---------- Forwarded message ----------
From: Ipan <[email protected]>
Date: 2013/6/10
Subject: Re: Milih CIAMIS atawa GALUH?
To: mh <[email protected]>




--- In [email protected], mh <khs579@...> wrote:
>
> Peninggalan Sejarah
> Meretas Jalan "Menghidupkan" Galuh
>
> KABUPATEN Ciamis merupakan sebuah daerah yang sarat dengan peninggalan
> sejarah, baik peninggalan sejarah zaman raja-raja maupun zaman kabupatian,
> yang hingga kini masih meninggalkan misteri. Peninggalan itu terdapat di
> area situs Gunung Cupu, Bukit Susuru, Karang Kamulyan, dan Astana Gede
> Kawali.
>
> Di tempat-tempat tersebut ditemukan banyak benda tinggalan budaya dan
> artefak, apa pun namanya. Ada yang diproduksi pada zaman kerajaan Hindu,
> kerajaan zaman Islam, hingga zaman kabupatian. Semua itu tidak bisa
> dilepaskan dari gerak zaman pemerintahan kolonial yang kerap memakan
korban,
> baik dari kalangan rakyat jelata maupun kalangan menak itu sendiri.
>
> Sehubungan dengan banyaknya benda pusaka dan tinggalan sejarah yang tak
> ternilai harganya itu, Paguyuban Rundayan Prabu Galuh Pakuan (PRPGP)
> bertekad mendirikan Museum Galuh Pakuan. Untuk sementara, Museum Galuh
> Pakuan berlokasi di bekas Kadatuan (Keraton) Selagangga. Bangunan itu
> didirikan Raden Adipati Aria Koesoemadiningrat pada tahun 1853. Ia adalah
> Bupati Ciamis ke-16 yang pada saat itu masih bernama Kabupaten Galuh.
>
> "Ke depan, museum akan dibangun di samping lokasi pemakaman keluarga di
> Gunung Sirnayasa Jambansari. Di situ, Raden Adipati Aria Koesoemadiningrat
> dimakamkan. Kelak, bangunan yang akan didirikan di lokasi tersebut
mengambil
> replika bangunan Kadatuan (Keraton) Galuh Pakuan," ujar Ketua Majelis
Luhur
> PRPGP Raden Ikik Lukman Soemadisoeria dalam percakapannya dengan "PR" di
> sela-sela acara Peresmian Museum Galuh Pakuan, Minggu (18/7) di Jln. K.H.
> Ahmad Dahlan (Selagangga) No. 40 Ciamis. Museum itu diresmikan Wakil
> Gubernur Jabar Dede Yusuf.
>
> Pada zamannya, Raden Adipati Aria Koesoemadiningrat merupakan bupati yang
> cukup terkenal dan sangat dicintai oleh rakyatnya. Oleh karena itu, ia
> beroleh gelar Kangjeng Prebu. Pada masa pemerintahannya, Kangjeng Prebu
> membangun banyak saluran air dan beberapa dam untuk mengaliri pesawahan.
> Beberapa di antaranya adalah saluran Gandawangi (1839), saluran Cikatomas
> (1842), dam Tanjungmanggu yang kemudian diberi nama Nagawiru (1843), dan
> saluran Wangundiredja (1862). Selain itu, ia pun membuka banyak area
> pertanian baru dan perkebunan kelapa.
>
> "Dibangunnya berbagai saluran air dan beberapa dam tersebut, antara lain
> dimaksudkan untuk meringankan rakyat Galuh dari beban tanam paksa (cultuur
> stelsel) yang dilaksanakan Pemerintah Hindia Belanda sejak pertengahan
Abad
> ke-19. Digencarkannya kegiatan tanam paksa oleh Pemerintah Hindia Belanda,
> pada dasarnya, merupakan pengembangan dari Preanger stelsel (sistem
Priangan
> yang berkaitan dengan penanaman komoditas kopi) yang telah diterapkan di
> Priangan sejak tahun 1677. Di Kabupaten Galuh, pada waktu itu, kewajiban
> tanam paksa bukan hanya menanam kopi, melainkan juga wajib nenanam nila
> (indigo)," ungkap pakar sejarah Prof. Dr. Nina Herlina Lubis.
>
> **
>
> menurut Nina, dirinya mendukung pendirian Museum Galuh Pakuan tersebut.
> Apalagi, semuanya sudah diatur di dalam Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 19
> Tahun 1995. Museum adalah lembaga tempat penyimpanan, perawatan,
pengamanan,
> dan pemanfaatan benda bukti materiil hasil budaya manusia, alam dan
> lingkungan, guna menunjang upaya perlindungan dan pelestarian kekayaan
> budaya bangsa. "Berkait dengan itu, pemerintah harus mendukung upaya ini.
> Siapa tahu, dengan adanya museum tersebut, masyarakat Ciamis dan
masyarakat
> Indonesia pada umumnya jadi lebih mengenal lagi sejarah para leluhurnya,
> baik melalui benda tinggalan budaya maupun melalui buku-buku, yang akan
> menjelaskan apa dan bagaimana Kerajaan Galuh hingga menjadi Kabupaten
Galuh
> yang kemudian berubah nama jadi Kabupaten Ciamis. Ada banyak hal yang
harus
> digali di situ," kata Nina.
>
> Tekad serupa memang diusung PRPGP. Secara budaya, mereka ingin
> merekonstruksi Kadatuan Galuh Pakuan. "Kalau Keraton Cirebon ada jejaknya,
> lantas bagaimana dengan Keraton Galuh? Saat ini, tak ada jejak Keraton
Galuh
> yang bisa dilihat secara nyata walau fakta dan data-data arkeologinya
banyak
> diungkap dalam sejarah. Insya Allah, ke depan, kami akan mewujudkan
kembali
> bangunan Keraton (Kadatuan) Galuh Pakuan secara budaya. Dengan adanya
> Kedatuan Galuh Pakuan, eksistensi Museum Galuh Pakuan akan menjadi lebih
> bermakna lagi," ujar Ketua Umum PRPGP Drs. Raden Galuraningrat Gani
> Koesoemasoebrata S.I.P, yang lebih dikenal dengan panggilan Kang Gani.
>
> Kang Gani sendiri merupakan cucu Bupati Galuh ke-17, R.A.A
Koesoemasoebrata
> (1886-1914): bupati terakhir yang merupakan keturunan langsung Kanjeng
> Prebu. Leluhur Kanjeng Prebu sendiri, menurut Nina Lubis, sampai ke Prabu
> Siliwangi (R. Pamanah Rasa). Dan, apa yang dinamakan Kerajaan Galuh, dulu,
> letaknya di Kawali sebelum pindah ke Pakuan Padjadjaran. Sementara itu,
> Kabupaten Galuh --sebelum pindah ke tempat yang sekarang menjadi Ciamis--
> pernah berlokasi di Imbanagara. Adapun Ciamis sendiri sebelumnya bernama
> Cibatu. Pindahnya Kabupaten Galuh dari Imbanagara ke Cibatu (Ciamis)
> berlangsung pada 15 Januari 1815. "Tanggal itulah yang dijadikan hari jadi
> Ciamis," ungkap Nina Lubis.
>
> **
>
> LANTAS, siapa yang mengganti nama Kabupaten Galuh menjadi Ciamis? Bupati
> R.T. Sastrawinatalah yang mengganti nama kabupaten tersebut ketika
berkuasa
> pada periode 1914-1936. Ia berasal dari Purwakarta dan bukan keturunan
> langsung para leluhur Galuh. Berkait dengan itu, PRPGP mendesak Pemerintah
> Kabupaten Ciamis untuk mengembalikan nama Ciamis menjadi Galuh. Alasannya,
> selain sudah mendarah daging di masyarakat, Galuh memiliki nilai sejarah
> yang panjang. Wacana ini disambut baik Wakil Gubenur Jabar Dede Yusuf dan
> berbagai kalangan masyarakat yang berasal dari Tatar Galuh. Malah, Dede
> Yusuf mengatakan, sejarah Galuh harus ditulis ulang dengan kajian-kajian
> yang lebih ilmiah. Kajian-kajian tersebut harus jadi pelengkap Museum
Galuh
> Pakuan.
>
> Kang Gani menjelaskan, pencantuman kata "Galuh" menjadi nama museum
bukannya
> tanpa alasan. Soalnya, benda-benda tinggalan budaya sebagian besar
dimiliki
> oleh keturunan raja dan para bupati yang berkuasa di Galuh dan berdarah
> Galuh. "Meski demikian, isi museum tersebut masih harus dilengkapi. Belum
> semua benda tinggalan budaya yang ada pada keturunan keluarga raja dan
> bupati Galuh diserahkan ke museum ini. Apa yang kami lakukan saat ini baru
> lelengkah halu," tuturnya.
>
> Pendirian Museum Galuh Pakuan itu pun didukung sepenuhnya oleh Keraton
> Kasultanan Kasepuhan Cirebon. Sultan Sepuh XIV PRA Arief Natadiningrat.
> Apalagi, menurut dia, di masa lalu, Kerajaan Galuh dan Padjadjaran
memiliki
> hubungan erat dengan Cirebon, terutama hubungan kekerabatan.
>
> "Kesadaran terhadap nilai-nilai lokal, dewasa ini, harus dibangkitkan.
> Jangan sampai anak cucu kita hanya fasih memahami kebudayaan Barat,
> sedangkan dalam memahami kebudayaan sendiri nol adanya. Semoga apa yang
> diupayakan oleh PRPGP bisa bermanfaat bagi kemajuan pendidikan dan ilmu
> pengetahuan. Kerajaan Galuh dan Padjadjaran itu jejak peninggalan
budayanya
> juga ada," kata Sultan Sepuh. (Soni Farid Maulana/"PR")***
>
> web:
> http://newspaper.pikiran-rakyat.com/prprint.php?mib=beritadetail&id=149531
>
>
> 2010/7/18 mh <khs579@...>
>
> > Keur usum garanti ngaran, baralik deui ka ngaran jaman bulukan, Ujung
> > Pandang jadi Makasar,
> > Irian jadi Papua, ayeuna Ciamis cenah rek balik deui ka Galuh.
> > ============
> > Wacana Kabupaten Galuh Kembali Bergulir
> > Minggu, 18/07/2010 - 21:46
> >nama adalah sebuah identitas,setuju nama galuh kembali dipakai tapi
dengan tujuan membangun identitas budaya bukan membangun budaya feodalisme
atau merasa bangga dengan keturunan langsung kedatuan by anti feodalisme
kedatuan
> >
>

Kirim email ke