Mhhm...uing teu ngarti ka jalma anu ceunah ngaku liberal. Apan ari liberal 
bebas henteu mandang bulu kelek, tapi kunaon mun aya hiji jalma boga pendirian 
make jilbab dipersoalkeun? Hente aya toleransina alasanna the loba. Tapi ka 
jalma anu make pakean kawas suparman anu ngan nutupan daerah segi tilu henteu 
dipersoalkeun, alasanna "hak azasi manusia". Tapi ka anu make jilbab omongan 
hak azasina dikamanakeun? Jelas anu fundamental jeung ngabahayakeun kahirupan 
lain kelompok teroris, tapi kalompok liberal anu mindsetna parsial dina ngudag 
kabebasan hirup manusa
Powered by Telkomsel BlackBerry®

-----Original Message-----
From: Ki Hasan <[email protected]>
Sender: [email protected]
Date: Mon, 11 Mar 2013 09:42:34 
To: Ki Sunda<[email protected]>
Reply-To: [email protected]
Cc: Baraya Sunda<[email protected]>; Urang 
Sunda<[email protected]>
Subject: [kisunda] Fundamentalisme vs Liberalisme?

Aya bacaeun menarik:

===
"Bagaimana mungkin mereka tak faham bahwa berjilbab adalah hak yang
dimiliki oleh setiap perempuan yang memutuskan memakainya? Bagaimana mereka
tak mengerti bahwa jika sebuah stasiun TV membolehkan perempuan berpakaian
minim untuk tampil atas alasan hak asasi, mereka juga semestinya
membolehkan seorang perempuan berjilbab untuk memperoleh hak setara?
Bagaimana mungkin mereka memiliki pikiran bahwa dengan kepala yang ditutupi
jilbab maka kecerdasan seorang perempuan langsung meredup dan otaknya
mengkeret mengecil?

Bersama suami, saya kemudian menyimpulkan bahwa fundamentalisme "mungkin
dalam bentuknya yang lebih berbahaya" ternyata bisa bersemayam di kepala
orang-orang yang mengaku liberal."
(Sandrina Malakiano)
===

Salengkepna, toong di dieu:
https://www.facebook.com/kata2hikmah.new/posts/10151087822209355

CURHAT SANDRINA MALAKIANO (MANTAN PENYIAR METRO TV)

Metro TV telah membuat berita yang menyudutkan Rohis (Kerohanian Islam) di
sekolah-sekolah, bahwa Rohis adalah tempat pembibitan teroris. Berbagai
pihak ramai membicarakan ulah Metro TV tersebut. Berita yang penuh dengan
propaganda anti Islam telah dilakukan Metro TV. Salah satu penyiar Metro TV
yang sangat terkenal Sandrina Malakiano juga pernah mengalami pelakukan
SARA yang dilakukan Metro TV, hanya karena berjilbab, akhirnya dia tidak
mendapat pekerjaannya. Berikut curhatnya:

Setiap kali sebuah musibah datang, maka sangat boleh jadi di belakangnya
sesungguhnya menguntit berkah yang belum kelihatan. Saya sendiri yakin
bahwa " sebagaimana Islam mengajarkan " di balik kebaikan boleh jadi
tersembunyi keburukan dan di balik keburukan boleh jadi tersembunyi
kebaikan.

Saya sendiri membuktikan itu dalam kaitan dengan keput
usan memakai hijab sejak pulang berhaji di awal 2006. Segera setelah
keputusan itu saya buat, sesuai dugaan, ujian pertama datang dari tempat
saya bekerja, Metro TV.

Sekalipun tanpa dilandasi aturan tertulis, saya tidak diperkenankan untuk
siaran karena berjilbab. Pimpinan Metro TV sebetulnya sudah mengijinkan
saya siaran dengan jilbab asalkan di luar studio, setelah berbulan-bulan
saya memperjuangkan izinnya. Tapi, mereka yang mengelola langsung beragam
tayangan di Metro TV menghambat saya di tingkat yang lebih operasional.
Akhirnya, setelah enam bulan saya berjuang, bernegosiasi, dan mengajak
diskusi panjang sejumlah orang dalam jajaran pimpinan level atas dan tengah
di Metro TV, saya merasa pintu memang sudah ditutup.

Sementara itu, sebagai penyiar utama saya mendapatkan gaji yang tinggi.
Untuk menghindari fitnah sebagai orang yang makan gaji buta, akhirnya saya
memutuskan untuk cuti di luar tanggungan selama proses negosiasi
berlangsung. Maka, selama enam bulan saya tak memperoleh penghasilan, tapi
dengan status yang tetap terikat pada institusi Metro TV.

Setelah berlama-lama dalam posisi yang tak jelas dan tak melihat ada sinar
di ujung lorong yang gelap, akhirnya saya mengundurkan diri. Pengunduran
diri ini adalah sebuah keputusan besar yang mesti saya buat. Saya amat
mencintai pekerjaan saya sebagai reporter dan presenter berita serta
kemudian sebagai anchor di televisi. Saya sudah menggeluti pekerjaan yang
amat saya cintai ini sejak di TVRI Denpasar, ANTV, sebagai freelance untuk
sejumlah jaringan TV internasional, TVRI Pusat, dan kemudian Metro TV
selama 15 tahun, ketika saya kehilangan pekerjaan itu. Maka, ini adalah
sebuah musibah besar bagi saya.

Tetapi, dengan penuh keyakinan bahwa Allah akan memberi saya yang terbaik
dan bahwa dunia tak selebar daun Metro TV, saya bergeming dengan keputusan
itu. Saya yakin di balik musibah itu, saya akan mendapat berkah dari-Nya.

HIKMAH BERJILBAB

Benar saja. Sekitar satu tahun setelah saya mundur dari Metro TV, ibu saya
terkena radang pankreas akut dan mesti dirawat intensif di rumah sakit.
Saya tak bisa membayangkan, jika saja saya masih aktif di Metro TV,
bagaimana mungkin saya bisa mendampingi Ibu selama 47 hari di rumah sakit
hingga Allah memanggilnya pulang pada 28 Mei 2007 itu. Bagaimana mungkin
saya bisa menemaninya selama 28 hari di ruang rawat inap biasa,
menungguinya di luar ruang operasi besar serta dua hari di ruang ICU, dan
kemudian 17 hari di ruang ICCU?

Hikmah lain yang saya sungguh syukuri adalah karena berjilbab saya mendapat
kesempatan untuk mempelajari Islam secara lebih baik. Kesempatan ini datang
antara lain melalui beragam acara bercorak keagamaan yang saya asuh di
beberapa stasiun TV. Metro TV sendiri memberi saya kesempatan sebagai
tenaga kontrak untuk menjadi host dalam acara pamer cakap (talkshow) selama
bulan Ramadhan.

Karena itulah, saya beroleh kesempatan untuk menjadi teman dialog para
profesor di acara Ensiklopedi Al Quran selama Ramadhan tahun lalu,
misalnya. Saya pun mendapatkan banyak sekali pelajaran dan pemahaman baru
tentang agama dan keberagamaan. Islam tampil makin atraktif, dalam
bentuknya yang tak bisa saya bayangkan sebelumnya. Saya bertemu Islam yang
hanif, membebaskan, toleran, memanusiakan manusia, mengagungkan
ibu dan kaum perempuan, penuh penghargaan terhadap kemajemukan, dan
melindungi minoritas.

Saya sama sekali tak merasa bahwa saya sudah berislam secara baik dan
mendalam. Tidak sama sekali. Berjilbab pun, perlu saya tegaskan, bukanlah
sebuah proklamasi tentang kesempurnaan beragama atau tentang kesucian.
Berjibab adalah upaya yang amat personal untuk memilih kenyamanan hidup.

Berjilbab adalah sebuah perangkat untuk memperbaiki diri tanpa perlu
mempublikasikan segenap kebaikan itu pada orang lain. Berjilbab pada
akhirnya adalah sebuah pilihan personal. Saya menghormati pilihan personal
orang lain untuk tidak berjilbab atau bahkan untuk berpakaian seminim yang
ia mau atas nama kenyamanan personal mereka. Tapi, karena sebab itu, wajar
saja jika saya menuntut penghormatan serupa dari siapapun atas pilihan saya
menggunakan jilbab.

Hikmah lainnya adalah saya menjadi tahu bahwa fundamentalisme bisa tumbuh
di mana saja. Ia bisa tumbuh kuat di kalangan yang disebut puritan. Ia juga
ternyata bisa berkembang di kalangan yang mengaku dirinya liberal dalam
berislam.

Tak lama setelah berjilbab, di tengah proses bernegosiasi dengan Metro TV,
saya menemani suami untuk bertemu dengan Profesor William Liddle "
seseorang yang senantiasa kami perlakukan penuh hormat sebagai sahabat,
mentor, bahkan kadang-kadang orang tua " di sebuah lembaga nirlaba. Di sana
kami juga bertemu dengan sejumlah teman, yang dikenali publik sebagai
tokoh-tokoh liberal dalam berislam.

Saya terkejut mendengar komentar-komentar mereka tentang keputusan saya
berjilbab. Dengan nada sedikit melecehkan, mereka memberikan sejumlah
komentar buruk, sambil seolah-olah membenarkan keputusan Metro TV untuk
melarang saya siaran karena berjilbab. Salah satu komentar mereka yang
masih lekat dalam ingatan saya adalah, Kamu tersesat. Semoga segera kembali
ke jalan yang benar.

Saya sungguh terkejut karena sikap mereka bertentangan secara diametral
dengan gagasan-gagasan yang konon mereka perjuangkan, yaitu pembebasan
manusia dan penghargaan hak-hak dasar setiap orang di tengah kemajemukan.

Bagaimana mungkin mereka tak faham bahwa berjilbab adalah hak yang dimiliki
oleh setiap perempuan yang memutuskan memakainya? Bagaimana mereka tak
mengerti bahwa jika sebuah stasiun TV membolehkan perempuan berpakaian
minim untuk tampil atas alasan hak asasi, mereka juga semestinya
membolehkan seorang perempuan berjilbab untuk memperoleh hak setara?
Bagaimana mungkin mereka memiliki pikiran bahwa dengan kepala yang ditutupi
jilbab maka kecerdasan seorang perempuan langsung meredup dan otaknya
mengkeret mengecil?

Bersama suami, saya kemudian menyimpulkan bahwa fundamentalisme "mungkin
dalam bentuknya yang lebih berbahaya" ternyata bisa bersemayam di kepala
orang-orang yang mengaku liberal.

Kirim email ke