Wooooow juaraaaa... Jokowi Ahok JK n' DI memang sesuatu banget :)... semoga
membawa perubahan yang lebih baik untuk Indonesia kedepan :). 

Happy B'day Ahok... All the best n' happiness selalu... Insya Alloh nama
baik selalu dikenang sepanjang masa :)... Mengabadi dan Mewangi ~ Siliwangi
:). 

nuhuuuns,
mang kabayan
www.udarider.com


-----Original Message-----
From: [email protected] [mailto:[email protected]] On
Behalf Of Setiadjit Koplink.net
Sent: Thursday, July 04, 2013 5:43 AM
To: Linkers
Cc: Kota Bogor; Gempa-75
Subject: [kota-bogor] Re: [linkers] Happy Birthday Ahok

hadiah dari uum iksa dihari ulang tahunnya berupa tulisan indah karya
sepupunya the bonita;
saya baca sampai tuntas ..tas..tas .. sekaligus buat evaluasi diri;
terima kasih uum iksa, saya tunggu undangan makan lagi . .makan laginya;


----------------------------------------------------------------------------
----

-----Original Message----- 
From: Iksa Menajang 
Sent: Wednesday, 03 July, 2013 11:37 AM 
To: Linkers ; Fatemeta ; TPG18 
Subject: [linkers] Happy Birthday Ahok 

Ini tulisan sepupunya Bonita.

http://m.facebook.com/notes/agam-fatchurrochman/happy-birthday-ahok/10151755
905276563

Happy Birthday Ahok
Oleh Agam Fatchurrochman

Happy Birthday Ahok
Ahok berulang tahun beberapa hari lalu. Saya tidak kenal pribadi Ahok, hanya
sempat bertemu dua kali dalam rapat diajak Danang ICW buat diskusi soal
change management dan penguatan internal audit. Tapi dari dua kesempatan
itu, saya semakin yakin kalau harapan itu masih ada. Harapan yang sebelumnya
dihancurkan oleh - salah satunya, kawan saya ketika kuliah di Nottingham,
RH, putra kesayangan ustad HA, bahwa masih ada politisi dan pejabat yang
bersedia bekerja keras buat rakyat dan Indonesia.

Kebiasaan Ahok adalah, dia tidak sabaran. Dia tidak sabaran dengan birokrasi
yang lelet, lemot, dan sengaja memperlambat kerja dengan alasan prosedur,
serta "ini bukan tupoksi kami". Dia tidak sabaran dengan hal-hal yang sama
terus diulang. Dalam wawancara di Tempo kemarin, Ahok bilang, Jakarta beda
dengan daerah. Kalau kota lain kurang studi, Jakarta sudah terlalu banyak
studi, tapi kurang eksekusi dan implementasi.

Tak heran kadang saya dengar orang mengeluh, Ahok ini arogan, suka memotong
pembicaraan, dan menguasai pembicaraan. Kalau saya menebak, itu karena yang
diomongkan sudah seringkali diomongkan berbagai pihak. Yang kurang hanya
implementasinya, dan Jokowi Ahok sedang melakukan implementasinya.

Kalau kata kawan saya Usman di Belanda, kalau ada atasan baru, misalnya
menteri yang dianggap belagu, bawahan biasanya akan mengetes si atasan
dengan berbagai alasan. Jadi kalau tidak berhati baja, berintegritas, punya
visi jelas, pengalaman yang kongkret, ya menteri baru bakal ikut arus
birokrasi yang kerja seadanya. Kalau tidak, si menteri bakal diboikot
perlahan-lahan tanpa terasa.

Jadi memang bagi pegawai negeri yang biasa Fokeisme, Jokowi Ahok ini bagai
mimpi buruk kalau tidak mau berubah.

Di lapak mbak Muni kemarin, ada ukhti PKS pengamat transportasi yang
mengeluh ketika bertemu dan mengemukakan gagasannya, dipotong terus oleh
Ahok. Kalau soal transportasi, saya haqqul yakin Jokowi Ahok sudah tahu
berbagai studi dan rekomendasi soal kemacetan. Mereka sekarang fokus pada
eksekusinya. Apa gambaran besar yang akan dieksekusi? Setahu saya,
pengembangan Transjakarta lebih luas lagi, jalur layang Transjakarta,
penambahan bus gandeng, sterilisasi, ERP, penertiban parkir off street,
integrasi Transjakarta dengan KRL dan bus pengumpan, integrasi bus pengumpan
dibawah PPD, trotoar yang layak, dsb. Kalau yang diomongkan masih seputar
itu, tak ada sesuatu yang baru, ya akan kurang didengar, karena mereka fokus
ke eksekusinya. Ini memang kelemahan, tapi juga strategi membagi waktu dan
sumberdaya karena terlalu banyak yang harus disentuh langsung oleh mereka
berdua.

Ketika kami bertemu, dia mendengarkan, karena yang kami bawa itu sesuatu
yang baru, seperti bagaimana menjalankan change management dengan lebih
tertata, dengan mengadopsi model Kementerian Keuangan yang ada unit khusus
internal compliance yang juga berfungsi sebagai change management office,
penguatan fungsi internal audit, tidak hanya mencari kesalahan, tapi
bagaimana mencari akar masalah, dan juga membuat fungsi investigasi lebih
kuat, seperti KPK tanpa non justitia. Di Inspektorat Jenderal Kementerian
Keuangan, terus terang saya kagum disana Januari lalu saya bertemu senior di
FE UGM yang sekarang jadi Ses Itjen.

Salah satu kekuatan Itjen Kemenkeu adalah strategi investigasi ala KPK ini.
Audit kepatuhan dan kinerja mereka tetap lakukan, tapi dengan pendekatan ala
konsultan, mencari akar masalah dan mencari solusinya. Selama audit
tersebut, mungkin ditemukan beberapa indikasi fraud. Nah indikasi fraud ini
diserahkan ke bagian Investigasi untuk diaudit lebih lanjut, dan bagi
pelakunya, akan dilakukan surveillance, penyadapan (bekerja sama dengan
KPK), dsb, untuk mengetahui apakah ada indikasi pidana, kerugian negara,
transaksi dan harta diluar profil mereka (kerjasama dengan PPATK), anaknya
sekolah dimana, dimana mereka berlibur, berapa dan seberapa mewah rumahnya,
dsb. Dari data ini, maka si pelaku akan dipanggil dan diklarifikasi harta
yang tak sesuai penghasilannya. Kalau mereka mengaku, maka diminta
mengundurkan diri, atau diteruskan ke Kejaksaan atau KPK. Biasanya para
pelaku ini memilih mengundurkan diri. Jadi ini seperti penerapan internal
asas pembuktian terbalik, yaitu pergeseran kewajiban pembuktian kekayaan
dari penuntut ke si pelaku.

Ahok tertarik dan mendengar, karena selama ini dia hanya dengar konsep
Kementerian PAN dan Reformasi Birokrasi, yang konsep reformasi birokrasinya
terlalu birokratis dan perlu direformasi. Ahok berpendapat, korupsi sulit
dihilangkan kalau tidak ada pembuktian terbalik. Bisa dibayangkan kalau ini
bisa diterapkan di Jakarta, bakal menjadi kabar baik bagi masyarakat yang
menginginkan pemerintahan yang bersih dan melayani, tapi menjadi kabar buruk
bagi pejabat yang selama ini kekayaannya tidak jelas.

Apa yang menarik dari Ahok? Selain mendengarkan, dia juga banyak cerita,
beberapa informasi yang bagi pejabat lain dianggap off the record, tapi bagi
Ahok, dia ceritakan begitu saja, diantaranya karena soal menjunjung
transparansi. Misalnya begini:

soal penghasilan gubernur - wakil gubernur. Tiga bulan pertama, penghasilan
hanya dari gaji + tunjangan, kira-kira 10 juta. Mereka puasa. Karena Kepala
dinas keuangan masih rezim foke dan terlihat mensabotase pembahasan RAPBD,
maka dia tidak diperpanjang pensiunnya. Kadinas keuangan yang baru kemudian
melapor kalau ternyata ada insentif dan uang operasional, yang disembunyikan
kepala dinas lama. Uang operasional adalah persentase dari PAD. Disepakati
mekanismenya, termasuk pengawasan dengan BPK, 60% untuk Jokowi, 40% Ahok,
sebagai anggaran operasional kepala daerah dan tidak masuk kantung pribadi.

Nah, zaman gubernur-gubernur terdahulu dan di daerah lain sampai sekarang,
anggaran ini disimpan dan sangat mungkin masuk kantung pribadi. Zaman
gubernur terdahulu, anggaran operasional ini kira-kira 23 miliar setahun,
yang dipakai operasional cuma sedikit, sisanya masuk pribadi. Karena itu
kata Ahok, jangan harap ketemu korupsi gubernur terdahulu, mereka sudah
kenyang dengan anggaran operasional tapi membiarkan anak buahnya main
anggaran dan pengadaan. Jokowi Ahok menjadikan anggaran operasional kepala
daerah untuk operasional dan charity. Jadi bulan lalu ada berita Ahok
membayar tunggakan SPP anak SMA seluruh Jakarta, sekitar 600 juta. Sedang
Jokowi kalau blusukan sering membawa truk yang membawa perlengkapan anak
sekolah dan beras. Nah, Jokowi dan Ahok hanya mengambil insentif yang legal
dan kalau dikumpulkan kira-kira 150 juta sebulan.
Saya kira buat pemimpin sekelas CEO tangguh Jokowi-Ahok dan tanggung jawab
besar, penghasilan tsb wajar. APBD DKI 50 triliun, di atas Polri yang 43
trilun, dibawah Dikbud 66 triliun, dan ini setara dengan turnover satu MNC
besar di Indonesia. Apalagi laporan penggunaan biaya ini dibuka di
www.ahok.org

Kemudian, mengapa ada walikota yang dicopot? Ternyata karena ketahuan si
walikota jadi pembina organisasi yang suka menggunakan kekerasan dan
sebangsanya buat politicking. Eh Jokowi-Ahok dilawan sama preman kacangan
ala si pejabat ini.

Berpikir out-of-the-box. Isi misalnya soal mengapa Ahok yakin PKL kuat masuk
ke mall? Karena jualan di kaki lima itu mahal. Satu petak, misalnya 4x4 lot
di pinggir jalan, ditarik pungli 3-4x sehari, pagi, siang, sore, malam.
Mulai dari kelurahan, preman A, preman B. Jadi mereka bisa bayar 4x3 pungli,
12 kali. Kalau sekali bayar 5-10 ribu, sehari 60-120 ribu, belum termasuk
ongkos resmi. Kalau dikalikan sebulan besar. Jadi kalau sewa emperan toko ke
tokonya, ini belum termasuk preman makan gratis, dsb. Karena itu, kalau pkl
masuk mall, bayar harian Rp 50 ribu atau Rp 100 ribu, ya tentu kuat.

Ada dinas infrastruktur yang mensabotase penanggulangan banjir. Ini juga
sudah terdengar isunya. Tempo pernah menulis soal ini. Waktu banjir kanal
barat bocor di Latuharhari, si Dinas bilang susah dapat batu dan pasir, alat
berat, yang sepertinya dendam anggaran dipotong 25%. Karena itu Ahok diminta
cari batu pasir ke Ancol, dsb, termasuk alat berat, termasuk bilang ambil
dari Belitung. Ini karena Jokowi Ahok kesal sama si kepala dinas.

Nasihat Ahok buat yang mau jadi calon legislatif: katanya, jangan ragu buat
jadi ketua RW. Karena kalau mau mencalonkan diri ke DPRD, masyarakat yang
tak diberi duit akan meminta bukti. Buktinya ya bakti ke masyarakat,
misalnya ketua RW, pengelola bank sampah, dsb. Kalau mau mencalonkan jadi
bupati/walikota, mulailah dengan mencalonkan diri jadi DPRD, dan kudu bersih
sehingga STP, segmenting, targeting, positioning jelas. Untuk itu,
berbaktilah ke masyarakat yang kongkret. Kalau mau mencalonkan diri jadi
gubernur, jadilah bupati yang berhasil dan bersih.
Dsb masih banyak cerita lainnya.

Menganalisa gaya kepemimpinan Ahok.

Gaya kepemimpinan dan pengambilan keputusan Ahok bagi pegawai negeri memang
mengagetkan. Tapi kalau kita lihat dari model pengambilan keputusan dan
risiko, Ahok ini bagi
Recognition primed: sifatnya intuitif, dan mengandalkan pengalaman
sebelumnya untuk mengevaluasi opsi yang mungkin hanya satu. Ini mirip dengan
gaya JK, Jokowi, Dahlan Iskan, dalam mengambil keputusan: melakukan
situation assessment, recall past experience dan ambil keputusan.

Rule-based: yang sangat mendewakan SOP dan identik dengan SBY dengan kalimat
khasnya "Saya serahkan semua pada proses hukum, agar sesuai aturan, dsb".
Ini adalah model pengambilan keputusan pemula, bukan pemimpin, dan hanya
cocok dalam situasi risiko tertentu. Ahok, juga JK, Dahlan Iskan, Jokowi,
adalah tipe pemimpin yang berpikir out-of-the-box, dan mencari terobosan,
tapi tidak melanggar rule, justru mengubah rule supaya bisa bergerak cepat.

Analytical-based: ini model yang dianggap terbaik, dimana setelah melihat
situasi, mencari beberapa opsi, dan analisa mana yang paling cocok. Tapi ini
hanya pas buat keputusan yang masih bisa menanti, sementara seringkali waktu
terus berlari. Saya ingat dengan gaya pak Boediono, juga birokrasi secara
umum, seolah-olah melakukan analisa dengan seksama, padahal tak ada yang
berani ambil keputusan. Tapi memang ada beberapa program yang masih menanti
pihak lain, seperti ERP, penerapan nomor kendaraan ganjil genap, dsb.

Creative: model buat situasi yang sama sekali baru, dengan lingkungan yang
kurang familiar. Model seperti ini cocok buat keputusan yang immediate
risksnya rendah. Kembali, Ahok mirip dengan JK, dengan gayanya yang sangat
kreatif.

Ahok, dan Jokowi, adalah harapan baru Indonesia.

Cintai Makanan Lokal R


----------------------------------------------------------------------------
----

Untuk berpihak kepada petani, tidak usah menunggu siapa-siapa, kita sendiri
yang harus memulainya.  Mulailah sekarang!!!  Merdeka!!!

http://www.facebook.com/linkers

[Non-text portions of this message have been removed]



------------------------------------

Milis kota-bogor ... media interaktif untuk 'orang Bogor' dan yang pernah
tinggal di Bogor.

Jika ingin keluar dari milis ini, harap kirim e-mail kosong ke :
[email protected]! Groups Links





------------------------------------

Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/kisunda/

<*> Your email settings:
    Individual Email | Traditional

<*> To change settings online go to:
    http://groups.yahoo.com/group/kisunda/join
    (Yahoo! ID required)

<*> To change settings via email:
    [email protected] 
    [email protected]

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [email protected]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/

Kirim email ke