Om Ichal... Makasih infonya kereeen nih, Mamang share ya. Soalnya bener deh anak-anak banyak yg sudah "terjajah" oleh produk-2 yg diiklankan.
nuhuuuuns, mang kabayan www.udarider.com -----Original Message----- From: ichal amq <[email protected]> Sender: [email protected] Date: Thu, 28 Mar 2013 07:37:10 To: <[email protected]>; <[email protected]> Reply-To: [email protected] Subject: [4wheeler] anak korban serangan iklan Menyikapi semakin banyaknya plang iklan disepanjang jalan Kekuatan “Meminta Terus-Menerus” (Pester Power) “ Kami mengandalkan anak untuk terus meminta terus-menerus (merengek) kepada ibunya agar membeli produk kami, daripada kami beriklan langsung kepada ibunya.” Barbara A. Martino, Advertising Executive. Anak-anak jaman sekarang memiiliki otonomi lebih dan kekuatan membuat keputusan dalam keluarga daripada generasi sebelumnya, sehingga ditemukan fenomena bahwa anak-anak menjadi vokal terhadap apa yang ingin orangtua mereka beli untuk mereka. “Kekuatan Meminta Terus-Menerus’ adalah kemampuan anak untuk merengek kepada orangtuanya agar membeli barang-barang atau permainan yang sebelumnya tidak dibelikan. Pemasaran (marketing) ke anak, semuanya tentang menciptakan kekuatan anak untuk “meminta terus menerus”, karena pembuat iklan paham betapa dahyatnya kekuatan merengek ini. Menurut buku tentang Industri Pemasaran Kidfluence, merengek dapat dibagi menjadi dua kategori – ‘persistensi” dan “kepentingan”. Merengek yang persisten (suatu permintaan yang dilakukan berulang kali) tidak se-efektif dan secanggih “merengek dengan kepentingan””. Metode merengek dengan kepentingan lebih menarik keinginan orangtua untuk menyediakan yang terbaik untuk anak-anaknya, dan lebih berperan pada perasaan bersalah yang dimiliki orangtua karena mereka tidak memiliki cukup waktu dengan anak-anaknya. Perpaduan Psikologi dan Marketing Untuk secara efektif menjual kepada anak-anak, pembuat iklan perlu mengetahui apa yang membuat anak senang dengan produk mereka. Dengan bantuan peneliti-peneliti yang dibayar mahal dan psikolog, pembuat iklan sekarang memiliki akses terhadap pengetahuan mendalam tentang perkembangan anak, kebutuhan sosial dan emosional anak pada tingkatan umur yang berbeda. Menggunakan penelitian yang menganalisa prilaku anak, kehidupan fantasi, bahkan mimpi-mimpi mereka, perusahan mampu merancang strategi pemasaran yang canggih untuk mendapatkan hati anak-anak. Sebagai contoh, pada akhir 1990, firma iklan Saatchi dan Saatchi menyewa ahli antropologi budaya untuk meneliti keterikatan anak terhadap tehnologi digital dirumah dengan tujuan untuk mengetahui cara terbaik untuk mengikat anak dengan merek dan produk.” Ahli pemasaran menanam benih pengenalan merek pada anak-anak usia dini, dengan harapan bahwa benih-benih ini akan tumbuh kedalam hubungan sepanjang hidup. Menurut the Center for a New American Dream, bayi sejak umur 6 bulan dapat membentuk dalam otaknya imej mental logo dan maskot suatu produk. Kesetiaan terhadap suatu merek/produk dapat dibangun sejak umur 2 tahun, dan pada saat anak pada usia sekolah SD, mereka dapat mengenal ratusan logo merek berbagai produk. Relakah anak-anak kita menjadi target marketing sejak umur 2 tahun dan menjadi pelanggan loyal seumur hidup sejak umur 2 tahun? Disarikan dari "How Marketers Target Kids" Salam, Ichal Sencaki Management / 085712678999
