Teteeeeh ku yang baik di Indonesia khususnya Sunda juga ngak kalaaah lho xixixi.

Kalo di barat udah biasa memuji, ada Wooow Great, Awesome, dlsb.

Di kita ada Wooow Juaraaa, Dahsyaat, Manstraap, Hadeee, Hedeeed, Gelooo, Saeee, 
Ajiiiiib, Pedooo, Edaaas, Eduuun, dlsb.

Anyiiir Gelooo euy nah itu bukan menghina dikalangan anak muda itu sama dgn 
Awesome :). 

Pedooo teh untuk makanan yg super leker nikmatnya sampe netes air liur :).

Edas teh utk sesuatu yang kuat, edaaas Mang kuatan euy :).

Ajiiib ~ Great, lebih general mostly di Bogor.

Hedeed ~ Great, general juga. Anyiiiir hedeeed siah maneh. 

Anyir ~ Anying ~ Anjing yg memperkenalkan Mang Asep Sunandar Sunarya utk 
menghaluskan yg suka ngomong anjing ~ dibaca anying hehehe... di Bandung nih 
banyak sekali xixixi. Tapi da bukan sesuatu yg kasar ato gimana dalam pergaulan 
mah biasa weh. Siga Dud kalo di barat mah. 

Juara & Dahsyat juga sering dipake sekarang dulu jarang... Anyiing Juara maneh 
Mang misalnya. 

Hade ~ Great :). Hadeee euy Mang :). Kalo extra ordinary biasanya ditambahin... 
Hadee pisaaan Mang :).

Eduun ~ Edan ~ Great :). Waaah edun pisan Mang bisaan euy. 

nuhuuuuns,
mang kabayan
www.udarider.com

-----Original Message-----
From: "Lilla Noerhayati" <[email protected]>
Sender: [email protected]
Date: Tue, 25 Jun 2013 14:09:21 
To: <[email protected]>
Reply-To: [email protected]
Subject: Re: [Senyum-ITB] Fwd: Kaget, Pelayanan Kelurahan DKI sudah Berubah


Iya ya,di Barat sering kita dengar ucapan2 : Good! ...Awesome!Great !
  
Utk hal ini saya kira pujian itu juga ditujukan pada jerih payah pak 
Jokowi/Ahok dan APARAT kelurahan nya yg sdh mau berubah utk menjadi pelayan 
masyarakat yang sesungguhnya. Ngga tau juga ya mungkin blm semua aparat 
Kelurahan berubah spt yg ada di kelurahan Cililitan(?) ya?.....

Kalau kita tulus mengucapkan selamat sih ga usah takut ya dikira ada maunya 
ya...Biarin aja..

Pujian itu kadang  perlu justru  sebagai apresiasi dan untuk menambah semangat 
.Kadang ada orang yg gagal juga ,masih perlu dipuji lho, kalau ybs  memang sdh 
berupaya keras untuk mempunyai niat yang bagus..

Semangatlah  Jakartaku utk bebenah diri buat Indonesiaku yang baru.
Sent from my BlackBerry®
powered by Sinyal Kuat INDOSAT

-----Original Message-----
From: "Razif Halik Uno" <[email protected]>
Sender: [email protected]
Date: Tue, 25 Jun 2013 11:52:36 
To: Senyum-ITB<[email protected]>
Reply-To: [email protected]
Subject: Re: [Senyum-ITB] Fwd: Kaget, Pelayanan Kelurahan DKI sudah Berubah

Kenapa di Barat sana memuji org face to face merupakan hal biasa dan diterima 
dgn wajar lalu dibalas dgn wajar? Misalnya pembicaraan antara 2 wanita:
Wanita 1: I like your dress,whose design is it?
Wanita 2: Thank you!It is an Anna Avanti design.I think she is from Indonesia.
Wanita 1: Yes,she is from Semarang. More and more people like her design. I 
intend to write about her in the next edition of Tattler magazine.
Analisa pembicaraan: W1 memuji dgn jujur,bukan krna ada maunya. W2 menerima 
pujian dgn sincere,lalu membalas compliment dgn jujur pula dgn mengatakan bahwa 
Anna Avanti itu org Indonesia, bukan designer Perancis yg terkenal. 
Si W1 yg seorg penulis mode menyatakan akan menulis ttg Anna terinspirasi oleh 
stelan yg dikenakan oleh W2.
Pertanyaan: adakah unsur "ada maunya" dari W1 krna dia memuji?? Tidak,dia seorg 
profesional,bertanya jujur krna dia penulis. Si W2 gembira menerima pujian lalu 
membalas compliment bahwa model bikinan Indonesia disukainya krna memang 
bagus....
Disini ada perbedaan budaya dgn kita. Bagi kita pujian itu hanya utk Allah SWT 
semata! Jika dialamatkan ke manusia maka langsung menjadi pertanyaan,cenderung 
dicurigai.
Wassalam,henk uno

-----Original Message-----
From: "minfra23 ." <[email protected]>
Sender: [email protected]
Date: Tue, 25 Jun 2013 16:25:23 
To: <[email protected]>
Reply-To: [email protected]
Subject: Re: [Senyum-ITB] Fwd: Kaget, Pelayanan Kelurahan DKI sudah Berubah

Seperti biasa... kayak pedagang...
Kalau complaint... lapor ke pedagangnya...
Kalau happy... bilang ke orang lain....
He.h.e.e.e.e..

Jangan muji orang di depannya... biasanya gak tulus... karena ada maunya...
Muji orang bagus ya di belakangnya.... kalau perlu.. yang dipuji gak tahu..

Jangan kritik orang di depan orang ramai...
Kritiklah orang tersebut langsung dan gak perlu orang ramai tahu...

Salam,
Morry Infra

2013/6/25 Lilla Noerhayati <[email protected]>

> **
>
>
> **Mas/mbak...kenapa nggak diforward saja langsung ke pak Jokowi/Pak Ahok
> berita ttg kepuasan pelayanan masyarakat?
>
> Wah.,saya bener2 terharu baca pengalaman anda...Bener,Indonesia bs berubah
> kalau pimpinannya punya sifat melayani masyarakatnya dengan tulus....Tulus
> itu banyak makna dibelakangnya lho...
>
> Salam.Lilla Pl 71
> Sent from my BlackBerry®
> powered by Sinyal Kuat INDOSAT
> ------------------------------
> *From: *"minfra23 ." <[email protected]>
> *Sender: *[email protected]
>  *Date: *Tue, 25 Jun 2013 13:37:09 +0700
> *To: *tm-itb-bandung<[email protected]>; <
> [email protected]>; Senyum-ITB<[email protected]>; <
> [email protected]>
> *ReplyTo: *[email protected]
> *Subject: *[Senyum-ITB] Fwd: Kaget, Pelayanan Kelurahan DKI sudah Berubah
>
>
>
>  Subhanallah....
> Alhamdulillah....
> Virus Jokowi-Ahok ini harus ditularkan kemana2 nich....
> Yang bagus2nya patut dan harus ditiru....
> Kalau yang jelek... harus di-improve... Jokowi-Ahok selalu menerima
> kritikan.... dan biasanya langsung di-execute....
>
> Surabaya juga bagus.... Bandung mudah2an akan jadi lebih bagus... amiin...
>
>  Mudah2an aja ada yang baca dan tergerak untuk jadi lebih baik...
> amiin....
>
> Salam,
> Morry Infra
> ---------- Forwarded message ----------
> From: Ganis Supriadi <>
> Date: 2013/6/25
> Subject:  Kaget, Pelayanan Kelurahan DKI sudah Berubah
>
>
> http://jakarta.kompasiana.com/layanan-publik/2013/06/25/kaget-pelayanan-kelurahan-dki-sudah-berubah-571806.html
>   Kaget, Pelayanan Kelurahan DKI sudah Berubah
> Oleh: Dwi M <http://m.kompasiana.com/dwim> | 24 June 2013 | 22:34 WIB
>
> Terakhir kali saya mengurus administrasi di kantor kelurahan, kira-kira
> sudah lewat satu tahun lalu. Waktu itu ada panggilan untuk mengambil e-KTP.
> Rasanya malas sekali meninggalkan pekerjaan untuk berdesak-desakan, dan
> berpanas-panasan di kantor kelurahan. Banyak waktu terbuang sia-sia untuk
> menunggu dokumen yang sedang dikerjakan oleh staff kelurahan di wilayah
> Jakarta Timur ini. Kalau tidak terpaksa sekali sih, saya memilih untuk
> tidak pernah datang ke tempat yang namanya kantor kelurahan.
>
> Tapi siang ini saya harus kembali ke kantor kelurahan Cililitan dengan
> terpaksa. Masalahnya, anak saya yang bersekolah di SMP Depok akan
> melanjutkan ke SMA Negeri Depok. Dan ada kebutuhan melegalisir Kartu
> Keluarga untuk pendaftaran di sekolah nanti. Ya sudah, tekad sudah
> dibulatkan untuk mengantri lagi berdesakan dan berpanas-panasan di kantor
> kelurahan. Namanya juga sayang anak.
>
> Saya memarkir mobil di parkiran kantor kelurahan Cililitan yang relatif
> sepi. Pintu tertutup semua, hanya ada satu orang sedang duduk di luar di
> bangku teras. Pikiran saya yang negatif sudah langsung menghakimi, “Ini
> pasti staff kelurahan sudah kabur makan siang semua, urusan bakalan jadi
> lama deh”. Orang yang duduk di luar tadi tadi, mempersilakan saya masuk ke
> pintu itu. Maka saya buka pintu dan masuk ke dalam.
>
> Begitu masuk, saya langsung terpana. Di dalamnya suasana dingin ber-AC.
> Saya sempat bingung. Ini kantor kelurahan, atau Bank Swasta sih ?. Ada 4
> petugas kelurahan berbaju resmi duduk di belakang meja seperti meja
> Customer Service bank, semuanya wanita. Yang paling ujung kiri, bekerja
> dengan laptop. Ada seorang staff kelurahan yang tersenyum pada saya, dan
> kursi di depannya kosong. Langsung saya duduk disitu. Saya sungguh masih
> bingung. Mana loket tempat mengurus surat-surat seperti biasa ?. Mana
> tukang ketik yang biasa sibuk ketak-ketik seperti kelurahan pada umumnya ?.
> Ada sekitar 4 orang tamu duduk di ruang tunggu, tapi tidak mirip orang
> mengantri.
>
> Ibu yang tersenyum tadi langsung melayani saya. Foto Copy Kartu Keluarga
> saya langsung dicap dan ditulis-tulis, dan dimasukkan buku registrasi. Kami
> mengobrol ngalor-ngidul, dia bertanya kenapa anak saya tidak sekolah di DKI
> Jakarta saya, kan bagus ? Lalu anak saya apakah tinggal dengan nenek-nya di
> Depok ?, dan sebagainya. Prosesnya cuma 3 menit. Yang luarbiasa, tiba-tiba
> ada seseorang yang mungkin Lurah Cililitan duduk di samping saya dan
> menandatangani fotocopy Kartu Keluarga saya. Beres. Total waktu cuma 4
> menit. Semua lembar tadi diserahkan kepada saya yang masih kaget.
>
> Lho, ini beneran sudah selesai ?. Dari rumah tadi saya sudah siapkan waktu
> sekitar 3 jam untuk mengurus legalisir Kartu Keluarga ini, tapi sekarang
> cuma dilayani 4 menit saja di tempat yang dingin dan mirip kantor Bank
> Swasta ini.
>
> Lalu saya salaman dengan ibu tadi sambil memberi salam tempel 2 lembaran
> rupiah. Saya memberi uang ini bukan untuk menyogok, sebab pekerjaan sudah
> selesai. Tapi lebih kepada kepuasan dan terima kasih. Ibu itu mengatakan,
> “Wah bapak saya beri kupon ya pak. Sebab bapak sudah memberikan uang kepada
> saya”. Saya heran, kupon apaan ?. Dia menyobek 2 lembar kupon. Ternyata itu
> adalah kupon amal untuk sebuah panti asuhan. Ternyata uang saya akan
> dihibahkan lagi untuk anak-anak yatim yang tertulis di kupon itu. Saya jadi
> tambah kagum lagi dengan kantor kelurahan ini. Hati yang tadinya kesal
> karena berpikir akan antri lama di kantor kelurahan, sudah diubah menjadi
> kepuasan yang tak terhingga atas pelayanan kantor kelurahan Cililitan ini
> yang tidak lebih dari 5 menit.
>
> Sepanjang perjalanan pulang, di dalam diri saya tumbuh yang namanya sebuah
> harapan. Tadinya saya sudah apatis melihat negara dan bangsa Indonesia.
> Tidak mungkin mental bobrok pejabat dari atas sampai bawah bisa diubah.
> Namun sejak gubernur yang baru memimpin Jakarta, perlahan-lahan Jakarta
> berubah melayani warganya. Hati saya rasanya puas dan gembira sekali.
> Harapan baru tumbuh untuk Jakarta yang baru, dan juga nanti menyongsong
> Indonesia baru.
>
> Lewat blog Kompasiana ini saya menitipkan terima kasih untuk pak Jokowi,
> pak Ahok dan juga pak Lurah Cililitan beserta staf-stafnya. Saya yakin di
> kelurahan lain di DKI Jakarta juga sudah berubah baik seperti Kelurahan
> Cililitan. Berubah untuk melayani warga Jakarta.
>
> Sekarang, datang ke kantor Kelurahan sama mengasyikkan  seperti datang ke
> kantor cabang bank Swasta. Selamat datang Jakarta baru.
>
>
>
>  
>

Kirim email ke