*Amanah atau Kompromi Politis?*
 Henri Shalahuddin *; Peneliti MIUMI***
 *REPUBLIKA, 30 November 2012*



  Pada 27 November 2012, Republika memuat artikel Haidar Bagir yang
berjudul *"Proporsional Menyikapi Fatwa"*. Pada intinya, Haidar menganggap
bahwa tulisan KH Dr Ma'ruf Amin yang memperkuat fatwa MUI Sampang dan MUI
Jatim kurang tepat. Anggapan Haidar ini didasarkan karena fatwa MUI Jatim
menyatakan Syiah sebagai aliran sesat seharusnya dibatasi pada kasus
Sampang, bukan semua Syiah.

 Haidar menyebutkan bahwa mainstream Syiah mengharuskan bersikap hormat
terhadap sahabat Nabi. Bahkan, untuk meyakinkan klaimnya ini, ia
menyatakan, "Sekadar ilustrasi, dalam buku-buku yang ditulis para ulama
Syiah, kita tak dapat menemui periwayatan peristiwa al-ifk yang melibatkan
dakwaan perselingkuhan kepada Siti Aisyah." Benarkah demikian?

 Artikel ini bermaksud menguraikan pandangan beberapa ulama Syiah terkemuka
tentang istri-istri dan sahabat Nabi yang terabadikan dalam kitab-kitab
Syiah. Dengan demikian, diharapkan artikel ini bisa membantu memahami
ajaran Syiah dari sisi yang lebih lengkap, tanpa harus memutuskan hal-hal
yang bersifat muamalah.

 Berkenaan dengan hadis al-ifk atau peristiwa dusta yang dituduhkan kaum
munafik terhadap Aisyah ra, tidak sedikit kitab ulama Syiah mu'tabar yang
membenarkan tuduhan tersebut. Di antaranya adalah sebagai berikut: 1) Ali
bin Ibrahim al-Qummi dalam karyanya, Tafsir al-Qummi, menyebutkan bahwa
maksud kata "khianat" dalam QS 66: 10 adalah perbuatan zina dan keharusan
ditegakkan hukuman kepada fulanah (Aisyah) yang berselingkuh dengan fulan
dalam suatu perjalanan. (Darul Kutub, Qum Iran, vol II, 1387H, hal 377). 2)
Syeikh `Ali al-'Amili al-Bayadhi, penulis kitab Shirat al-Mustaqim ila
Mustaqqi l-Taqdim, melabeli istri Nabi dalam satu pasal dengan sebutan Ummu
l-Syurur (ibu kejahatan) terkait dengan peristiwa Jamal.

 Banyak di kalangan ulama Syiah terkemuka yang berpendapat bahwa melaknat
dan menista para sahabat Nabi diyakini sebagai ibadah dan salah satu cara
untuk mendekatkan diri kepada Allah. Pelaknatan ini sering dibaca setiap
selesai shalat wajib (lihat: Imam al-Kulaini, al-Kafi, vol III, hal 194,
Muhammad al-Tuursiirkani, Kitab La-aliul Akhbar, vol IV, hal 92). Bahkan,
doa dan wirid yang berisikan laknat terhadap sahabat diyakini lebih utama
daripada bershalawat atas Nabi, mengucapkan, dan menjawab salam. (Kitab *Majma'
al-Nuraini wa Multaqa l-Bahraini*, vol II, hal 292).

 Maka, tidak aneh jika di antara mereka menulis satu kitab khusus untuk
menista Umar, mertua Nabi, dan menantu Ali dengan tema *"Iqdu l-Durari fi
Idkhal al-surur `ala binti sayyidil Basyar"*. Namun, penulisnya seperti
dikatakan dalam mukadimah kitab, lebih suka menyebut kitabnya dengan *"Iqdu
l-Durari fi Baqri Bathni `Umar (Kalung Permata tentang Mutilasi Perut Umar)"
*.

Sebagai bentuk takarub, tidak sedikit kitab Syiah yang mengemas pelaknatan
sahabat dalam bentuk doa. Salah satunya adalah doa dua berhala Quraisy
dalam kitab al-Misbah yang ditulis oleh Syekh al-Kaf'ami. Doa yang
ditujukan melaknat Abu Bakar dan Umar ini diyakini memiliki derajat yang
tinggi dan merupakan zikir yang mulia. Bahkan, disebutkan pahalanya,
seperti para pemanah yang menyertai Nabi pada perang Badar dan Hunain
dengan satu juta anak panah. Sebelum melantunkan doa, dianjurkan memukul
paha kanan tiga kali dan mengucapkan, *"Ya Maulaya, Ya Sahibazzaman"*,
kemudian melafalkan doa dua berhala Quraisy.

 (*Darul Kutub al-'Ilmiyyah, al-Najaf al- Asyraf*, cet II, 1349H: 552). Hal
senada juga diamini oleh Syekh Muhammad Baqir al-Majlisi dalam karyanya
Bihar al-Anwar. (Vol 50, cet III, 1983: 316).

 Penistaan terhadap sahabat juga dilakukan oleh Ni'matullah Jazairi dalam
al-Anwar al-Nu'maniyah. Dia menuduh Abu Bakar ra berbuat syirik dengan
memakai kalung berhala saat shalat di belakang Nabi dan bersujud untuknya
(vol I, hal 53). Sementara itu, dalam kitab Ilzaam al-Naashib Fii
Itsbaatil-Hujjah al- Ghaaib, Abu Bakar dan Umar disebut sebagai Firaun dan
Haman (Vol II hal 231). Dan, masih banyak lagi kitab Syiah yang menjadi
saksi atas ritual menista para sahabat ini. Dengan perkembangan teknologi
informasi, semuanya bisa diperoleh melalui internet, termasuk kitab-kitab
versi PDF yang ditulis oleh ulama Syiah atau berbagai buku yang berkenaan
dengannya, semisal Ulama al- Syi'ah Yaqulun.

 Memang diperlukan kehati-hatian dalam menyikapi aliran Syiah yang telah
eksis berabad-abad ini. Terlebih lagi, aliran Syiah tidak tunggal, tetapi
terpecah dalam sekte-sekte. Salah satunya adalah *rafidhah* yang jelas
penyimpangannya.
Menurut Ibnu Tai miy yah dalam *Minhaj al-Sunnah al-Nabawiyah*, sekte Syiah
yang tergolong *rafidhah* adalah Syiah *Itsna `Asyriyah dan Isma `iliyyah*.

 Penyebutan rafidhah karena mereka menolak pernyataan Imam Zaid bin Ali
yang tetap memuliakan Abu Bakar dan Umar ketika beliau diminta untuk
menista keduanya. Maka, berdasarkan peristiwa itu, Ahlus sunnah, Syiah Zai-
diyyah dan Ibadhiyah menyematkan lebel ini untuk Syiah Itsna `Asyriyah dan
Isma `iliyyah. (Vol I, hal 35). Maka, jika demikian halnya, fatwa MUI Jatim
ini bisa disebut *on the right track*. ●

Kirim email ke