PROFIL KARTUNIS MANG OHLE - KORAN PIKIRAN
RAKYAT<http://era90.blogspot.com/2010/07/profil-kartunis-mang-ohle-koran-pikiran.html>
<http://4.bp.blogspot.com/_KtvFYFCh0wk/TDnvpyv9JII/AAAAAAAABRg/-EZsWtM9HEY/s1600/MANG+OHLE.gif>
Bagi rakyat Jawa Barat yang terbiasa dengan kartun Mang Ohle dalam surat
kabar Pikiran Rakyat yentunya ingin mengenal siapa kartunisnya. Dalam
artikel ini saya menulis *Profil Kartunis Mang Ohle - Koran Pikiran
Rakyat*adalah untuk mengenang keberadaan kartun ini yang turut
mewarnai dunia
kartun Jawa Barat.


Sekitar tahun 1950, sosok *Didin D. Basoeni* adalah anak yang senang
menggambar. Saat itu dia masih duduk di bangku SMP. Seusai sekolah,
biasanya ia lalangiran di teras rumah dan menggambarkan apa yang terbesit
di pikirannya. Ditemani angin yang menyapa rambutnya, sesekali ia memegangi
dagunya sambil melamun apa yang akan dilukisnya.
Kebiasaan itu terus dilakukannya hingga memasuki usia SMA. Saat itulah,
sekitar tahun 1960 Didin mendengar kabar bahwa HU Pikiran Rakyat mengadakan
lomba menggambar sketsa menyambut HUT RI. Tentu saja Didin merasa
terpanggil. Berbekal darah seni yang ia asah semenjak kecil, ia mengikuti
lomba itu.

Setelah mendaftar, kemudian ia pulang dan beberapa saat Didin melamun.
Akhirnya, Didin memutuskan untuk melukiskan situasi masyarakat sedang
membuat gapura (pintu gerbang) dengan berbagai hiasan. Ia kirimkan gambar
itu. Ternyata, gambar itu dimuat di Lembaran Minggu dalam rubrik remaja
“Kuntum Mekar”.

Ia melonjak kegirangan, kesenangannya menggambar akhirnya bisa dinikmati
orang banyak. Didin pun semakin tekun menggambar.

<http://1.bp.blogspot.com/_KtvFYFCh0wk/TDnwHrRn-OI/AAAAAAAABRo/z4jQpEirI7Y/s1600/DIDIN-MANG-OHLE.jpg>
Suatu hari, Didin membuat sketsa situasi pesisir atau pantai. Ia menggambar
dengan semangat hingga sketsa itu rampung dengan cepat. Kemudian, dengan
penuh harapan ia kirimkan sketsa itu ke “PR”. Tapi, sketsa pantainya tak
kunjung dimuat. Didin tak putus asa, Ia ulangi sketsa pantai itu, ia
kirimkan lagi. Ironisnya, sketsa itu pun tak kunjung dimuat. Didin pun
mengulanginya hingga sketsa pantai ke-60. Sketsa ke-60 itulah yang akhirnya
berhasil dimuat di “PR”.

Didin terus berkreasi, gambar yang ia buat di “PR” Lembaran Minggu itu
tidak hanya gambar sketsa. Didin mencoba gambar cerpen dan gambar ilustrasi
cerita bersambung yang muncul setiap hari di halaman terakhir “PR”.

Dari honor menggambar itulah, biaya SMA Didin dapat terpenuhi. Setelah
lulus SMA, Didin duduk di bangku kuliah di ITB. Itupun dari honor
menggambar. Hingga pada tahun 1969 ia keluar dari ITB karena kesulitan
membayar biaya kuliah.

Beban ekonomi tak menyurutkan semangat Didin menggambar. Di balik
keterpurukannya, Didin memperluas media tempat menyalurkan gambarnya. Ia
mencoba di berbagai surat kabar dan majalah nasional. Berkat ketekunan dan
kerja keras, gambarnya terpampang di beberapa media diantaranya, “Merdeka”,
“Duta Masyarakat”, “Pemuda”, “Gelora Indonesia”, “Varia”, “Selecta”,
“Karya”, “Berdikari”, “Kujang”, “Mandala”, “Gondewa”, “Galura”, “Mangle”,
“Langensari”, “Campaka”, “Kancil” (majalah anak-anak), “Sunda”,
“Harapan”(Koran Kodam VI Siliwangi) dll.
Perkenalan Didin dengan surat kabar dan majalah itulah yang membawanya ke
dunia Jurnalistik. Didin menjadi wartawan ”PR” semenjak tahun 1973.

Selama menjadi wartawan, Didin tak meninggalkan hobi menggambarnya.
Kemampuan menggambar itu pula yang menjadi awal perkenalannya dengan mang
ohle, maskot “PR”.
Begini kisahnya, gambar karikatur “*Mang Ohle*” sudah muncul di “PR” sejak
tahun 1955. Ada beberapa kartunis “Mang Ohle”, yaitu Teddy M. D.
(1957-1964), Soewardi Nataatmadja (1964-1982), T. Sutanto (1982-1984).
Pada tahun 1984 ada kebijakan dari salah seorang pimpinan “PR” untuk
mengganti kartunis “Mang Ohle”. Caranya, dengan membuka kesempatan kepada
sejumlah tukang gambar. Namun, hasil seleksi itu tidak ada yang diterima.
Akhirnya karena terdesak waktu terbit, Didin yang saat itu bekerja sebagai
wartawan diminta untuk menggambar “Mang Ohle”. Teks gambar “Mang Ohle”
dibuat oleh Bram M.D., Redaktur Pelaksana “PR” sedangkan gambarnya oleh
Didin.
Melihat bakat Didin, gambar karikatur “Mang Ohle” sejak saat itu
dipercayakan kepada Didin. Tidak hanya gambar, penulisan teks pun
dikerjakan Didin.
24 tahun Didin menggambar Mang Ohle sampai menembus babak Reformasi.
Artikulasi Didin yang mendominasi citra Mang Ohle kini. Didin mengubah dari
yang naturalis menjadi garis. Ia menggambar Mang ohle berkarakter lugu
tetapi cerdas, seperti tokoh fiktif Sunda yang sangat merakyat, yakni
Kabayan. Sedangkan sifat karikaturnya kritis, menyindir, tetapi tidak
membuat orang marah.
Didin berprinsip, “Herang caina beunang laukna” , yang berarti “jernih
airnya dapat ikannya”. Maksudnya, membuat kritik yang menghindari konflik.
Dengan sentuhan itu, Mang Ohle karya Didin ini termuat dalam *seri prangko
Indonesian Cartoon Characters*. Karya Didin dimuat bersama tokoh-tokoh
kartun lainnya, yaitu Panji Koming (Harian Kompas), Pak Tuntung (Harian
Analisa Medan), Pak Bei dan I Brewok dari Bali, pada tanggal 13 Maret tahun
2000.
Perjalanan hidup Didin berhasil mempertemukan antara hobi, pekerjaan, dan
prestasi. Piramida itulah yang membuat Didin berkesimpulan, “Pada dasarnya
media massa adalah seni.”

<http://2.bp.blogspot.com/_KtvFYFCh0wk/TDnxawV7_ZI/AAAAAAAABRw/oLIbpB752i8/s1600/PERANGKO+KARTUN.jpg>



Anda telah membaca artikel dengan kategori *Galery* yang berjudul *PROFIL
KARTUNIS MANG OHLE - KORAN PIKIRAN RAKYAT*. Silahkan copy paste dengan
mencantumkan link URL *
http://era90.blogspot.com/2010/07/profil-kartunis-mang-ohle-koran-pikiran.html
* Terima kasih!

Kirim email ke