Ruaaaar biasa Pak Widi, Subhanalloh Mamang bahagia sekali hari ini masih ada orang-2 seperti Pak Widi yang masih ingat keberadaan Bromo Tengger, Suku Anak Dalam, dll. Begitu banyak kekayaan n' keanekaragaman negeri ini.
Sukarno memang Juara, salah satu Putra Terbaik Bangsa Ini!!! Alhamdulillah yah pemimpin yang meninggalkan banyak prasasti untuk dikenang sampai sekarang diantaranya Prasastinya yaitu Tugu Monas masih berdiri sampai sekarang bak Linggabuana yg berdiri tegak menjulang tinggi menembus langit ya gantungkanlah cita-2 mu setinggi langit katanya. Sebuah mimpi dan harapan Bapak pendiri bangsa ini menjadi bangsa yang mandiri dan disegani masyarakat dunia, bangsa yg besar bukan bangsa yg lemah!!! Begitu juga Katedral n' Istiklal yg dibuat berdampingan. Dahsyaaat ya betapa beliau ini seorang pemimpin Visioner. Sekarang dan pemimpin-2 berikutnya meninggalkan apa untuk dikenang generasi berikutnya? SBY bakal meninggalkan prasasti apa ya kira-2? Sepertinya setelah Sukarno jarang para pemimpin yang memiliki keinginan untuk meninggalkan "Prasasti" karya-2 positif yang akan dikenang sepanjang masa. Suharto walaupun borokokok gara-2 KKN yang merajalela tapi masih meninggalkan Taman Mini Indonesia Indah yang luar biasa menampilkan keanekaragaman Indonesia. Ngak tahu sekarang apakah Soul/ Jiwa-nya masih ada? Begitu juga dengan Taman Buah Mekarsari yang mengedepankan keanekaragaman buah-2 Indonesia? Bang Ali Sadikin meninggalkan Taman Ismail Marjuki, Ragunan, Senen, Ancol, Taman Ria Monas, IKJ, Pelestarian Budaya Betawi di Condet, dll. Mang Ihin, Solihin GP pun ngak kalah meninggalkan Taman Safari Indonesia. Sampai sekarangpun diumur yg 86 tahun Mang Ihin masih keras suaranya menyelamatkan Babakan Siliwangi Kota Bandung sebagai Taman Kota Bersama, bukan kawasan komersil yg mengedepankan kapitalismeu :((. Begitu juga Mang Ihin dengan DPKLTS-nya, Dewan Pemerhati Kehutanan dan Lingkungan Tatar Sunda selalu memberikan suara lantang untuk menjaga kelestarian lingkungan tatar Sunda, terakhir membuat Deklarasi untuk menjaga Mata Air yg ada di Tatar Sunda. Kalo jendral-2 kiwari sibuk dengan rekening Gendut-nya, Mang Ihin mah Jendral yg merakyat lebih senang disebut Mang Ihin saja n' apa yg ingin dia tinggalkan untuk generasi berikutnya. Pemimpin sekarang? Hambalang? Sapi? Al Qur'an? Aaaaah sesuatu banget ya. Setuju sebuah tantangan dan renungan untuk anak-anak bangsa ini.... nuhuuuuns, mang kabayan www.udarider.com -----Original Message----- From: Widi Harsono <[email protected]> Sender: [email protected] Date: Tue, 28 May 2013 07:46:19 To: [email protected]<[email protected]> Reply-To: [email protected] Subject: Bls: Indonesi, Keberagaman bukan Keseragaman - Re: [alumni-ipb] Mahendra: Jawaban berbagai pertanyaan berat Matur nuhun Mang Kaby.... anu resep pisan uraiannya.... abdi mah 100 persen setuju dan penjunjung tinggi "kelokalan" + "keragaman".... Tentang Badui dan Wiwitan....seperti suku Tengger di Bromo dan Anak Dalam di pedalaman Sumatera (Jambi, Sumsel, Bengkulu) saya menaruh hormat tinggi-tinggi.... Bung Karno sering menyebutnya: Tamansari Indonesia yang sangat indah karena dihiasi "bunga" warna-warni... Oleh karena itu, ada thesis kalau Indonesia jadi negara besar dan bersatu, banyak yang iri hati karena tidak ada di dunia ini, satu negara yang memiliki aneka tradisi, warisan dan keanekaragaman sekaya kita... Sebuah tantangan sekaligus renungan bagi anak-anak bangsa ..... Salam rukun-guyub, ST ________________________________ Dari: mang kaby <[email protected]> Kepada: Alumni IPB <[email protected]> Dikirim: Selasa, 28 Mei 2013 5:30 Judul: Indonesi, Keberagaman bukan Keseragaman - Re: [alumni-ipb] Mahendra: Jawaban berbagai pertanyaan berat [1 Attachment] [Attachment(s) from mang kaby included below] Woooow like this pisan Pak Widi, Mamang sempet ngobrol dgn Kang Herwig Zahorka, Etnobotanist beliau menyebutnya bukan Melanesia tetapi Polinesian Style hehehe. Setuju Pak, keberagaman itulah yg membuat Indonesia itu menjadi sangat-2 Indah bak berlian yg ditaburi emas. Kalau diseragamkan justru apa indahnya karena semuanya sama. Kearifan Budaya Local saja luar biasa sebagai contoh saja ya Urang Kanekes yg dikenal sebagai Baduy, ada Baduy Luar yang blend / berbaur dgn masyarakat luas ada Baduy Jero/ Dalam yg ingin tetap mempertahankan keasliannya sebagai ajaran nenek moyangnya. Dalam konsep ketuhanan saja Urang Kanekes sudah mengenal monoteismeu jauh sebelum Islam berdiri, Islam abad ke-7 Masehi, Purnawarman the King of Tarumanagara sudah melakukan Kurban menyembelih Sapi setiap selesai kerjabakti memperbaiki/ merawat/ membangun Sungai sekitar abad ke-4 Masehi? Nah banyak yg berfikir bahwa Monoteismeu-nya orang Kanekes merupakan pengaruh dari Islam padahal coba perhatikan fakta di atas beberapa kebiasaan-2 yg dilakukan Umat Islam sudah dijalankan jauh sebelum Islam itu ada. Nah orang Kanekes sendiri (Baduy Dalam) sangat ANTI PENGARUH dari luar jadi bagaimana mungkin justru keyakinan mereka yang dipengaruhi? Kebiasaan / pemikiran bahwa kita yg dipengaruhi dari Budaya/ Keyakinan luar itu karena memang sedemikian sehingganya mindsett kita selalu memposisikan diri sebagai Sub Ordinat. Ya karena sekian ratus tahun dijajah VOC, Belanda, Jepang dan sekarang pun "masih" hehehe. Belum benar-2 "Mahardika". Menurut Kang Herwig Zahorka keyakinan Orang Kanekes yg meyakini Batara Tunggal sebagai Tuhan mereka (monoteismeu) menyebutnya Older than Hindu katanya demikian. Menurut mereka, orang Kanekes mungkin befikir siapa yg menciptakan alam semesta ini aaah pasti terpikir "Batara Tunggal", mereka menyebutnya dgn sifat-2nya "Nu Ngersakeun" yg menentukan, "Nu Murbeng Alam" yg mengatur Alam Semesta. Nah yg menarik lagi konsep "Nabi Adam" pun sudah ada dalam pemikiran mereka, mereka menyebutnya Batara Cikal, manusia cikal/ leluhur mereka yg tertua yg pertama kali lahir di Bumi ini, Mereka sebut Batara Cikal (Cikal ~ Oldest). Didalam tempat pemujaan mereka selalu terdapat beberapa Simbol diantaranya yg krucial yaitu "Menhir" simbol Batara Tunggal, biasanya Batu polos ditempatkan dalam Undak batu paling tinggi setelah itu ada satu lagi patung batu dipahat menyerupai manusia ukuran 60cm sebagai simbol Batara Cikal. Banyak yg berfikir bahwa ajaran Agama Urang Kanekes itu menyembah batu-2 itu hehehe padahal tidak itu mah simbol saja yg mereka sembah adalah Batara Tunggal, barangkali batu-2 itu mah sebagai arah "kiblat" saja. Kebiasaan berpuasa mereka pun sudah biasa melakukannya :). Yg belum Mamang pahami itu konsep Arca Domas, 800 Arca, apakah 800 itu simbol keturunan berikutnya dari Batara Cikal menurunkan 800? Masih menerka-2 euy hehehe. Blom sempet ketemu Kang Herwig lagi nanyain hehehe. Mereka menyebut keyakinan mereka sebagai Sunda Wiwitan menurut temen Mamang yg urang Bali, Wiwitan itu dari bahasa Sangskrit dari kata Wiwit~ Permulaan/ pertama CMIIW. Nah jadi silahkan dipikirkan kembali apakah betul Keyakinan Islam sekarang yg mempengaruhi Urang Kanekes dalam menjalankan Ibadah Ritualnya atau malah sebaliknya? Yg jelas Founder pertama Monoteismeu dalam Agama Samawi adalah Nabi Ibrahim AS (Abraham ~ Brahm?) mempunyai dua anak dari dua istri Ismail dan Ishak, Ishak menurunkan Nabi Isa AS yg kemudian mengembangkan Agama Nasrani (Kristen) dan Nabi Ismail menurunkan Nabi Muhammad SAW yg mengembangkan Agama Islam. Makanya kadang Mamang suka bingung kalau sesama satu turunan Ibrahim sampe ribut bahkan sampe bunuh-2an rasanya aneh bin ajaib hadeuuuuh!!! Definisi Surga/ Sawarga/ Nirwana dalam kitab Suci itu air mengalir dari mata air yg bisa langsung diminum (cai nyusu/ mata air), kemudian buah-2an yg tinggal dipetik, dlsb. Apakah Surga itu "Indonesia" yg dulu masih asri? Apakah ketika dituliskan Nabi Adam AS awalnya hidup di Surga? Orang Kristen menyebutnya Taman Eden itu adalah Indonesia? Mamang tahu Taman Eden soalnya dulu ada Temen Mamang beragama Kristen yang mau bikin Resort di Bogor menyebutnya The Eden Park, tapi Mamang ngasi saran mending cari nama yg universal akhirnya dirubah menjadi The Highland Park, kalo The Eden Park nanti disangka punya Lia Eden nanti FPI datang riweuuuh deuh hehehe. Alhamdulillah ownernya nurut hehehe. Wallohualam siapa yg mempengaruhi siapa? Yang jelas sampai sekarang Agama Urang Kanekes tidak diakui oleh Negara Republik Indonesia entah karena negara ini memang senangnya yg Import-2 sedemikian sehingganya sehingga yg lokal-2 justru dilupakan. Atau itu merupakan salah satu bentuk "Keseragaman". Wallohualam, pun sapun kaluluhuran :). nuhuuuuns, mang kabayan www.udarider.com ________________________________ From: Widi Harsono <[email protected]> Sender: [email protected] Date: Tue, 28 May 2013 00:32:15 +0800 (SGT) To: [email protected]<[email protected]> ReplyTo: [email protected] Subject: [alumni-ipb] Mahendra: Jawaban berbagai pertanyaan berat Mas Mahendra, sesuai janji, berikut saya coba jawab pertanyaan2 berat ini: (1) Kita, "melebur" dalam pengertian politik, beda dengan pengertian organis-budaya. Dengan kesepakatan kembali ke Negara Kesatuan pada 1950 dan Dekrit Presiden 1959, secara politik de-jure, peleburan "Menjadi Indonesia" sudah selesai. Akan tetapi, secara organis-budaya, proses menuju bangsa yg satu, butuh jalan sangat panjang, komitmen penuh, termasuk penghargaan kepada aneka ekspresi keragaman etnis. Dengan demikian, mereka yang sering bilang NKRI harga mati, memaksakan dan memadamkan proses "Menjadi Indonesia". Sama persis dengan yg mengatakan Pancasila sebagai dogma, bukannya sebuah ideologi terbuka. a) Referensi klasik yang indah dan mengesankan untuk ini dapat dibaca dalam karya sejarawan/Indonesianis Perancis: Denys Lombard: Nusa Jawa, Silang Budaya I, II, III. b) Juga buku yang diterbitkan perusahaan saya (Vision03): "Kita Lebih Bodoh dari Generasi Soekarno-Hatta" (2000), terutama wawancara panjang dengan YB Mangunwijaya dan Arief Budiman. c) Juga Umar Kayam: Kita Perlu Revolusi Budaya, dalam buku: Dialog Indonesia, Kini dan Esok (Leppenas, 1979). d) Tulisan dosen antropologi Aceh, Teuku Kemal Fasy: Menolak Menjadi Indonesia, Kompas, 7 November 2012. 2) Ungkapan Indonesia sebagai bangsa tropis yang merujuk pada ras Melanesia berasal dari seorang peserta dengan mengutip pendapat Indonesianis Universitas Hawai (ahli cultural economics) dan disampaikan dalam sebuah diskusi terbuka di Universitas Indonesia, 1996. Saya akan meminta konfirmasinya sembari melacak lewat teman-teman sejarawan. 3) Pengertian gagal dalam mendisain sistem pendidikan bukan cuma pendapat pakar + praktisi pendidikan yg terlibat dalam diskusi ini. Gagal yang dimaksud lebih menyoroti disain yang mementingkan "hasil" ketimbang "proses", "keseragaman pola" ketimbang "kemajemukan perspektif". Ujian Nasional yang distandarisasikan adalah contoh tegas bagaimana anak-anak diseragamkan dan dibentuk mementingkan hasil. Pada pendidikan berbasis penghargaan terhadap akal-budi manusia, setiap anak dirangsang penalarannya untuk menemukan berbagai kemungkinan dan pendidik menjauhi vonis: benar-salah. Contoh yg disampaikan ke peserta diskusi: saat Jakarta banjir, masing-masing anak diminta observasi ke lapangan. Seorang anak berpendapat: banyak got mampet, jadi banjir... Anak lainnya menulis: air mengalir deras di jalan-jalan, karena semua di semen sehingga tak ada resapan Anak lainnya menulis: sungai di sekitar tempat tinggalnya tidak mampu menampung air hujan sehingga meluap ke jalan dan permukiman...dan seterusnya.. Disini, anak-anak mengetahui dari dirinya sendiri dan teman-temannya, ada banyak perspektif dalam mengenali sebuah persoalan... Tidak ada resep tunggal untuk pendidikan di semua negara. Tapi hampir semua ahli pendidikan berpendapat semua: seseorang sejak anak-anak sampai dewasa, mestinya mengusung prinsip sebagai "manusia pembelajar" Sedikit uraian tentang "pendidikan yang melumpuhkan nalar" ini telah saya tuliskan di Kompas, 27 Oktober 2012 (judul artikel: Merawat Pohon Kebangsaan). 4) Penyerbukan silang antar-budaya tidak sekadar dipahami sebagai perkawinan antar-etnis. Ia lebih dimaknai sebagai simbiosis eklektik (bertemunya anasir-anasir budaya positif) untuk menampilkan ke-Indonesia-an sebagai sintesis keanekaragaman. Keseragaman yg dipaksakan sejak Orba (LKMD, Desa, PKK, KUD dan seterusnya), menggusur kerapatan adat, ninik-mamak, nagari, subak, rembug desa dan seterusnya, menggusur kearifan lokal yang menjadi perekat harmoni/integrasi sosial di masing-masing wilayah. Buku dan analisis Prof Sajogyo tentang hal ini, bukan main banyaknya, mesti disampaikan secara santun dan tidak langsung berhadapan dg pembuat kebijakan. Presiden Gus Dur yang membolehkan perayaan Imlek, Barongsai dan seterusnya... adalah sedikit tokoh yang tahu benar apa makna persilangan antar-budaya yang membentuk Indonesia sejak zaman Hindu-Budha, dan selanjutnya. 5) Pertanyaan ini menghendaki jawaban yang komprehensif, tapi saya meyakini pendapat banyak tokoh, semua bermula dari pendidikan (bukan hanya formal). 6) Dari segi regulasi: data Komite Pemantau Pelaksanaan Otonomi Daerah (KPPOD) dan Depdagri menyebut, ada lebih 70 aturan perundangan yang tidak sinkron, tumpang-tindih, sampai sekarang. Ini membuka celah (loophole) bagi berbagai penafsiran dan penyelewengan. Mapping situasi terakhir: politik kekerabatan (anak, istri, kakak, adik dan seterusnya) gampang dilacak telah terjadi dimana-mana. KKN ini jauh lebih dahsyat ketimbang era Orba. Djohermansyah Djohan, Dirjen Otonomi Daerah Depdagri baru-baru ini bilang, akan membuat aturan supaya keluarga incumbent tak boleh maju. (kok baru bikin setelah rame dibicarakan). Sebagai info, saya memimpin Majalah Media OTONOMI sejak 2004-2010. (dalam kaitan dg pertanyaan ini, bisa dilihat artikel saya: Otonomi Daerah yang Rapuh, Kompas, 23 Maret 2013). Demikian, mudah-mudahan sedikit membantu... Salam, ST ________________________________ Dari: Mahendra <[email protected]> Kepada: [email protected] Dikirim: Minggu, 26 Mei 2013 22:31 Judul: Re: [alumni-ipb] Hasil Diskusi Forum "Menjadi Indonesia" : Kang Asep Mas Widi, Sangat menarik sekali, terima kasih telah berbagi. Ada beberapa pertanyaan terhadap point2 hasil diskusi, mihon kiranya Mas Widi dapat menjelaskan kepada saya yg masih hrs terus mengasah... 1. Apakah artinya etnis2 di indonesia utk seterusnya hanya akan berikrar bersama bukan melebur. Apakah ini makna persatuan dan kesatuan itu ? 2. Bangsa mana lagi yg disebut sebagai bangsa tropis selain indonesia. Apakah bangsa tropisnya lainnya sama seperti indonesia yg punya mimpi besar tapi mudah patah oleh kekerabatan 3. Kenapa indonesia gagal mendesign sistem pendidikan manusia ?. Negara mana yg dianggap berhasil mendesign sistem pendidikan manusia ? Kenapa indonesia tdk meng copy paste saja dari negara yg dinilai berhasil. 4. Mengapa penyerbukan silang antar budaya/etnis masih dianggap perlu di indonesia, sementara pada point 1, disebutkan etnis di indonesia hanya berikrar bersama tdk melebur. Kalo terjadi penyerbukan silang antar budaya apakah berarti melebur dan akan menghasilkan budaya/etnis baru ? 5. Apa yg menyebabkan generasi elit sekarang hidup dalam: hibernasi dan sublimasi politik hampa nilai dan pragmatisme tanpa batas. Apakah design pendidikan yg salah ? 6. Apakah iya, otonomi kita tanpa panduan... Masak sih sistem otonomi indonesia tanpa panduan ? Maaf pertanyaannya banyak, tks Mas Widi Salam Mk ________________________________ From: Widi Harsono <[email protected]> Sender: [email protected] Date: Sun, 26 May 2013 22:57:08 +0800 (SGT) To: [email protected]<[email protected]> ReplyTo: [email protected] Subject: [alumni-ipb] Hasil Diskusi Forum "Menjadi Indonesia" : Kang Asep Kang Asep, Sebuah kehormatan besar.... dengan senanghati... saya orang bebas merdeka dan enteng kaki untuk segenap kebaikan..hee..hee... Salam hormat, ST (Tukang merenung dan jualan buku di 463 restoran Bali-Jawa-Sumatera) ________________________________ Dari: Asep Saefuddin <[email protected]> Kepada: Alumni <[email protected]> Dikirim: Minggu, 26 Mei 2013 8:06 Judul: Re: [alumni-ipb] Resume Hasil Diskusi Forum "Menjadi Indonesia" Mas Widi, Terima kasih banyak resume yang sangat bernas. Kalau tidak keberatan saya mau mengundang Mas Widi dlm kesempatan diskusi topik 'menjadi Indonesia'. Punten mohon dijaprikan nomer hape Sampeyan. Kalau hp saya ini: 0811119287. Selamat hari raya waisak AS Powered by Dept. Statistika FMIPA IPB ________________________________ From: Widi Harsono <[email protected]> Sender: [email protected] Date: Sun, 26 May 2013 08:47:56 +0800 (SGT) To: [email protected]<[email protected]> ReplyTo: [email protected] Subject: [alumni-ipb] Resume Hasil Diskusi Forum "Menjadi Indonesia" Bapak, Ibu, sahabat alumni IPB ysh, Minggu (19 Mei) di Jakarta, Forum "Menjadi Indonesia" yang saya pimpin mendiskusikan topik "Kemiskinan Karakter Bangsa" dalam menyambut dan berefleksi atas Hari Kebangkitan Nasional. Beberapa sahabat dan kolega yg bergabung dalam diskusi terbatas ini adalah: 1) Prof Soetandyo Wignyosoebroto (guru besar Unair dan Undip, mantan Ketua Komnas HAM) 2) Drs Eddie Lembong (pemilik PT Pharros, Pendiri Yayasan Nation Building) 3) Prof Dr Siti Zuhro (peneliti senior LIPI dan Habibie Institute) 4) Andrinoff, Ph.D (dosen politik FISIP Universitas Indonesia) 5) Mohamad Sobary (budayawan, mantan Direktur Eksekutif Partnership for Governance Reform) 6) Antarina Sulaiman (pemilik dan pendiri Highscope Institute, cucu Ki Hadjar Dewantara) 7) Ir Amwazi Idrus, M.Sc (Direktur Permukiman, Ditjen Ciptakarya, Departemen PU) 8) Ardi Sutedja M.Ec (ahli dan praktisi IT dan cybermedia) 9) Suwidi Tono (Koordinator Forum "Menjadi Indonesia") Dua orang anggota yg berhalangan, Ir Martiono Hadianto MBA (Presdir PT Newmont, mantan Dirut Pertamina) dan Maria Hartiningsih (wartawati senior Kompas), mengirimkan poin-poin pemikirannya. Berikut saripati hasil diskusi tersebut, semoga bermanfaat: 1) Indonesia adalah sebuah proses yang akan terus "menjadi" dan dinamis. Sumpah Pemuda 1928 menegaskan hal itu. Jong Java, Jong Celebes, Jong Sumatranen Bond dan seterusnya bukan melebur melainkan berikrar bersama. Dengan kata lain, nasionalisme Indonesia adalah himpunan etno-nasionalisme (ref: perdebatan Sutan Takdir Alisjahbana vs Sanusi Pane, juga statemen Bung Karno tentang arti "jembatan emas" dalam proklamasi 1945). 2) Indonesia, dalam sejarah peradaban bangsa-bangsa, tidak dikelompokkan dalam kelompok "Bangsa Timur" melainkan "Bangsa Tropis". Dari telusuran antropologis, "Bangsa Tropis" dikategorikan punya mimpi tinggi tapi mudah patah oleh kekerabatan (komunalisme). 3) Pendidikan di Indonesia gagal merumuskan, men-desain: " apa itu pendidikan manusia" dan "bagaimana pendidikan seharusnya diproseskan" secara ajeg, akuntabel, bergairah, meaningfull 4) Cross-cultural fertilization (penyerbukan silang antar-budaya) belum menjadi proses yang alamiah karena kepentingan politik, beda dengan China, Jepang, Korea, Malaysia. Revolusi Kebudayaan di China, misalnya, punya akar ribuan tahun sebelumnya. 5) Berbeda dengan para pendiri bangsa yang mendapatkan pencerahan akal-budi (enlightenment, aufklarung) dan terpanggil memandu bangsa ke arah kemerdekaan, generasi elit sekarang hidup dalam: hibernasi dan sublimasi politik hampa nilai dan pragmatisme tanpa batas. 6) Otonomi tanpa panduan telah melahirkan: politik kekerabatan yg meluas yang membahayakan dan dis-alokasi dana secara boros dan serampangan. 7) Birokrasi sesungguhnya masih bisa diharapkan kalau tidak diseret ke politik dan dipandu oleh aturan dan pemimpin yang tegas. 8) Dalam kekalutan dan kekacauan sistemik, gerakan individual-komunal sebagai "kelompok penekan", "pemberi teladan" , "pembanding" memang harus terus disuburkan, untuk menyemangati "lilin-lilin kecil" yang bertebaran di seluruh penjuru negeri dengan kegigihan, perjuangan, keyakinan yang disatukan oleh cita-cita mulia sebagai "bangsa yang besar, bersatu, berbasis kerakyatan, adil, dan makmur". Tabik, Suwidi Tono
