KEPUTUSAN FATWA MAJELIS ULAMA INDONESIA (MUI) PROP. JAWA TIMUR
No. Kep-01/SKF-MUI/JTM/I/2012

http://ashadisasongko.staff.ipb.ac.id/files/2012/04/FATWA-MUI-JATIM-SYIAH-SESAT.pdf


2013/4/30 Ki Hasan <[email protected]>

> Kontradiksi Syiah: Catatan untuk Buku “Kesesatan Sunni-Syiah”
>
> Kamis, 28 Maret 2013
>
> Oleh: *Kholili Hasib
> *
>
> *POLEMIK **Ahlus Sunnah-Syiah *tentang kesesatan Syiah di harian
> Republika tahun lalu ternyata membuat kelompok Syiah meradang. Kemarahan
> dan kegalauan Syiah ditumpahkan dalam buku berjudul *“Kesesatan
> Sunni-Syiah, Respon atas Polemik di harian Republika” *ditulis oleh Babul
> Ulum (BU), mahasiswa s-3 UIN Jakarta dan alumni pesantren Gontor.
>
> Diterbitkan oleh Aksara Pustaka Depok pada Januari 2013.  Bahasa yang
> ditulis dalam buku tersebut cenderung  tidak memakai etika serta adab
> terhadap tokoh dan institusi terhormat.
>
> Dalam pengantarnya, BU menuduh MUI memprofokasi umat Islam Sampang untuk
> berbuat anarkis, “Para pelaku kriminal tersebut berbuat anarkis karena
> merasa telah memperoleh lampu hijau dari para provokator yang bergabung
> dalam MUI Sampang dan Jatim”.
>
> Dalam pengantarnya tersebut BU juga melemparkan tuduhan  bahwa MUI Jawa
> Timur dan Majelis Intelektual dan Ulama Muda Indonesia (MIUMI) menebar
> virus kebencian antarsesama umat Islam.
>
> Tentu saja, bagi yang sudah menelaah fatwa MUI Jawa Timur yang diterbitkan
> pada 21 Januari 2012 akan mudah menyimpulkan bahwa si penulis dan mungkin
> saja tokoh-tokoh Syiah lainnya sedang ‘terbakar emosinya’, sehingga tidak
> utuh membaca butir-butir fatwa MUI Jatim.
>
> Sebab, tidak ada sama sekali himbauan, surat resmi apalagi fatwa untuk
> menyerang pemeluk Syiah di Sampang Madura. Fatwa itu diterbitkan juga bukan
> untuk memancing amarah Syiah, tapi justru untuk mengamankan antara Sunnah
> dan Syiah. Syiah pasti keberatan dengan fatwa tersebut, karena kedok-kedok
> kesesatannya terbuka.
>
> Mari kita telaah fatwa itu secara utuh. Dalam rekomendasinya MUI Jatim
> menulis tujuh butir.
>
> Pada butir (b) tertulis: “Kepada Umat Islam diminta untuk tidak mudah
> terprovokasi melakukan tindakan kekerasan (anarkisme), karena hal tersebut
> tidak dibenarkan dalam Islam serta bertolak belakang dengan upaya membina
> suasana kondusif untuk kelancaran dakwah Islam”.
>
> Pada butir (e) rekomendasi fatwa itu tertulis, “Kepada Pemerintah baik
> Pusat maupun Daerah dimohon agar bertindak tegas dalam menangani konflik
> yang terjadi, tidak hanya pada kejadiannya saja, tetapi juga faktor yang
> menjadi penyulut terjadinya konflik, karena penyulut konflik adalah
> provokator yang telah melakukan teror dan kekerasan mental sehingga harus
> ada penanganan secara komprehensif”.
>
> Latar belakang diterbitkannya fatwa sesat tersebut justru karena dipicu
> ajaran Tajul Muluk yang menghina sahabat Nabi Shallallahu ‘alaihi Wassalam.
> Tajul dihukum dua tahun penjara.
>
> Jadi, siapakah yang provokator di Sampang? Akal sehat pasti akan
> menyimpulkan bahwa pelaknatan sahabat Nabi Shallallahu ‘alaihi Wassalam
> oleh Tajul-lah yang memicu Sampang membara. Sebelum ada ajaran pelaknatan,
> umat Sampang aman, dan damai. Jika BU dan kelompok Syiah Indonesia membela
> Tajul, berarti sama saja menyokong tumbuhnya benih-benih permusuhan
> terhadap umat.
>
> Sebagaimana sudah menjadi kebiasaan, Syiah selalu menghindar untuk
> berdalil menggunakan kitab-kitab standar mereka. Mereka mencari-cari dalil
> di kitab Ahlus Sunnah dengan cara memutilasi penafsiran dan kalimat.
> Strategi ini untuk mengelabuhi umat Ahlus Sunnah bahwa basis ideologi Syiah
> juga ditemukan di referensi Ahlus Sunnah. Inilah bentuk taqiyah akademik
> Syiah.
>
> Di antaranya menyodorkan riwayat Ibnu Asakir yang terdapat dalam Tarikh
> Dimasyqa yang berbunyi:
>
> لكل نبي وصي ووارث وإن عليا وصيي ووارثي
>
> *“Setiap Nabi mempunyai seorang washi dan pewaris. Sesungguhnya Ali
> adalah wahiku dan pewarisku”.
> *
>
> Padahal riwayat ini menurut Imam al-Suyuthi palsu (lihat *Lu’lu’
> al-Mashnu’ah fi Ahadits al-Maudhu’ah jilid *I hal. 368). Begitupula imam
> al-Zarqani, menurutnya hadits ini tertolak, sanadnya tidak jelas.
>
> Hadits berikutnya berbunyi:
>
> أنت مني بمنزلة هارون من موسى
>
> *“Kedudukanmu di sisiku seperti Harun di sisi Musa.” *(HR. Bukhari
> Muslim). Hadits ini menjadi andalan Syiah untuk melakukan tipuan terhadap
> jamaah *Ahlus Sunnah. *Bahwa akidah Syiah telah dilegitimasi oleh hadits
> Sunni.
>
> Syeikh Ali Ahmad as-Salus dalam *Ma’a al-Syiah al-Itsna ‘Asyariyah fi
> al-Ushul wa al-Furu’ *(mausu’ah syamilah) Dirasa Muqaranah fi al-‘Aqoid
> wal Tafsir yang diterjemahkan dalam edisi Indonesia “Ensiklopedi
> Sunnah-Syiah”, menjelaskan secara utuh asabab al-wurud hadits tersebut.
>
> Ketika perang Tabuk, Ali dipercaya oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi
> Wassalam untuk menggantikan tugas Rasulullah Shallallahu ‘alaihi Wassalam
> di Madinah. Ali bertanya, “Ya Rasulullah, apakah engkau mempercayaiku
> sebagai pengganti tugasmu bagi kaum wanita dan anak-anak?” Rasulullah
> menjawab, “Apakah engkau tidak mau untuk aku jadikan seperti kedudukan
> Harun dari Musa, akan tetapi ketahuilah bahwa tidak ada Nabi sesudahku”.
> Hadits ini menunjukkan keutamaan Ali sebagai orang kepercayaan Rasulullah
> saat Rasulullah berangkat perang di Tabuk. Hadits ini tidak menunjukkan
> pengangkatan Ali sebagai Khalifah.
>
> Tidak ada *term *yang jelas dan lugas dalam hadits itu. Penunujukan
> Rasulullah itu ternyata sudah biasa beliau lakukan kepada sahabat-sahabat
> yang lain, selain Ali. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi Wassalam pernah
> mengangkat Ibn Abi Maktum untuk mengganti tugas Rasul sebagai kepala
> pemerintahan di Madinah saat Rasul perang dengan Bani Nadhir dan Khandaq.
>
> Begitupula pernah menunjuk Ustman bin Affan ketika beliau keluar dalam
> perang Dzaturriqa’ dan menunjuk Abdul Mundzir ketika Nabi berangkat perang
> Badar.
>
> Jika penunjukkan Ali pada perang Tabuk itu oleh BU dianggap sinyal bahwa
> Ali menjadi Khalifah Rasul atau Imam, tentu konsekuensinya Ibnu Abi Maktum,
> Ustman, dan Abdul Mundzir juga harusnya menjadi Khalifah Rasul dan imam
> bagi kaum Syiah. Tapi kenyataannya justru kaum Syiah melempar sahabat
> Ustman dari barisan murid Rasul yang adil. Bahkan dicela dan dimaki.
>
> Lagi-lagi, Syiah melakukan manipulasi penafsiran. Sejatinya ini bukan
> perbedaan penafsiran hadits, tapi penyelewengan atau penyesatan hadits
> Rasul. Tentu saja berbeda antara penafsiran dan penyesatan. BU membela diri
> bahwa perbedaan antara Ahlus Sunnah dan Syiah itu pada perbedaan
> interpretasi. Ia menulis, “Jadi masalahnya di sini pada perbedaan
> interpretasi. Dalam masalah ini semestinya tidak boleh ada klaim kebenaran
> dan saling menyesatkan. Masing-masing pihak memiliki kaca mata kebenaran
> yang berbeda” (hal. 22).
>
> Pembelaan diri Syiah biasanya dengan mengangkat logika relativisme dan
> menutupi dalil dalam referensi standar Syiah. Relativisme adalah ajaran
> bahwa tidak ada lagi nilai yang memiliki kelebihan dari nilai-nilai agama.
> Satu keyakinan tidak boleh mengklaim memiliki kebenaran absolut yang paling
> benar. Ajaran ini merupakan inti paham liberalisme. Jika telah terpojok
> Syiah biasanya memakai pisau ini untuk membela diri.
>
> Klaim syiah bahwa Ali sebagai Imam itu bagian dari akidah Syiah. Bahkan
> dari akidah ini syiah memperlihatkan sebagai sekte Takfiri. Al-Kulaini,
> penyusun kitab al-Kafi, mengatakan bahwa orang yang tidak mengakui Ali
> sebagai imamah adalah musyrik (Muhammad bin Ya’qub al-Kulayni, al-Kafi  juz
> I hal. 427). Al-Majlisi dalam Bihar al-Anwar mengatakan, “Ketahuilah,
> sesungguhnya ungkapan lafadz Syirik dan kufur itu ditujukan untuk orang
> yang tidak beriman terhadap keimamahan amirul mu’minin (Ali)” (al-Majlisi,
> *Bihar al-Anwar *juz 23 hal. 390).
>
> Dua hadits di atas  dalam pandangan Syiah, merupakan hadits-hadits dalam
> kategori akidah. Sehingga penyelewangan Syiah terhadap makna hadits sangat
> terlampau jauh. Oleh sebab itulah, maka ini bukan sekedar beda tafsir. Yang
> tepat ini penyesatan makna hadits. Perbedaan penafsiran itu memang ada di
> kalangan ulama’. Tapi perbedaan penafsiran pendapat itu biasanya terjadi
> dalam ranah ijtihadiyah dalam teks-teks yang bersifat dzaniyyat. Perbedaan
> ini dapat pula disebut *tanawwu’  *(variatif) (Ibn Taimiyah, Iqtida’
> Shirat al-Mustaqim,124).
>
> Kontradiksi cukup kelihatan ketika BU menyodorkan hadits riwayat Bukhari,
> bahwa terdapat satu riwayat tentang murtadnya sebagaian sahabat Nabi
> Shallallahu ‘alaihi Wassalam yang diakui shahih oleh Ahlus Sunnah. Hadits
> tersebut berbunyi:
>
> Dari Abu Hurairah, ia berkata, “*Bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi
> Wassalam bersabda, ‘Pada hari kiamat segolongan dari sahabatku (ashabiy)
> akan menghampiriku. Tiba-tiba mereka dijauhkan dari telaga. Maka aku
> berkata, ‘Tuhan! Mereka para sahabatku’. Dia menjawab, ‘Sesungguhnya engkau
> tidak mengetahui (bid’ah) apa yang mereka ada-adakan sepeninggalmu.
> Sesungguhnya mereka telah murtad dari apa yang telah diperintahkan.”*(HR. 
> Bukhari).(hal. 34).
>
> BU mengomentari hadits tersebut, “ … tidak berlebihan sekiranya kita
> simpulkan bahwa hadits murtadnya sahabat adalah mutawatir”.  Menurut BU,
> MUI Jatim dan KH. Ma’ruf Amin menuduh Syiah memurtadkan sahabat Nabi
> Shallallahu ‘alaihi Wassalam adalah keliru. Sebab, katanya, justru Syiah
> mengetahui kemurtadan sahabat dari riwayat Ahlus Sunnah (baca hal. 35).
>
> Logika BU tampak makin terlihat kebingungan. Pada halaman-halaman
> sebelumnya ia menolak Syiah dikatakan memurtadkan sahabat, dan membela
> Tajul Muluk. Namun, di halaman 34-35 ia menyodorkan hadits Bukhari bahwa
> Syiah mengetahui kemurtadan shabat dari hadits Bukhari tersebut. Artinya,
> BU sesungguhnya mengakui ada sahabat yang murtad, meski itu diakui
> ‘nyontek’ dari hadits Bukhari.
>
> Lantas bagaiman hadits riwayat Bukhari di atas? Dalam kitab* Fath al-Bari
> *13 hal.197, al-Khattabiy menjelaskan hadits ini:
>
> قال الخطابى: لم يرتد من الصحابة أحد وانما ارتد قوم من حفاة الاعراب ممن لا
> نصرة له فى الدين وذلك لا يوجب قد حا فى الصحابة المشهرين
>
> Al-Khathaby berkata: “Tidak seorangpun dari sahabat-sahabat Nabi telah
> murtad, tiada lain sesungguhnya yang murtad adalah kelompok dari
> pembelot-pembelot di kalangan bangsa Arab pedesaan, itu kelompok yang tidak
> pernah menolong kepentingan Islam.”
> Pada kitab dan halaman yang sama Imam ‘Iyadl dan al-Baji mengatakan bahwa
> yang tidak bisa minum air di al-Haudl adalah orang-orang yang murtad di
> masa setelah wafatnya Nabi Shallallahu ‘alaihi Wassalam. Mereka adalah
> orang-orang yang diperangi oleh Abu Bakar. Pasca wafatnya Rasulullah
> Shallallahu ‘alaihi Wassalam, terdapat orang-orang yang baru masuk Islam
> murtad dari Islam. Namun yang murtad tidak ada dari para pembesar-pembesar
> sahabat. Orang yang murtad ini bukan lagi al-shahabat, sebab definisi
> sahabat adalah orang yang beriman yang bertemu Nabi Shallallahu ‘alaihi
> Wassalam dan meninggal dalam keadaan beriman.
>
> BU menyontek matan hadits tersebut namun mengkreasi sendiri makna yang
> jauh dari yang sesungguhnya sebagaimana diterangkan dalam *kitab Fath
> al-Bari syarah kitab al-Bukhari. *Inilah yang disebut Kalimatun haq urida
> biha Bathil (kalimat benar digunakan untuk kepentingan kebatilan).
>
> Ahlus Sunnah tidak pernah mengajarkan penistaan apalagi pemurtadan
> sahabat. Di kalangan Syiah, ajaran cacian sahabat itu sudah tidak bisa
> ditutup-tutupi. Dari dulu hingga kini doktrin cacian itu terpelihara dan
> diamalkan oleh Syiah. Kelompok Syiah tentu saja membela diri bahwa Syiah
> sekarang tidak mengamalkan ajaran itu. BU menulis, “Ayatullah Ali Khamanei
> dan Ayatullah Ali Sistani mengharamkan penistaan terhadap simbol-simbol
> yang dimuliakan Ahlus Sunnah” (hal. 32).
>
> Tapi, ternyata tokoh panutan Syiah kontemporer, Khumaini, secara keci
> mencaci sahabat.  Dalam buku Kitab al-Thaharah jilid III halaman 457 karya
> Khumaini mengatakan bahwa Aisyah, Talhah, Zubair dan Mu’awiyah dan
> orang-orang sejenisnya secara lahir tidak najis, tapi mereka lebih buruk
> dan menjijikkan dari anjing dan babi (Kanu akhbas min al-kilab wa
> al-khanazir).
>
> Harusnya, BU dalam bukunya serta kaum Syiah, jika memang benar tidak
> mecaci sahabat Nabi Shallallahu ‘alaihi Wassalam menyelesaikan
> keanehan-keanehan pendapat para tokoh-tokoh mereka sendiri, seperti
> Khumaini. Kenyataannya, tidak ada koreksi, justru tokoh-tokoh baik klasik
> maupun kontemporer jadi panutan Syiah dalam mengamalkan ajarannya. Tidak
> perlu BU mencari-cari dalil dalam kitab Ahlus Sunnah. Apalagi merendakan
> secara tidak etis tokoh Ahlus Sunnah Indonesia dan para penulis majalah
> Gontor yang ia sebut ‘tidak berkelas’. Syiah secara keji menghina para
> sahabat dan Aisyah, tapi mereka keberatan disesatkan dan dicaci ajarannya.
> Salah satu ciri aliran sesat memang loginya cenderung kontradiksi.*
>
> Penulis adalah Alumni Pascasarjana ISID Gontor-Peneliti InPAS Surabaya
>
>
> http://www.hidayatullah.com/read/27897/28/03/2013/kontradiksi-syiah:-catatan-untuk-buku-%E2%80%9Ckesesatan-sunni-syiah%E2%80%9D.html
>

Kirim email ke