Nyi Sangkan menanam talasnya di tempat yang tanahnya 
bagus, sedangkan si buncit disuruh menanamnya ditempat yang jelek yang tanahnya 
merah bercampur pasir. Lalu mereka menanam talas. Nyi Sangkan berkata kepada 
anak buncit: “Wah, kamu menanam talas juga tak akan ada umbinya, sebab tanahnya 
jelek, berwarna merah dan bercampur pasir pula, walau pun nantinya ada juga 
berumbi, paling besar juga hanya sebesar kelentitku”. “Kalau tanamanku sudah 
pasti bagusnya dan banyak umbinya, sebab tanahnya bagus.” Anak buncit tidak 
menjawab apa-apa, hanya dalam hatinya ia berkata, barangkali saja nanti umbinya 
banyak. Setelah lama, di saat talas mereka sudah masanya berumbi, mereka pun 
menengok dan mencabut talas mereka masing-masing.saat itulah, ternyata, tanaman 
talas Nyi Sangkan tidak ada umbinya. Sementara ketika si anak buncit mencabut 
talasnya, umbinya besar
 sekali, meski hanya sebuah, di mana besar umbinya itu sebesar tempayan tempat 
beras. Si anak buncit itu pun berbicara kepada Nyi Sangkan sambil 
memperlihatkan talasnya dengan diayun-ayunkan: “Ini lihatlah, Uwa, tanaman 
talasku ada umbinya sampai sebesar burut Uwa.” Setelah itu, dengan mendadak 
terbukti terkena oleh sapaan, alat kelamin Nyi Sangkan menjadi burut sebesar 
talas si anak buncit, sama dengan tempayan beras. Nyi Sangkan menjadi kalang 
kabut, hatinya makin marah kepada si anak buncit itu, yang karena ia terkena 
sapaannya si anak buncit itu menjadi burut alat kelaminnya, hingga ia susah 
berjalan, hampir-hampir tak dapat pulang ke rumah.


Sejak saat itu, Nyi Sangkan terus menangis, dan tentu saja, makin lama makin 
membenci anak buncit itu. Karena Nyi Sangkan merasa malu, maka ia pun bermaksud 
untuk membunuh si buncit, hanya saja, lagi-lagi, ia merasa takut oleh suaminya, 
Daleum Sangkan. Pada suatu waktu, di sebuah hari yang mungkin biasa, ketika si 
buncit sedang bepergian, ketika itulah ikan lubang kesayangan si buncit dicuri 
oleh Nyi Sangkan dari tong kawung, dibawa ke rumah Nyi Sangkan dan dimasak 
layaknya ikan, sementara kepala ikan tersebut tidak dimasaknya, melainkan 
dimasukkan ke dalam mangkuk dan disimpan di rak piring dengan ditutup oleh 
periuk. Tidak lama kemudian si buncit datang sambil membawa makanan ikan, terus 
ia mencari ikannya untuk diberi makan. Ketika dilihat ternyata ikannya sudah 
tidak ada lagi, si buncit terus menanyakan, dan berkata: “Ua, ikan saya di mana 
gerangan ikan kesayanganku? Jika ia tidak ada di tempatnya, sudah tentu dicuri 
olehmu.”


Namun, ketika si buncit tengah berbicara itu, ayam jantan tiba-tiba berkokok: 
“Kiplip-kiplip (suara tiruan tepukan sayap, sebelum ayam berkokok) Kongkorongok 
(suara kokok ayam) // Kepala lubang disembuyikan, // ditutup oleh periuk, // 
ditempatkan di dalam mangkuk, // disimpan di rak piring, // cepat-cepat, // 
segera harus dicari, // jangan percaya kepada Nyi Sangkan, // sebab dia buruk 
hati, // dan ia bermaksud membunuhmu.”


Setelah mendengar kokok ayam yang demikian bunyinya tersebut, maka si buncit 
segera mencarinya ke rak piring. Dan ketika ditengoknya, ternyata kepala lubang 
itu memang ada seperti dikatakan si ayam jalu yang cerdas itu, persis ditutup 
oleh periuk. Sejak itu si buncit tidak bicara lagi, dan ia terus melarikan diri 
karena marahnya dan benci yang teramat sangat kepada Nyi Sangkan. Ia pun 
langsung pergi ke Negara Pakuan Barat dan bertempat tinggal di sana sebagai 
pertapa di pegunungannya, di sekitar Gunung Halimun dan Gunung Salak.”


Dengan dua contoh tersebut, masyarakat Sunda Banten kuno telah akrab dengan apa 
yang saat ini disebut sebagai seni dan budaya kesusastraan yang berbasis pada 
bahasa dan kearifan hidup sehari-hari, yang untuk sebagiannya, kesusastraan 
masyarakat Sunda Banten masa silam itu bersifat sakral, dan sebagian yang 
lainnya mendedahkan kearifan dengan menggunakan tuturan dan cerita kiasan.


Kosmik Sunda

Dalam lanskap wawasan keagamaan yang tercermin dalam kesusastraan lisan 
masyarakat Sunda Kuno, ada banyak khasanah mantra yang dihasilkan atau 
diproduksi masyarakat Sunda Kuno, yang dalam hal ini masyarakat Sunda Kuno di 
Banten, misalnya. Sebagai contoh, selain ada sejumlah mantra yang masih 
menggunakan Bahasa Sunda yang belum terpengaruh Bahasa Lain, semisal Bahasa 
Arab dan Jawa (Dialek Banten), kita mengenal juga mantra yang telah 
terakulturasi dengan Bahasa Jawa dan Bahasa Arab, seperti Jampe Nyimpen Beas:


Mangga Nyi Pohaci // Nyi Mas Alame Nyi Mas Mulane // Geura ngalih ka gedong 
manik ratna inten // Abdi ngiringan // Ashadu sahadat panata, panetep gama // 
Iku kang jumeneng Lohelapi // Kang ana teleking ati // Kang ana lojering Allah 
// Kang ana madep maring Allah // Iku wujud salamet ing dunya // Salamet ing 
akherat // Ashadu Anla Ilaha Illallah // Wa Ashadu Anna Muhammad ar Rasulullah 
// Abdi seja babakti ka nu seda sakti, agung tapa // Nyanggakeun sangu putih 
sapulukan // Kukus kuning purba herang // Tuduh kang saseda tuhu // Datang ka 
sang seda herang // Tepi ka kang seda sakti // Nu sakti neda kasakten // Neda 
deugdeugan tanjeuran.


Dunia mantra rupa-rupanya merupakan sebuah kepercayaan tentang adanya 
figur-figur gaib dan imajiner yang sakti dan maha kuasa, semisal para dewa dan 
arwah-arwah leluhur yang di dalamnya termasuk para raja dan dewi-dewi dalam 
kepercayaan masyarakat Sunda Kuno, yang dalam hal ini merupakan ciri utama atau 
ciri pertama bentuk dan khasanah mantra. Namun di sini ada yang menarik, yaitu 
adanya figur-figur Islam ketika masyarakat Sunda itu sendiri telah bersentuhan 
dan berakulturasi dengan agama dan kepercayaan Islam, semisal tercermin dalam 
Jampe Nyimpen Beas yang telah dicontohkan itu.


Ciri kedua adalah nada sugestif sebuah mantra, di mana dalam teks mantra 
tersebut terdapat kalimat atau frasa yang memposisikan si pengucap mantra atau 
si juru mantra dalam posisi yang lebih kuat, yang seakan-akan berhadapan dengan 
pihak yang lemah, semisal tercermin dalam bunyi: “Awaking kasep sorangan // 
Malik welas karunya ka aing // Da aing ratu asihan ti buana panca tengah // 
Curuk aing curuk angkuh // Bisa ngangkuh putra ratu // Mangka reret soreang // 
Soreang ka badan awaking.


Demikianlah selanjutnya, atau ciri ketiga, kuatnya nada repetitif dan bunyi 
asosiatif yang sangat kuat, yang menimbulkan efek imperatif, desakan, atau pun 
perintah, di mana pada saat bersamaan merupakan himbauan yang sekaligus sebuah 
permohonan yang mendedahkan persuasi yang juga sama-sama kuat, semisal bunyi: 
“Mangka langgeng mangka tetep // Mangka hurip kajayaan // Nu kosong 
pangeusiankeun // Nu celong pangminuhankeun // Balik ka weweg sumpeg // Balik 
ka mandala pageuh // Panginditkeun pangnyingkirkeun // Pangnyampurnakeun badan 
awaking.


Tak diragukan lagi, efek repetitif dan imperatif itulah yang juga menimbulkan 
efek magis dan menyihir, di mana rima-rima pantun mantra tersebut mempunyai 
beberapa fungsi, yaitu fungsi estetik, fungsi membangun nada, fungsi magis, dan 
fungsi pengingat bagi mereka yang membacakannya, yang kita sebut saja hal-hal 
ini sebagai ciri keempat bentuk dan khasanah mantra.  


Selain itu semua, seperti telah dicontohkan dalam Jampe Nyimpen Beas, ada 
pantun dan mantra-mantra tertentu yang telah menggunakan lintas kode bahasa 
atau telah berakulturasi dengan bukan Bahasa Sunda, semisal mantra-mantra yang 
bercampur dengan Bahasa Jawa (Dialek Banten) dan Bahasa Arab dalam 
mantra-mantra Sunda, semisal ada pula mantra-mantra Bahasa Jawa Banten yang 
menyisipkan kata, kalimat, atau pun frase Bahasa Sunda, sebagai contoh 
kebalikannya. Mantra-mantra yang telah menggunakan lintas kode bahasa ini antra 
lain adalah Kidung Ngambah Alas, Kidung Rampak Baya, Asihan Kinasihan, dan 
tentu saja Jampe Nyimpen Beas yang telah disebutkan di awal tulisan ini.


Sementara itu, secara isi atau materi dan fungsi pantun atau mantra masyarakat 
Sunda Kuno itu sendiri dapatlah dikategorikan ke dalam beberapa bentuk dan 
golongan, semisal mantra yang dibacakan dalam ruwatan untuk menolak bala atau 
penyakit dan meminta keselamatan, mantra untuk pengobatan dan untuk meminta 
keselamatan tanaman, semisal tanaman padi, mantra asihan (pelet), dan yang 
terakhir adalah mantra untuk mencelakakan yang dikenal juga dengan nama teluh 
atau santet. Dengan demikian, kita dapat menyebutkan enam fungsi mantra, yaitu 
jangjawokan, asihan (pelet), jampe, ajian, singlar, dan rajah.


Pantun atau carita pantun yang diproduksi masyarakat Sunda Banten tidak bisa 
dilepaskan dari wawasan masyarakat Sunda Banten itu sendiri dalam memandang 
alam, sang pencipta, dan diri mereka sebagai sebuah kesatuan atau kosmologi 
yang saling berhubungan satu sama lain. Salah-satunya adalah hikayat tentang 
terciptanya alam dan manusia: 


“Syahdan, ketika jagat raya masih suwung atau awang-awang atau uwung-uwungan 
alias masih berupa alam ketiadaan, dan kemudian lama kelamaan menjadi cair, dan 
dari keadaan yang mencair itu ada bagian yang mengental. Bagian yang mengental 
itu disebut Cariu Ading atau Sasaka Domas. Dan tersebutlah Maha Kesa dan Kawasa 
menciptakan manusia di alam gaib. Dan ketika telah terwujud, wujud gaib ini pun 
berkata: “Pinter temen aing, kawasa temen aing, nepi ka andegsakieu.” Namun 
tiba-tiba, saat wujud gaib itu usai berkata, secercah kilat menyambar disertai 
ucapan: “Apa katamu!? Adakah engkau terjadi sendiri? Apakah kamu tak ada yang 
menjadikan?!”. Mendengar hal itu, manusia pertama itu pun merasa malu bukan 
kepalang. Ia tunduk sembari menangis, dan tanpa disadarinya tanah yang sebesar 
Cariu Ading itu pun dicungkil-cungkil hingga membesar. Dan demikianlah, cukilan 
tanah yang tersebar itu kemudian menjadi Nusa Teulu Puluh Teulu alias Tiga 
Puluh Tiga Nusa.
 Manusia pertama itu diberi nama Adam Kaisinan alias Adam yang Tersipu atau 
Batara Kaisinan. Sedangkan badan halus Adam Kaisinan yang masuk  ke dalam bumi 
menjadi Batara Nagaraja, sementara badan kasarnya menjelma Gunung Kendeng.


Begitulah, sebagaimana dihikayatkan, bentuk pertama wujud gaib gagal menjadi 
manusia, namun terbentuk pula wujud gaib bakal manusia yang terdiri atas Karesa 
yang disebut sebagai Adam Karesa atau Batara Mahakresa, yang berkata: “Sakti 
temen, kawasa temen ieu nu ngajadikeun aing, nepi ka andegsakieu.” Setelah 
terbentuk Batara Mahakresa atau Adam Karesa, itulah terbentuk pula Batara Bima 
Karana yang kelak menurunkan nabi-nabi. Sementara itu, wujud kilat yang 
menyambar yang telah diceritakan itu disebut Adam Kawasa atau Batara Maha 
Kawasa, dan kesatuan dari ketiganya itu disebut Batara Tunggal yang tinggal di 
Mandala.“


Dengan sepenggal contoh di atas, tradisi kesusastraan lisan masyarakat Sunda 
Kuno di Banten tidak bisa dilepaskan dari wawasan keagamaan mereka. Hingga 
dapatlah disimpulkan, meski mungkin hanya untuk sementara, pantun atau carita 
pantun yang ada dalam tradisi masyarakat Sunda Kuno di Banten, 
setidak-tidaknya, berakar pada kepercayaan keagamaan mereka yang acapkali 
bersifat sakral. Begitu pula, deklamasi atau pun penceritaan dan pendendangan 
pantun-pantu itu sendiri dilaksanakan dalam ritual-ritual keagamaan atau 
ritual-ritual tradisi, semisal ruwatan atau upacara-upacara penghormatan kepada 
sang pencipta dan arwah para leluhur.  


Begitulah, setidak-tidaknya ada tiga macam atau bentuk upacara atau ritual yang 
di dalamnya atau besertanya masyarakat Sunda Kuno di Banten mendeklamasikan 
atau mendendangkan pantun  atau carita pantun. Pertama, upacara ruwatan, yang 
doanya ditujukan kepada orang, sosok, atau figure yang dianggap membawa atau 
pun dapat mendatangkan bencana, yang biasanya mengambil cerita tentang Batara 
Kala. Kedua, rajah, yang doanya berupa mantra panyinglar, sebentuk permohonan 
agar dijauhkan dari gangguan makhluk gaib ketika hendak mengadakan pagelaran 
atau deklamasi carita pantun. Dan yang ketiga, yaitu pasaduan, yang doanya 
berisi permohonan ijin kepada para pendiri kerajaan atau yang dianggap sebagai 
para leluhur: 


Ngahaturkeun sangu putih sapulukaneun: // Ka Sang Ratu Buliger Putih, // Nu 
calik di hulu pasir. // Ka Sang Ratu Jelegong Putih // Nu calik di hulu lebak.  
// Ka Sang Ratu Harumuk Putih // Nu calik di sadasar ing cai! // Isun Rajah 
Pamunah. // Pun! Sapun! // Ka Raja Pakuan // Nu calik di Gunung Padang Kulon. 
// Ka Perbu Ratu Galuh,  // Ka Uwa Buyut Murugul Mantri Agung  // Nu tapa di 
jero gunung. // Ka Uwa Purwa Galih // Nu nangkes Padjajaran! (Kupersembahkan 
sesuap nasi putih: // Kepada Sang Ratu Buliger Putih // Yang berkuasa di puncak 
bukit.  // Kepada Sang Ratu Jelegong Putih // Yang berkuasa di dasar lembah. // 
Kepada Sang Ratu Harumuk Putih // Yang berkuasa di dasar air. // Akulah Rajah 
(mantra) penawar (pembersih). // Maaf! Maafkanlah!  // Kepada Raja Pakuan // 
Yang berkuasa di Gunung Padang Kulon. // Kepada Prabu Ratu Galuh, // Kepada 
Uwak Buyut Murugul Mantri Agung // Yang bertapa di dalam gunung.  // Kepada 
Uwak Purwa Galih  // Yang
 mengayomi Padjajaran!   


Berikut contoh-contoh pantun dan mantra masyarakat Sunda Kuno di Banten (dan 
Jawa Barat) berdasarkan materi isi, jenis, dan fungsinya:  

Jangjawokan: Pupur aing pupur panyambur // Panyambur panyangkir rupa // Nyalin 
rupa ti Dewata // Nyalin sari Widadari // Nya tarang lancah mentrangan // Nya 
halis katumbirian // Nya irung kuwung-kuwungan // Dideuleu teu hareup sieup // 
Disawang ti tukang lenjang  // Ditilik ti gigir lengik // Mangka welang mangka 
asih ka nu dipupur // Ditenjo ku saider kabeh (Jangjawokan Paranti Dipupur). 
Ruwatan Tanaman: Weweg sampeg, Mandala pageuh // Mangka tetep mangka langgeng 
// Mangka langgeng tunggal tineung // Datang hiji datang dua // Datang tilu 
nungku nungku // Datang opat ngawun ngawun // Datang lima lingga emas // Datang 
genep nguren nguren // Datang tujuh lilimbungan // Puluhan tanpa wilangan (Sri 
Dangdayang Tresnawati).


Pelet atau Asihan: Asihan aing si burung pundung // Maung pundung datang amum 
// Badak galak datang depa  // Orak laki datang numpi  // Burung pundung burung 
cidra ku karunya // Malik welas malik asih ka awaking (Asihan Si Burung 
Pundung).  Selamatan: Calik calik nu geulis // Nyai Sri calik di dieu // Unggah 
ka pasaran lega // Geusan sia gagayahan // Geusan sia gagayahan // Di gedong 
manik mandala pageuh // Lemut teuing ku buruanana // Lesang teuing ku bojana // 
Nu geulis ranggeuy mirikiniknik // Bar ngampar ku samak metruk // Gasan bujang 
kasangna bagus // Gasan Nyai tes netepan // Ngajepret palisir bodas (Sri 
Dangdayang Tresnawati). 


Jampe: Kalaka kaliki // Kala lumpat ka sisi cai // Aing nyaho ngaran sia // 
Ngaran sia kulit cai // Tawa tawe // Ditawa ku sang indung putih // Tiis ti 
peuting waras ti berang // Paripurna hirup waras (Jampe Dicoco Kala). Si semar 
datang // Si togog puyuh gumuyuh // Sangkan hewan sangkan mati // Ngaran talaga 
di cai // Sabulan meunang ngaherang // Dua bulan ngalenggang // Tilu bulan 
gumulung // Opat mangrupa, limana usik // Genep bulan kamurulloh // Tujuh bulan 
jaga nata // Dalapan bulan conggeang // Nu larang malik ka handap // Salapan 
bulan godebag // Godebag ka mata sare (Jampe Nganjang). Rajah: Hong citra 
kasunyian // Hong citra kasundulan // Jleg bumi // Jleg manusa // Jleg setan // 
Manusa wisesa // Setan sampurna  // Sampurna kersaning Allah // Ashadu Anla 
Ilaha Illallah // Wa Ashadu Anna Muhammad ar Rasulullah (Rajah Citra 
Kasunyian). 


Ajian: Dampal suku ngabatu datar // Bitis ngabatu wilis // Nyurup ka badana // 
Nyurup ka sumsumna // Getih sabadan // Bedas ngala ka aki (Ajian Kabedasan).  
Singlar:  Carulung cai ti manggung // Barabat ti awang-awang // Cai tiis tanpa 
bisi // Mun deuk nyatru ka si itu // Mun deuk hala ka si eta // Anaking palias 
teuing (Singlar Ka Musuh). Demikianlah, khasanah pantun dan mantra masyarakat 
Sunda Kuno itu tak pelak lagi merupakan bukti bahwa orang tua-orang tua kita di 
jaman dulu telah akrab dengan khasanah kearifan dan kesusastraan yang berbasis 
pada bahasa dan wawasan hidup keseharian. (Sulaiman Djaya)


Tulisan ini dipresentasikan pada acara Temu Sastra Indonesia 2012 di Gedung 
KORPRI Rangkasbitung, Lebak, Banten 13 September 2012 (Estetika Lokal dan Peran 
Negara dalam Kesusastraan)

http://sulaimandjaya.blogspot.com/2013/02/ajimantra-sastra-magis-sunda-banten.html





    
     

    
    






  








Kirim email ke